Dunia Hanya Berhari-Hari

Al-Hasan radhiyallahu’anhu berkata, “Wahai anak Adam! Dunia hanyalah berhari-hari, jika dia berlalu, maka hari itu akan mengurangimu.”

Kita semua berjalan dengan menjulurkan lidah di belakang dunia… kita semua takut akan kefakiran dan sangat tamak akan semua materi duniawi… seakan-akan kita akan hidup selamanya… kita semua takut akan kefakiran tetapi tidak takut akan perhitungan pada hari esok dan kita semua takut akan kelaparan tetapi tidak akan takur siksa Allah.

Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata, “Orang yang paling dikasihi adalah jika ia takut akan siksa api Neraka sebagaimana ia takaut akan kefakiran, lalu di akhirat ia masuk Surga.”[1]

Lihatlah keadaan generasi Salaf, hal ini sebagaimana digambarkan oleh al-Hasan al-Bashri, beliau berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Aku telah menemukan suatu kaum (para Sahabat Nabi), dimana dunia bagi mereka lebih hina dari pada tanah yang mereka injak.”

Kita mencela zaman, padahal dia tidak memiliki kesalahan,

dan kita mengadu kepadanya jika seseorang merasakan cukup atasnya.

Padahal zaman sama sekali tidak berdosa,

Hanya kitalah yang berbuat kesalahan dan kita disiksa karena kesalahan itu.

Senang ataupun tidak itulah ketentuan Allah yang berlaku,

Maka bersabarlah dan serahkanlah segalanya kepada ketentuan Allah.[2]

Al-Fudhail berkata, “Hari-hari telah berlalu dan menceritakan perjalanannya, ‘Kemarin bekerja, sekarang beramal dan besok adalah harapan.”

Footnote:

[1] Taarikh Baghdad (X/367)

[2] Jannaatur Ridhaa’ (II/260)

Sumber: Menyikapi Kehidupan Dunia Negeri Ujian Penuh Cobaan, ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan kedua, September 2005