Manhaj Aqidah bagi Ikhwanul Muslimin

  

KAMI mendapati Ikhwan meletakkan demikian besar dalam membangun aqidah pada diri anggotanya. Hingga manusia bebas dari penghambaan selain Allah. Sehingga jiwa para lelaki, wanita, dan anak-anak mereka, setiap waktu siang dan malam selalu menyerukan tidak ada ketundukkan mutlak kecuali kepada Allah, tidak ada taat kepada makhluk dalam berma’shiat kepada al-Khaliq, tidak ada takut kecuali kepada Allah swt, dan tidak ada keutamaan kecuali dari sisi Allah swt.

  

“Katakanlah, “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu…” (QS. Al-An’am: 164)

 

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan padamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan padamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An-Am: 17)

  

“Katakanlah, “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan…” (QS. Al-An’am: 14)

  

“Bukanlah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) selain Allah…?” (QS. Az-Zumar: 36)

  

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran: 173)

  

Permusuhan antara thagut dan aqidah Islamiyah merupakan sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu. Karenanya, penguasa diktatorlah yang paling sensitive merasakan bahaya aqidah ini, disebabkan kediktatorannya. Ibrahim ‘alaihissalam dipanggil oleh Namrud dengan kesombongan kekuasaannya. Kemudian terjadi dialog antara Ibrahim dan raja sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an.

  

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan “Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Mematikan,” orang itu berkata, “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, maka terbitkanlah dia dari Barat.” Lalu heran dan terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)

  

Raja dikalahkah ketika Ibrahim memasukkan aqidah Islam dalam dialog. Ia kehilangan akal dan tak tersisa dalam benaknya kecuali rasa khawatir dan takut. Akhirnya, ia perintahkan untuk membakar pejuang akidah ini, dengan harapan agar aqidahnya turut terbakar bersama Ibrahim ‘alaihissalam, dan seterusnya ia dapat merasa tenang tanpa ada hambatan yang menghalangi kediktatorannya.

  

“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah tidak mampu memberikan rizki kepadamu, maka mintalah rizki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut:17)

  

“Maka tidak ada jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan, “Bunuhlah atau bakarlah dia,” lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ankabut: 24-25)

  

Demikianlah sisi perhatian Ikhwan terhadap aqidah secara umum. Adapun dalam masalah manhaj, Ikhwan tidak keluar dari apa yang dilakukan salafushalih radhiallahu ‘anhum.

Sumber : Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Jawaban, Tuduhan, dan Harapan, Syaikh Jasim Muhalhil. Najah Press Jakarta, Cetakan pertama, September 1997.