Pelecehan Ustadz Salafi Terhadap Seorang Tabi’in

  

Bingung mau nampilin bagian yang mana dari buku “Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi.” Semuanya sangat menarik, ilmiyah, santun, cerdas, tegas, lugas dan puas. Kalau nggak percaya, sebaiknya beli dan baca sendiri saja dech… Dan mungkin yang ini oke juga untuk disampaikan.

  

Sering baca atau dengar orang-orang yang katanya bermanhaj salaf dalam membicarakan Sayyid Quthb rahimahullah yang khilaf memberikan penilaian terhadap Muawiyah? Ternyata seorang Ustadz Salafi pun melakukan hal yang sama dengan Sayyid Quthb. Inilah, bila manusia tidak mau melihat sisi kemanusiaan dari manusia. Bukankah manusia adalah tempatnya khilaf? Mengapa kita tidak mau memakluminya dan bersikap seimbang (muwazanah) dalam memperlakukan saudara muslimnya. Seolah hanya dirinya yang paling benar, paling baik, paling jauh dari berbuat kesalahan dan ketergelinciran. Alhasil, karena seringnya mencari kesalahan orang lain, beliaupun akhirnya melakukan hal yang sama. Semoga ini menjadi pelajaran buat kita semua.

 

Benar bahwa Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi mengatakan Al-Harits Al-A’war sebagai pendusta. Dan, ini tentunya dalam konteks periwayatan hadits. Akan tetapi, Asy-Sya’bi sama sekali tidak mengatakan Al-Harits Al-A’war bermadzhab Syi’ah, sebagaimana perkataan Al-Ustadz Lukman berikut,

  

“Padahal Al-Harits Al-A’war adalah seorang yang faqih. Namun karena kejelekan dan kejahatan madzhabnya—yaitu Syi’ah—maka Al-Imam Asy-Sya’bi mencercanya.”1

  

Bagaimanapun juga Al-Harits bin Abdillah Al-A’war Al-Hamdani rahimahullah (w. 65 H) adalah seorang tabi’in yang mulia. Al-Harits adalah murid langsung dari Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhuma, dimana dia banyak meriwayatkan hadits dari keduanya. Pengikut Ali memang disebut Syi’ah, namun Syi’ah pada masa Ali masih hidup tentu berbeda dengan Syi’ah setelah wafatnya Ali, dan teramat sangat berbeda jauh setelah itu. Dan, merupakan suatu pelecehan terhadap Al-Harits yang notabene adalah seorang tabi’in, jika Al-Ustadz Luqman mengatakan Al-Harits bermadzhab Syi’ah yang jelek dan jahat.

  

Imam Al-Hafizh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi rahimahullah (w. 748 H) berkata tentang Al-Harits Al-A’war, “Dia adalah seorang Al-Allamah Al-Imam Abu Zuhair Al-Harits bin Abdillah bin Ka’ab bin Asad Al-Hamdani Al-Kufi. Sahabat Ali dan Ibnu Mas’ud. Dia adalah seorang faqih yang banyak ilmunya, tapi lemah dalam masalah hadits. Asy-Sya’bi, Atha’ bin Abi Rabah, Amru bin Murrah, Abu Ishaq As-Sabi’I,2 dan lain-lain, meriwayatkan hadits darinya.”3

  

Lihatlah, bagaimana seorang ulama besar sekelas Imam Adz-Dzahabi memuji Al-Harits Al-A’war sedemikian rupa. Adz-Dzahabi mengatakan Al-Harits sebagai: Al-Allah, Al-Imam, sahabat Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud, dan seorang faqih yang banyak ilmunya. Sangat berbeda dengan Al-Ustadz Luqman yang mengatakan Al-Harits bermadzhab Suia’ah yang jelek dan jahat.

  

Imam Al-Hafizh Syihabuddin Ahmad bin Ali Ibnu Hajr Al-Asqalani rahimahullah (w. 852 H) menukil perkataan Ibnu Sirin tentang Al-Harits Al-A’war, “Saya melihat orang-orang di Kufah sangat menghormati lima orang tokohnya. Bagi yang mendahulukan Al-Harits, mereka menjadikan Abidah4 nomor dua. Dan bagi yang mendahulukan Abidah, mereka menjadikan Al-Harits nomor dua.”5 Dalam Tahdzib Al-Kamal, disebutkan bahwa tiga orang berikutnya, yaitu: Alqamah bin Qais An-Nakha’I (w. 62 H), Masruq bin Al-Ajda’ (w. 63 H), dan Syuraih bin Al-Harits Al-Qadhi (w. 78 H).6

  

Di atas adalah pernyataan Ibnu Sirin tentang Al-Harits Al-A’war. Beliau mengatakan bahwa Al-Harits Al-A’war adalah termasuk lima orang terkemuka di kota Kufah pada zamannya. Bahkan sebagian dari penduduk Kufah menempatkan Al-Harits sebagai orang pertama dari lima orang tokoh terebut, di atas para tabi’in yang lain.

  

Ibnu Abi Dawud berkata, “Al-Harits adalah orang yang sangat faqih, paling pandai ilmu hisab, dan paling menguasai ilmu fara’idh. Dia belajar fara’idh dari Ali bin Abi Thalib.7

  

Ahmad bin Shalih Al-Mishri berkata, “Al-Harits Al-A’war seorang yang tsiqah. Dia orang yang sangat kuat hafalannya, apa yang diriwayatkannya dari Ali sangat bagus, dan Ali pun memujinya.” Ada orang yang berkata kepada Ahmad bin Shalih, “Tetapi Asy-Sya’bi mendustakannya. “Kata Ahmad bin Shalih, “Asy-Sya’bi tidak mendustakan haditsnya, namun dia mendustakan pendapatnya.8

  

Abu Ishaq As-Sabi’I berkata, “Saya menyaksikan pemakaman jenazah Al-Harits Al-A’war. Mereka membentangkan kain di atas kuburannya. Lalu, Abdullah bin Yazid Al-Anshari membuka kain yang menutupi muka Al-Harits. Abdullah bin Yazid9 berkata; ‘Sungguh dia adalah seorang ksatria.”10

  

Bahkan, Asy-Sya’bi sendiri yang mengatakan Al-Harits sebagai pendusta pun, dia tetap bersikap adil dalam menilai kelebihan yang terdapat dalam diri Al-Harits Al-A’war. Sebuah contoh manhaj atau metode muwazanah (seimbang) dari salafush shalih yang tidak disukai oleh Al-Ustadz Luqman dan kelompoknya. Dalam hadits yang diriwayatkan At-Tilmidzi disebutkan, bahwa Asy-Sya’bi berkata, “Al-Harits Al-A’war-lah yang mengajariku ilmu fara’idh, dan dia termasuk orang yang pakar dalam bidang fara’idh.11

  

Dalam Al-Kamil, disebutkan bahwa ada orang yang bertanya kepada Asy-Sya’bi, “Engkau sering bolak-balik ke majelisnya Al-Harits? Sy-Sya’bi menjawab, “Ya. Saya sering pergi ke tempatnya untuk belajar ilmu hisab, karena Al-Harits termasuk pakar hisab.”12

  

Asy-Sya’bi juga berkata, “Sungguh, saya pernah melihat Al-Hasan dan Al-Husain keduanya bertanya kepada Al-Harits Al-A’war tentang hadits Ali.”13

  

Demikian sebagian pendapat para ulama termasuk Asy-Sya’bi tentang Al-Harits bin Abdillah Al-A’war. Sekiranya Al-Harits adalah pengusung paham sesat dan bermadzhab Syi’ah yang jelek dan jahat, tentu para ulama besar tidak akan memujinya. Suatu sikap yang berbeda dengan yang ditunjukkan oleh Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh yang tempo hari juga pernah melecehkan seorang sahabat Nabi yang mulia,14 Abdullah bin Muthi’ Radhiyallahu ‘Anhu.

  

Footnote:

 

[1] MDMTK, hlm 109. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil. (tambahan dariku, secara tidak langsung Ustadz Luqman juga menuduh Imam Asy-Sya’bi mencerca hal yang sama seperti beliau yaitu, karena kejelekan dan kejahatan mahdzabnya padahal seperti ditegaskan Ustadz Abduh hafizahullah bahwa ini hanya dalam konteks periwayatan hadits)

 

[2] Bisa dibaca: As-Suba’i.

 

[3] Siyar A’lam An-Nubala’/Imam Adz-Dzahabi/Jilid 4/Hlm 748/poin ke-152 (54)/Penerbit Muassasah Ar-Risalah, Kairo/Cetakan ke-9/1413 H/ditahqiq dan ditakhrij oleh Syaikh Syuaib Al-Ama’uth. Kitab ini juga terdapat dalam Program AlMaktabah Asy-Syamilah.

 

[4] Yaitu, Abidah bin Amr As-Salmani (w. 74 H).

 

[5] Tahdzib At-Tahdzib/Ibnu Hajar Al-Asqalani/Juz 2/Hlm 127/Penerbit Dar Al-Fikr, Beirut/Cetakan pertama/1984M-1404H. kitab ini juga terdapat dalam Program AL-Maktabah Asy-Syamilah.

 

[6] Tahzib Al-Kamal/Al-Hafizh Jamalauddin bin Abil Hajjaj Yusuf Al-Mizzi rahimahullah (w. 742H)/Juz 5/Hlm 249/Penerbit Muassasah Ar-Risalah/Cetakan ke-4/1985M-1406H.

 

[7] Op.cit. Imam Adz-Dzahabi juga menyebutkan perkataan Abu Bakr bin Dawud ini dalam Mizan Al-I’tidal (1628)

 

[8] Ibid

 

[9] Abdullah bin Yazid Al-Anshari adalah gubernur Kufah waktu itu, pada masa Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu ‘Anhuma.

 

[10] Ath-Thabaqat Al-Qubra/Imam Muhammad bin Sa’ad/Juz 6/Hlm 169. kitab ini terdapat dalam Program Al-Maktabah /asy-syamillah.

 

[11] Sunan At-Tirmidzi, Kitan Al-Ilal/Bab Bisyr ibn Mu’adz Al-Bashriy.

 

[12] Al-Kamil fi Dhu’afa’ Ar-Rijal/Imam Al-Hafizh Abu Ahmad Abdullah bin Adi Al-Jurjani (w. 365 H), Juz 2. Hlm 186, Program Al-Maktabah Asy-Syamilah.

 

[13] Tahdzib Al-Kamal, Imam Al-Mizzi (1025)

 

[14] Sekedar info, dalam MDMTK, Al-Ustadz Luqman telah menyatakan taubat atas sikapnya yang melecehkan sahabat Abdullah bin Muthi’. Mudah-mudahan Allah menerima taubat beliau. Amin.

  Sumber : Abduh Zulfidar Akaha, Belajar Akhlaq dari Ustadz Salafi, Cetakan Pertama, Februari 2008, hal. 167-170