Prioritas Ijtihad atas Taqlid

 

Oleh : Syaikh Yusuf Qaradhawi

 

Ilmu, menurut para ulama salaf umat ini, bukan sekadar pengetahuan tentang hukum, walaupun diperoleh dari hasil taqlid kepada orang lain atau mengutip perkataannya dengan tidak memiliki hujjah yang memuaskan. Dengan kata lain, dia mengetahui kebenaran melalui orang lain, dan mengikuti pendapat orang banyak yang tidak berdalil.

 

Ilmu, menurut mereka sekalilagi, ialah ilmu independen, yang disertai dengan hujjah, dan tidak perduli apakah ilmu ini disepakati oleh Zaid atau Amr. Ilmu ini tetap berjalan bersama dengan dalilnya kemanapun ia pergi. Dia berputar bersama kebenaran yang memuaskan di manapun berada.

 

Ibn al-Qayyim mengemukakan hujjah berkenan dengan larangan dan celaan melakukan taqlid berdasarkan firman Allah SWT:

 

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…” (QS. Al-Isra:36)

 

Dia berkata, “Taklid itu bukanlah pengetahuan yang disepakati oleh ahli ilmu pengetahuan itu.” Dalam I’lam al-Muwaqqi’in, ia menyebutkan lebih dari delapan puluh macam taqlid yang tidak benar, dan penolakannya terhadap syubhat yang dilakukan oleh para pelakunya.” Lihat I’lam al-Muwaqqi’in, juz 2, hal. 168-260, cet. Al-Sa’adah Mesir, yang ditahqiq oleh Muhammad Munyiddin Abd al-Hamid.

 

Kalau kejumudan pada lahiriah nash dianggap tercela, sebagaimana yang dilakukan oleh pengikut mazhab Zhahiriyah lama dan baru, maka celaan juga patut dikenakan terhadap kejumudan terhadap apa yang dikatakan oleh para tokoh terdahulu, tanpa mempedulikan perkembangan yang terjadi antar zaman kita dan zaman mereka, keperluan kita dan keperluan mereka, pengetahuan kita dan pengetahuan mereka. Saya kira, kalau mereka sempat hidup pada zaman kita sekarang ini sehingga mereka dapat melihat apa yang kita lihat, mereka hidup seperti kita hidup sekarang ini—pada posisi mereka sebagai orang yang mampu melakukan ijtihad dan perpandangan luas—maka mereka akan banyak mengubah fatwa dan hasil ijtihad yang telah mereka lakukan.

 

Bagaimana tidak? Sahabat-sahabat mereka, yang datang sesudah periode mereka banyak yang telah melakukan pengubahan, dikarenakan terjadinya perbedaan waktu dan zamannya, walaupun sebenarnya jarak waktu antara kelompok pertama dan kelompok yang kedua tidak begitu jauh. Bagaimana tidak, para imam ahli ijtihad itu sendiri telah banyak melakukan perubahan terhadap pendapat mereka ketika mereka masih hidup, karena mengikuti perubahan ijtihad yang baru mereka lakukan, bisa jadi karena pengaruh umur, kematangan, zaman, atau tempat mereka melakukan ijtihad?

 

Imam Syafi’i ra. sebelum pindah dan menetap di Mesir dia telah mempunyai mazhab yang dikenal dengan “Qaul qadim” (pendapat lama); kemudian setelah dia menetap di Mesir, dia mempunyai mazhab baru yang dikenal dengan “Qaul jadid” (pendapat baru). Hal ini terjadi karena dia baru melihat apa yang belum pernah dia lihat sebelumnya, dan dia baru mendengar apa yang belum dia dengar sebelum itu.

 

Imam Ahmad juga meriwayatkan bahwa dalam satu masalah dia mengeluarkan pandangan yang berbeda-beda. Hal ini tidak lain karena sesungguhnya fatwanya dikeluarkan pada situasi dan kondisi yang berbeda.

 

Sumber : Fiqh Prioritas, Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Robani Press, Cetakan kelima, 2007M

Iklan