Syaikh Abdul Aziz bin Bazz Rahimahullah pun Mengingkari Tindakan Para Pendahulu Salafi Extreme!!!

Nggak akan aneh kalau setelah article ini terbit akan ada komentar yang mengatakan “Pemilik blog ini telah memanipulasi ucapan Syaikh bin Bazz!!” atau “Engkau telah berdusta atas nama Syaikh bin Bazz!!” atau “Begitulah kelakuan si kucing garong para hizbiyyun yang pandai memutar balikkan fakta!!!” atau …..

 

Setelah menggunakan hujjah dalil-dalil al-Qur’an tentang orang kafir dalam article yang ini, insyaAllah kali ini saya ingin bahas tentang hujjah dalil-dalil hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam tentang Khawarij yang pastinya masih ditujukan terhadap ulama, syuhada, mujahid, mujadid, atau mungkin kita umat Islam yang tidak berada dalam hizb salafi extreme.

 

Sebenarnya hujjah dalil-dalil yang akan saya sajikan berikut ini digunakan sebagai pembenaran atas sikap dakwah mereka yang menyatakan bolehnya MENGABAIKAN sikap santun dan menjaga etika dalam mengkritik, serta membolehkan penggunaan kata-kata keras dan pedas serta kasar dalam menasehati dan memberikan teguran. Tapi sayangnya karena tidak hati-hati dan sangat gegabah, secara tidak langsung atau bahkan secara tegas menuduh ulama, syuhada, mujahid, mujadid semisal Al-Faqih Al-Allamah Syaikh Prof. Dr. Yusuf bin Abdillah Al-Qaradhawi, Dr. Safar Al-Hawali, Dr. Salman Al-Audah [yang bukunya mendapat pengantar dari Syaikh Abdul Aziz bin Bazz], Syaikh Hasan Al-Banna, Dr. Abdullah Azzam, Syaikh Ahmad Yasin, dan masih banyak lagi sebagai Khawarij atau mendekati Khawarij. Dan perlu diketahui, saya adalah salah seorang yang menjadi saksi sekaligus pengalaman mendapat tuduhan tersebut.

 

Berikut adalah makna dari hujjah dalil-dalil yang dimaksud:

 

“…akan keluar dari keturunan orang ini (Dzulkhuwaishirah) suatu kaum yang mereka itu ahli membaca Al-Qur’an, namun bacaan mereka tersebut tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Mereka membunuhi ahlul Islam dan membiarkan hidup (tidak membunuh) ahlul Autsan (orang-orang kafir). Jika aku sempat mendapati mereka, akan aku bunuh mereka dengan cara pembunuhan terhadap kaum ‘Ad.” (HR. Al-Bukhari, Mulsim, dan Dawud)

 

 

Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka! Mereka adalah sejelek-jelek mayat di bawah kolong langit. Sementara sebaik-baik mayat di bawah kolong langit adalah mayat orang-orang yang dibunuh oleh mereka (Khawarij).” ((HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

 

 

Maka jika kalian mendapati mereka (Khawarij), bunuhlah mereka! Karena sesungguhnya orang-orang yang membunuh mereka akan mendapat pahala di sisi Allah pada Hari Kiamat.” (Muttafaq Alaih)

 

 

Lihatlah, dalam article sebelumnya mereka menggunakan hujjah dalil-dalil yang diperuntukkan untuk orang kafir dan sekarang menggunakan hujjah dalil-dalil yang diperuntukkan untuk Khawarij. Jelas seperti dalil-dalil sebelumnya, hadist-hadits ini sama sekali tidak bisa dan tidak tepat serta teramat dipaksakan jika diarahkan kepada para ulama dan syuhada serta mujahidin, sebagaimana yang dilakukan oleh pengarang buku MAT dan MDMTK. Bahkan jika beliau tetap saja memaksakan kehendak serta opininya bahwa para orang mulia lagi terhormat itu sebagai Khawarij, maka sungguh ini adalah suatu kezhaliman yang nyata.

 

 

Selain itu, sebagian ciri-ciri dari Khawarij yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits pertama di atas justru cenderung lebih dekat kepada Al-Ustadz Luqman dan salafi kelompoknya daripada orang-orang yang mulia yang beliau caci maki. Ciri-ciri tersebut, yaitu:

  • Mereka pandai membaca Al-Qur’an [terutama para ustadznya yang lulusan pesantren dan thalibul ilminya] namun bacaan tersebut tidak melewati tenggorokannya.

 

  • Mereka jauh keluar dari batas-batas agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya misalnya mudah menuduh dan suka berdusta serta menjelek-jelekan ditambah dengan kebiasaan menzhalimi para ulama.

 

  • Mereka senang memerangi dan memusuhi sesama orang-orang Islam, kalau yang ini insyaAllah semuanya terutama yang telah bergabung dalam harakah-harakah bahkan yang tidak berafiliasi dimanapun di luar Salafi Ekstrim Yamani pernah merasakannya, bukankah buktinya sudah sangat transparan?

 

  • Mereka cuek dan tidak peduli terhadap ancaman kaum kafir, bahkan mereka menganggap bahwa ahlul bid’ah (versi mereka sendiri) itu jauh lebih berbahaya daripada orang kafir.

 

 

Itulah makanya, tidak mengherankan jika saat awal munculnya fitnah keji ini pada tahun 90-an, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah mengeluarkan keterangan resmi yang mengingkari tindak-tanduk para pendahulu pengarang buku MAT dan MDMTK dan mencela apa yang mereka lakukan. Dan begitu teguran dari Syaikh bin Baz ini keluar, maka mereka pun bersegera menemui beliau untuk meminta maaf dan rekomendasi dari beliau. Para pendahulu beliau ini berharap agar masyarakat dengan segala kearifan beliau-, memberikan rekomendasi (tazkiyah) kepada mereka dan juga kepada para syaikh yang lain.

 

 

Akan tetapi, dikarenakan para pendahulu pengarang buku MAT dan MDMTK ini memang suka mengikuti hawa nafsunya dan cenderung tidak bisa berbuat adil (sama seperti para pengikutnya), maka mereka pun memotong secara sepihak perkataan Syaikh bin Baz, dimana hanya rekomendasi Syaikh kepada mereka saja yang dipublikasikan, sedangkan rekomendasi beliau untuk para ulama yang lain dibuang begitu saja. Kaset rekaman beliau yang tersebar sudah dipotong oleh mereka. Namun, alhamdulillah rekaman tersebut bisa disusun lagi secara lengkap, dan diberi syarah (penjelasan) oleh Syaikh Dr. Safar Al-Hawali hafizahullah dengan judul “Al-Mumtaz fi Syarhi Bayan bin Baz.”

 

 

Di antara yang dikatakan syaikh bin Baz tentang kelompok salafi pendahulu pengarang buku MAT dan MDMTK ini di dalam keterangan resmi beliau tersebut, yaitu;

 

 

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyifati Khawarij sebagai ahlu bid’ah. Mereka disifati dan dinamai dengan nama mereka. Hadits tentang mereka mutawatir turun dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan keadaan dan karakter mereka, dimana beliau bersabda,

 

 

Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala.”1

 

 

Kemudian diantara karakter Khawarij—tetapi kami tidak mengatakan mereka sebagai Khawarij—adalah kesukaan mereka yang dengan sengaja mengambil ayat-ayat yang turun untuk orang kafir dan meletakkannya atas orang Islam, 2 sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Abu Said Al-Khudri, dan lainnya Radhiyallahu Anhum.

 

 

Cara yang mereka lakukan menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya dari dua segi. Yang pertama, ini adalah tindakan sabotase terhadap hak-hak manusia di kalangan kaum muslimin. Bahkan lebih khusus lagi, yang diserang adalah para penuntut ilmu dan dai yang telah mempersembahkan segala kemampuannya untuk berdakwah dan mengajari manusia untuk memahami aqidah dan manhaj yang benar. Para dai ini juga telah bersungguh-sungguh dalam memberikan pengajian, pengajaran, dan menulis buku-buku bermanfaat. Dan yang kedua; ini adalah pemecah-belahan kesatuan kaum muslimin dan menyobek-nyobek barisan mereka. Padahal, seharusnya mereka bersatu dan menjauhi sikap perpecahan dan saling menggunjing satu sama lain. Bayangkan, mereka juga mencuplik rekaman syaikh lain yang membantah. Syaikh ini berkata begini dan syaikh satunya lagi membantah. Bukankah ini adalah perpecahan? Jadi, apa maksudnya ini? 3

 

 

Dengan demikian, perbuatan pengarang buku MAT dan MDMTK yang menggunakan hadist-hadits tentang Khawarij yang notabene adalah anjing neraka dan sejelek-jelek makhluk di kolong langit untuk menyerang para ulama dan syuhada serta mujahidin, adalah tindakan yang tidak bisa diterima, baik oleh syariat maupun akal sehat. Bahkan, sikap semacam ini benar-benar tidak terpuji lagi tercela. Sebab, hal ini merupakan pelecehan tingkat tinggi terhadap sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memuji para ulama, syuhada, dan orang-orang yang berjihad di jalan-Nya.

 

 

Footnote:

[1] Syaikh bin Baz ataupun Syaikh Safar tidak menakhrij hadits ini. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’I, Abu Dawud, dan Ahmad, dari Ibnu Abbas dan Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhuma.

[2] Persis seperti yang dilakukan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, MA. (guru Al Ustadz Luqman Ba’abduh) yang mengatakan Al-Faqih Al-Allamah Syaikh Prof. Dr. Yusuf bin Abdillah Al-Qaradhawi sebagai anjing neraka. Dan, ternyata para (sebagian) pengikut Syaikh Muqbil—di mana pun berada—juga mengikuti gara beliau dalam mencaci saudaranya sesame muslim. Hadaahumullaah…(Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka). Amin.

[3] Lihat; Al-Mumtaz fi Syarhi Bayan Bin Baz. Risalah ini bisa didownload gratis dari http://www.alhawali.com/index.cfm?method=home.ShowContent&contentid=666&fullcontent=1

Sumber: Abduh Zulfidar Akaha, Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, Pustaka Al-Kautsar, Cetakan pertama, Februari 2008, hal. 278-282.