Orang Yang Paling Merugi

 

Oleh : ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata,

“Orang yang paling merugi pada hari kiamat adalah tiga kelompok:

seseorang yang memiliki seorang hamba, sang hamba sahaya datang dengan sebuah amal yang lebih baik daripadanya.

Seseorang yang memiliki harta, tetapi dia sama sekali tidak bersedekah dengannya hingga mati, lalu harta tersebut menjadi harta warisan dan dishadaqahkan oleh orang yang menerima waris darinya.

Dan seorang alim yang memiliki ilmu tetapi tidak bermanfaat baginya, lalu dia mengajarkannya kepada orang lain dan menjadi ilmu yang bermanfaat baginya.”

Saudaraku semuslim…

 

Dunia ini telah melemparkan panahnya kepada kita… sedangkan kita berada dalam kelemahan dan kelalaian, kita semua berbahagia dengan kasih sayang Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Rabb yang Maha Pengampun.

 

Dikatakan bahwa as-Sibli bermimpi, lalu beliau ditanya, “Apa yang dilakukan oleh Allah kepadamu?” beliau menjawab, “Allah telah menghisabku sehingga aku merasa bosan, dan ketika Dia melihatku merasa bosan, Dia mengakhiriku dengan kasih sayang-Nya.”[1]

 

Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata, “Jika aku diampuni, Dia mengakhiriku dengan kasih sayang-Nya. Maka sesungguhnya Allah sebaik-baik Dzat yang memberikan kasih sayang. Dan jika aku disiksa, maka Dia sama sekali tidak melakukan kezhaliman.”[2]

 

Saudaraku tercinta…

 

Allah menjadikan Surga ‘Adn sebagai akhir dari perjalanan kita di dunia, dan Allah menyiapkan kenikmatan yang tidak ada akhirnya untuk orang yang membekali dirinya di dunia yang fana ini.

 

Semoga Allah mengumpulkanku dan kalian dengan semua bapak-bapak kita, ibu-ibu kita dan sanak famili kita dalam Surga-Nya yang penuh dengan kasih sayang dan semoga Allah menjadikan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak tersiksa dengan rasa takut dan sedih.

 

Shalawat dan salam semoga dilimpahcurahkan kepada Nabi kita semua, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam.

 

 

 

Footnote:

[1] Az-Zahrul Faa-ih, hal. 41

[2] Shifatush Shafwah (IV/96)

 

Sumber : Ad-Dun-yaa shillun zaa-il, Menyikapi Kehidupan Dunia Negeri Ujian Penuh Cobaan.

 

 

Iklan