CATATAN 11

Arogansi Seorang Ustadz Salafi

 

Arogan atau arrogant adalah sombong, suatu sifat yang sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa Allah berfirman,

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ .

“Kesombongan adalah selendangku dan keagungan adalah adalah kainku. Maka barangsiapa yang menyelisihi-Ku1 pada salah satunya, Aku akan lemparkan dia ke dalam neraka.”2

Dan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ .

“Tidak masuk surga: orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meski hanya sebesar biji sawi.”3

Secara sederhana, setidaknya tanda-tanda sombong ada tiga, yaitu:

  1. Menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain.

  2. Menolak kebenaran.

  3. Meremehkan atau merendahkan orang lain.

Tiga karakter ini bisa dilihat dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika berkisah tentang sikap iblis yang membangkang perintah Allah untuk bersujud kepada Adam, Al-Qur`an Al-Karim menuturkan,

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ .

“Allah berfirman; ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab; ‘Saya lebih baik daripada dia. Engkau menciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raaf: 12)

Dalam ayat lain disebutkan,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ .

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat; ‘Bersujudlah kalian kepada Adam,’ maka bersujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)

Dalam hadits shahih, disebutkan bahwa,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ . (رواه مسلم)

“Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim)4

Jadi, sombong adalah akhlaq yang buruk lagi tercela. Ia dilarang dalam agama Islam. Sombong adalah karakter iblis. Karena kesombonganlah, iblis diusir dari surga. Sebagai seorang muslim, kita tidak boleh sombong. Apalagi, jika kita mengaku mengikuti salafush shalih, maka hendaknya kita buang jauh-jauh sifat sombong ini dari diri kita. Sebab, tidak ada satu pun ulama salaf yang memiliki sifat sombong dan mengajarkan kesombongan.

Sekarang, mari kita lihat tanda-tanda kesombongan dalam buku MDMTK.

Al Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Ba’abduh berkata,

Saudara Abduh ZA tidak memandang kalimat/komentar tersebut sebagai kalimat yang memiliki arti penting dan nilai yang sangat besar dalam ilmu hadits, sehingga dalam pandangannya tidak perlu dinukilkan. Tentu hal ini menunjukkan –ma’af– dangkalnya pengetahuan saudara Abduh ZA tentang ilmu hadits dan lafazh-lafazh yang digunakan oleh para muhadditsin (para pakar hadits) dalam menilai atau mengomentari suatu hadits.”5

Perhatikan kalimat yang kami beri garis bawah. Al Ustadz Luqman mengatakan bahwa kami mempunyai pengetahuan yang dangkal dalam ilmu hadits. Ini jelas merendahkan dan melecehkan orang lain. Dan, ini adalah sebuah arogansi. Terlepas dari yang direndahkan adalah kami atau perendahan itu dibumbui kata maaf, tetapi sungguh hal semacam ini tidak layak dilakukan oleh seorang muslim. Siapa pun orangnya. Apalagi jika orang tersebut mengaku bermanhaj salaf. Dan apalagi orang tersebut diustadzkan di kalangan salafi.

Setelah merendahkan kami, kali ini Al Ustadz Luqman Ba’abduh merendahkan buku DSDB yang ditulis Ustadz Abu Abdirrahman Al Thalibi. Beliau berkata,

Sangat disayangkan, ternyata buku STSK yang –katanya– memiliki bobot ilmiah ini, telah menjadikan sebuah buku yang sangat (ma’af) murahan dan sama sekali tidak memiliki bobot ilmiah –terkhusus menurut kriteria saudara Abduh ZA– sebagai salah satu sumber rujukan. Yaitu buku yang berjudul Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak (sering disingkat dengan DSDB), yang dipuji saudara Abduh ZA …”6

 

Di sini, Al Ustadz Luqman benar-benar telah menampakkan kesombongannya yang sangat tidak pantas dilakukan oleh siapa pun. Bagaimana mungkin ada seorang ustadz salafi mengatakan sebuah buku sebagai; “Sangat murahan” dan “Sama sekali tidak memiliki bobot ilmiah?” Meskipun terselip kata maaf, namun inti dari perkataan ini jelas sangat melecehkan sebuah karya (buku) sekaligus penulisnya. Padahal, sebagai seorang yang masih memiliki akal sehat, mestinya Al Ustadz Luqman bisa menanggapi buku DSDB dengan cara yang sehat pula. Bukan dengan cara merendahkan dan pamer keangkuhan semacam ini. Lagi pula, mengatakan “sama sekali tidak memiliki bobot ilmiah” seperti ini, sama saja dengan menihilkan dan mengabaikan semua yang ada di dalamnya; termasuk ayat-ayat suci Al-Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta fatwa para ulama besar Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Dan, ini jelas sangat bertentangan dengan akhlaq seorang muslim.

Sikap merendahkan dan melecehkan dari Al Ustadz Luqman yang mengaku bermanhaj salaf terhadap buku DSDB tidak berhenti hanya pada nukilan di atas. Show of arrogant ini berlanjut dan menguat pada perkataan Al Ustadz Luqman berikutnya,

“… maka kami katakan bahwa buku tersebut memang nilainya “bak kacang goreng”. Nah, buku STSK yang katanya ilmiah ini, objektif dan proporsional ini, ternyata menjadikan buku tersebut sebagai salah satu rujukannya.

Sekadar contoh yang menunjukkan bahwa buku tersebut benar-benar bak kacang goreng …”7

 

Lihatlah, bagaimana Al Ustadz Luqman melecehkan buku DSDB sedemikian rupa. Menyamakan sebuah buku yang ditulis dengan mencurahkan pikiran dan waktu dengan kacang goreng, jelas merupakan suatu pelecehan yang keterlaluan. Belum lagi, di dalamnya terdapat firman Allah ‘Azza wa Jalla dan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta fatwa-fatwa para ulama besar.

Kacang goreng adalah makanan rakyat yang harganya relatif murah. Jelas sangat berbeda antara mengatakan buku DSDB laris bak kacang goreng dengan mengatakannya “benar-benar bak kacang goreng” atau “nilainya bak kacang goreng.” Sebab, hal ini sama saja dengan mengatakan “murahan.” Dan, memang inilah yang sejatinya dikehendaki oleh Al Ustadz Luqman, dimana sebelumnya beliau mengatakan bahwa buku DSDB “sangat murahan” dan “sama sekali tidak memiliki bobot ilmiah.”

Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah juga mengulangi show of arrogant-nya ketika mengatakan,

Demikianlah selayang pandang tentang buku Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak yang ternyata tidak bijak dan nilainya benar-benar bak kacang goreng. Semula kami ingin membantah buku tersebut. Namun karena mutu dan isinya sangat rendah dan penulisnya sangat pandai bersilat lidah –sebagaimana tulisan-tulisannya di milis-milis internet–8 maka kami tidak ingin menjerumuskan diri dalam kenistaan. Waktu kami terlalu mahal untuk itu.”9

Ada beberapa nada kesombongan dalam nukilan di atas, yaitu:

  • Buku DSDB tidak bijak dan nilainya benar-benar bak kacang goreng.

  • Mutu dan isinya sangat rendah.

  • Penulisnya sangat pandai bersilat lidah.

  • Membantah buku DSDB sama saja dengan menjerumuskan diri dalam kenistaan.

  • Menganggap waktunya terlalu mahal untuk membantah DSDB.

 

Sungguh, kesombongan semacam ini sangat tidak pantas dilakukan oleh Al Ustadz Luqman Ba’abduh dan siapa pun. Mengatakan mutu dan isi buku DSDB sangat rendah, jelas-jelas sebuah perendahan dan pelecehan yang sangat kasar. Padahal, banyak kalangan yang memuji isi buku DSDB ini dan banyak pula yang merasa tercerahkan dengan kehadirannya. Mengatakan penulisnya sangat pandai bersilat lidah juga merupakan pelecehan. Sebab, setiap orang berhak membela diri dan memberikan penjelasan atas apa yang telah dilakukan atau disampaikannya. Dan dalam hal ini, penulis DSDB telah melakukannya dengan baik.

Kemudian, jika Al Ustadz Luqman menganggap bahwa membantah buku DSDB sama saja dengan menjerumuskan diri dalam kenistaan, maka secara tidak langsung beliau justru menistakan diri beliau sendiri. Karena dua buku beliau, yaitu MAT dan MDMTK pun adalah buku bantahan. Buku pertama membantah Imam Samudra, dan buku kedua membantah kami. Bahkan, sejumlah tulisan dan rekaman beliau yang datanya bisa ditemui di internet,10 banyak sekali yang temanya berupa bantahan. Apakah beliau merasa jika membantah DSDB akan menjerumuskan diri ke dalam kenistaan sementara jika membantah selain DSDB, beliau tidak merasakan hal yang sama?

Berikutnya, perkataan Al Ustadz Luqman bahwa waktunya terlalu mahal untuk membantah DSDB, juga merupakan kesombongan. Dikiranya yang waktunya –terlalu– mahal hanya waktu beliau, sementara waktu orang lain dianggap murah. Demikian kurang lebih mafhum mukhalafah (baca: secara tidak langsung) perkataan Al Ustadz Luqman. Padahal, beliau sering meluangkan waktunya untuk membantah dan membantah, meski tidak pernah secara langsung di hadapan orang atau pihak yang dibantah.11

Berbicara tentang akhlaq, tampaknya tidak cukup signifikan jika yang kami tampilkan di sini hanya tanda-tanda kesombongan Al Ustadz Luqman dalam buku MDMTK saja. Tidak ada salahnya, jika kami juga kutipkan beberapa hal semacam ini dari buku beliau sebelumnya, MAT. Misalnya ucapan beliau yang terhormat di bawah ini,

Benar… orang serendah dan sebodoh para teroris — baik itu Usamah bin Laden, Salman, Safar, atau bahkan lebih-lebih teroris dari Indonesia ini: Imam Samudra, dan cs-nya — tidak akan bisa menilai seperti penilaian para ulama besar tersebut.”12


Di sini, Al Ustadz Luqman terang-terangan merendahkan dan membodohkan Syaikh DR. Safar bin Abdirrahman Al-Hawali, Syaikh DR. Salman bin Fahd Al-Audah, dan juga Usamah bin Laden –terlepas dari kontroversi seputar Usamah–. Itu pun, masih ditambah dengan tuduhan seperti biasanya; para teroris.

Selanjutnya, ketika Imam Samudra menukil fatwa jihad sebagian ulama, Al Ustadz Luqman Ba’abduh mengatakan,

Inilah akibatnya kalau Ruwaibidhah berfatwa. Urusan jadi kacau. Umat akan hancur. Karena mereka berfatwa tidak dengan ilmu, tapi dengan kejahilan dan logika serta dugaan-dugaan saja.”13


Ini jelas-jelas pelecehan terhadap ulama sekelas Syaikh Safar Al-Hawali dan Syaikh Salman Al-Audah. Mengatakan ulama yang diakui keilmuan dan perannya oleh umat sebagai ruwaibidhah, berfatwa tidak dengan ilmu tapi dengan kejahilan dan logika serta dugaan semata, adalah kesombongan yang luar biasa. Apalagi kata “mereka” di sini bisa menunjuk kepada banyak ulama dan mujahid, karena memang dalam buku MAT, banyak sekali ulama dan mujahid yang tidak selamat dari tuduhan dusta Al Ustadz Luqman. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ .

“Muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”14

Al Ustadz Luqman juga berkata,

Maka, mereka menyulut emosi umat Islam dalam rangka membangkitkan permusuhan kepada pemerintah Saudi Arabia … dan seterusnya … dengan data dan fakta yang mereka ambil dari15 buku komik yang berjudul Wa’du Kissinger karya salah satu tokoh teroris masa ini, DR.16 Safar Al Hawali.”17

 

Di sini, Al Ustadz Luqman melecehkan buku Wa’du Kissinger yang ditulis oleh Syaikh Safar dengan mengatakannya sebagai “buku komik.” Selain juga menuduh penulisnya sebagai “salah satu tokoh teroris.” Namun disini kita tidak sedang membicarakan soal tuduh-menuduh, melainkan membahas tentang tanda-tanda kesombongan Al Ustadz Luqman.

Pada halaman yang lain Al Ustadz Luqman mengatakan,

Wajar saja kalau Imam berkesimpulan bahwa yang terjadi di teluk saat ini merupakan skenario kolosal yang dimainkan oleh AS, karena memang Buku18 Wa’du Kissinger kebanggaannya ini, merupakan buku yang tak ubahnya sebuah komik yang berisi mimpi-mipmi buruk bocah ingusan kemarin sore…”19


Di sini, Al Ustadz Luqman kembali mengatakan bahwa buku Wa’du Kissinger tak ubahnya seperti sebuah komik. Masya Allah… buku bagus karya seorang ulama sekelas Syaikh DR. Safar Al-Hawali dikatakan seperti komik.20 Apakah hanya karena beliau tidak setuju dengan isinya lalu beliau bersikap merendahkan seperti ini? Sungguh, tidaklah mengherankan jika kemudian Al Ustadz Luqman berani menjelek-jelekkan buku kami dan DSDB, dan mungkin juga buku-buku yang lain, dengan sebutan-sebutan yang bernada merendahkan. Dan, sikap merendahkan orang lain semacam ini adalah sifat orang yang sombong.

Terakhir,21 beginilah salah satu cara Al Ustadz Luqman Ba’abduh merendahkan orang lain. Beliau berkata,

Bukan tokoh-tokoh revolusioner dan reaksioner22 semacam Usamah bin Laden, Safar Al Hawali, ataupun Salman dan cs mereka dan orang-orang yang setype dengan mereka serta – ma’af-ma’af saja tentu lebih-lebih lagi– bukan pula semacam para teroris muda berdarah dingin yang tidak memiliki bekal ilmu sedikit pun dan ‘demen yang ribut-ribut dan berbau kematian’, yaitu Imam Samudra dan cs nya.”23


Lihat kata-kata yang kami beri garis bawah. Meskipun yang dikritik adalah Imam Samudra, terpidana mati kasus Bom Bali 1, tetapi mengatakan seseorang dengan perkataan “tidak memiliki bekal ilmu sedikit pun,”24 sungguh merupakan sikap yang merendahkan orang lain. Memangnya, apakah ada manusia di dunia ini yang tidak memiliki ilmu SEDIKIT PUN? Sungguh, ini adalah suatu kesombongan. Lagi pula, bagaimana pun juga Imam Samudra adalah seorang mukmin. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ .

“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (Al-Hijr: 88)

Simetris dengan larangan sombong, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kita agar bersikap tawadhu’, bersikap rendah hati terhadap sesama orang beriman. Beliau bersabda,

إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ .

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’. Sehingga tidak ada orang yang berbuat aniaya terhadap orang lain, dan tidak ada yang merasa lebih ‘hebat’ dari orang lain.”25


1 Dalam ‘Aun Al-Ma’bud disebutkan, bahwa makna “menyelisihi-Ku” adalah turut serta bersama-Ku memiliki salah satu dari dua sifat tersebut. Lihat syarah hadits ini pada program Ensiklopedi Hadits Nabi terbitan Global Islamic Software.

2 HR Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Lihat; Sunan Abi Dawud/Kitab Al-Libas/Bab Ma Ja`a fi Al-Kibr/hadits nomor 3567. Hadits senada juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah (4164 & 4165), Ahmad (8991 & 9143), Ibnu Baththah (Al-Ibanah Al-Kubra/2638), Ibnu Hibban (329 & 5763)), Al-Qudha’i (1339 & 1341), dan Al-Baghawi (Syarh As-Sunnah/3534). Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini atau yang senada dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah/Juz 2/Hlm 40/hadits nomor 541; Shahih At-Targhib wa At-Tarhib/Juz 3/Hlm 64hadits nomor 2889; Shahih Sunan Abi Dawud/Juz 2/Hlm 90/hadits nomor 4090; Shahih Sunan Ibni Majah/Juz 9/Hlm 174/hadits nomor 4174; dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir/Juz 16/Hlm 407/hadits nomor 7760. Al-Baghawi berkata, “Ini hadits shahih, dikeluarkan oleh Muslim.”

3 HR. Muslim (133), At-Tirmidzi (1922), Ahmad (3751), Al-Baihaqi (Syu’ab AlIman/5922), Abu Ya’la (4883), dan Ibnu Hibban (5558); dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu.

4 Shahih Muslim/Kitab Al-Iman/Bab Tahrim Al-Kibr wa Bayanih/hadits nomor 131, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu. Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3600), Ibnu Hibban (12/5466), dan Al-Hakim (1/69).

5 MDMTK, hlm 263. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

6 Ibid, hlm 448. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

7 Ibid, hlm 449. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

8 Ini adalah perkatan Al Ustadz Luqman yang tanpa ilmu. Kalau sebelumnya beliau mengatakan penulis DSDB sebagai “sok tahu.” Maka, sebetulnya hal ini juga berlaku bagi diri beliau. Sebab, Ustadz Abu Abdirrahman Al Thalibi mengatakan kepada kami bahwa beliau hampir tidak mengikuti milis apa pun. Apalagi milis-milis, dengan kata jamak yang berarti lebih dari dua milis. Yang benar adalah, bahwasanya Ustadz Al Thalibi memang pernah turut aktif menulis di Forum GDI (Gerakan Dakwah Islam, sekarang berubah menjadi Dunia Dakwah Islam) MyQuran. Itu pun sebetulnya bukan milis, melainkan forum diskusi. Dan, mudah-mudahan Al Ustadz Luqman bisa membedakan antara apa itu forum diskusi dan milis. Lagi pula, MyQuran.org juga mempunyai milis tersendiri dimana kami juga menjadi anggotanya, meski pasif.

9 Ibid, hlm 462. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

10 Jika Anda ingin membuktikannya, sebaiknya segera saja mencarinya di internet sebelum datanya hilang atau dihilangkan.

11 Setidaknya beliau tidak pernah mau (tidak berani?) berhadapan langsung dengan kami atau dengan Ustadz Fauzan Al-Anshari atau dengan orang-orang PKS atau HTI, misalnya.

12 Mereka Adalah Teroris!/Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh/Hlm 638/Cetakan pertama/Ramadhan 1426 H – Oktober 2005 M. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

13 Ibid, hlm 643. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

14 HR. Al-Bukhari (9 & 6003), Muslim (58), At-Tirmidzi (2551), An-Nasa`i (4910), Abu Dawud (2122), Ahmad (6228, 6515, dll), Ad-Darimi (2600), Al-Hakim (22 & 6258), Ath-Thabarani (Al-Awsath/3736), Ibnu Hibban (180), Al-Humaidi (623), Abu Nu’aim (Ma’rifatu Ash-Shahabah/6358), dan Al-Qudha’i (159); dari beberapa sahabat Radhiyallahu ‘Anhum.

15 Di buku aslinya tertulis, “dan.” Maaf, mungkin yang dimaksud Al Ustadz Luqman yaitu, “dari.”

16 Maaf, kami tidak mengubah kata “Dr.” menjadi “DR.” sebagaimana yang dikritik Al Ustadz Luqman pada pembahasan yang lalu. Di sini, kata yang tertulis memang “DR.” bukan “Dr.”.

17 MAT, hlm 54-55. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

18 Huruf besar pada kata “Buku” asli dari MAT.

19 Op.cit, hlm 384.

20 Sebutan “komik” dari Al Ustadz Luqman untuk buku Syaikh Safar ini juga terdapat pada halaman 404 buku MAT.

21 Maksud kami, contoh terakhir dalam pembahasan ini.

22 Nukilan ini adalah catatan kaki dari perkataan Al Ustadz Luqman, “Maka atas dasar itu ketika seorang ‘alim atau mujtahid –sekali lagi ‘alim mujtahid– akan menentukan…” Nomor footnote terletak pada kata “mujtahid” yang kedua.

23 MAT, hlm 411. Huruf tebal asli dari MAT. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

24 Sekalipun Al Ustadz Luqman mengatakan Imam Samudra “tidak memiliki bekal ilmu sedikit pun,” namun kami yakin bahwa Al Ustadz Luqman tidak akan berani berdialog langsung dengan Imam Samudra.

25 HR. Muslim (5109), Abu Dawud (4250), Ibnu Majah (4169), Ath-Thabarani (Al-Kubra/14407), dan Al-Baihaqi (Asy-Syu’ab/6369); dari Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’i Radhiyallahu ‘Anhu.

About these ads