CATATAN 9

Tidak Becus dan Tidak Amanah dalam Menukil Versi Al Ustadz Luqman

Oleh : Ustadz Abduh Zulfidar Akaha

 

            Telah kami sebutkan sebelumnya, bahwa dalam MDMTK (tepatnya pada halaman 436 dst.), Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh membuat satu bab khusus berjudul, “Abduh Tidak Becus dan Tidak Amanah dalam Menukil.” Sebuah judul yang barangkali terdengar agak seram, namun sejatinya cuma menambah-nambah ketebalan halaman saja. Kami melihat tidak ada sedikit pun yang substantif di sana. Jika Anda ingin bukti, silakan pinjam (tidak perlu beli bukunya) teman Anda yang punya buku MDMTK, dan baca bab ini. Sekiranya Anda seorang yang –katakanlah– netral dan berpikiran sehat, niscaya Anda akan sependapat dengan kami. Di sini, kami hanya akan menyebutkan sebagian contohnya saja.

            Tentang bab yang dibuat khusus untuk mengopinikan kepada para pembaca MDMTK bahwa kami ini tidak becus dan tidak amanah dalam menukil, Al Ustadz Luqman Ba’abduh berkata,

“Mungkin saja pembahasan ini tampak terkesan berlebihan[1] bagi sebagian pembaca. Namun terpaksa[2] kami menampilkannya karena beberapa alasan, antara lain:

1.      Saudara Abduh ZA telah mempromosikan buku STSK-nya ini sebagai buku yang ilmiah, objektif, dan proporsional.[3]

2.      Pujian setinggi langit dari penerbitnya, Pustaka Al-Kautsar.[4]

3.      Untuk lebih menampilkan kesan ilmiah, saudara Abduh ZA selalu berupaya minta izin terhadap hampir setiap perubahan, penambahan, atau pengurangan yang dia lakukan dalam penukilannya. Sampai-sampai sekadar masalah cetak tebal, penggunaan huruf kapital atau tidak, huruf miring (italic), maupun garis bawah. Kalau ada kesalahan pada sumber asli dia biarkan apa adanya, kemudian dia koreksi dengan cara memberi catatan kaki pada kata yang salah tersebut.[5] Bahkan dia sering menekankan dengan mengatakan; “Kami nukil persis seperti aslinya…” atau “Dikutip sesuai aslinya…”“[6]

 

            Selanjutnya Al Ustadz Luqman berkata,

“Dengan tiga alasan di atas, terpaksa kami menampilkan bab ini dalam rangka membuktikan ketidakbecusan dan keamanahan saudara Abduh ZA dalam penukilan-penukilannya.”[7]

 

            Sekarang, mari kita lihat apa sih sesungguhnya arti sebuah ketidakbecusan dan tidak amanah dalam menukil versi Al Ustadz Al-Fadhil Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah yang mengaku salafi ini.[8]

 

a. Kurang Kata “Mengajak Serta”

            Al Ustadz Luqman berkata,

“Berikut teks asli pernyataan kami pada MAT halaman 47 (cetakan pertama):

“Kami mengajak serta menyeru kelompok-kelompok sempalan seperti JI, NII, LDII, HT (Hizbut Tahrir), IM (Ikhwanul Muslimin),…dll untuk kembali kepada bimbingan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan salafush shalih dengan meninggalkan tindakan-tindakan bid’ah yang sesat menyesatkan itu.”

Perhatikan, saudara Abduh ZA telah menghilangkan atau menghapus[9] kata “mengajak serta” dari teks aslinya.”[10]

 

            Demikian contoh pertama ‘ketidakbecusan’ dan ‘ketidakamanahan’ kami dalam menukil. Siapa pun orang yang berakal sehat dan jauh dari hawa nafsu serta mempunyai hati nurani, niscaya akan memaklumi hal ini. Ini adalah kesalahan manusiawi biasa. Tidak ada makna yang hilang ataupun seseorang yang dirugikan dalam hal ini. Bahkan sumber rujukan pun kami sebutkan dengan jelas dalam catatan kaki. Sehingga jika ada kesalahan dalam penukilan kami, pembaca bisa langsung merujuk ke buku aslinya.

            Yang semacam ini, tentu saja berbeda dengan apa yang terdapat dalam sebuah buku berjudul “Mereka Adalah Teroris!” dimana di dalamnya disebutkan, “Kenapa pula engkau wahai “para ‘ulama mujahid” (baca: para teroris) tidak berbicara atas nasib jutaan nyawa kaum muslimin di Kuwait yang dibantai dengan bengis dan kejam oleh Saddam Husain dan tentaranya yang ba’tsi itu…..??”[11]

            Perhatikan kalimat yang kami beri garis bawah (underline). Dari mana sumbernya si penulis mengatakan kalimat dusta semacam ini? Tanpa ada data yang akurat ataupun rujukan yang valid, si penulis mengatakan bahwa ada jutaan nyawa kaum muslimin di Kuwait yang dibantai dengan bengis dan kejam oleh Saddam Husain. Memangnya, berapa penduduk Kuwait pada waktu itu? Perang Teluk terjadi pada awal tahun 90-an. Sementara pada tahun 1995, jumlah penduduk Kuwait adalah 1,5 juta jiwa.[12] Sedangkan pada tahun 1999, jumlah penduduk Kuwait yaitu 1.913.285 jiwa.[13] Artinya, kalau yang dibantai Saddam jumlahnya jutaan nyawa, lalu jumlah penduduk Kuwait pada waktu itu ada berapa dan sisa berapa?[14]

(Bersambung)

 

Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, hlm 73-76


[1] Lagi-lagi Al Ustadz Luqman sendiri sudah mengakui bahwa kelakukannya ini memang berlebihan.

[2] Benarkah beliau terpaksa? Dari tiga alasan yang beliau sebutkan akan tampak kejujuran beliau, apakah beliau memang benar-benar terpaksa atau hanya mengada-ada dan berlebihan.

[3] Alasan pertama ini tidak bisa dijadikan dasar keterpaksaan Al Ustadz Luqman. Sebab, seorang penulis buku ilmiah non fiksi mana pun berhak mengatakan (istilah Al Ustadz Luqman; mempromosikan) bukunya sebagai buku ilmiah, objektif, dan proporsional; selama memang buku tersebut memenuhi standar keilmiahan pada umumnya, tidak memihak secara membabi-buta tanpa alasan, dan menempatkan sesuatu sesuai proporsinya. Di antara kriteria standar untuk tiga hal ini adalah; adanya penyebutan sumber untuk setiap kutipan, berdasarkan argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan, tidak mutar-mutar dan bertele-tele dalam setiap pembahasan, disertai bukti dan data yang akurat, bahasa yang bagus dan mudah dicerna, analisa yang nyambung dengan persoalan, konklusi yang seirama dengan analisa, rasional, dan disertai daftar pustaka di akhir buku. Dengan demikian, jika ada sebuah buku yang tidak memenuhi kriteria standar ini –sekalipun bukunya sangat tebal dan hard cover–, maka buku tersebut memang belum termasuk dalam kategori buku ilmiah.

[4] Hal ini juga tidak bisa dijadikan sebagai alasan. Sebab, penerbit mana pun berhak memuji dan mempromosikan buku-buku yang diterbitkannya. Justru aneh, jika –misalnya– Pustaka Al-Kautsar memuji setinggi langit dan mempromosikan buku Mereka Adalah Teroris! yang notabene bukan buku terbitannya.

[5] Alasan yang ketiga ini secara umum sudah kami jelaskan pada pembahasan sebelumnya. Dan, tidak ada yang aneh ataupun salah dalam hal ini. Apa yang kami lakukan adalah etika penukilan dan upaya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ketika apa yang kita tampilkan berbeda dengan sumber nukilannya, meskipun hanya sekadar garis bawah ataupun tanda baca. Jadi, jika hal semacam ini yang sudah jamak terjadi saja masih juga dikritisi, maka jangan salahkan kalau ada pembaca yang mengatakan; kurang kerjaan.

[6] MDMTK, hlm 436. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil. Dari tiga alasan ini, tampaknya tidak ada satu pun yang bisa dikatakan sebagai dasar keterpaksaan Al Ustadz Luqman untuk membuat bab khusus yang cuma menambah ketebalan halaman ini.

[7] Ibid, hlm 437. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

[8] Di sini, kami hanya akan menukilkan yang dari Al Ustadz Luqman saja dengan memberikan warna gelap pada kata atau kalimat dimaksud, sebagaimana yang dilakukan Al Ustadz Luqman. Sebab, jika kami menukil dari buku kami STSK, lalu menukil juga dari MAT –seperti yang dilakukan Al Ustadz Luqman– tentu hanya akan membuang-buang halaman. Intinya, kami sekadar menunjukkan saja di mana letak ‘ketidakbecusan’ dan ‘ketidakamanahan’ kami dalam menukil, menurut Al Ustadz Luqman yang mengaku salafi.

[9] Kami tidak menghilangkan dan tidak pula menghapus kata “mengajak serta.” Ini adalah murni kelalaian yang sama sekali tidak disengaja. Terlalu berlebihan dan tendensius jika ada orang berakal sehat yang mengatakan bahwa ini adalah tindakan sengaja menghilangkan atau menghapus.

[10] MDMTK, hlm 438. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penukilan.

[11] Mereka Adalah Teroris!/Hlm 228/Cetakan pertama.

[13] Lihat; Kamus Cerdas/Edi Sigar/Hkm 264/Penerbit Delaprasta Publishing/Versi terbaru 2003 M.

[14] Ini sekadar catatan ringan saja. Hal ini telah kami singgung sekilas dalam STSK halaman 246.