Ciri Salafi ‘Extreme’ adalah Suka Memaksakan Hujjah Demi Memuaskan Nafsunya

  

Entah sampai kapan aku bisa membuang ingatanku akan kebencian orang-orang salafi extreme terhadap ulama, mujahid, syuhada, mujadid atau muslim lainnya yang tidak berafiliasi dalam kelompok mereka. Terus kucoba untuk bisa menerima pemikiran mereka dalam karakterku sebagai manusia yang mendambakan ukhuwah. Tapi, entah mengapa, selalu saja kulihat dan kutemukan keanehan yang dipaksakan oleh mereka. Salah satunya adalah ketika mereka beranggapan bahwa manhaj muwazanah atau menimbang kebaikan dan keburukan bukanlah prinsip yang diterapkan oleh para salafus shalih. Mereka justru mengganggap [baca: memaksakan] bahwa metode al-Jarh wat Ta’dil-lah manhaj yang terbaik yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Alhasil, secara sadar ataupun tidak sadar, kebiasaan mengghibah, mentahdzir, menjarh, mencela, menghina bahkan memfitnah menjadi makanan yang paling lezat, yang kita yakini sebagai salah satu bentuk pembelaan terhadap agama Islam.

 

Jujur tadinya aku setuju, tapi setelah memikirkannya secara tenang, menelitinya secara perlahan, justru yang kutemukan hanyalah merupakan salah satu metode yang dilakukan agar orang-orang yang belum berada dalam kelompok mereka bisa masuk kedalam hizb mereka. Contohnya metode al-Jarh wat Ta’dil yaitu melakukan jarh tanpa membicarakan kebaikannya sama sekali dari orang-orang yang dianggap menyimpang yang pernah ku bahas dalam article ini. Ternyata metode ini hanya untuk masalah periwayatan hadits dan telah habis masanya, masyaAllah…..

  

Dan yang lebih mengerikan adalah ketika salah seorang yang cukup disegani dalam kelompok ini mengatakan, bahwa al-Qur’anpun melakukan hal yang sama dengan menggunakan hujjah ayat-ayat berikut ini untuk bisa menghalalkan perbuatan mereka dalam melakukan ghibah, hinaan, celaan bahkan fitnahan atas nama al-Jarh wat Ta’dil yang menurutku teramat dipaksakan,

Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa (@) Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan (@) Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (@) Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar[Pembawa kayu bakar dalam bahasa Arab adalah kiasan bagi penyebar fitnah. isteri abu Lahab disebut pembawa kayu bakar Karena dia selalu menyebar-nyebarkan fitnah untuk memburuk-burukkan nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslim. Biasanya tukang-tukang sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan menghembus-hembuskan nafasnya ke buhul tersebut] (@) Yang di lehernya ada tali dari sabut (@)

(Qs. Al-Lahab:1-5)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Qs. Al-Bayyinah:6)

Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Qs. Al-Maidah:72)

  

Beliau mengatakan, “Perhatikan ayat-ayat di atas, bagaimana Allah menyebutkan kejelekan serta kekufuran orang-orang kafir dan musyrikin tanpa sedikitpun Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kebaikan-kebaikan yang ada pada mereka.”1

  

Ayat-ayat di atas adalah bukti nyata contoh yang diberikan oleh tokoh Salafi dalam rangka membenarkan pensesatan, hujatan, ghibahan, hinaan, celaan yang dilakukan olehnya dan orang-orang yang semanhaj dengannya.

  

Perhatikanlah kalimat berwarna merah dan bergaris bawah di atas. Tidakkah kita bisa memahaminya untuk siapa ayat itu diturunkan??? Agar lebih jelas berikut aku pertegas kembali:

  

[1] Binasalah kedua tangan abu Lahab, Dan (begitu pula) istrinya

[2] Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik

[3] Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”

  

Kalian tahu untuk siapa tokoh ini dan para pengaku pengikut salaf menggunakan hujjahnya??? Lihatlah buku Mereka Adalah Teroris sebagai buku bantahan Aku Melawan Teroris-nya Imam Samudra. Seharusnya buku ini adalah khusus untuk membantah kesalahan Imam Samudra saja, tapi yang terjadi justru buku Mereka Adalah Teroris dibuat untuk menghujat, menjelek-jelekan, mensesatkan, menggelari dengan nama-nama yang menjijikan, menghina, mengghibah, mencela, mentahdzir, memfitnah para ulama, mujahid, mujadid yang telah diyakini ke-ISLAM-annya oleh umat tanpa ada bukti-bukti kekafiran dalam diri mereka.

  

Sementara Imam Samudra hanya dijadikan batu loncatan untuk menjadikan para pembela agama semisal Syaikh Hasan Al-Banna, Syaikh Sayyid Quthb, Syaikh Ahmad Yasin, Prof. Dr. Syaikh Yusuf Qaradhawi hafizhahullah, Dr. Syaikh Safar Al-Hawali hafizhahullah, Dr. Salman Al-Audah hafizhahullah, Syaikh Dr. Nashir Al-Umar menjadi daftar hitam target ulama, syuhada, mujahid, mujadid paling berbahaya bagi kebangkitan Islam dan keamanan orang-orang kafir.

  

Apakah aku harus mempercayai dan menuruti mereka padahal aku melihat secara nyata kekeliruan analogi yang mereka gunakan dalam menempatkan hujjah???

  

Kemudian tokoh ini dan orang-orang yang memujanya mempertegas kembali dengan mengatakan,

  

“Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kondisi orang-orang kafir serta kaum musyrikin dan munafiqin dengan menyebutkan kejelekan, kekurangan, dan kejahatan mereka tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikan maupun jasa-jasa mereka.”2

  

Dan mengatakan,

  

“Allah menyifati orang-orang kafir itu dengan tuli, bisu, dan buta bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi (Al-A’raf:179). Allah menyebutkan orang-orang kafir yang cenderung mengikuti hawa nafsunya dan berpaling dari ketaatan kepada Allah bagaikan anjing yang menjulurkan lidahnya (Al-A’raf:175-176). Alla menyebutkan adzab yang pedih dengan berbagai bentuknya yang akan mereka terima sebagai balasan terhadap kekufuran dan keengganan mereka untuk beramal denga perintah-perintah Allah dan Rasulnya. Itu semua Allah ‘Azzawajalla sebutkan tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikan dan kelebihan yang ada pada mereka dalam rangka prinsip “keseimbangan” dan “keadilan”.3

  

Subhanallah, semakin jelas sudah perumpamaan yang jauh sekali dari kenyataan. Mereka menyamakan para ulama, syuhada, dan mujahidin, dengan orang-orang kafir, musyrik, dan munafiq, nau’dzu billah Jelas ini adalah sebuah perumpamaan yang bukan hanya tidak tepat, melainkan kelewat berani. Ya, kelewat berani! Karena hal ini sudah menyentuh dasar keimanan seseorang.

  

Bagaimanapun juga, orang beriman  tidak bisa disamakan dengan orang kafir. Bahkan, orang yang beriman tidak boleh dibunuh (diqishash) karena dia telah membunuh orang kafir, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir-nya Syaikh Al-Albani (11612),

  

“Tidaklah seorang mukmin dibunuh karena dia membunuh seorang kafir.”

  

Atau hujjah dalil berikut ini,

“Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik (kafir)? mereka tidak sama.” (Qs. As-Sajdah:18)

  

Jelaslah, Allah dan Rasul-Nya membedakan antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. Mereka tidak sama dan memang tidak bisa disamakan sampai kapan pun.

  

Bukankah tokoh dan para pengaku-aku pengikut salaf ini sangat membanggakan bahkan mempromosikan buku yang berjudul Mengkafirkan Kaum Muslimin Sebuah Kejahatan Kaum Teroris Khawarij terbitan Hikmah Ahlus Sunnah?

  

Apakah kalian hanya bangga kemudian membacanya tanpa mau tahu esensi dari isi buku yang berisi fatwa-fatwa seputar permasalahan takfir dan berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala?

  

Baiklah, berikut aku kutipkan sebagian isi buku tersebut, tepatnya pada cetakan kedua, tahun 1997M, halaman 16-17,

  

Abdullah bin Umar telah meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya “Hai kafir!”, maka (kekafiran) itu pasti kembali kepada salah seorang dari mereka.”4

  

Beliau juga berkata, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda: “Siapa saja yang mengkafirkan seseorang, maka salah satunya kafir.”

  

Juga dari beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda: “Apabila seseorang berkata kepada sahabatnya “Hai kafir!”, maka (kekafiran) itu wajib atas salah seorang dari mereka, apakah orang yang dikatakan kepadanya itu memang kafir, atau kala tidak maka apa yang dikatakan penuduh itu kembali pada dirinya.”5

  

Dari Abi Dzar, beliau mendengarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda: “Tidaklah seseorang menggelari orang lain dengan gelar fasik atau kafir melainkan hal itu akan kembali kepadanya kalau lawannya itu tidak demikian adanya.”6

  

Hadits-hadits ini dan selainnya masih banyak lagi memperingatkan dari menggelari kaum muslimin dengan tuduhan kafir7, sebab tidak boleh mengkafirkan seorang muslim kecuali kalau ia memang jatuh dalam sesuatu yang mewajibkan kekafiran, karena seorang yang sudah jelas masuk Islam tidak boleh difasiqkan, dikafirkan, dilaknat, atau dikeluarkan dari Dienul Islam kecuali dengan bukti yang mewajibkan hal tersebut.

  

Lihatlah, bagaimana buku yang menjadi rujukan mereka ini !!! Apakah mereka tidak bisa memahaminya? Atau mereka akan mengatakan, Beliau tidak mengkafirkan dengan sebutan “Wahai Kafir!”

  

Maka disini aku jelaskan, Apakah bedanya Tidak mengkafirkan dengan sebutan “Wahai Kafir!” dengan menyamakan para ulama, syuhada, mujahid dengan hujjah dalil-dalil yang diperuntukkan untuk orang-orang kafir di atas???

  

Tidakkah kita bisa mengambil ibrahnya? Dulu mereka menganggap kita telah mengkafirkan pemerintah atau orang-orang yang bersama dalam barisan kita dengan selalu mengungkit-ungkit firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka adalah orang-orang kafir”. (Qs. Al-Maidah:44), sekarang mereka sendiri yang telah melakukan hal yang sama seperti dugaannya terhadap kita….

  

Tidakkah kita mau mengambil hikmahnya? Dulu mereka mengganggap kita telah menyempal keluar dari Islam dengan selalu mengungkit hadits iftiraq/perpecahan, “…Islam akar terpecah menjadi 73 golongan, hanya satu yang selamat….”, sekarang mereka sendiri yang telah terpecah menjadi beberapa golongan….

  

Subhanallah, tidakkah kita mau mengambil hikmah atas semua kejadian ini…??? Tidakkah kita menyadari, sesungguhnya apakah yang Allah inginkan dari kita atas kejadian-kejadian yang telah kita lewati..???

  

Wallahu musta’an.

  

Footnote:

[1] Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij (MDMTK), hlm 128-130.

[2] Ibid, hlm 126

[3] Ibid, hlm 126-127

[4] Al-Bukhari (6103-6104), Muslim (158)

[5] Ini dan sebelumnya dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Al-Musnad 2/44,47,60, dan 105. Ahmad /syakir mengatakan dalam tahqiqi Al-Musnad (2035,5077,5259, dan 5824): Sanadnya shahih.

[6] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari nomor 6045

[7] Mengkafirkan orang-orang yang berdosa adalah manhaj khawarij dahulu beserta orang yang belakangan yang mengikuti metode mereka. Di hari ini ada jama’ah yang bertaklid kepada mereka, diantaranya Jama’ah Takfir wal Hijrah, merekalah lakon Khawarij di masa kini. Mereka telah mengkafirkan para pemerintah, individu, maupun masyarakat muslimin.

  

NB: Saya ucapkan maaf jika ada kesalahan dalam menukil.

  Sumber : Buku Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, Pustaka Al-Kautsar & Mengkafirkan Kaum Muslimin Sebuah Kejahatan Kaum Teroris Khawarij, Hikmah Ahlus Sunnah

Iklan