CATATAN 9

Tidak Becus dan Tidak Amanah dalam Menukil Versi Al Ustadz Luqman

Oleh : Ustadz Abduh Zulfidar Akaha

 

b. Kurang Satu Kalimat

            Al Ustadz Luqman Ba’abduh berkata,

“Berikut teks asli pada buku kami MAT halaman 78 cetakan pertama:

Dari Abdullah bin ‘Amir Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً ، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً . قَالُوْا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ .

“Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan. Mereka semua di neraka kecuali satu golongan”. Para shahabat bertanya: Siapakah golongan (yang selamat) itu, Wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Apa yang aku dan para shahabatku ada di atasnya”.

Dalam penukilan di atas, saudara Abduh ZA telah menghapus atau menghilangkan kalimat “Mereka semua di neraka kecuali satu golongan”. Padahal, kalimat ini sangat penting nilainya dalam keterangan hadits tersebut. Hal ini tentu menunjukkan ketidakbecusan dan ketidakamanahan dalam menukil. Semua ini lebih diperparah dengan catatan kaki no. 247 yang dia letakkan setelah penukilannya di atas, dengan mengatakan: “Mereka Adalah Teroris!/hlm 78/Cetakan pertama. Dikutip sesuai aslinya, termasuk huruf besar pada kata “Wahai.” Anda bisa melihat takhrijnya dalam buku Al Ustadz Luqman tersebut.”

Ternyata ucapan dia: “Dikutip sesuai aslinya, …” adalah dusta. Di samping, dia juga telah melakukan sekian perubahan pada teks berbahasa ‘Arab, sebagaimana telah kami jelaskan pada halaman 297.”[1]

 

            Pembaca, ini adalah contoh kedua ‘kedustaan’ dan ‘ketidakamanahan’ kami dalam menukil menurut Al Ustadz Luqman Ba’abduh yang mengaku salafi di dalam MDMTK-nya. Al Ustadz Luqman mengatakan bahwa kami “telah menghapus atau menghilangkan kalimat “Mereka semua di neraka kecuali satu golongan”. Sungguh suatu hal yang ajaib. Dari mana Al Ustadz Luqman tahu bahwa kami telah menghapus atau menghilangkan kalimat tersebut? Apakah Al Ustadz Luqman bisa mengetahui apa yang ada di dalam hati kami sehingga berani mengatakan demikian? Atau, apakah ini memang sebagian dari akhlaq beliau yang suka menuduh dan masih belum hilang hingga sekarang? Wallahu a’lam.

Menghapus dan menghilangkan adalah dua kata kerja yang mengandung makna sengaja melakukan penghapusan dan penghilangan. Hal ini tentu saja berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kelalaian kami sebagai seorang manusia yang tanpa sengaja sama sekali tidak menulis kalimat tersebut. Ini adalah pure kesalahan manusiawi. Lagi pula, apa untungnya bagi kami tidak memasukkan kalimat tersebut? Justru, hal ini malah membuat orang yang memang hobinya mencari-cari kesalahan orang lain mendapatkan celah dan kesempatan untuk menjadikannya sebagai amunisi untuk mengatakan kami berdusta dan tidak amanah serta tidak becus dikarenakan tidak menuliskan kalimat tersebut.

Padahal, sebagai seorang ustadz yang mengajar Bahasa Arab di pondoknya, Al Ustadz Luqman pasti tahu terjemahan Bahasa Arab dari kalimat yang secara tidak sengaja tidak kami tulis tersebut, dimana kalimat aslinya dalam dalam Bahasa Arab (matan haditsnya) kami tuliskan secara lengkap.[2] Dan, kami kira setiap orang yang berakal sehat pun pasti memaklumi bahwa hal ini adalah kesalahan manusiawi biasa yang bisa terjadi pada siapa pun. Hanya orang-orang yang kesukaan dan kebiasaannya suka mencari-cari kesalahan orang lain sajalah yang mempunyai kelebihan bisa meluangkan waktunya untuk mengurusi hal-hal sepele semacam ini. Adapun orang yang mempunyai prioritas dalam hidupnya, niscaya tidak akan sempat memikirkan dan memperhatikan hal sepele begini. Lagi pula, secara logika saja –bagi yang bisa berpikir normal–, kalau memang kami berniat hendak menghilangkan atau menghapus kalimat tersebut; kenapa tidak sekalian teks Arabnya saja kami hilangkan?

            Bicara soal kedustaan, ketidakamanahan, dan ketidakbecusan dalam menukil, kami punya contoh yang lebih tepat dalam hal ini. Dalam buku berjudul “Mereka Adalah Teroris!” disebutkan sebuah penukilan dari penulisnya tentang Asy-Syahid Syaikh Hasan Al-Banna rahimahullah,

“Dia adalah penganut shufi tarekat Al Hushafiyyah. Dia berkata di dalam bukunya Mudzakkiratud Da’wah wad Da’iyyah hal. 27: “Aku bersahabat dengan saudara-saudaraku dari tarekat Al Hushafiyyah di Damanhur dan aku selalu menghadiri acara-acara mereka, berkumpul untuk berdansa-dansi dan bernyanyi-nyanyi di Masjid At Taubah pada tiap malam.”[3]

 

            Perhatikan kata-kata yang kami beri huruf tebal dan garis bawah. Kata-kata ini sama sekali tidak terdapat dalam buku aslinya. Tidak pada halaman 27 sebagaimana klaim si penulis, dan tidak pula pada halaman yang lain. Bahkan semua isi buku yang dijadikan sumber oleh si penulis pun, dari halaman depan sampai halaman paling belakang, tidak ada kata-kata tersebut. Penambahan kata-kata semacam ini, selain menunjukkan kedustaan dan ketidakamanahan, juga merupakan tindak pencemaran terhadap nama baik seseorang. Padahal sebagai seorang ustadz yang mengaku salafi, semestinya beliau tahu, bahwa mencemarkan nama baik seseorang adalah perbuatan haram yang dilarang dalam Islam.

            Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

        إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا .

            “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian: darah, harta, dan kehormatan kalian; seperti haramnya hari ini, pada bulan ini, dan di negeri kalian ini.”[4]

            Yang semacam ini, jelas bukan lagi bisa disebut sebagai penukilan, karena sesungguhnya terjemahan sebagaimana yang disebutkan dalam buku MAT pun secara mutlak tidak ada dalam buku tersebut. Jika demikian faktanya, lalu apa sebutan yang paling tepat untuk sebuah penukilan yang tidak terdapat dalam buku yang dinukil?

(Bersambung)

Sumber Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, hlm 76-79


[1] MDMTK, hlm 439 dan 441. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil. Untuk halaman 440, adalah satu frame penuh satu halaman bertuliskan, “Demikianlah berbagai komentar dan catatan kaki yang menghiasi buku STSK yang tebalnya hanya xxviii + 384 hlm namun telah dihiasi dengan kurang lebih 20 + 711 catatan kaki. Kalau boleh kami juluki buku STSK ini dengan julukan “Buku Seribu Catatan Kaki.”“ Sekadar catatan ringan saja, dalam buku MDMTK terdapat 23 halaman yang hanya memuat satu frame semacam ini yang menghabiskan satu halaman penuh. Cukup lumayan untuk menambah ketebalan halaman.

[2] Meski itu pun masih dianggap berdusta dan tidak amanah karena kurang tanda sukun.

[3] Lihat; Mereka Adalah Teroris!/Hlm 452, catatan kaki no. 302/Cetakan pertama. Huruf tebal dan garis bawah dari kami. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil. Hal ini juga sudah kami sampaikan dalam STSK, halaman 100-101.

[4] HR. Al-Bukhari dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma. Lihat; Shahih Al-Bukhari/Kitab Al-Adab/Bab Qaul Allah Ta’ala; Ya Ayyuhalladzina Amanu La Yaskhar Qaum…/hadits nomor 5583. Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Al-Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Abi Ashim, Al-Hakim, Ath-Thabarani, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, dll. dari beberapa sahabat Radhiyallahu ‘Anhum.

Iklan