Dunia Hanya Tiga Hari

Saudaraku tercinta…

Jika engkau berfikir, sesungguhnya dunia itu hanya tiga hari : satu hari berlalu yang tidak bisa engkau harapkan, hari ini yang harus dimanfaatkan dengan baik dan esok hari di mana engkau tidak tahu apakah engkau masih ada. Engkau tidak tahu barangkali engkau mati sebelum waktu itu datang, karena itu dapatkanlah akhirat dalam kehidupan di duniamu, karena dunia hanyalah apa yang ada di depanmu. Janganlah engkau menimbun harta untuk jiwamu, janganlah engkau melepaskan jiwa terhadap apa-apa yang akan engkau tinggalkan, akan tetapi berbekallah untuk sebuah perjalanan jauh yang penuh dengan kesulitan.[1]

Jadilah engkau sebagai orang yang mencari dunia karena terpaksa dan selalu mengingat urusanmu sebagai sebuah perjalanan, usahakanlah kebahagiaan untuk hari akhir dengan segera, dan jadilah engkau seperti orang yang ada dalam perjalanan, karena hantaman kematian akan datang pada suatu hari yang tidak akan diperkirakan,[2]

Al-Hasan rahimahullah berkata, “Janganlah kalian sibuk dengan urusan dunia, karena dunia itu sangatlah menyibukkan, tidaklah seseorang membukakan satu pintu kesibukan untuk dirinya, melainkan akan terbuka baginya sepuluh pintu kesibukan lainnya.” [3]

Pemilik dunia adalah orang yang diagungkan oleh yang lainnya—walaupun dia sering meninggalkan shalat—dan yang diluaskan majelis baginya. Marilah kita lihat apa yang diungkapkan oleh al-Hasan rahimahullah jika pemilik dunia disebutkan kepadanya, beliau berkata, “Demi Allah, tidak ada yang tersisa baginya dan bagi dunia, dia tidak selamat dari kejelekan dunia, pengikutnya dan perhitungannya, bahkan dia telah dikeluarkan darinya hanya potongan kain.”[4]

Footnote :

[1] Hilyatul Auliyaa’ (II/138)

[2] Adabud Dun-yaa wad Diin, hal 122

[3] Hilyatul Auliyaa’ (II/153)

[4] Hilyatul Auliyaa’ (II/144)

Sumber : Ad-dun-yaa Zhillun Zaa-il, ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Pustaka Ibnu Katsir, September 2005