Syarat Suatu Amal Diterima Oleh Allah

 

Oleh : Husain bin ‘Audah al-‘Awayishah

 

Sebelum melangkah –wahai saudaraku—seyogianya mengetahui jalan yang dapat menyelamatkanmu, dan janganlah melelahkan dirimu dahulu dengan banyak melakukan amal perbuatan, karena banyak sekali orang yang melakukan perbuatan, sedangkan amal tersebut sama sekali tidak memberikan apa-apa kecuali kelelahan di dunia dan siksa di akhirat,[1] karena itu sebelum melangkah untuk melakukan amal perbuatan, Anda harus mengetahui syarat diterimanya di sis Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam masalah ini ada dua syarat penting lagi agung yang perlu diketahui oleh setiap hamba yang beramal, jika tidak demikian, maka amal tersebut tidak akan diterima:

 

Pertama, Pelaku yang melakukan amal tersebut hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Kedua, Amal yang dilakukannya sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam al-Qur’an atau sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam di dalam sunnahnya.

 

Jika salah satu di antara syarat amal tersebut hilang, maka ia tidak benar (bukan amal shalih) dan tidak akan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antara dalil yang memperkuat pernyataan di atas adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

 

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-Nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

 

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar amal itu berupa amal yang shalih, yang maknanya adalah sesuai dengan yang telah ditetapkan di dalam agama, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada pelaku amal tersebut untuk mengikhlaskan karena-Nya dengan tidak mengharap selain-Nya.[2]

 

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam kitab Tafsiirnya[3] berkata, “Inilah dua rukun amal yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dilakukan dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sesuai dengan syariat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ungkapan ini diriwayatkan pula dari al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah dan yang lainnya.

 

Footnote :

[1] Di antara hal ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam: “Banyak sekali orang yang melakuan puasa, tetapi dari puasanya itu mereka tidak mendapatkan apa-apa (pahala) kecuali rasa lapar, dan berapa banyak orang yang melakukan Qiyaamullail, tetapi dari Qiyaamullailnya itu mereka tidak mendapatkan apa-apa (pahala) kecuali begadang.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits Abu Hurairah, dishahihkan oleh al-Albani di dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 3482)

[2] Dikutip dari kitab yang berjudul at-Tawassul Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, makalah yang diungkap oleh al-Albani, lalu disusun rapih oleh Muhammad ‘Ied ‘Abbasi

[3] Tafsir Surah al-Kahfi

 

Sumber : Ikhlas Syarat Diterimanya Ibadah, Husain bin ‘Audah al-Awayishah, Cet. 2, Pustaka Ibnu Katsir, 2007