CATATAN 9

Tidak Becus dan Tidak Amanah dalam Menukil Versi Al Ustadz Luqman

Oleh : Ustadz Abduh Zulfidar Akaha

 

d. Penulisan Ahlu Sunnah dan Kurang Kata “Yang”

            Al Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba’abduh berkata,

“Apa yang kau maksud dengan pernyataan ini? Jika yang kau maksud bahwa ahlus sunnah[1] tidak mendapat halangan dan rintangan dalam perjuangannya sebagaimana yang dialami oleh para teroris-Khawarij, yang dalam sejarah mereka:

q       Diperangi dan ditumpas habis oleh Khalifah ‘Ali[2] bin Abi Thalib di Nahrawan.

q       Diperangi dan ditumpas oleh para khalifah Bani Umayyah.

q       Demikian juga diperangi dan ditumpas oleh pemerintah-pemerintah muslimin.

q       Ikhwanul Muslimin diperangi dan dihancurkan di Mesir, Syria, Libia, Al Jazair. Tokoh-tokohnya dipenjara, disiksa, bahkan dieksekusi mati.

q       Kemenangan mutlak FIS dalam Pemilu di Al Jazair yang harus berakhir dengan pertumpahan darah.

q       Demikian juga nasib yang sama juga dialami oleh Jama’atut Takfir wal Hijrah, Jama’atul Jihad, Al Jama’ah Al Islamiyyah, HT, NII, dan kelompok-kelompok takfiriyyun lainnya di negeri-negeri di mana mereka berada.

q       Gerombolan Juhaiman yang diringkus oleh Pemerintah Saudi ‘Arabia dengan dukungan para ‘ulama.

q       Salman Al ‘Audah, Safar Al Hawali, dan tokoh-tokoh reaksioner lainnya yang dijebloskan ke penjara oleh Pemerintah Saudi Arabia atas rekomendasi dari Hai-ah Kibaril ‘Ulama. … dst.”[3]

Kali ini, saudara Abduh ZA melakukan beberapa bentuk pengubahan, baik penambahan maupun penghapusan, antara lain:

q       menambah kata: “para” pada kalimat “oleh Khalifah ‘Ali”.

q       mengubah kata: “ahlussunnah” menjadi “Ahlu Sunnah”.

q       menghilangkan kata “mutlak” pada kalimat “kemenangan mutlak FIS”; kata “yang” pada kalimat “Demikian juga nasib yang sama”.[4]

q       menghapus garis bawah pada huruf “a” pada kata: “Khawarij”, “Thalib”, “Nahrawan” danlain-lain; kemudian menghapus garis bawah pada huruf “i” dari kata “Ali”, “Abi”, “Takfir”, “takfiriyyun”. [Lihat MDMTK, hlm 442-443:adm]

 

            Kami hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada Al Ustadz Luqman Ba’abduh atas koreksinya dalam hal ini. Terus terang kami kagum dan salut atas kegigihan beliau dalam mencari-cari kesalahan kami dalam buku STSK, sehingga hal sepele semacam ini pun beliau bahas dalam MDMTK.

 

e. Kurang Tanda Tanya (?) dan Titik Dua ( : )

            Al Ustadz Luqman Ba’abduh berkata,

“Teks asli pada MAT halaman 160-161:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhuma dari Rasulullah bahwa beliau berkata:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ : الَرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ .

“Akan tiba nanti kepada umat manusia masa-masa yang penuh tipu daya. Para pendusta dianggap orang jujur sebaliknya orang jujur dicap pendusta. Orang yang khianat dianggap amanah dan orang yang amanah dicap pengkhianat. Dan para Ruwaibidhah mulai angkat bicara!” Ada yang bertanya: ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, “Orang dungu yang sok berbicara tentang urusan orang banyak (umat).”

 

Kali ini pun saudara Abduh ZA mengulangi hal yang sama:

          Menghilangkan kata يَتَكَلَّمُ dari teks hadits, demikian juga tanda (؟ ) dan ( : ), serta harakat fathah di atas huruf Al-Alif pada kata الَرَّجُلُ.

          Menambah kata (الحديث) pada akhir teks arab hadits, dan juga kata “(Al-Hadits)” pada akhir terjemah hadits, padahal sama sekali tidak ada pada teks aslinya pada buku MAT.[5]

          Mengubah خَدَّاعَاتٌ (dengan harakat dhammatain pada huruf terakhir, yaitu At-Ta) menjadi خَدَّاعَاتُ (huruf at-Ta berharakat dhammah bukan dhammatain).[6]

          Mengubah kata: “dicap pendusta” menjadi “dianggap pendusta”.

 

Demikianlah kesalahan-kesalahan itu terjadi, padahal setelah menukilkan hadits dan terjemahnya tersebut, sebagaimana biasanya dengan bahasa yang indah dan menarik serta terkesan ilmiah, saudara Abduh ZA memberikan penegasan pada catatan kaki no. 667 dengan mengatakan: “… (Hadits, terjemah hadits, dan takhrijnya, menukil dari Al Ustadz Luqman. …)”

Itulah beberapa contoh ketidakbecusan dan ketidakamanahan saudara Abduh ZA dalam nukilan-nukilannya dari buku kami MAT. Masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Kalau bukan karena khawatir semakin mempertebal buku bantahan jilid pertama ini dan memberatkan pembaca dalam mengikutinya, niscaya kami akan sebutkan contoh-contoh yang lainnya. …”

 

Pembaca, demikianlah contoh terakhir dari ketidakbecusan dan ketidakamanahan kami dalam menukil versi Al Ustadz Luqman yang beliau sebutkan dalam MDMTK. Itu pun menurut beliau masih belum semuanya. Dan, tampaknya beliau sadar, bahwa hal semacam ini memang hanya mempertebal jumlah halaman buku saja.

            Baiklah, kami hanya ingin mengomentari secara sekilas saja.

         Hadits tersebut kami ambil (copy paste) dari program hadits yang diterbitkan oleh Global Islamic Software Company, tanpa ada penambahan atau pengurangan apa pun.

         Matan hadits yang kami sebutkan adalah riwayat Imam Ibnu Majah, dan –setelah kami cek di beberapa sumber– kata  يَتَكَلَّمُ pada dasarnya tidak terdapat dalam hadits riwayat Ibnu Majah.

         Al Ustadz Luqman mengatakan tentang takhrij hadits ini, HR. Ibnu Majah 4042; Al Hakim IV/465, 512; Ahmad II/291, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 4108, dan Ash-Shahihah no. 1887.” Akan tetapi, setelah kami cek dalam Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain dan Musnad Imam Ahmad, ternyata matan haditsnya pun tidak seperti yang disebutkan Al Ustadz Luqman.

         Demikian adalah matan hadits riwayat Imam Al-Hakim: [7]

1. تأتي على الناس سنوات جدعات يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين وينطق فيهم الرويبضة قيل يا رسول الله وما الرويبضة قال الرجل التافه يتكلم في أمر العامة[8]

2. سيأتي على الناس سنون يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويخون فيها الأمين ويؤتمن فيها الخائن وينطق فيها الرويبضة قال قيل يا رسول الله وما الرويبضة قال السفيه يتكلم في أمر العامة[9]

         Dalam Al-Musnad, terdapat tiga buah hadits senada tentang hal ini. Namun, tidak ada satu pun yang matannya seperti yang disebutkan Al Ustadz Luqman. Adapun matan tiga buah hadits tersebut, yaitu:

1. إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ [10]

2.قَبْلَ السَّاعَةِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ سُرَيْجٌ وَيَنْظُرُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ [11]

3.إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ [12]

         Hadits yang disebutkan Al Ustadz Luqman Ba’abduh adalah hadits yang disebutkan oleh Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah[13] dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir.[14]

         Dalam Shahih Sunan Ibni Majah, hadits yang disebutkan Syaikh Al-Albani sama dengan yang kami sebutkan. Di sini, Syaikh Al-Albani menshahihkan haditsnya.

         Dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah yang disebutkan Al Ustadz Luqman Ba’abduh, Syaikh Al-Albani ‘hanya’ menghasankannya. Tidak menshahihkan.

         Dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya.

 

            Demikian yang bisa kami komentari, selebihnya biar para pembaca saja yang menilai. Apakah kurang tanda titik dua, kurang tanda tanya, kurang fathah, dan sebagainya adalah bagian dari ‘ketidakbecusan’ dan ‘ketidakamanahan’ dalam menukil ataukah tidak.

(Selesai BAUS catatan 9)

Sumber Asli Buku Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, hlm 82-88


[1] Kami menukilnya, “Ahlu Sunnah.” Kami mohon maaf atas ‘kesalahan’ ini.

[2] Kami menukilnya, “… oleh para Khalifah Ali.” Tambahan kata “para” di sini betul-betul sangat tidak disengaja. Kami akui kurang teliti dalam hal ini.

[3] Ibid, hlm 530. Huruf tebal dari kami.

[4] Ini adalah kesalahan kami yang sama sekali tidak disengaja. Semoga kurangnya kata “mutlak” dan “yang” di sini tidak sampai mengubah makna yang dimaksud oleh Al Ustadz Luqman.

[5] Kali ini sangat disayangkan sikap ‘ketelitian’ Al Ustadz Luqman dalam mencari-cari ‘kesalahan’ kami. Sebab, kali ini beliaulah yang ‘salah.’ Karena kata “(الحديث)” dan “(Al-Hadits)” ini bukanlah bagian dari yang kami nukil dari MAT. Kami mengatakan dalam catatan kaki –itu pun dalam tanda kurung–, “… (Hadits, terjemah hadits, dan takhrijnya, menukil dari Al Ustadz Luqman. …)” Jadi, yang kami nukil adalah bunyi hadits, terjemah, dan takhrijnya. Adapun kata “(الحديث)” dan “(Al-Hadits)” bukanlah bagian dari yang kami nukil. Lagi pula, hadits ini kami sebutkan bukan untuk mengkritisi matan ataupun sanadnya, melainkan karena kami memang memakai hadits tersebut sebagai dalil. Dan, karena hadits tersebut kebetulan juga terdapat dalam MAT serta sudah ada takhrijnya, maka kami pun melakukan hal yang praktis dengan menukil hadits tersebut dari MAT, meski ternyata tidak seratus persen sama persis. Dan, kami pun jadi teringat kata pepatah yang kurang lebih berbunyi, “Sepandai-pandai monyet melompat, akhirnya akan jatuh juga.” Aw kamaa qoola pepatah.

[6] Di sini, Al Ustadz Luqman benar. Seharusnya memang memakai dhammatain. Terima kasih untuk koreksinya.

[7] Maaf, kami hanya menyebutkan teks Arabnya saja tanpa diterjemahkan. Insya Allah isinya (intinya) kurang lebih sama dengan hadits yang dibahas.

[8] Al-Mustadrak/Jilid 4/Kitab Al-Fitan wa Al-Malahim/hadits nomor 8439.  Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sanadnya, namun Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” Download dari http://www.almeshkat.com/books. Kami juga menggunakan Al-Mustadrak dari free program “Ensiklopedi Hadits Nabi” edisi kedua yang terdiri dari 20 kitab matan hadits, yang diterbitkan oleh http://www.islamspirit.com, dan dari program Al-Maktabah Asy-Syamilah edisi kedua yang terdiri dari 1905 kitab dari berbagai disiplin ilmu keislaman.

[9] Ibid, hadits nomor 8564.

[10] Musnad Ahmad/Kitab Baqi Musnad Al-Muktsirin/Bab Musnad Abi Hurairah/hadits nomor 7571.

[11] Ibid, Bab Baqi Al-Musnad As-Sabiq/hadits nomor 8105.

[12] Ibid, hadits nomor 12820, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.

[13] Silsilah Ash-Shahihah/Jilid 4/Hlm 508/hadits nomor 1887. Dalam Ash-Shahihah jilid 4 ini, Syaikh Al-Albani menghasankan hadits ini, tidak menshahihkannya. Tidak seperti yang dikatakan Al Ustadz Luqman, “… dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 4108, dan Ash-Shahihah no. 1887.” Syaikh Al-Albani memang menshahihkan hadits senada riwayat Al-Bazzar dan Ath-Thabarani dari Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, dalam Ash-Shahihah/Jilid 5/Hlm 321/hadits nomor 2253. Dan, matan haditsnya bukan yang seperti disebutkan Al Ustadz Luqman, melainkan:

إن بين يدي الساعة سنين خداعة يصدق فيها الكاذب و يكذب فيها الصادق و يؤتمن فيها الخائن و يخون فيها الأمين و ينطق فيها الرويبضة . قيل : و ما الرويبضة . قيل : المرء التافه يتكلم في أمر العامة .

[14] Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, hadits nomor 3650.

Iklan