Negeri Akhirat

Oleh : ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim

 

Saudaraku tercinta… di manakah kita di antara mereka?!

 

Diriwayatkan dari Anas bin ‘Iyadh, dia berkata, “Aku melihat Shafwan bin Salim, jika dikatakan kepadanya, ‘Besok hari kiamat.’ Maka ia merasakan bahwa ia sama sekali tidak memiliki bekal ibadah yang seharusnya ia bawa.”[1]

 

Kita semua sangat heran dengan keadaan kita sendiri, dunia meninggalkan kita, sedangkan akhirat menghampiri kita, tetapi mengapa kita sibuk dengan sesuatu yang pergi dan lalai dari apa yang akan dating kepada kita… seolah-olah kita tidak akan pernah sampai kesana dan tidak akan melangkahkan kaki kepadanya.

 

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah berkata dalam khutbahnya, “Sesungguhnya dunia bukanlah tempat menetap untuk kalian, karena Allah telah menentukan baginya kefanaan dan Allah telah menentukan bahwa penghuninya akan pergi, berapa banyak bangunan yang sangat kokoh menjadi roboh hanya dengan sedikit sebab, berapa banyak penghuninya yang bersenang-senang di dalamnya lenyap hanya dengan sedikit sebab? Maka perbaikilah—semoga Allah merahmati kalian semua—perjalananmu itu dengan sebaik-baik barang bawaan yang kalian miliki dan berbekallah, karena sebaik-baik perbekalan adalah ketakwaan. Dan ketika duni itu bukanlah tempat menetap bagi seorang mukmin dan bukan pula tanah airnya (yang hakiki), maka seyogyanya di dunia ini berada dalam satu keadaan di antara dua keadaan, sebagai orang asing yang singgah pada sebuah negeri, yang di dalam nenaknya hanyalah berbekal diri untuk kembali ke tanah airnya (akhirat) atau bagaikan seorang musafir yang sama sekali tidak singgah, siang dan malam harinya diisi dengan perjalanan menuju tempat tujuannya (akhirat)” [2]

 

Jiwaku sama sekali tidak bahagia dengan apa yang ia dapatkan dari dunia,

Akan tetapi aku sedang berjalan menuju Sang Raja Yang Maha Kuasa

 

Aku sama sekali tidak memiliki apa-apa kecuali aku hanyalah seorang muslim dengan bertauhid dan beriman kepada Rabb-ku Yang Maha Tahu. [3]

 

Banyak manusia yang berseteru karena dunia ini, sebagian dari mereka ada yang kehilangan agamanya, adapula yang kehilangan anak-anaknya. Iri hati bertebaran, kedengkian ditanamkan dan permusuhan menyebar. Marilah kita lihat bagaimana orang yang sangat utama melihat dunia ini, dia berkata, “Hatimu sama sekali tidak akan selamat, kecuali jika acuh terhadap makanan dunia.”

 

Saudaraku tercinta…

 

Engkau mendapatkan dunia dengan bekal yang sangat mudah,

Akan tetapi engkau akan meninggalkannya menuju akhirat.

 

Tundukkanlah mata kalian dari dunia dan segala kemegahan penghuninya

Dan hilangkanlah kantuknya

 

Dan jauhkanlah jiwamu dari kenikmatan dengan sungguh-sungguh

Karena perjuangan jiwa adalah sebaik-baik perjuangan

 

Ia hanyalah tempat permainan dan fitnah

Dan sesungguhnya segenap kemampuan penghuninya akan lenyap. [4]

 

Bilal bin Sa’ad rahimahullah mengingatkan kita akan hari akhir dan tempat kembali dengan ungkapannya, “Wahai orang-orang yang bertakwa, sesungguhnya kalian tidak diciptakan untuk kefanaan, yang kalian alami hanyalah pindah dari satu tempat kepad tempat lainnya. Sebagaimana kalian telah pindah dari tulang rusuk (ayah) ke rahim ibu, dari rahim ibu ke dunia, dari dunia menuju kubur, dari kuburan menuju Mahsyar, dan dari Mahsyar menuju Surga atau menuju Neraka.” [5]

 

Karena itu al-Hasan rahimahullah berkata, “Janganlah kalian sibuk dengan urusan dunia, karena dunia itu sangatlah menyibukkan, tidaklah seseorang membukakan pintu kesibukan untuk dirinya melainkan akan terbuka baginya sepuluh pintu kesibukan lainnya.”[6]

 

Ibnu Samak rahimahullah berkata, “Siapa saja yang merasakan manisnya dunia karena kecenderungan diri kepadanya, maka akhirat akan memberikan rasa pahit karena kelalaian diri terhadapnya.”[7]

 

Wahai jiwa! Berhati-hatilah waktu tua telah tiba, kasih saying dan cumbuan apa yang engkau lakukan?

 

Masa muda telah berlalu seakan-akan dia tidak pernah tiba, sedangkan masa tua telah tiba seakan-akan dia tidak akan pernah pergi.

 

Seakan-akan belum lama aku ada di dalam dunia padahal cengkaraman kematian telah tiba.[8]

 

 

Footnote:

[1] As-Siyar (V/36)

[2] Jamii’ul ‘Uluum, hal. 39.

[3] Syadzaraatudz Dzahab (II/119)

[4] Al-Muntakhab, hal. 401

[5] As-Siyar (V/91)

[6] Az-Zuhd, hal. 189, karya Ibnul Mubarak

[7] Syadzaraatudz Dzahab (II/304)

[8] Wafayaat al-A’yaan (III/310).

 

Sumber: Menyikapi Kehidupan Dunia, Negeri Ujian Penuh Cobaan, ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Pustaka Ibnu  Katsir, Cetakan kedua, September 2005