Aneh Banget, Kata “BISA DIBILANG” saja, Dipermasalahkan?? Caaaapek Deeeech!!..

 

 

Teringat permintaan salah seorang komentator diblog ini untuk membahas buku Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi. Sekalipun baru banget sampai rumah jam 10 malam dan juga karena sudah lima hari gak publish article, dengan sangat senang hati aku coba buka kembali buku yang telah aku rampungkan ini. Kata orang, kalau sering dibaca, bisa memungkinkan seseorang menghapalnya di luar kepala. Tapi apa mungkin? 🙄 400 halaman ghitu loch. Lalu bagaimana dengan yang 700 halaman? 🙄 Pusing banget kali ya?.. 😳

 

 

Seperti janjiku untuk membahas sesuatu yang menggelitik dari buku ini, khususnya untuk saudara-saudaraku yang pro yang belum membaca, umumnya untuk orang-orang yang perduli dan specialnya [pake telor ceplok] untuk orang-orang yang kontra yang memang sudah dipantek nggak boleh baca bukunya, karena telah jatuh hukum haram kali ya :mrgreen:

 

Ocreh, berikut adalah kutipan buku Belajar dari Akhlak Ustadz Salafi seputar kata “BISA DIBILANG” yang dipermasalahkan penulis buku MAT dan MDMTK. Sebagai bantuan, untuk selanjutnya kata “BISA DIBILANG” ini akan saya beri warna MERAH dan BOLD, insyaAllah kalian bisa menyimpulkan betapa penjelasan ustadz Abduh ini [menurut aku loch 😳 ] sangat cerdas, dan bikin KEKI yang kontra dengan beliau. 😆

 

 

CATATAN 7

Khawarij Bisa Dibilang Sudah Punah?

 

Yang termasuk cukup menggelitik dari MDMTK adalah satu sub-bab yang berjudul “Pustaka Al-Kautsar Berbicara Tanpa Ilmu”1 dari halaman 66 hingga halaman 70. Pembahasan khusus yang menghabiskan beberapa halaman ini dikarenakan pada pengantar penerbit STSK tertulis, “Bukan Ahlu Sunnah wal Jama’ah, namun beraqidah Khawarij (aliran garis keras yang bisa dibilang sudah punah).”2

 

Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh tidak bisa menerima jika Khawarij dikatakan sebagai aliran garis keras yang bisa dibilang sudah punah. Menurut beliau, Khawarij masih ada hingga kini dan akan selalu ada sampai Hari Akhir nanti. Untuk memperkuat pendapatnya ini, beliau menukil dua buah hadits dan pendapat beberapa ulama, yang intinya adalah Khawarij memang masih ada dan akan selalu ada hingga Hari Kiamat kelak. Kemudian, beliau menyimpulkan,

 

 

“Hal ini berbeda dengan penegasan Pustaka Al-Kautsar, bahwa Khawarij merupakan aliran garis keras yang bisa dibilang sudah punah. Anehnya kesalahan fatal ini didiamkan saja oleh saudara Abduh ZA! Sekaligus ini sebagai salah satu bukti—dari sekian bukti yang akan dating—yang menunjukkan tentang ketidakilmiahan buku Siapa Teroris? Siapa Khawarij?”3

 

Ada sejumlah catatan yang diberikan untuk kesimpulan Al-Ustadz Luqman Ba’abduh yang bisa dibilang tidak nyambung ini.

 

 

Catatan pertama: Beliau mengatakan bahwa apa yang ditulis oleh Pustaka Al-Kautsar pada pengantar penerbit dalam STSK adalah sebuah PENEGASAN. Padahal, faktanya adalah sebaliknya. Jelas-jelas ini bukan suatu penegasan. Lihatlah susunan kalimat yang dipakai, “BISA DIBILANG sudah punah.” Sekiranya memang Pustaka Al-Kautsar hendak menegaskan bahwa Khawarij memang sudah punah, maka tentu akan ditulis dengan kalimat yang tegas tanpa keraguan di dalamnya. Misalnya, “Bukan Ahlu Sunnah wal Jama’ah, namun beraqidah Khawarij (aliran garis keras yang sudah punah).” Tidak perlu menyertakan kata multi interpretasi di sana, yakni kata “BISA DIBILANG.”

 

 

Contoh sederhana saja, jika ada orang berkata, “Al-Ustadz Luqman Ba’abduh itu bisa dibilang seorang ulama dan mujahid.” Kalimat ini tidak mengandung suatu makna yang pasti dan tegas. Sebab, bisa jadi ada orang yang menganggap Al-Ustadz Luqman Ba’abduh adalah memang seorang ulama dan mujahid. Dan bisa jadi, ada orang lain yang tidak menganggap demikian.

 

 

Contoh lain misalnya, jika ada orang yang mengatakan, “Buku Mereka Adalah Teroris! bisa dibilang merupakan karya terbesar dan fenomenal dari Al-Ustadz Luqman Ba’abduh.” Perkataan semacam ini juga tidak menjamin suatu kepastian dan penegasan. Karena, bisa jadi buku MAT adalah memang betul-betul karya terbesar dan fenomenal dari Al-Ustadz Luqman Ba’abduh. Namun, bisa juga tidak demikian. Sebab, tidak sedikit orang yang meragukan bahwa Al-Ustadz Luqman mempunyai kemampuan menulis buku setebal MAT seorang diri. Bahkan, ada seorang ustadz dari kelompok salafi moderat di Jakarta yang dating ke kantor Pustaka Al-Kautsar yang mengatakan bahwa sebetulnya buku MAT adalah karya bersama-sama dari sejumlah ustadz salafi yang kemudian dibukukan dengan memakai nama Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh.4

 

Jadi, bagaimanapun juga sebagai seorang manusia (dalam hal ini penerbit) yang sadar akan kelemahan dirinya, tentu tidak akan mengatakan sesuatu yang debatable dengan suatu kata atau kalimat yang bernada kepastian.5 Sebab, bisa jadi apabila di sana ada orang yang hatinya sakit dan penuh kedengkian serta senang mengorek-ngorek kesalahan orang lain, niscaya hal ini akan menjadi amunisi baginya untuk mendiskreditkan kita. Dan sebagai seorang muslim, kita memang mesti berhati-hati dalam berbicara dan bersikap. Tidak buru-buru memvonis atau memastikan sesuatu yang sifatnya masih bisa diperdebatkan kebenarannya. Dan menurut kami, apa yang dilakukan Pustaka Al-Kautsar dalam hal ini sudah benar. Pustaka Al-Kautsar sama sekali tidak menegaskan atau memberikan penegasan bahwa Khawarij adalah aliran garis keras yang sudah punah, melainkan bisa dibilang sudah punah. Ini artinya, bisa jadi Khawarij sebagai sebuah kelompok rill memang sudah sulit ditemukan wujudnya, namun dari segi paradigma pemikiran masih terdapat pada sebagian kaum muslimin.

 

 

Footnote:

 

[1] Inti dari tulisan pada bab ini bisa dibilang sama persis dengan bagian dari tulisan Abi ‘Amr Ahmad Alfian yang berjudul, “Bingkisan Ringkas untuk Abduh ZA,” yang bisa dengan mudah didapatkan dari berbagai situs internet di Indonesia. Dalam tulisan Abu ‘Amr ini, terdapat sub judul, “Benarkah Khawarij Sudah Punah?” yang merupakan bagian pertama dari tulisannya setelah muqadimah. Kami tidak tahu, apakah Al Ustadz Luqman menukil dari Abu ‘Amr ataukah Abu ‘Amr yang menukil dari Al Ustadz Luqman. Tidak ada keterangan sama sekali dalam bab ini. Dan, sekiranya yang menukil adalah Al Ustadz Luqman, maka ada semacam ketidakjujuran dan ketidakamanahan dalam menukil pada beliau.

 

[2] Lihat STSK/hlm xiii, atau MDMTK/hlm 67. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

 

[3] MDMTK/hlm 69. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

 

[4] Yang terkadang membuat kami agak heran, jika di buku MAT tertera nama penulis di sampul depan, “Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh,” maka di buku MDMTK kata “Al Ustadz” sudah tidak tertera lagi. Apakah karena yang menulis kata “Al Ustadz” adalah orang lain? Sebab, biasanya seseorang tidak akan mungkin menyematkan kata “ustadz” atau “kyai” pada dirinya sendiri. Wallahu a’lam.

 

[5] Orang lain juga bisa mengatakan, bahwa Pustaka Al-Kautsar adalah penerbit yang bisa dibilang terdepan dalam membantah paham-paham dan aliran-aliran sesat di Indonesia. Karena buku-buku Al-Kautsar memang sangat banyak yang mengkritisi dan melawan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti: liberal, Syi’ah, inkar Sunnah, LDII, Ahmadiyah, dan sebagainya. Bahkan CD-CD yang diproduksi Al-Kautsar pun semuanya berkarakter counter terhadap paham-paham sesat tersebut. Namun jika ada sebagian kalangan yang tidak setuju, juga tidak masalah. Sebab, ini pun bukan merupakan kepastian, Tetapi bisa dibilang. Terserah masyarakat yang menilai sendiri.

 

 

Sumber : Abduh Zulfidar Akaha, Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, Pustaka Al-Kautsar, cetakan pertama, Februari 2008, hlm. 51-53.

 

 

Sekian saja pengutipan buku BAUS Catatan 7 ini, sebenarnya masih ada empat catatan penjelasan lagi yang diterangkan ustadz Abduh, tapi karena ana belum ijin ke beliau dan penerbit Pustaka Al-Kautsar, ana cukupkan penjelasan catatan kesatu saja. Dan sebaiknya antum membaca dari buku aslinya dijamin lebih puas karena selain penjelasan yang lebih lengkap dan jelas juga ”agar nggak bikin jari tangan ana bisa dibilang keriting ghitu loch, gara-gara kebanyakan ngetik hihihi….  :mrgreen:  ”

 

Mengenai keterangan ustadz Abduh yang ini,

bisa jadi Khawarij sebagai sebuah kelompok rill memang sudah sulit ditemukan wujudnya, namun dari segi paradigma pemikiran masih terdapat pada sebagian kaum muslimin.

Ciri-cirinya bisa kalian lihat dalam article ini dan ini yang pernah saya publish.

 

 

Okeh bro, untuk yang ingin tantangan berkomentar, akan sangat saya hargai jika bisa menggunakan kata-kata “BISA DIBILANG” juga. Hitung-hitung belajar bahasa Indonesia lagi. Wallahu musta’an.