Sifat Dunia

Saudaraku tercinta…

Di antara sesuatu yang aneh bahwa seorang hamba percaya akan adanya alam yang abadi, tetapi dia berusaha hanya untuk mencari dunia yang penuh dengan tipuan. Siapa yang dicintai Allah, maka Dia akan melindunginya dari dunia sebagaimana seseorang di antara kalian menjaga temannya yang sakit dari menyentuh air, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits marfu’:

Sesungguhnya Allah tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih Dia benci daripada dunia dan sesungguhnya Dia tidak pernah melihatnya semenjak menciptakannya.”

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu ditanya, “Wahai Amirul Mukminin terangkanlah sifat dunia kepada kami?” Beliau berkata, “Ia adalah sebuah tempat di mana orang yang sehat berada dalam keadaan aman, orang yang sakit berada dalam keadaan menyesal, orang yang fakir akan bersedih, orang yang kayak akan terkena fitnah, halalnya pasti akan diperhitungkan, sedangkan yang haramnya adalah bagian dari Neraka.”

Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah menyifati dunia dengan ungkapannya, “Aku sama sekali tidak menyerupakan dunia kecuali bagaikan seseorang yang sedang tidur, lalu dia melihat sesuatu uang dicintai dan dibencinya dalam tidur tersebut. Ketika dia berada dalam keadaan demikian, tiba-tiba saja dia bangun dan tersadar.”[1]

Syumaith bin ‘Ajlan berkata, “Ada dua (jenis) manusia yang akan disiksa di dunia: orang kaya yang diberikan kekayaan dunia, lalu dia sibuk dengannya dan seorang fakir yang dunia disingkirkan darinya tetapi dia selalu mendorong jiwanya kepada dunia, ketika dia diberikan dunia, maka dia akan memutusnya dengan merasakan berbagai kerugian.”[2]

Ketika seseorang mencela dunia di hadapan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Dunia adalah tempat kejujuran bagi orang yang membenarkannya, tempat keselamatan bagi orang yang memahaminya, dan tempat kekayaan bagi orang yang ingin membekali diri dengannya.”[3]

Seringkali dunia dicela dan menjadi sebab keburukan dan jauhnya ketaatan seseorang. Dia tidak tahu bahwa dunia adalah tempat untuk membekali diri, bahkan di sanalah jalan menuju Surga dibangun dan di sanalah seseorang membekali dirinya, sehingga mencapai derajat yang sangat tinggi, akan tetapi…

Semua manusia mencela zaman,

Padahal zaman itu tidak memiliki aib,

Sebenarnya di dalam diri kilalah aib itu.

Kita mencela zaman padahal aib ada di dalam diri kita,

Seandainya dia bisa bicara,

Niscaya dia akan melemparkan kita.[4]

Al-Auza’I menasihati manusia dengan ungkapannya, “Bertakwalah kalian dengan nikmat ini, dengannya kalian jauh dari Neraka Allah yang menyala-nyala, karena sesungguhnya kalian ada di bumi hanya sebentar saja, keberadaan kalian akan dipercepat, sebagai pengganti bagi orang-orang yang ada sebelum kalian. Mereka adalah kaum yang telah mendapatkan dunia dengan semua keindahan dan perhiasannya. Mereka meiliki umur yang lebih panjang daripada kalian, bahkan postur tubuh merekapun lebih tinggi. Dan merekalah yang memiliki peninggalan yang sangat agung, memahat gunung-gunung, menembus batu-batu besar, berpetualang ke seluruh belahan dunia, dan badan-badan mereka bagaikan tiang. Tidak lama kemudian jatah mereka habis, peninggalan mereka dimusnahkan, dan rumah-rumah mereka dirobohkan, dan mereka semua dilupakan sehingga salah satu di antara kalian sama sekali tidak merasakan keadaan mereka atau mendengarkan berita mereka dari suara yang berbisik sekalipun. Mereka semua percaya dengan angan-angan mereka, merekalah kaum yang penuh dengan kelalaian sehingga mereka menjadi kaum yang penuh dengan penyesalan.”[5]

Footnote:

[1] ‘Iddatush Shaabiriin, hal. 355

[2] Shifatush Shafwah (III/347)

[3] Adabud Dun-yaa wad Diin, hal. 134

[4] Az-Zuhd, hal. 157, karya al-Baihaqi

[5] Asy-Syukr, hal. 15

Sumber: Menyikapi Kehidupan Dunia, Negeri Ujian Penuh Cobaan, ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Cet. II, September 2005, Pustaka Ibnu Katsir

Iklan