Metode Al-Jarh wat Ta’dil  yang Diterapkan ‘Salafi Ektrim’ Merupakan Bentuk Kedustaan Kebohongan dan Pemaksaan Nafsu Mereka!!!

  

Pasti banyak dari kalian yang telah bergelut dengan dunia da’wah khususnya yang pernah atau sedang berada dalam barisan Salafi mengetahui apa itu metode Al-Jarh wat Ta’dil. Ya, dengan pemahaman semunya, mereka para ‘salafi ekstrim’ berusaha menerapkan metode ini untuk mengghibah, mencela, mentahdzir, menghina, mensesatkan, menistakan, bahkan memfitnah ulama, syuhada, mujahid atau muslim lainnya terutama yang tidak berada dalam barisan mereka.

  

Berikut aku ketengahkan penjelasan mengenai hal tersebut:

 

Al-Jarh wat Ta’dil Khusus untuk Para Perawi Hadits

  

Sesungguhnya ilmu al-jarh wat ta’dil adalah khusus untuk para perawi yang bermasalah dalam periwayatan haditsnya. Dan apa yang dipraktikkan oleh para ulama salaf dalam hal ini sama sekali bukan ghibah. Ketika hadits-hadits telah dibukukan dan masa para perawi telah berlalu, maka selesailah sudah al-jarh wat ta’dil. Ia sama sekali tidak bisa diterapkan pada seorang muslim yang bukan perawi, apalagi diterapkan terhadap para ulama dan syuhada yang sangat dimuliakan Allah dan dicintai oleh kaum muslimin.

  

Demikian adalah pendapat para ulama tentang al-jarh wat ta’dil :

  

Ø      Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan berkata, “Al-Jarh wat ta’dil telah habis masanya. Ia sudah tidak ada lagi sekarang.”1

Ø      Syaikh Abdul Aziz bin Abdilah Ar-Rajihi berkata, “Ilmu al-jarh wat ta’dil suah selesai, karena ia sekarang telah terbukukan rapi dalam berbagai kitab. Begitu pula dengan hadits-hadits Nabi, ia telah terbukukan dalam berbagai kitab shahih, sunan, musnad, dan mu’jam…sehingga sekarang tidak ada lagi al-jarh wa ta’dil. Dan, al-jarh wat ta’dil itu memang khusus untuk para ahli hadits.”2

Ø      Syaikh Hasan bin Falah Al-Qahthani berkata, “Besar sekali bedanya antara ilmu al-jarh wat ta’dil yang dipraktikkan oleh para ulama salaf dalam kitab-kitab dan karya-karya mereka, dengan pelecehan terhadap para ulama dan da’I, pencemaran nama baik, dan penyebaran aib serta kesalahan seseorang dengan mengatasnamakan al-jarh wat ta’dil yang terjadi sekarang ini.”3

Ø      Syaikh Ridha Ahmad Shamadi berkata, “Tidak usah dijarh orang yang tidak perlu dijarh, seperti para ulama yang periwayatan hadits mereka tidak dibutuhkan.”4

Ø      Ibnul Murabith (w. 485 H) berkata, “Hadits-hadits telah dibukukan dan tajrih pun sudah tidak ada faedahnya lagi.”5

Ø      Syaikh Athiyah bin Muhammad Salim berkata,6 “… Dan tidak termasuk dalam hal itu apa yang disebut al-jarh wat ta’dil. Seperti orang yang mengatakan; si fulan mudallis,7 atau si fulan sifatnya begini… Sebab, yang semacam ini terdapat faedah di dalamnya bagi kaum muslimin, agar mereka berhati-hati terhadap hadits-hadits yang diriwayatkannya.”8

  

Dan yang lebih luar biasa lagi adalah pendapat Syaikh yang sangat mereka banggakan [terlebih diriku: peny.] yaitu Syaikh Shalih Fauzan. Sebenarnya aku juga mau menampilkan pendapat Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq. Tapi karena beliau sangat dibenci oleh orang-orang ‘Salafi Ekstrim’, maka aku cukupkan saja dengan pendapat Syaikh Shalih Fauzan berikut ini:

  

Syaikh Shalih Fauzan: Tidak Ada Ulama Al-Jarh wat Ta’dil Pada Masa Ini

  

Dalam satu kesempatan, terjadi dialog tanya jawab antara Syaikh Dr. Al-Alamah Shalih bin Fauzan hafizhahullah dengan seorang thalibul ilmi (Pelajar/Penuntut ilmu) :

  

Penanya: Syaikh yang mulia, siapakah yang dimaksud dengan ulama al-jarh wat ta’dil pada masa kita sekarang ini?

  

Syaikh: Demi Allah, kami tidak mengetahui seorang pun ulama al-jarh wat ta’dil pada saat ini. Sekarang ini para ulama al-jarh wat ta’dil telah berada di dalam kubur. Akan tetapi, perkataan mereka tetap ada di dalam kitab-kitab mereka, kitab al-jarh wat ta’dil. Al-jarh wat Ta’dil itu hanya ada dalam ilmu sanad dan riwayat hadits. Dan mencela manusia serta menjatuhkannya bukanlah bagian dari ilmu al-jarh wat ta’dil. Mengatakan si fulan begini… si fulan begitu… memuji sebagian orang dan mencela sebagian yang lain adalah ghibah dan namimah. Dan itu bukan al-jarh wat ta’dil.

  

Penanya: Anda mengatakan bahwa al-jarh wat ta’dil pada zaman ini sudah tidak ada lagi, hal ini akan membuat sebagian orang memahami Anda tidak memandang perlunya membantah ahlu bid’ah dan para penyeleweng agama?

  

Syaikh: Al-jarh wat ta’dil itu bukan ghibah dan namimah seperti yang banyak terjadi sekarang ini,9 khususnya di sebagian kalangan penuntut ilmu. Wahai saudaraku, al-jarh wat ta’dil itu adalah bagian dari ilmu isnad dalam hadits, dan ini adalah spesialisasi para imam dan ahli hadits. Dan, kami tidak tahu siapa yang termasuk ulama al-jarh wat ta’dil sekarang ini, dimana ulama tersebut menguasai sanad-sanad hadits dan mampu memilah mana yang shahih dan mana yang dha’if. Kami tidak mengetahui seorang pun sekarang! Ya’ inilah dia yang dimaksud dengan al-jarh wat ta’dil.”10

  Ikhwah fillah, demikian pendapat sebagian ulama besar tentang al-jarh wat ta’dil di atas sungguh berbeda sekali dengan pemahaman penulis buku “Mereka Adalah Teroris” dan “Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij” atau orang-orang yang semanhaj dengannya (Salafi ‘Ekstrim’ Yamani)  

Untuk penjelasan yang lebih lengkapnya, lebih ilmiyah, lebih cerdas dan lebih santun, berulang kali saya ucapkan, sebaiknya buktikan sendiri di buku “Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi” atau “Siapa Teroris Siapa Khawarij”, anda akan banyak melihat kebenaran dari seorang salafi sejati. Sungguh sangat berbeda orang yang sungguh bermanhaj salafus shalih dengan orang yang hanya mengaku-aku saja! Sungguh sangat mengerikan pelegalan ghibah, namimah, hujatan, hinaan, celaan, fitnah, tahdzir atau apapun namanya dengan mendompleng Al-Jarh wat Ta’dil. Wallahu musta’an.

  

Sumber: Abduh Zulfidar Akaha, Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, Pustaka Al-Kautsar, Cetakan 1, Februari 2008, Hlm. 138-140.

  

Footnote:

[1] Http://www.almanhaj.net/vb/showthead.php?p=34223

[2] Ibid.

[3] An-Naqd; Adabuhu wa Dawafi’uh/Syaikh Hasan bin Falah Al-Qahthani/Hlm 34/Penerbit Dar Al-Humaidhi, Riyadh/Cetakan pertama/1993m-1414H.

[4] Lihat artikel; Al-Jarh wat Ta’dil ‘Indal Muhadditsin/Syaikh Ridha Ahmad Shamadi, di http://saaid.net/doat/rida-samadi/5.doc

[5] Ibid. Menukil dari; Ar-Raf’u wat Takmil fil Jarhi wat Ta’dil/Syaikh Abdul Hayy Al-Laknawi/Tahqiq:Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah/Hlm 50. Buku ini juga bisa didownload di http://www.waqfeya.com/open.php?cat=12&book=623 atau http://www.almeshkat.net/books/open.php?cat=9&book=1415 dan beberapa situs lain.

[6] Beliau menyampaikan ini ketika membahas masalah ghibah terhadap orang yang sudah meninggal.

[7] Mudallis, yaitu: Seorang perawi yang tidak menyebutkan dari siapa dia mendengar hadits yang diriwayatkannya, namun dia menyebutkan perawi (syaikh) yang di atasnya sehingga mengesankan dia mendengar langsung dari syaikh tersebut. Meski banyak ulama tsiqah yang melakukan tadlis, tetapi mayoritas imam hadits mengatakan bahwa hal ini tidak bisa diterima. Imam Asy-Syafi’I mengatakan, “Tadlis adalah saudaranya dusta.” Adapun Al-Hafizh Ibnu Ash-Shalah berkata, “Tadlis itu bukan dusta, tetapi dia itu semacam perkataan yang mengesankan sesuatu dengan lafal yang tidak tegas.” (Lihat lebih rinci tentang tadlis, mudalis, dan dua macam tadlis di: Muqaddimah Ibnu As-Shalah; Al-Baits Al-Hatsits fi Ikhtishar ‘Ulum Al-Hadits/Ibnu Katsir; Al-Mukhtashar fi Ushul Al-Hadits/As-Syarif Al-Jurjuni; Al-Muqizhah fi ‘Ilmi Mushthalah Al-Hadits/Imam Adz-Dzahabi; Tadbir Ar-Rawi/Imam As-Suyuthi; Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah/Al-Khathib Al-Baghdadi; dan kitab-kitab lain yang sejenis.

[8] Syarh Bulugh Al-Maram/Syaikh Atihyah bin Muhammad Salim/Pelajaran nomor 123. Sumber: http://www.islamweb.net. Kitab yang bersumber dari ceramah hadits ini terdapat dalam Program Al-Maktabah Asy-Syamilah.

[9] Syaikh Shalih Fauzan benar, sesungguhnya ghibah yang banyak terjadi sekarang ini memang tidak termasuk dalam al-jarh wat ta’dil.

 [10] http://www.almanhaj.net/vb/showthread.php?p=34223