Futur atau Mundur Dari Dakwah, Wajarkah?

  

Oleh : Fatih Yakan

 

Berguguran dalam perjalanan da’wah adalah fenomena umum, berbahaya dan selalu terulang. Karena itu dibutuhkan pengamatan dan studi mendalam, obyektif dan sistematik, guna mengetahui sebab-sebab dan pengaruh-pengaruhnya. Juga mengungkapkan factor-faktor yang melatarbelakanginya.

 

Orang yang mencermati sejarah pergerakan Islam pada setiap negeri di seantero dunia Islam akan menemukan deretan nama yang sebagiannya telah mencapai derajat tertinggi dalam medan aktifitas dan tanggung jawab, namun tak lama kemudian menghilang dari kehidupan da’wah.

 

Di antara mereka yang meninggalkan da’wah dan tidak meninggalkan Islam. Diantara mereka ada yang meninggalkan da’wah dan Islam sekaligus dan ada di antara mereka yang meninggalkan jamaah lalu mendirikan jamaah tersendiri, atau bergabung dengan jamaah lain, dan begitu seterusnya, fenomena berguguran dari jalan da’wah semakin banyak dan beragam.

  

Dalam banyak hal dan waktu, fenomena insilakh (melepaskan diri dari dakwah) dan tasaquth (berguguran dari jalan da’wah) ini menjadi factor penunjang bagi tersebar dan meluasnya penyakit lain, yakni fenomena keragaman dalam amal Islami, dan pada gilirannya terjadi bentrokan (pertarungan) antar sesama aktifis dan da’i dalam kancah amal Islami.

  

Perlu sekali untuk diingat bahwa fenomena berjatuhan ini banyak terjadi dan menimpa barisan terdepan, orang-orang yang berupaya mendirikan pergerakan, dan para pendahulu, walau penerusnya juga tak terkecualikan. Dan ini terjadi di dalam jamaah manapun.

 

Fenomena berguguran ini telah dan akan selalu menorehkan keburukan pada kancah amal Islami, cukup kami kemukakan sebagiannya di sini:

  

[1] Fenomena ini menyebabkan tersia-sianya potensi waktu dan pergerakan dalam lingkungan pergerakan dalam menangani hal-hal yang sedikit sekali memberi manfaat.

[2] Menyebabkan tersebarnya berbagai fitnah, perpecahan, dan kehancuran dalam lingkungan pergerakan, hingga menjadi factor penunjang menjauhnya orang-orang yang baru masuk Islam dan baru mengenal da’wah.

[3] Menyebabkan terbongkarnya berbagai rahasia yang seharusnya tidak terungkap andaikata bukan karena tekanan fitnah dan terpuruknya lidah serta telinga dalam cengkraman setan.

[4] Menyebabkan lemahnya pergerakan dan terangsangnya musuh untuk segera menyerang dan menghancurkannya.

[5] Menyebabkan jauhnya manusia dari pergerakan, goncangnya kepercayaan dan pelecehan terhadapnya, hingga perannya menjadi mandul, bahkan kadang aktifitasnya menjadi terhenti secara total.

 

Bila sebagian orang memandang gugurnya sebagian orang yang berguguran itu sebagai fenomena sehat yang harus terjadi untuk memperbaharui sel-sel inti dan membebaskan diri dari hal-hal yang menghalangi pergerakan, memberatkan bahunya dan menjadi beban beratnya, maka hasilnya—walau menurut penafsiran dan makna ini—tidaklah benar secara mutlak, tetapi mirip sebuah banjir yang menghanyutkan segala yang berharga dan yang tidak berharga secara bersamaan.

  

Maha benar Allah ketika berfirman: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah m=amat keras siksaan-Nya”. (Qs. Al Anfal:25)

 

Berapa banyak pribadi-pribadi yang tak terhenti dari kehidupan da’wah kecuali setelah memancangkan tonggak-tonggaknya yang mendalam. Berapa  banyak pula yang keluar dari da’wah lalu berbalik memusuhinya, bahkan bersekongkol dengan musuh-musuhnya untuk melawannya.

  

Saya teringat salah seorang tokoh jamaah yang keluar dari barisannya setelah berselisih faham dengannya, lalu ia marah dan murka, mengancam dan bersumpah akan menghancurkan bangunannya sedikit demi sedikit.

 

Hanya sedikit dari mereka yang berguguran, meninggalkan da’wah dengan tenang tanpa menyemburkan debu di belakangnya (membuat kericuhan, pent.). Sementara kebanyakan dari mereka membikin-bikin alasan untuk menutupi tanggung jawab mereka tentang perpecahan dan kejatuhan.

 

Sering berbagai realitas tersembunyi, pendapat tidak menentu dan hukum tercampur aduk, hingga tak dapat dibedakan mana yang berbuat zalim dan mana yang dizalimi, tak dapat dibedakan mana yang benar dan mana yang bersalah, mana yang berbuat baik dan mana yang berbuat jahat. Tinggal menunggu pengadilan Dzat yang tidak berbuat zalim sekecil dzarrah.

 

“Dan Dialah hakim yang sebaik-baiknya.” (Al A’raf:87)

 

Sesungguhnya usaha ini—seperti yang telah saya katakan—membahas fenomena tersebut secara umum, menyangkut sebagian sebab dan latar belakangnya.

 

Terkadang sebabnya muncul dari individu-individu, terkadang dari pergerakan dan terkadang dari situasi dan kondisi. Studi atas setiap kasus melalui tiga aspek tersebut secara bersamaan, dengan menghindari sikap berlebih-lebihan secara ekstrim dan menggunakan sikap obyektif agar dapat mengembalikan setiap persoalan pada proporsinya, yang pada gilirannya dapat membantu pengobatan secara tuntas. Kepada Allah kita memohon pertolongan dan ajaran-Nya adalah jalan yang lurus.

 

Dalam kesempatan berikutnya insyaAllah, akan saya ulas beberapa hal penting yang menjadi penyebab terjadinya fenomena yang bisa terjadi pada manhaj apapun. Sebagai contoh yang mungkin bisa kita renungi apa yang terjadi dalam article-article yang pernah saya buat seperti ini dan ini. Juga apa yang terjadi dan dilakukan oleh banyak orang semisal pengarang buku Dialog dengan Ikhwani. Jangan khawatir! Dengan ataupun tanpa kita, dakwah akan terus berjalan.

   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu`min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (Qs. Al-Maidah:54)

Sumber: Fatih Yakan, Yang Berjatuhan di Jalan Da’wah.