CATATAN 8

Terlalu Berlebihan dalam Mencari-cari Kesalahan

 

            Kami tidak menyangka jika keinginan kami untuk berusaha menulis buku STSK semaksimal mungkin sebatas kemampuan kami dengan mengedepankan sikap ilmiah, objektif, dan proporsional, akan menjadi amunisi bagi Al Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah untuk menyerang kami dengan bahasa kasar yang dihiasi tuduhan atas kesalahan kecil yang kami lakukan dalam buku tersebut.[1] Bahkan, selain mengungkit-ungkit kesalahan ketik atau kekurangan kata yang kami kutip di banyak tempat dalam MDMTK, Al Ustadz Luqman juga menunjukkan sikap berlebihannya ini dalam satu bab khusus berjudul, “Abduh Tidak Becus dan Tidak Amanah dalam Menukil.”[2] Hal ini kurang lebih sama seperti yang beliau lakukan dalam buku MAT ketika membantah Imam Samudra, dimana beliau membuat sub-bab khusus berjudul, “Bila si Jahil Meledek Pak Hakim.” Di situ pun masih ada lagi sub-judul, “Imam Tidak Bisa Baca Kitab Kuning.”

            Yang demikian ini, jelas sangat berbeda dengan apa yang kami lakukan, dimana tidak ada satu pun pembahasan khusus dalam STSK yang ngurusin masalah sepele semacam ini. Paling banter kami hanya mengatakan, “Demikian tertulis di buku Al Ustadz Luqman; ahlil ilmu. Mungkin maksudnya ahlul ilmi.”[3] Atau, “Demikian tertulis di buku Al Ustadz Luqman; instensif. Mungkin maksudnya intensif.”[4] Sama sekali tidak ada indikasi pendiskreditan di sana. Justru kami mengatakan, “MUNGKIN MAKSUDNYA.” Artinya, barangkali yang dimaksud oleh Al Ustadz Luqman adalah …. (baca: titik titik titik…). Bukan sebagaimana yang tertulis. Lain halnya, jika memang yang dimaksud oleh Al Ustadz Luqman adalah sebagaimana yang tertulis, berarti kami yang salah. Dan kami mohon maaf jika ternyata niat baik kami untuk menunjukkan suatu kebenaran yang dimaksud oleh Al Ustadz Luqman justru salah. Bagi kami, sama sekali tidak ada masalah jika memang yang dimaksud oleh Al Ustadz Luqman adalah persis sebagaimana yang tertulis, yakni; “ahlil ilmu” dan “instensif.”

 

            Sekarang,[5] mari kita lihat bagaimana sikap berlebihan Al Ustadz Luqman Ba’abduh dalam mencari-cari kesalahan kami :

 

a. Penulisan Riwayat Abu Dawud yang Keliru

            Al Ustadz Luqman Ba’abduh berkata,

“Perhatikan pernyataan Abduh ZA dalam bukunya dalam bukunya halaman 13:

Itu pun masih ditambah lagi dengan menyebut langsung nama orang yang bersangkutan dan kelompoknya. Padahal, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam justru memberikan contoh yang sebaliknya. Aisyah Radhiyallahu Anha berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَلَغَهُ عَنِ الرَّجُلِ الشَّيْءُ لَمْ يَقُلْ مَا بَالُ فُلَانٍ يَقُولُ وَلَكِنْ يَقُولُ مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَقُولُونَ كَذَا وَكَذَا . (رواه أحمد)

“Adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila beliau mendengar sesuatu –yang buruk– tentang seseorang, beliau tidak mengatakan ‘Ada apa dengan si Fulan,’ melainkan beliau mengatakan; Ada apa dengan suatu kaum yang mengatakan begini dan begini?” (HR. Abu Dawud)”[6]

 

            Kemudian, Al Ustadz Luqman memberikan catatan kaki untuk kutipan dari kami ini,

“Cetak tebal dari kami. Demikian kami nukil persis sesuai aslinya. Perhatikan baik-baik pada penyebutan nama periwayat hadits ini. Pada teks ‘Arabnya tertulis: “Rawahu Ahmad” (artinya, diriwayatkan oleh Ahmad); sedangkan pada bagian terjemahnya tertulis “HR. Abu Dawud”. Ma’af terjadi ketidaksesuaian antara teks yang berbahasa ‘Arab dengan teks Bahasa Indonesia. Mungkin terkesan kepada sebagian pembaca bahwa masalah ini merupakan masalah sepele, padahal ini adalah kesalahan fatal menurut ilmu mushthalahul hadits sehingga terpaksa kami jelaskan.”[7]

 

            Kami akui bahwa kami telah melakukan kesalahan dalam menuliskan teks Arabnya. Kami mohon maaf untuk itu. Jujur saja, itu adalah copy paste dari hadits yang berada persis sebelum hadits ini, dimana perawinya adalah memang Imam Ahmad yang tertulis dengan teks Arab, namun kami lupa mengganti kata “Ahmad” menjadi “Abu Dawud” dengan teks Arab. Dan, ini adalah kelalaian kami sebagai seorang manusia yang bisa terjadi pada siapa pun. Akan tetapi, benarkah apa yang dikatakan Al Ustadz Luqman Ba’abduh bahwa ini adalah kesalahan fatal menurut ilmu musthalah hadits?

            Pembaca, sungguh ini adalah sesuatu yang baru dari Al Ustadz Luqman, dimana beliau memasukkan dalam ilmu musthalah hadits tentang sesuatu yang sifatnya salah ketik dan manusiawi. Dan secara tidak langsung, beliau juga memasukkan ilmu terjemah-menerjemahkan ke dalam ilmu musthalah hadits. Sebab, bagaimanapun juga ini adalah murni kesalahan tulis yang sama sekali tidak disengaja. Dan bagaimana bisa dibilang sengaja sementara pada catatan kaki untuk hadits riwayat Abu Dawud tersebut kami sebutkan takhrijnya secara lengkap?[8] Bahkan penshahihan Syaikh Al-Albani rahimahullah terhadap hadits ini pun turut kami tampilkan secara lengkap.

            Jelas, ini adalah sikap yang berlebihan dalam mencari-cari kesalahan orang lain. Sebuah kesalahan tulis yang manusiawi tetapi dikatakan sebagai suatu kesalahan fatal. Itu pun masih ditambah lagi dengan embel-embel; menurut ilmu musthalah hadits. Padahal semua orang yang pernah belajar ilmu ini pun tahu, bahwa tidak ada pembahasan masalah salah tulis dan terjemah ke bahasa asing dalam ilmu musthalah hadits.

            Sekadar contoh, dalam kitab musthalah hadits karya Imam Ibnu Ash-Shalah yang biasa disebut sebagai “Muqaddimah Ibnu Ash-Shalah,”[9] dimana di dalamnya terdiri dari enam puluh lima (65) bab,[10] tetapi tidak ada satu pun di dalamnya yang membahas masalah kesalahan tulis sebagai suatu kesalahan fatal. Yang ada adalah pembahasan masalah hadits shahih, hadits hasan, hadits dha’if, musnad, musttashil, marfu’, mauquf, maqthu’, mursal, munqathi’, mu’dhal, tadlis, hukum mudallis, syadz, hadits munkar, mudhtharib, maudhu’, rijal hadits, perawi yang tsiqah dan dha’if, gelar para perawi, daerah asal perawi, tingkatan para perawi, dan seterusnya. Tidak ada sedikit pun pembahasan tentang kesalahan tulis “Abu Dawud” menjadi “Ahmad,” seperti yang dikatakan oleh Al Ustadz Luqman Ba’abduh, apalagi mengatakannya sebagai kesalahan fatal.

            Demikian pula dalam kitab-kitab musthalah hadits yang lain, seperti; “Al-Ba’its Al-Hatsits fi Ikhtishar ‘Ulumi Al-Hadits” karya Al-Hafizh Ibnu Katsir, “Al-Muqizhah fi ‘Ilmi Mushthalah Al-Hadits” karya Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi, “Tadrib Ar-Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi” karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi, dan “Al-Mukhtashar fi Ushuli Al-Hadits” karya Asy-Syarif Al-Jurjani. Bahkan dalam kitab musthalah hadits kontemporer semacam “Mabahits fi ‘Ulumi Al-Hadits” karya Syaikh Manna’ Al-Qaththan pun tidak ditemukan pembahasan soal salah ketik, atau lebih tepatnya kesalahan dalam menulis “Abu Dawud” menjadi “Ahmad.”

 

b. Penulisan Salafush Shalih yang Disalahkan

            Dalam catatan kaki nomor 51, Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh berkata,

“Ma’af ada kesalahan pada tulisan saudara Abduh ZA pada kata salafush-shalih. Yang benar adalah As-Salafush Shalih dengan ‘As’ pada awal kata dan ada huruf ‘h’ pada akhir kata ‘salafus’. Kesalahan seperti ini terjadi berulang kali pada bukunya (misalnya pada halaman 28, 56, 63, 85, 176, 240, 308 …)”[11]

           

            Untuk hal ini kami tidak mau berkomentar. Sekiranya Al Ustadz Luqman menganggap hal ini sebagai sebuah kesalahan serius yang mesti dikoreksi, ya biarkan sajalah. Cukup menggelikan dan terlalu mengada-ada jika ada seorang penulis yang membahas hal-hal semacam ini. Bisa-bisa malah ntar ada orang yang mengatakan kurang kerjaan.

 

c. Salah Sedikit dalam Menukil dan Tidak Memberi Tanda Baca Dikatakan Berdusta serta Tidak Amanah

            Dalam STSK halaman 138, kami menukil perkataan Al Ustadz Luqman Ba’abduh yang terdapat dalam MAT[12] sebagai berikut,

“Hadits tentang iftiraqul Ummah ini diriwayatkan dari beberapa shahabat, antara lain: Abu Hurairah, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Anas bin Malik, ‘Auf bin Malik, Ibnu Mas’ud, Abu Umamah, ‘Ali bin Abi Thalib, dan Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhum. Hadits ini adalah hadits yang shahih, dishahihkan oleh para ‘ulama besar dari kalangan ahlul hadits Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Di antaranya: At Tirmidzi, Al Hakim, Adz Dzahabi, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, Asy Syathibi dalam Al I’tisham, Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Hibban dalam shahihnya,[13] Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Ibnu Hajar dalam Takhrij Al Kasyaf, dll. Termasuk juga, Muhadditsul ‘Ashr Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah.”[14]

 

Setelah menyebutkan kutipan dari kami (yang kami nukil dari MAT) dalam pembahasan masalah hadits iftiraqul ummah, Al Ustadz Luqman Ba’abduh berkata,

“Mohon dibaca dengan seksama dan cermat, kemudian bandingkan dengan apa yang dinukilkan oleh saudara Abduh Za, sebagaimana yang kami bawakan di atas. Terutama pada bagian yang kami beri warna gelap.

 

Jika telah diperhatikan dengan seksama, maka tampak beberapa kesalahan –sekali lagi ma’af kalau tidak mau dikatakan sebagai kedustaan dan sikap tidak amanah– yaitu:

a.                        Saudara Abduh ZA dengan sengaja menghapuskan kalimat …[15]

b.                        Penambahan kata “dan”, kata tersebut tidak didapati pada teks asli.

c.                        Penulisan Sa’d bin Abi Waqqash, tanpa garis bawah pada huruf (i) pada kata “Abi”. Semestinya: Sa’d bin Abi Waqqash.

d.                        Penambahan kata “oleh”, kata ini pun adalah penambahan dari saudara Abduh ZA yang tidak terdapat pada teks aslinya.

e.                        Penulisan Al I’tisham, padahal pada teks aslinya tertulis Al I’thisham. Terlepas bahwa itu suatu kesalahan ketik dari kami,[16] namun walau bagaimanapun mestinya saudara Abduh ZA menukil apa adanya sesuai yang terdapat pada teks aslinya.[17]

f. Penghapusan garis bawah dari huruf “a” yang terdapat pada kata Al ‘Allamah; semestinya Al ‘Allamah.

g.                        Kata-kata Radhiyallahu Anhum dan rahimahullah pada teks aslinya memakai huruf arab, ( رضي الله عنهم ) dan ( رحمه الله ).”[18]

 

Demikianlah ‘kesalahan-kesalahan’ kami yang oleh Al Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah dikatakan sebagai “kedustaan dan sikap tidak amanah.” Kami hanya bisa mengatakan laa hawla walaa quwwata illaa billaah. Jika demikian faktanya, maka semakin terbukalah mata kita semua bagaimana manhaj Al Ustadz Luqman dan kelompoknya dalam mengatakan orang lain berdusta dan tidak amanah. Sekiranya kurang kata “dan” dan kurang “garis bawah” saja dikatakan berdusta dan tidak amanah, bagaimana halnya dengan yang ‘lebih parah’ dari ini?

 

d. Tuduhan Dusta dan Pembodohan Umat Karena Menghilangkan Tanda Sukun dan Memberi Harakat

            Semangat Al Ustadz Luqman Ba’abduh yang berlebihan dalam mencari-cari kesalahan kami semakin tampak ketika beliau mengatakan kami ceroboh, melakukan kedustaan, dan membodohi umat; untuk suatu ‘kesalahan’ yang mana setiap orang yang berakal sehat pun tahu bahwa itu bukanlah suatu kesalahan. Yang lebih parah, ternyata Al Ustadz Luqman pun sadar –alhamdulillah beliau masih sadar– bahwa apa yang beliau lakukan adalah sesuatu yang berlebihan dan tendensius, namun tetap saja beliau lakukan meski beliau mengaku melakukannya karena ‘terpaksa.’

Dalam STSK halaman 138-139, kami menukil hadits dan terjemahannya yang dibawakan oleh Al Ustadz Luqman Ba’abduh dalam MAT halaman 78-79 cetakan pertama,

            وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ اْلأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيـنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً ؛ قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : هُمْ مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِي .

            “Dan umatku ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu. Para shahabat bertanya: Siapakah mereka wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Mereka adalah orang-orang yang kondisinya seperti kondisiku dan kondisi para shahabatku pada hari ini”.[19]

            Hadits dan terjemahannya ini dinukil lagi oleh Al Ustadz Luqman dalam MDMTK halaman 196 dengan diberi tambahan warna tebal pada kata-kata tertentu sebagaimana yang kami sebutkan di atas. Selanjutnya, masih di halaman yang sama, Al Ustadz Luqman melakukan tindakan menggelikan[20] dengan membuat subjudul yang berbunyi, “Menguji tingkat keilmiahan dan keamanahan sistem penukilan saudara Abduh ZA.” Sebuah judul yang terdengar menyeramkan, namun ternyata isinya hanya sekadar menambah ketebalan halaman, mengada-ada, dan berlebihan.

            Fadhilatul Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah berkata,

“Perlu diketahui, dalam sekian tempat, ketika memberikan sedikit saja perubahan dalam penukilannya, baik berupa huruf tebal, garis bawah, atau yang lainnya, saudara Abduh ZA selalu meminta izin[21] dengan mengatakan: “Huruf tebal dari kami…” dan yang semisalnya.[22] Hal itu dia lakukan dalam rangka mengesankan adanya amanah ilmiah. Bahkan demikian semangatnya, dalam penukilan catatan kaki no. 20 buku MAT dia memberikan banyak catatan kaki, sampai-sampai dalam masalah pemakaian huruf besar atau huruf kecil –nampaknya karena khawatir dianggap salah atau tidak jujur dalam penukilan– saudara Abduh ZA menyebutkan dalam catatan kakinya bahwa itu memang dari buku aslinya. Memang terkesan berlebihan dan tendensius.”[23]

 

Namun ternyata, dalam penukilannya tersebut, saudara Abduh ZA telah melakukan sekian kesalahan –ma’af kalau itu tidak dikatakan sebagai kedustaan– dengan melakukan sekian perubahan, baik pengurangan maupun penambahan, yang sebagiannya bersifat fatal dan dapat mempengaruhi pemahaman para pembaca serta menggiring mereka untuk membenarkan tuduhan-tuduhannya terhadap kami.”[24]

 

Pada beberapa halaman berikutnya, Al Ustadz Luqman Ba’abduh berkata,

 

“Mungkin akan terkesan pada sebagian pembaca bahwa hal ini terlalu berlebihan dan tendensius.[25] Namun sekali lagi mohon ma’af, terpaksa hal ini kami lakukan karena saudara Abduh ZA mengesankan tampilan ilmiah dan objektif serta proporsional, yang ternyata tidak sesuai dengan realitanya.[26] Lebih-lebih dalam hal ini dia menekankan dengan perkataannya “…. Hadits dan terjemah menukil dari Al Ustadz Luqman.”[27]

 

Mari kita bandingkan dengan cermat antara teks asli yang kami bawakan, dengan penukilan yang dilakukan oleh saudara Abduh ZA, sebagaimana yang kami bawakan di atas. Terutama pada bagian yang telah kami beri warna gelap.

 

Setelah kita perhatikan bersama dengan cermat dan seksama, ternyata didapati sekian penambahan dan pengurangan, yaitu:

a.      Menghilangkan tanda sukun: di atas huruf Al-Yapada kata: سَبْعِيْـنَ ; sehingga menjadi سَبْعِيـنَ . Di atas huruf Al-Wawu pada kata قَالُوْا  sehingga menjadi قَالُوا . Di atas huruf Al-Wawu pada kata: رَسُوْلَ ; menjadi رَسُولَ . Di atas huruf Al-Yapada kata أَصْحَابِيْ sehingga أَصْحَابِي .

b.      Menambah huruf Al-Wawu berharakat fathah sebelum kalimat … مَنْ هِيَ ; menjadi  وَمَنْ هِيَ.

c.      Penulisan Lafzhul Jalalah berbeda dengan aslinya. Abduh ZA menulis اللهِ padahal aslinya الله .[28]

d.      Membuang semua harakat dan tanda sukun pada kata الْيَوْمَ ; sehingga menjadiاليوم  .

Itulah beberapa bentuk kesalahan dan kecerobohan saudara Abduh ZA dalam menukil, yang pada sebagiannya bersifat fatal dan sangat sulit untuk dikatakan sekadar kesalahan atau kecerobohan. Yang terus terang saja, kami menilainya – ma’af– sebagai suatu kedustaan sekaligus sebagai bentuk pembodohan terhadap umat.”[29]

 

            Pembaca, demikianlah semangat Al Ustadz Luqman Ba’abduh delam mencari-cari kesalahan kami. Entah sadar apa tidak –namun beliau mengaku sadar–, sesungguhnya beliau telah mempermalukan diri beliau sendiri dengan membahas hal-hal sangat sepele semacam ini. Apalagi beliau mengatakannya sebagai kesalahan fatal dan suatu kedustaan sekaligus bentuk pembodohan terhadap umat. Padahal, tidak ada satu pun makna yang hilang atau terselewengkan dengan ‘kesalahan’ kami dalam menukil. Apakah Al Ustadz Luqman merasa dirugikan dengan adanya ‘penukilan yang salah’ ini?

           

Sungguh, ini benar-benar kesalahan manusiawi yang sama sekali tidak disengaja ataupun kami maksudkan demikian.[30] Dan, rasanya hanya orang yang tak sadar akan kemanusiaannya (baca: orang yang merasa tidak pernah salah dan tidak mau disalahkan) saja yang menganggap hal semacam ini sebagai kesalahan fatal dan suatu kedustaan sekaligus pembodohan terhadap umat. Sebab, sekiranya ini dianggap kesalahan fatal, maka di mana letak fatalnya? Apakah ada makna yang hilang? Apakah menurut Al Ustadz Luqman Ba’abduh yang mengaku salafi ini; bahwasanya hilangnya tanda sukun juga berarti hilang maknanya? Apakah memberi harakat kasrah pada lafzhul jalalah adalah sebuah kesalahan fatal? Aneh.

            Berikutnya, jika hal sepele semacam ini dikatakan sebagai suatu kedustaan, maka di manakah letak dustanya? Apakah kurang tanda sukun, pemberian harakat kasrah pada lafal Allah, dan ketiadaan harakat adalah suatu kedustaan? Padahal, insya Allah kita semua tahu bahwa penulisan Al-Qur`an Al-Karim dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pertama kali semuanya tanpa titik, tanpa harakat, dan tanpa tanda baca. Lalu, apakah kemudian jika ada orang yang menyalin Al-Qur`an dan hadits Nabi dengan memakai harakat dan tanda baca; berarti orang tersebut telah melakukan suatu kedusataan? Berapa banyak jumlah kaum muslimin di dunia ini dari sejak dulu hingga sekarang yang telah melakukan kedustaan hanya karena menukil ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi dengan menambahi sukun dan memberi tanda baca.

           

Kemudian, apabila hal ini dikatakan sebagai pembodohan umat, maka umat yang manakah yang telah mengaku kepada Al Ustadz Luqman bahwa dirinya telah dibodohi oleh sebuah penukilan dari kami yang menghilangkan tanda sukun pada kata-kata tertentu dan menambah tanda kasrah pada lafal Allah yang memang sudah seharusnya berharakat kasrah? Jika memang ada, apakah orang tersebut benar-benar telah terbodohi atau memang dia benar-benar bodoh? Sebab, hanya orang bodoh saja yang mengatakan dirinya merasa terbodohi dengan kata سَبْعِيْـنَ dan سَبْعِيـنَ , atau kata قَالُوْا  dan قَالُوا , atau kata رَسُوْلَ dan رَسُولَ , ataupun kata أَصْحَابِيْ dan أَصْحَابِي . Sejujurnya, kami jadi bertanya-tanya, sebetulnya siapa sih yang bodoh dalam hal ini?

 

e. Kekeliruan Penulisan Sya’ir Imam Asy-Syafi’i

            Jauh pada halaman sebelumnya, Al Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah menyalahkan dengan ‘santun’ penulisan sya’ir Imam Asy-syafi’i rahimahullah yang kami nukil dalam buku kami STSK. Di sana, kami menukil sya’ir tersebut sebagai berikut,

اَلْمَرْأُ إِنْ كَانَ عَاقِلاً وَرَعًا           أَشْغَلَهُ عَنْ عُيُوْبِ غَيْرِهِ وَرَعُهُ

كَمَا الْعَلِيْلُ السَّقِيْمُ أَشْغَلَهُ               عَنْ وَجَعِ النَّاسِ كُلِّهِمْ وَجَمْعِهِمْ [31]

            Padahal, seharusnya sya’ir itu berbunyi:[32]

اَلْمَرْأُ إِنْ كَانَ عَاقِلاً وَرِعًا           أَشْغَلَهُ عَنْ عُيُوْبِ غَيْرِهِ وَرَعُهُ

كَمَا الْعَلِيْلُ السَّقِيْمُ أَشْغَلَهُ              عَنْ وَجَعِ النَّاسِ كُلِّهِمْ وَجَعُهُ

            Al Ustadz Luqman berkata tentang kesalahan kami ini,

 

“Perlu pembaca ketahui, kesalahan Abduh ZA ini sangat fatal, tidak hanya satu kesalahan, bahkan sekian kesalahan fatal. Terkhusus bagi orang yang mengerti sedikit saja pengetahuan tentang sya’ir Bahasa ‘Arab, dia akan mengetahui kesalahan-kesalahan Abduh ZA tersebut sebagai kesalahan yang fatal.”[33]

 

            Setelah menampilkan sisi-sisi kesalahan yang sukses ditemukannya dalam penulisan sya’ir tersebut, Al Ustadz Luqman kembali berkata,

 

“Sungguh dalam hal ini kami sangat terpaksa untuk menampilkan kepada pembaca kesalahan-kesalahan saudara Abduh ZA seperti di atas. Mengingat tulisan bantahan saudara Abduh ZA kepada kami terlalu tendensius,[34] sehingga kesalahan dalam buku MAT yang sebenarnya ringan pun diberi catatan oleh Abduh ZA, sampai-sampai dalam hal pemakaian huruf kapital atau tidak, kesalahan ketik kami pada kata “instensif” yang semestinya “intensif”,[35] pemakaian huruf “q” atau “k” pada kata “fasiq”,[36] dan masih banyak lagi catatan-catatan seperti ini[37] yang menghiasi buku STSK.”[38]

 

Demikianlah apa yang dikatakan Al Ustadz Luqman terhadap kami atas kesalahan kami dalam menulis sya’ir Imam Asy-syafi’i. Beliau menyebut kesalahan ini sebagai “sangat fatal.” Beliau juga mengaku bahwa beliau melakukan hal ini dengan “sangat terpaksa.” Dan, beliau pun menambahi bahwa tulisan bantahan kami itu “terlalu tendensius.”

Benar, bahwasanya kami keliru dalam menulis sya’ir tersebut yang sesungguhnya tinggal menuliskannya saja, plus memberi harakat. Suatu pekerjaan yang relatif mudah untuk dilakukan dalam kondisi normal. Namun, kesalahan dan kelengahan bisa saja menimpa siapa pun. Termasuk kami. Dalam pengalaman kami yang sehari-hari bekerja sebagai editor, kami sangat sering menjumpai kesalahan-kesalahan kecil semacam ini. Dan kami tidak pernah mempermasalahkannya selama hal tersebut masih dalam batas toleransi atau tidak terlalu banyak jumlahnya atau tidak terlalu signifikan.

Kami menyadari, bahwa seorang penerjemah sering menerjemahkan sebuah kitab (berbahasa Arab) pada waktu malam hari hingga dini hari atau bahkan hampir tidak tidur semalaman. Pada kondisi mengantuk atau saat letih inilah, kesalahan dalam melihat huruf rawan terjadi, karena pandangan mata tidak lagi awas dan sudah agak kabur. Yang seharusnya ada titiknya, dibaca dengan tanpa titik. Yang aslinya titiknya di bawah, dibaca dengan titik di atas. Yang semestinya lima huruf, dibaca empat huruf. Dan sebagainya. Jika sudah begini, terjadinya kesalahan dalam menerjemahkan pun tak terhindarkan lagi. Dan, ini sudah jamak terjadi.

            Kami sendiri, ketika mengetahui kesalahan kami dalam menukil sya’ir Imam Asy-Syafi’i ini, kami menduga bahwa kami kemungkinan sedang dalam kondisi yang tidak dalam konsentrasi penuh. Mungkin saja kami sedang letih atau mengantuk. Sebab, kesalahan tersebut begitu ringannya. Dalam buku aslinya, tulisan sya’ir itu persis seperti yang ditulis oleh Al Ustadz Luqman Ba’abduh, dan sangat mudah untuk dibaca ataupun ditulis. Siapa pun yang bisa membaca huruf Arab (tidak perlu mahir berbahasa Arab), akan bisa membacanya dengan benar. Kami sendiri, jangankan menulis kalimat berbahasa Arab yang ada contohnya, menuliskan kalimat-kalimat dan perkataan Arab yang didiktekan pun, kami sanggup melakukannya dengan baik, insya Allah. Jadi, kesalahan kami dalam hal ini benar-benar tidak sengaja dan murni karena kekhilafan kami sebagai seorang manusia. Dan, masalah fatal atau sangat fatal tidaknya, menurut kami itu amat relatif. Tergantung siapa yang menilai dan siapa yang dinilai. Kalau misalnya yang menilai adalah Al Ustadz Luqman Ba’abduh, dan yang dinilai adalah kami; ya kami kira pembaca bisa memaklumilah…


[1] Untuk lebih nyambung, baca juga “Catatan Pertama” dari buku ini.

[2] Lihat MDMTK halaman 435 dan seterusnya.

[3] STSK/hlm 148. Catatan kaki nomor 258. Pada tiga edisi cetakannya tidak ada perubahan dalam hal ini.

[4] Ibid, catatan kaki nomor 259. Pada tiga edisi cetakannya tidak ada perubahan dalam hal ini.

[5] Sebetulnya, indikasi berlebihannya Al Ustadz Luqman dalam mencari-cari kesalahan kami dalam buku STSK sebagiannya sudah terdapat pada pembahasannya sebelumnya. Namun, catatan kali ini lebih mengkerucut tentang hal ini.

[6] MDMTK, hlm 97. Dikutip dari STSK hlm 13. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

[7] MDMTK, hlm 97. Catatan kaki nomor 45.

[8] Untuk takhirj hadits, yang terpenting adalah nama perawinya, siapa sahabat yang meriwayatkannya, terdapat dalam kitab apa, bab apa, dan berapa nomor haditsnya. Lebih baik lagi jika hadits tersebut tidak diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim; ditampilkan derajat haditsnya. Tidak begitu perlu disebutkan penerbitnya mana, cetakan ke berapa, tahun berapa, dan halaman berapa. Demikian sebagian manhaj kami dalam mentakhrij hadits.

[9] Kami memakai kitab ini dari program Al-Maktabah Asy-Syamilah. Kitab ini juga bisa didownload gratis di berbagai situs internet, misalnya http://saaid.net/book/open.php?cat=91&book=1396 dan http://www.almeshkat.com/books/open.php?cat=9&book=1395.

[10] Dalam Muqaddimah-nya, Ibnu Ash-Shalah memakai istilah “An-Nau’ Al-Awwal” (Jenis Pertama), “An-Nau’ Ats-Tsani” (Jenis Kedua), dan seterusnya.

[11] MDMTK, hlm 107. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

[12] Lihat MAT, hlm 79 cet I atau hlm 87 cet II, catatan kaki nomor 20.

[13] Di sini kami memberikan catatan kaki, “Demikian tertulis di buku aslinya, dengan huruf kecil (s) pada kata shahih.” Akan tetapi, Al Ustadz Luqman menanggapi catatan kaki kami ini dengan sinis. Dalam MDMTK halaman 197 catatan kaki nomor 153, beliau berkata, “Pembaca bisa melihat catatan kaki no. 236, Abduh ZA mengatakan: “Demikian tertulis di buku aslinya, dengan huruf kecil (s) pada kata shahih.” Beliau melanjutkan, “Cara seperti ini sering dia lakukan dalam sekian catatan kakinya jika ada kesalahan pada sumber asli yang dia nukil, walaupun sekadar salah ketik…” Kami (Abduh) pun jadi maklum, kenapa sebagian kelompok salafi sangat mudah marah dan tersinggung. Sebab, jika diluruskan baik-baik semacam ini saja sudah kebakaran kumis, bagaimana halnya jika dikritik yang lebih ‘pedas’ dari ini?

[14] Garis bawah asli dari kami dalam STSK. Huruf tebal asli dari Al Ustadz Luqman dalam MAT. Sedangkan beberapa kata berwarna gelap adalah dari Al Ustadz Luqman dalam MDMTK, hlm 195. Pada kata-kata yang berwarna gelap inilah kami dikatakan berdusta dan tidak amanah oleh Al Ustadz Luqman.

[15] Insya Allah untuk poin “a” ini ada pembahasannya tersendiri. Yang jelas, di sini Al Ustadz Luqman yang mengaku salafi ini telah menempatkan dirinya laksana orang yang mengetahui masalah ghaib, dengan perkataaannya, “dengan sengaja.” Padahal ini adalah soal niat seseorang dimana tidak ada yang mengetahuinya selain Allah dan orang itu sendiri.

[16] Kami menulis Al I’tisham tanpa ada komentar sama sekali yang menyalahkan Al Ustadz Luqman. Kami maklum bahwa ini adalah kesalahan ketik yang sangat sepele. Lihat STSK halaman 138.

[17] Al Ustadz Luqman melanjutkan, “… Apalagi mengingat seringnya saudara Abduh ZA memberikan catatan kaki pada hampir setiap kesalahan ketik dari kami, sampai dalam masalah huruf besar atau kecil tidak lupa saudara Abduh ZA memberikan komentar pada catatan kakinya.” Demikian Al Ustadz Luqman. Sayangnya, tidak ada satu pun contoh komentar kami dalam hal ini yang ditampilkan oleh Al Ustadz Luqman. Sekiranya beliau mau menampilkan satu atau dua contoh saja bagaimana komentar kami dalam hal ini, niscaya pembaca MDMTK akan mengetahui betapa kami tidak pernah menyudutkan beliau dalam komentar-komentar kami. Apalagi sampai mengatakan berdusta dan tidak amanah. Bagaimanapun juga kami sangat memahami kemanusiaan seorang manusia yang sangat mungkin melakukan kesalahan kecil yang tidak sengaja.

[18] MDMTK, hlm 198-199. Garis bawah pada kalimat-kalimat tertentu berasal dari kami untuk sekadar penekanan. Mohon maaf jika ada kesalahan atau kekurangan dalam penukilan.

[19] Dalam STSK, kami memberikan catatan kaki untuk nukilan ini, “Ibid, 78-79 (cetakan pertama). Hadits dan terjemah menukil dari Al Ustadz Luqman.”

[20] Kami katakan “menggelikan” karena memang kami merasa agak lucu melihat ada seorang penulis mempermasalahkan penulis lain yang dalam penukilannya mengatakan, “Huruf tebal dari kami…” dan yang semisalnya.

[21] Perlu kami sampaikan di sini, bahwa yang kami lakukan dalam STSK ketika/setelah menukil adalah sekadar pemberitahuan, bukan meminta izin. Maksud kami, jika di sana kami memberi underline (garis bawah) dan bold (huruf tebal), sementara di buku aslinya tidak ada, maka kami memberitahukan hal ini kepada pembaca, demi menghindari kesalahpahaman yang tidak dikehendaki. Begitu pula ketika kami mencoba untuk meluruskan kesalahan kecil seperti salah ketik, maka kami pun memberitahukan kepada pembaca bahwa yang benar adalah ini atau barangkali yang dimaksud oleh penulis adalah ini. Sedikit pun tidak ada kesan pendiskreditan di sana. Sekali lagi, ini semua kami lakukan demi menghindari kesalahpamahan dari pembaca yang tidak dikehendaki. Dan, hanya pembaca yang ada kesalahan dalam pemahamannya saja yang tidak paham dan tidak menghendaki hal ini.

[22] Al Ustadz Luqman memberi catatan kaki di tempat ini (catatan kaki nomor 152, halaman 197), “Sekadar contoh, pembaca bisa melihat catatan kaki buku STSK no. 70, 71, 72, 73, 74, 428, 556, 605, … dan masih sangat banyak lagi.”

[23] Terkesan berlebihan dan tendensius? Apakah orang yang khawatir dianggap salah atau tidak jujur dalam penukilan –sebagaimana kata Al Ustadz Luqman– adalah berlebihan dan tendensius? Aneh. Justru kami heran, apabila Al Ustadz Luqman termasuk orang yang tidak takut salah dan berani melakukan ketidakjujuran dalam menukil. Semoga beliau sadar dengan apa yang dikatakannya. Sebab, jika beliau sadar, niscaya beliau akan tahu bahwa beliaulah sesungguhnya yang berlebihan dan tendensius.

[24] MDMTK, hlm 196-197. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

[25] Seperti kami katakan sebelumnya, sebetulnya Al Ustadz Luqman sendiri sadar bahwa hal ini terlalu berlebihan dan tendensius.

[26] Sungguh sangat disayangkan, demi emosi dan hawa nafsu yang hendak ‘meyakinkan’ pembaca bahwa kami tidak ilmiah dan objektif serta proporsional, Al Ustadz Luqman menyempatkan dirinya untuk khusus membahas ‘kesalahan-kesalahan’ kami dalam hal ini.

[27] Aneh Al Ustadz Luqman ini, masak kami akan mengatakan bahwa hadits dan terjemahnya menukil dari orang lain, sementara jelas-jelas kami menukil dari beliau? Masalah ada tanda baca yang tidak sama, siapa pun yang berakal sehat tentu tidak akan menganggapnya sebagai sebuah kesalahan serius, apalagi suatu kedustaan ataupun ketidakilmiahan.

[28] Maksud Al Ustadz Luqman, kami telah menambahi harakat kasrah. Padahal aslinya tidak ada.

[29] MDMTK, hlm 198-201. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

[30] Sedikit penjelasan dari kami mengapa terjadi perbedaan dalam tulisan Arab atau tanda baca dalam hadits dimaksud. Pertama, meskipun hadits tersebut terdapat dalam MAT, namun kami meng-copynya dari CD program hadits. Kedua, tanda sukun yang tidak ada itu memang asli dari program hadits tersebut, dan kami sama sekali tidak memperhatikan hal ini. Tidak pernah terlintas dalam benak kami, bahwa akan ada manusia yang menyalahkan kami hanya karena tanda sukun. Ketiga, tambahan huruf wawu itu memang juga asli dari programnya, dan kami tidak menganggapnya sebagai hal yang serius karena inti bunyi matannya sama. Keempat, harakat kasrah pada lafal Allah sama sekali bukan suatu kesalahan, apalagi kesalahan fatal. Jangankan ulama, orang yang baru belajar Bahasa Arab pun (asal tahu jar majrur) tahu bahwa kata Allah di situ memang harus berharakat kasrah. Dan, itu juga asli dari programnya. Dan kelima, hilangnya semua harakat pada kata “al-yaum” kami akui memang suatu kelalaian, namun ini sama sekali tidak mengubah makna. Kami juga tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi. Yang jelas, dalam file kami di komputer rumah maupun kantor, semuanya ada harakatnya.

[31] STSK, hlm16-17. Menukil dari Diwan Al-Imam Asy-Syafii/hlm 19/penerbit Maktabah Al-Quds, Kairo/tanpa tahun.

[32] Yang kami beri warna dasar agak gelap adalah letak kesalahan kami. Dan ini pula yang dikritik secara ‘sangat terpaksa’ oleh Al Ustadz Luqman.

[33] MDMTK, hlm 116. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

[34] Terlalu tendensius? Sungguh, Al Ustadz Luqman telah benar-benar berdusta. Silakan pembaca membandingkan sendiri antara catatan-catatan kami untuk Al Ustadz Luqman, dan catatan-catatan Al Ustadz Luqman kepada kami; siapa sesungguhnya yang terlalu tendensius. Insya Allah kami sanggup dihadapkan langsung dengan Al Ustadz Luqman untuk membuktikan kedustaannya dalam hal ini.

[35] Untuk kata “instensif” dan “intensif,” silakan pembaca melihat langsung pada STSK, halaman 148, catatan kaki nomor 259.  Atau, pada alinea kedua catatan ke-8 dalam buku ini. Kami menulis untuk hal ini, “Demikian tertulis di buku Al Ustadz Luqman; instensif. Mungkin maksudnya intensif.” Apakah yang semacam ini terlalu tendensius? Mungkin, orang yang kebakaran kumis dan terlalu tendesius saja yang akan mengatakan; terlalu tendensius.

[36] Untuk kata “fasiq” dan “fasik” ini, kami menulis dalam tanda kurung, “(Kata “fasiq” dengan huruf “q,” asli dari Al Ustadz Luqman. Terkadang beliau menulis “fasik,” dengan huruf “k”. Tidak masalah).” [STSK, halaman 205, catatan kaki nomor 371]. Jelas-jelas kami menulis “TIDAK MASALAH.” Kenapa Al Ustadz Luqman mempermasalahkannya? Di mana letak tendensiusnya? Capek deh…

[37] Al Ustadz Luqman benar, memang “masih banyak lagi catatan-catatan seperti ini,” tetapi semuanya adalah ya kurang lebih seperti contoh kata “instensif” dan “fasik” itu. Tidak ada yang tendensius, apalagi terlalu tendensius.

[38] MDMTK, hlm 116.

Iklan