Hasan Al-Bana adalah Seorang Sufi Yang Sesat???

 

Oleh : Ibnu Abdul Muis

 

Judul ini tidaklah aku maksudkan untuk memprovokasi kemarahan kalian, tapi sekedar membuka sedikit pemahaman kaku kalian. Mungkin sebagian dari kita adalah taklidiyun yang cukup hanya dengan sebuah ucapan yang dikuatkan dalil-dalil dan sebagian kutipan kecil dari sebuah buku tanpa mau menelitinya sendiri secara langsung.

 

Sebenarnya aku bosan untuk membahas hal-hal seputar ini, tapi sepertinya masih banyak orang-orang yang belum mengetahuinya secara detail karena kemalasan mereka dalam meneliti sesuatu. Alasannya mungkin tidak punya waktu atau mungkin karena ketaklidannya, seraya berucap, “Jikalau sudah ustadz anu yang bicara, insyaAllah saya percaya tanpa sangsi sedikitpun.” Atau, “Hampir seluruh sahabatku berkata ‘A’, maka adalah keharusan bagiku untuk berkata ‘A’ juga.”

Baiklah, sejujurnya tulisan ini dilatarbelakangi oleh ucapan beberapa orang yang mampir diblogku. Dan jauh sebelumnya, tepatnya saat krisis manhaj menerpa diriku dan aku berada di dua persimpangan yang sulit sekitar satu tahun yang lalu. Aku mendapati pembahasan seputar kesesatan paham sufi dari Hasan al-Banna. Banyak dari mereka yang menyebutnya al-Banna as-Sufi, atau al-Banna sufi yang sesat di website, blog, mailing list dan lain sebagainya.

 

Subhanallah, ternyata badai fitnah ini disebabkan kedekatan Hasan al-Banna dengan Thariqah Al-Hashafiyah saat remajanya. Orang-orang yang mengaku bermanhaj paling salaf ini, mengutip sebagian kecil dari buku-buku karangan al-Banna, yang kalau boleh aku menilai hanyalah sebagai bahan untuk menguatkan tuduhan mereka. Kalian bisa lihat di buku Terorisme dalam Tinjauan Islam, hal. 123 dan 161, Dialog Bersama Ikhwani hal. 15, atau Mereka Adalah Teroris, hal. 452 cetakan pertama. Untuk buku terakhir akan aku kupas sedikit setelah kalian baca kutipan lengkap dari buku yang [katanya] mereka kutip juga. Yaitu Mudzakkiratud Da’wah wad Dai’yah atau terjemahannya berjudul Memoar Hasan Al-Banna, Untuk Dakwah dan Para Da’inya yang diterbitkan Era Intermedia, Februari 2006, cetakan keempat, halaman 43-47.

 

Silakan baca dengan tenang dan perhatikan serta renungkan tulisan-tulisan yang saya beri tanda dengan warna biru.

 

Tentang Tasawuf

 

Barangkali ada manfaatnya jika dalam memoar ini saya mengemukakan beberapa pandangan seputar tasawuf dan tarekat dalam sejarah dakwah Islam. Tema ini meliputi perkembangan tasawuf, pengaruhnya, juga bagaimana ia dapat bermanfaat bagi masyarakat Islam. Saya tidak akan berupaya menyampaikannya berdasarkan penelitian ilmiah atau mengupas makna-makna idiomatiknya. Ini sekedar memoar yang ditulis secara spontanitas, sehingga yang dikemukakan di sini hanya yang dapat diingat dan dirasakan. Jika apa yang akan saya kemukakan ini benar, berarti kebenaran itu semata-mata dari Allah dan hanya milik-Nya segala puji. Jika tidak demikian, maka hanya kebaikanlah yang sebenarnya saya inginkan. Kuasa Allah-lah dalam segala urusan, sebelum dan sesudahnya.

 

Ketika kemakmuran pemerintahan Islam telah melebar luas pada permulaan abad pertama, penaklukan berbagai negeri juga banyak berlangsung, masyarakat dari berbagai penjuru dunia memberikan perhatiannya kepada kaum muslimin. Segala jenis “buah” telah tergenggam dan menumpuk di tangan mereka. Khalifah mereka ketika itu berkata kepada awan di langit, “Barat maupun Timur, entah bagian bumi mana pun yang mendapat tetesan air hujanmu, pasti akan datang kepadaku membawa upeti. “Adalah suatu hal yang lumrah, apabila umat manusia ketika menerima nikmat dunia ini, mereka menerimanya dengan menikmati kelezatan dan anugerah yang ada. Memang ada yang menikmatinya dengan kesahajaan, namun ada pula yang menikmati dengan berlebihan. Sudah menjadi hal yang lumrah juga bahwa perubahan social ini terjadi. Dari kesahajaan hidup di masa kenabian dahulu, kini telah sampai di masa kemewahan.

 

Melihat kenyataan ini, bangkitlah dari kalangan para ulama yang shalih dan bertaqwa serta para da’I yang menghimbau umat manusia untuk kembali kepada kehidupan zuhud terhadap kesenangan duniawi yang fana ini, sekaligus mengingatkan mereka akan berbagai hal yang dapat melupakan dirinya dari nikmat akhirat yang kekal abadi. Sungguh, kampung akhirat itulah kehidupan yang kekal lagi sempurna, jika mereka mengetahui.

 

Satu di antara mereka yang saya ketahui adalah seorang imam pemberi petuah yang mulia, Hasan al-Bashri. Meski akhirnya diikuti pula oleh sekian banyak orang shalih lainnya semisal beliau. Terbentuklah sebuah kelompok di tengah-tengah umat manusia, yang dikenal dengan dakwahnya untuk selalu mengingat Allah dan mengingat akhirat, hidup zuhud di dunia, serta mentarbiyah diri untuk selalu menaati Allah dan bertaqwa kepada-Nya.

 

Dari fenomena ini lahirlah format keilmuan, sebagaimana disiplin ilmu-ilmu keislaman lainnya. Terbangunlah suatu disiplin ilmu yang mengatur tingkah laku manusia dan melukiskan jalan kehidupannya yang spesifik. Tahapan-tahapan jalan itu adalah dzikir, ibadah, dan ma’rifatullah. Sedangkan hasil akhirnya adalah surga Allah dan keridhaan-Nya,

 

Itulah ilmu tasawuf, yang saya namakan ‘Ulum At-Tarbiyah wa As-Suluk (Ilmu Pembinaan dan Perilaku). Tidak dapat diragukan lagi bahwa ia merupakan bagian dari intisari Islam. Tidak dapat disangsikan pula bahwa dengan ilmu itu, kaum sufi (orang-orang tasawuf) dapat meraih suatu jenjang yang tidak dapat diraih oleh orang-orang selain mereka, yakni jenjang terapi dan pengobatan jiwa. Dengan cara ini mereka telah membawa umat manusia agar melakukan amal nyata, yaitu melaksanakan kewajiban yang dibebankan oleh Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta benar-benar menghadapkan diri kepada-Nya, sekalipun seringkali terjebak dalam tindakan yang berlebihan. Ini karena pengaruh semangat perlawanan terhadap kondisi zaman ketika itu. Misalnya berlebihan dalam berdiam diri, menahan lapar, tidak tidur malam, dan uzlah (mengasingkan diri). Sebenarnya semua ini ada dasar pijakannya dalam agama. Diam misalnya, ia berarti menghindarkan diri dari laghwun (perilaku yang tak berguna). Sedangkan menahan lapar, berarti ia puasa. Tidak tidur di waktu malam, berarti qiyamullail, dan uzlah hakikatnya adalah memelihara diri. Kalau saja pengamalannya proporsional, tepat pada garis yang telah ditetapkan oleh syara’, tentu hal itu merupakan gudang segala kebajikan.

 

Ternyata fikrah dakwah tasawuf tidak hanya berhenti sampai batas ilmu suluk dan terbiyah. Kalau saja ia berhenti pada batas ini tentu saja membawa kebaikan baginya dan bagi umat manusia seluruhnya. Sayangnya, setelah abad-abad pertama berlalu, tasawuf berkembang melampaui wilayahnya. Ia sampai pada batas memberi kebebasan liar kepada dzauq (cita rasa nafsu) dan wajd (intuisi), disamping mencampuradukkannya dengan ilmu-ilmu filsafat, manthiq (logika), serta warisan cara berpikir umat terdahulu. Akhirnya, agama tercampur oleh sesuatu yang bukan berasal darinya. Terbukalah lubang-lubang yang cukup lebar bagi masuknya perilaku zindiq, atheis, atau orang yang rusak pendapat maupun aqidahnya, dengan atas nama tasawuf dan zuhud. Dengan itu mereka berobsesi untuk dapat meraih nilai-nilai ruhiyah yang cemerlang. Dengan demikian, segala hal yang ditulis atau dikatakan orang tentang masalah ini harus benar-benar menjadi perhatian dan pelajaran yang mendalam bagi para pemerhati agama Allah, juga bagi siapa saja yang ingin menjaga kebersihan dan kesucian agamanya.

 

Setelah itu, tibalah saatnya fikrah tasawuf mendapatkan bentuknya yang aplikatif. Bersamaan dengan itu muncullah berbagai cabang fikrah tasawuf, yang masing-masing memiliki cara tersendiri dalam melakukan tarbiyah kepada anggotanya. Selanjutnya politik pun memainkan perannya dalam mempengaruhi berbagai aliran tasawuf ini. Ia terkadang lahir dalam bentuk institusi militer, terkadang pula lahir dalam bentuk organisai khusus yang lain. Demikianlah, ia berkembang dengan berbagai bentuknya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini, yang merupakan produk dari perjalanan sejarahnya yang panjang. Di Mesir, kini tampil berbagai aliran tasawuf dengan para syaikh, para tokoh, serta para pengikutnya yang fanatic.

 

Tidak perlu disangsikan bahwa tasawuf dan tarekat telah menjadi factor penting dalam ikut menyebarkan Islam di berbagai negeri, juga mengantarkan Islam ke pelosok-pelosok bumi yang jauh, di mana ia tidak mungkin sampai di sana melainkan dari tangan para da’I itu. Hal ini seperti yang telah terjadi dan akan terus terjadi di negeri-negeri Afrika, baik di gurun pasir maupun di pedalamannya. Hal serupa juga terjadi di beberapa negeri di Asia.

 

Dengan demikian tidak juga diragukan bahwa penggunaan kaidah-kaidah tasawuf untuk tujuan tarbiyah dan pembenahan suluk memiliki dampak yang bagus dalam jiwa mutarabbi (orang yang dibimbing). Ucapan-ucapan kaum sufi dalam soal ini sangat tajam kekuatan pengaruhnya, tidak seperti layaknya ucapan selain mereka. Sayangnya, kekacauan dan campur-aduknya dengan berbagai fikrah telah banyak merusak manfaat tersebut, bahkan menghilangkannya.

 

Adalah menjadi kewajiban bagi para pembaharu untuk berpikir secara mendalam bagaimana melakukan perbaikan pada kelompok-kelompok ini. Memperbaiki mereka sebenarnya mudah, karena mereka mempunyai kesiapan yang sempurna untuk itu, sekiranya mereka diarahkan secara benar dan bijaksana ke arah itu. Lagi pula, mereka tidak membutuhkan kecuali beberapa personil ulama yang shalih yang senantiasa beramal serta para pemberi petuah yang jujur dan tuluh, untuk melakukan kajian terhadap komunitas ini. Selain itu juga bagaimana mengambil manfaat dari kekaaan ilmiah ini dan memurnikannya dari berbagai noda yang melekat padanya, lalu memandu mereka secara benar.

 

Saya ingat bahwa As-Sayyid Taufiq Al-Bakri rahimahullah pernah memikirkan masalah itu. beliau melakukan kajian ilmiah dan amaliah (teoritis dan aplikatif) terhadap para syaikh tarekat, lalu menulis sebuah buku mengenai hal ini. Namun sayang, proyek yang telah diawali itu belum sempurna dan berhenti. Setelah itu, tidak ada lagi para syaikh yang memperhatikan masalah ini. Saya juga ingat bahwa Syaikh Abdullah Afifi rahimahullah pernah memberikan perhatian terhadap masalah ini. Beliau banyak membicarakan masalah ini dengan para syaikh Al-Azhar dan dengan para ulama lainnya. Namun sayang, ia sekedar gagasan belaka yang tidak pernah terlaksana secara nyata.

 

Seandainya Allah menghendaki—kekuatan ilmiah Al-Azhar bertemu dengan kekuatan ruhiyah kaum tarekat, ditambah kekuatan aktivitas jamaah-jamaah Islamiyah—tentulah umat Islam akan menjadi umat yang tiada tandingannya. Segolongan umat yang berada pada posisi mengarahkan dan bukan diarahkan, memimpin dan bukan dipimpin, memberikan pengaruh kepada umat lain dan bukan dipengaruhi, serta dapat mengarahkan masyarakat yang sesat menuju jalan yang lurus.

 

Ikhwani fillah, Kesimpulan apakah yang bisa kalian pikirkan dari kutipan di atas?

 

Baiklah, berikut aku pertegas kembali tulisan-tulisan berwarna birunya:

[1] Ini sekedar memoar yang ditulis secara spontanitas, sehingga yang dikemukakan di sini hanya yang dapat diingat dan dirasakan.

 

[2] Ternyata fikrah dakwah tasawuf tidak hanya berhenti sampai batas ilmu suluk dan terbiyah. Kalau saja ia berhenti pada batas ini tentu saja membawa kebaikan baginya dan bagi umat manusia seluruhnya.

 

[3] Sayangnya, kekacauan dan campur-aduknya dengan berbagai fikrah telah banyak merusak manfaat tersebut, bahkan menghilangkannya.

Apakah kalian semakin mengerti dengan point-point di atas? Atau kalian memang masih belum juga bisa mencernanya seperti mereka?

 

InsyaAllah, aku yakin kalian bisa memahaminya dengan baik, karena kalian adalah ikhwah-ikhwah yang suka berdiskusi untuk mendapatkan sebuah pemahaman yang jelas dan lengkap tanpa ada keraguan sedikitpun. Tapi sayangnya aku masih meragukan mereka, karena itu ada baiknya kalau aku lanjutkan dengan beberapa pertanyaan agar point-point biru di atas bisa dipahami lebih mudah.

 

 

[a] Apakah pujian Hasan Al-Banna terhadap sufi terlalu berlebihan?

 

[b] Adakah rasa penyesalan dalam diri Hasan al-Banna atas fikrah sufi/tasawuf ini saat dia menulis memoarnya?

 

[c] Apakah memoarnya berisi cerita masa lalunya atau masa yang sedang dialaminya saat menulis memoarnya ini?

 

[d] Apakah saat menulis memoar ini Hasan al-Banna masih seorang sufi?

 

Seperti janjiku di atas, berikut aku kutipkan sebagian isi dari buku Mereka Adalah Teroris! hal. 452, catatan kaki/cetakan pertama, (perhatikan kalimat bergaris bawah):

 

Dia adalah penganut shufi tarekat Al-Hushafiyyah. Dia berkata di dalam bukunya Mudzakkiratud Da’wah wad Da’iyyah hal. 27: “Aku bersahabat dengan saudara-saudaraku dari tarekat Al Hushafiyyah di Damanhur dan aku selalu menghadiri acara-acara mereka, berkumpul untuk berdansa-dansi dan bernyanyi-nyanyi di Masjid At Taubah pada tiap malam.” Di halaman lain dalam bukunya ia juga berkata: ‘Aku singgah di Damanhur untuk mendalami ide-ide sekte Al Hushafiyyah.” Damanhur adalah sebuah kota tempat kuburan Sayid Husain Al Hushafi, pendiri tarekat Al Hushafiyyah.”

 

 

Ini adalah sebagian dari kutipan yang akhirnya menjadikan sebagian jamaah yang katanya mengaku paling salaf menyamakan suaranya dan memberikan bahwa Hasan al-Banna adalah shufi [baca shufi yang sesat]. Karena apa? Karena dia [Hasan al-Banna] berkumpul untuk berdansa-dansi dan bernyanyi di Masjid At-Taubah. Karena perbuatan ini adalah perbuatan bid’ah yang tidak ada asal-usulnya dalam Islam.

 

Baiklah ikhwani fillah, berikut adalah terjemahan selengkapnya dari alinea yang dimaksud,

 

Hatiku benar-benar telah terpaut dengan Syaikh rahimahullah ini, hingga saya sekolah di Madrasatul Mu’alimin Al-Awwaliyah di Damanhur. Di sanalah terletak makam beliau dan bangunan masjidnya yang belum lagi selesai di bangun ketika itu. Namun tidak lama kemudian berhasil juga diselesaikan. Saya cukup tekun mengunjunginya, bahkan hampir setiap hari. Saya bersahabat dengan ikhwan-ikhwan Hashafiyah di Damanhur. Saya juga tekun datang ke masjid At-Taubah setiap malam. Saya menanyakan siapa yang menjadi ketua ikhwan-ikhwan di sini. Ternyata ia adalah seorang lelaki shalih yang bertaqwa, Syaikh Basyuni, yang juga seorang pedagang. Saya memohon kepadanya agar ia mengizinkanku berbai’at kepadanya. Ia pun menyanggupi. Ia berjanji kepadaku bahwa ia akan membawa diriku ke hadapan As-Sayyid Abdul Wahhab apabila beliau sudah dating.

 

Hingga saat ini saya belum pernah berbai’at secara resmi kepada seorang pun dalam jamaah tarekat. Saya hanyalah salah satu dari muhibbun, menurut istilah mereka.

 

Akhirnya As-Sayyid Abdul Wahhab tiba di Damanhur dan para ikhwan pun memberitahuku soal kedatangan beliau. Saya gembira sekali dengan berita ini. Saya menghadap Syaikh Basyuni dan memohon agar dapat berguru kepada Syaikh. Ia mengabulkan. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 4 Ramadhan 1341 H. usai shalat Ashar. Apabila saya tidak salah ingat, peristiwa itu bertepatan dengan hari Ahad yang pada hari itulah saya mengambil tarekat Hashafiyah Syudziliyah dari beliau dan beliau mengizinkanku untuk melaksanakan daur dan washifah (wirid) tarekat tersebut.”[1]

 

Ikhwani fillah, bandingkanlah alinea yang terdapat pada buku Mereka Adalah Teroris dan terjemahan buku yang dikutipnya tersebut. Tidak ada kata-kata “untuk berdansa-dansi dan bernyanyi-nyanyi” di sana.

 

Kalaupun mau dipaksakan, saya mendapati mungkin yang dimaksud penulis buku ini adalah pada terjemahan pada halaman 34-35 dengan isi sebagai berikut,

 

Saya sendiri secara tekun menghadiri kajian Syaikh Zahran rahimahullah, antara maghrib dan isya’. Saya sungguh dibuat terpesona olej halaqah dzikir dengan suaranya yang teratur, nasyid-nya yang bagus, dan semangat ruhiyahnya yang menggelora. Saya juga terpikat oleh toleransi dan sikap rendah hati orang-orang yang dzikir, yang terdiri dari para sesepuh yang mulia dan para pemuda salih. Mereka begitu toleran dan rendah hati menghadapi anak-anak kecil yang ikut meramaikan majelis mereka untuk berdzikir.

 

Tapi sayangnya isinya juga tidak terdapat kata-kata berdansa-dansi. Atau mungkin dia teringat dengan sebagian ulah kaum sufi yang biasanya berdzikir sambil menari, bermusik, ala kaum darwisy? Kalaupun benar terjadi seperti itu, lihatlah tulisan tebal berwarna biru di atas! Berikut aku bantu memperjelasnya:

 

[a] Madrasatul Mu’alimin Al-Awwaliyah

Di Indonesia ia setingkat dengan SMU atau MAN. Lebih jelasnya lihat sub judul “Pindah ke Madrasah Al-Mu’alimin Al-Awwaliyah di Damanhur” pada Memoar Hasan Al-Banna hal. 34 paragraf ke-3. Di sana tertulis, “Tibalah saatnya pendaftaran. Ternyata ada dua kendala menghadang: kendala usia (umurnya baru tiga belas setengah tahun, padahal usia minimal untuk dapat diterima adalah empat belas tahun)

 

[b] Peristiwa ini (berbai’at) terjadi pada tanggal 4 Ramadhan 1341 H. usai shalat Ashar.

Hasan Al-Banna lahir pada tahun 1906M/1326H, maka tahun 1341H usianya baru sekitar 15 tahun, hal ini dipertegas dengan penggalan di bawah ini,

 

[c] Mereka begitu toleran dan rendah hati menghadapi anak-anak kecil yang ikut meramaikan majelis mereka untuk berdzikir.

 

Jadi kalaupun mau dipaksakan juga bahwa Hasan al-Banna adalah seorang sufi yang sesat (karena para pengaku paling salaf ini menafikan kebaikan siapapun/kelompok yang dianggap ahlul bid’ah atau sesat seperti sufi) itu terlalu berlebihan. Terbukti beliau masih sangat muda. Dimana banyak orang yang tidak memanfaatkan usia mudanya secara maksimal, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk agama ini. Bahkan tidak sedikit orang yang justru menghabiskan masa mudanya dengan hal-hal atau perbuatan maksiat atau hura-hura. Contoh yang lagi hot saat ini adalah GENK NERO.

 

Mendiskreditkan seseorang di saat mudanya—jika memang orang tersebut pernah terjerumus dalam kesalahan dan dosa—sama saja dengan mencari-cari kesalahan seseorang.

 

Atau karena alasannya adalah penilaian terhadap kesalahan harus didahulukan agar manusia menjauhi kesalahan tersebut. Adapun kebaikan yang ada padanya, toh kami pun dapat melakukannya!

 

Atau karena alasannya adalah bahwa ahlul bid’ah jauh lebih sesat dari pada ahlul maksiat?

 

Lantas bagaimana menurut kalian tentang paham Kuburiyun??? Aku tahu jawaban kalian!!! Tapi tahukah kalian bahwa Syaikh Al-Albanny rahimahullah, seorang ulama yang aku kagumi terlebih-lebih kalian sendiri wahai orang-orang yang mengaku paling salaf, bahwa seperti yang diceritakannya sendiri, masa kecilnya sangat dipengaruhi ayahnya yang seorang alim dan fanatic terhadap mazhab Hanafi. Ia sering diajak menziarahi kubur orang-orang yang dianggap wali Allah dan diyakini memiliki keutamaan shalat di sana, seperti kubur Ibnu Arabi dan An-Nablusi. Dengan niat itu juga ia berangkat shalat ke masjid Al-Umawi dengan keyakinan shalat di sana lebih afdhal daripada di Masjid lainnya. Karena mereka berkeyakinan adanya makam Nabi Yahya di situ.

 

Syaikh Al-Albanny menuturkan, “Aku masih mengikuti pemahaman ayahku tersebut hingga Allah menunjukkan kepadaku jalan As-Sunnah. Aku melepas banyak sekali ajaran-ajaran yang aku terima darinya yang dahulu diyakini sebagai sarana pendekatan diri dan ibadah.”[2]

 

Tentu kondisi pada masa kecil ini yang ia tinggalkan pada masa selanjutnya, tidak sepantasnya Syaikh Al-Albany dicela dengan sebutan qubury (penyembah kuburan). Begitu pula Hasan Al-Banna, jika pada masa kecilnya pernah tertarik dengan dunia tasawuf, lalu ia tinggalkan pada masa selanjutnya, tidak sepantasnya ia dicela dengan sebutan sufi bathiny, namun sayangnya celaan ini sudah terlanjur terjadi lantaran sikap isti’jal, emosional, dan tidak utuh dalam menilai hidup dan pemikirannya.

 

Mungkin mereka memang tidak memiliki kemampuan atau sengaja tidak mau mencerna sesuatu dengan baik.

 

Beruntunglah Syaikh Hasan Al-Banna, sekalipun telah menghadap wajah Tuhannya, pahalanya tetap mengalir karena celaan dan fitnahan yang tidak terbukti dari orang-orang yang mengharapkan dakwahnya meredup. Apalagi, hujatan itu menjadi mentah dan lemah lantaran kaum sufi di Mesir sendiri, justru menganggap Hasan al-Banna dan pengikutnya adalah Wahabi-Salafi yang mengingkari kaum sufi dalam banyak hal seperti pemikiran-pemikiran dan dzikir-dzikir yang dinilai bid’ah dan sesat. [3]

 

Wallahu’alam bishowab.

 

Footnote:

[1] Memoar Hasan Al-Banna, Untuk Dakwah dan Para Da’inya, Era Intermedia, Februari 2006, cetakan keempat, hal. 40-41

[2] Umar Abu Bakar, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albanny Dalam Kenangan, hl. 19

[3] Yusuf Al-Qaradhawy, 70 Tahun al-Ikhwan Al-Muslimun, hal. 312 dan Jampi dengan pengarang yang sama, hal. 93

 

Sumber : Memoar Hasan Albanna, Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah Yang Terzalimi, Siapa Teroris Siapa Khawarij.