You are My Perfect Murabbi…

 

Tak ada angin, tak ada hujan, tak ada tanda-tanda apapun saat halaqah rutin malam Ahad kemarin, Ihsan Abu Maryam murabbiku memberikan thausiyahnya. Sebuah pemahaman akan jundi yang harus selalu komitmen terhadap dakwah yang diembannya. Juga tentang ketsiqahan yang harus selalu dipupuk terhadap qiyadahnya. Siapapun ia, selama tidak melanggar syariat Allah, maka harus terus menjadi bagian dari karakter utamanya.

 

Sebuah harapan yang merupakan mimpi masa lalu yang sampai sekarang selalu diucapkannya. “Jangan pernah berhenti dan berharap untuk menjadi petani di lahan subur tempat tumbuh kembang kami dahulu. Saksikanlah, masa-masa itu kini hampir punah. Lahan itu kini kian gersang, hanya tinggal sedikit ilalang yang terus berusaha bertahan ditengah tandus pengharapan. Relakah kita biarkan itu sirna dan tinggal menjadi kenangan. Sesungguhnya memulai kembali sesuatu yang telah hilang itu akan sangat berat dirasa dari pada berusaha mempertahankan sesuatu yang hampir punah…..”

 

Sampai dengan saat itu, kami tak sadar bahwa itu adalah thausiyah perpisahannya. Sebuah pengharapan, sebuah keinginan, sebuah mimpi yang telah siap diserahkan kepada pemegang tongkat estafet berikutnya. Ya, kamilah harapannya, kamilah mimpinya, kamilah keinginannya. Berat memang, tapi kamilah petani itu. Yang diharapkannya bisa melahirkan petani-petani bahkan mengundang petani lainnya yang telah sakit untuk mewujudkan lahan subur harapan dan yang bisa mengulang kejayaan masa lalunya.

 

 

Lebih dari sepuluh tahun, dengan ijin dan kekuasaan-Nya, satu pekan sekali kami meneguk lautan ilmu darinya. Tempat mencurahkan seluruh keluh kesah akan beratnya ujian dunia. Menjadi peluluh titik-titik hitam yang selalu tumbuh di dalam hati. Menjadi penyemangat ketika kelemahan menyerang. Penyegar dahaga ketika kehausan. Menjadi pengganjal hati yang kerap kali menjadi lapar. Penyeka peluh ketika kepanasan. Penampik kesedihan. Pembuka jalan penyelesaian sebagian permasalahan. Penyangga ketika kepincangan ruhani menyapa….

 

Ya, kami harus terus tumbuh, tumbuh, dan tumbuh dengan ataupun tanpa keberadaannya. Berusaha menyapu mimpi bahwa kami akan terus bersama, meminangkan salah seorang dari kami bila telah siap menggapai pujaan hati, berbagi kesempitan dan kelapangan, melepas kepenatan bersama keluarga besar kami nanti meski kini masih dalam angan yang hampa.

 

Oh… seharusnya kami tak perlu menitikkan air mata. Sekuat apapun, ikatan emosional itu telah tercipta. Kami tak akan pernah berfikir untuk menangis semalaman. Kami akan paksa diri ini terlihat sangat kuat, deminya dan ikhwah yang lain. Tak akan kami biarkan saudara kami yang lain jatuh satu persatu di hadapan. Tak akan kami ijinkan mereka lemah dalam komitmennya. Tak akan kami lepaskan mereka menikmati kehangatannya. Ya, tak akan… tak akan kami sia-siakan mereka….

 

Mabit malam ahad kemarin memang sudah kita rencanakan bulan lalu. Tidak ada yang menyangka, baginya dan kami. Mungkin sudah menjadi takdir-Nya, mabit tersebut menjadi mabit terakhir kami, sebelum keberangkatannya ke tempat tugas yang baru. Memang tidak terlalu jauh karena tidak sampai keluar pulau, tapi ikatan emosional ini begitu kuat dan akan cukup menjadi kendala kedepannya. Pekan depan adalah hari yang dinantikan sekaligus mengkhawatirkan karena rencananya, beliau akan mempertemukan kami dengan murabbi baru. Murabbi baru! 🙄 Subhanallah, beliau sudah kuanggap sebagai ayah kedua, abang, bahkan sebagai sahabat. Begitu dekatnya, sampai kami tak sadar kalau beliau bukanlah keluarga sedarah, tapi jauh lebih dekat hubungannya dari hal itu. Lamunku… semoga penggantinya, bisa sabar terhadap keunikan kami, keriangan kami, kemalasan kami, semangat kami dan mampu membentuk kami lebih siap menghadapi tantangan dakwah kedepan….

 

Kami tak peduli, apa yang akan terjadi malam Ahad depan! Kami akan hiraukan apa yang akan kami alami setelahnya. Yang kami yakini, ini adalah rencana Allah yang paling baik buat kami dan Ihsan Abu Maryam juga murabbi baru kami. Pasti akan ada hikmah dibalik kejadian ini. Pasti….

 

Kami sangat penasaran menghadapi kejutan-kejutan yang akan terjadi kedepannya. Tapi insyaAllah, kami akan siap, dan memang kami harus siap karena selalu ada Allah dalam setiap helah nafas kami. Bukankah dakwah tidak statis? Bukankah dakwah selalu dinamis? Sudah seharusnya pengalaman menjadikan kami lebih siap dengan goncangan gelombangnya. Dan sepertinya, kami akan lebih siap mengimbanginya, bahkan mungkin menguasainya, insyaAllah, selama Allah masih menjadi tujuan kami, Rasulullah tetap menjadi teladan kami, dan al-Qur’an menjadi panduan kami, pasti kami bisa melewatinya dengan mudah.

 

Ya Rabb, inilah harapanku. Jadikan perpisahan ini sebagai titik awal loncatan perubahan terbaik kami dan beliau. Ketika keimanan, ketaatan, pemahaman dan pengalaman kami mungkin telah menjadi 100 bahkan 1000 kali lipat dari sekarang, Allah menyatukan kita lagi dan membangun mimpi yang telah nyata kami mulai beberapa saat kedepan setelah perpisahan ini.

 

 

Untuk seluruh akhi-akhiku, berjanjilah untuk terus saling nasehat dan menasehati, menguatkan komitmen, sabar, tabah, dan berusaha mengimplementasikan ilmu yang telah dimiliki dalam kontribusi nyata kepada umat. Jangan lupa target hapalan Qur’an dan hadist yang sudah jadi komitmen kita tahun ini plus memberikan sedikit ilmu yang kita miliki di lahan tandus harapan.

 

Hmmm…. Aku harus kuat, harus…. Meski dengan merangkak sekalipun…..

 

Article ini kupersembahkan special untuk Ihsan Abu Maryam (yang kuharap mengkhitbahkan aku) dan Akhi-akhiku. Wallahi, ana mencintai antum semua karena Allah Jalla Jalaalahu, mohon jangan pernah lupakan kami dalam do’a mu.

Iklan