Seorang Da’I Tidak Boleh Men-Tazkiyah (Merekomendasikan) Diri Sendiri di Hadapan Orang

Dr. ‘Aidh Abdullah Al-Qarni

Seorang da’I tidak boleh sama sekali men-tazkiyah dirinya sendiri di hadapan orang. Bahkan, seharusnya dia justru memperkenalkan kepada mereka bahwa dirinya penuh dengan keterbatasan meski apapun yang diupayakannya. Dia hendaknya memuji Rabbnya Ta’ala atas anugerah-Nya yang menjadikan dirinya dapat berbicara kepada manusia dan menyampaikan risalah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nikmat ini patut disyukurinya sebab Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya,

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. sekiranya tidaklah Karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

(QS. AN-Nur: 21)

 

Lalu di akhir hayat beliau setelah menyampaikan semua risalah secara sempurna, Dia Ta’ala berfirman,

 

1. Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,

2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,

3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.

 

(QS. An-Nash: 1-3)

 

Para ulama berkata (berkenaan dengan ayat tersebut-penj,), “Dia Ta’ala memerintahkannya (Muhammad) agar memohon ampun kepada Allah.”

 

Oleh karena itu, janganlah seorang Da’I begitu dating, langsung men-tazkiyah dirinya sendiri sembari berkata, “Aku sering memerintahkan hal itu kepada kalian tapi kalian malah menentangku?? Aku melarang kalian dari hal itu tetapi kalian malah tidak mau mengindahkan laranganku? Aku selalu memperhatikan kalian… aku selalu melihat dan mengatakan…”. Atau dengan ungkapan, “Aku sering berdialog dengan diriku, sampai kapan umat ini berbuat maksiat kepada Rabbnya??”

 

Dia mengecualikan dirinya dari celaan dan sanksi tersebut seakan dirinya tidak pernah berdosa!! Ini merupakan suatu kesalahan. Terkadang, dia bahkan mengeneralisir dosa yang diperbuat seakan semua sama-sama melakukannya… semua sama-sama memiliki keterbatasan dan kelalaian seperti ketika berkata kepada mereka. “Kita semua telah terlibat dalam masalah ini, kita semua telah melakukan kesalahan, kita semua wajib begini…” Hal ini diucapkannya agar tidak ada konotasi bahwa dia mengecualikan dirinya dari celaan dan teguran itu.

 

Kita semua ibarat satu ikatan keluarga, barangkali di antara para hadirin yang duduk, ada yang lebih suci dari si Da’i! Ada orang yang lebih dicintai oleh Allah dan lebih dekat kepada-Nya ketimbang dirinya!

 

Sumber : 30 Memo Buat Para Aktivis Dakwah (Tsalatsuna Waqfah Fi Fanni Ad-Da’wah), Pustaka Nawaitu, Cet I, Januari 2005

Iklan