Dunia Adalah Arena Perlombaan

Oleh: ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim

Saudaraku tercinta…

Dunia adalah arena perlombaan, debu berhamburan sehingga sang juara tidak lagi terlihat, sedangkan manusia dalam sebuah arena perlombaan antara sang juara dan pejalan kaki serta pembawa keledai yang terkena debu…

Anda akan melihat jika debu telah tiada, apakah yang ada di bawah Anda itu kuda atau keledai.

Kita semua berjalan menuju ajal kita… umur kita semakin berkurang sedangkan akhir dari kehidupan kita semakin mendekat… kita berjalan dengan lalai.

Kita sama sekali tidak memperhitungkan hari-hari ini… dan sama sekali tidak mempersiapkan perbekalan untuk hari akhir.

Al-Hasan rahimahullah berkata, “Kalian berangan-angan mendapatkan umur seperti umur Nabi Nuh ‘Alaihissalam, sedangkan kematian selalu mengetuk kalian setiap malam.”[1]

Dia memilih dunia untuk kekal bersamanya, lalu akhirnya dua mendatangi kematian sebelum angan-angannya terwujud.

Dengan cepat dia menyiram batang kurma, batang kurmanya tetap hidup sedangkan yang menyiramnya telah mati.[2]

Abu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah berkata, “Seandainya engkau merasa puas dengan apa yang mencukupimu dari dunia, maka kehidupan dunia yang paling rendah akan bisa mencukupimu, dan seandainya engkau tidak puas dengan sesuatu yang mencukupimu, maka tidak akan ada yang dapat mencukupimu dari dunia ini.” [3]

Demi Allah, aku melihat orang yang memiliki dunia telah dikafani, aku juga melihat orang yang tidak memiliki kekayaan dunia sedikit pun pergi meninggalkan dunia dengan dikafani. Semuanya sama, ada di dalam kuburan, walaupun di dalamnya mereka berbeda. Taman Surga atau satu lubang dari lubang-lubang Neraka yang mereka dapatkan.

Sesungguhnya dunia merupakan jalan menuju Surga atau Neraka, malam adalah tempat dagangan manusia sedangkan siangnya adalah pasar.[4]

Ketika Abu Shafwan ar-Raini ditanya, “Kehiduan dunia yang bagaimanakah yang dicela oleh Allah di dalam al-Qur’an dan yang dianjurkan untuk dijauhi oleh orang yang berakal?” Beliau menjawab, “Segala sesuatu yang engkau cintai di dunia dengan tujuan dunia, maka itulah yang dicela. Sedangkan yang engkau cintai dari dunia ini dengan tujuan akhirat, maka itu bukanlah bagian darinya (tidak tercela).”[5]

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu menyifati dunia dengan perkataannya, “Yang halal pasti diperhitungkan dan yang haram darinya adalah Neraka.”

Dikatakan, “Diwahyukan kepada Dawud ‘Alaihissalam, ‘Wahai Dawud! Sungguh Aku memperhatikan seorang kakek setiap padi dan sore. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai hamba-Ku, engkau telah berusia lanjut, kulit-mu sudah tipis, tulangmu sudah rapuh, dan telah tiba waktunya untuk menghadap kepada-Ku, maka malulah kepada-Ku, niscaya Aku akan merasa malu kepadamu.’[6]

Kecelakaan bagi manusia di dunia, walaupun dia memperoleh angan-angannya.

Di dalamnya dia hidup dengan penyakit, dan angan-angan tersembunyi.

Kelihatannya dia ada dalam keadaan sehat, dengan hati yang senang, dan ternyata dia adalah orang yang sakit.

Ketika dia berdiam di dalamnya untuk selamanya, ternyata dikatakan untuknya bahwa dia telah pergi.

Orang yang paling beruntung adalah orang yang selalu diikuti oleh amal yang baik.[7]

Footnote:

[1] Az-Zuhd, karya al-Hasan al-Bashri.

[2] Shifatush Shafwah (IV/65)

[3] Shifatush Shafwah (II/158)

[4] Az-Zuhd, hal. 317, karya al-Baihaqi

[5] Tazkiyatun Nufuus, hal. 128

[6] Az-Zahrul Faa-ih, hal. 42

[7] Al-Ihyaa’ (IV/170)

Sumber: Menyikapi Kehidupan Dunia Negeri Ujian Penuh Cobaan, ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan kedua, September 2005

Iklan