“Kalian Pikir Kita Gila Kalo Anggap Pengkafiran Sesama Muslim Merupakan ‘Ittiba Kepada Salafus Shalih!?”

  

Mungkin sudah lebih dari satu pekan aku tidak update blog ini, mengurusi import barang dari Denmark dan China benar-benar mencampakkan aktivitas rutinku. Untung saja halaqah mingguan masih menjadi prioritas dan bercengkrama di dapur dengan keluarga yang sibuk nyiapin masakan sambil minum secangkir teh hangat dan sarapan di pagi hari sebelum meluncur ke kantor adalah sebuah upaya untuk menstabilkan tingkat stress yang sepertinya mulai timbul karena tekanan pekerjaan yang sangat tinggi.

  

Article kali ini aku khususkan untuk saudaraku al-akh Abu Adil dan orang-orang semisalnya yang memintaku memberikan fakta tindakan Salafus Shalih yang bertolak belakang dengan orang-orang yang mungkin merasa berittiba’ terhadap mereka. Aku yakin, bahwa hal ini tidak akan memuaskan dahaga siapapun yang didalam hatinya selalu terbersit sifat fanatic dan ashobiyah yang tinggi. Tapi mudah-mudahan bisa menjadi hikmah buat orang-orang yang mau menjaga hatinya dari perasaan iri dan dengki terhadap orang lain.

 

Entah sampai kapan fenomena pengkafiran sesama muslim akan berakhir, telah kucoba menghentikannya mulai dari postingan tentang khawarij di bulan-bulan awal pempublishan blogku seperti ini, ini atau ini sampai kepada penelanjangan jati diri yang mungkin telah menyerempet kepada ghibah, yang semuanya adalah sebuah usahaku untuk bisa menyatukan umat Islam dalam ukhuwah dan tidak terjebak dalam permasalahan-permasalahan yang menurutku tidak penting.

  

Lihatlah akhi, bagaimana tindakan Ali bin Abi Thalib dan Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhuma yang tidak mengkafirkan Khawarij walau penyimpangan mereka amat nyata dan membahayakan umat Islam. Sebagian Imam hadits tetap mengambil hadits dari mereka, juga dari kalangan Mu’tazilah. Ali ra pernah ditanya tentang kaum Khawarij yang menentangnya, “Apakah mereka itu kafir?”

  

Dijawab, “Tidak, bahkan mereka lari dari kekafiran.”

  

Kalau begitu, apakah mereka munafik?”

  

Jawab Ali, “Tidak, orang munafik tidak mau mengingat Allah kecuali sedikit saja, padahal mereka mengingat Allah banyak sekali.”

  

Lalu Ali ditanya lagi, “Jadi, bagaimana sebenarnya mereka itu?”

  

Jawab Ali, “Mereka adalah kaum yang ditimpa fitnah, lalu menjadi bisu, buta dan tuli,”[1]

  

Kaum Mu’tazilah juga tidak dikafirkan, yaitu kalangan yang moderat diantara mereka. Mereka masih menerima hadits mutawatir dan tidak sedikit kalangan Ahlus Sunnah mengambil manfaat dari mereka. Seperti Imam Az-Zamakhsari Al-Mu’tazily dengan tafsir “Al-Kasysyaf”nya yang ucapannya kerap dikutip ulama Ahlus Sunnah. Namun ada juga yang memasuki wilayah ‘kafir’ sebab mereka ingkar terhadap semua hadits Nabi, mutawatir dan ahad, tidak percaya hari kebangkitan, hisab, mizan, jaza, dan lain-lain.

  

Syiah juga demikian. Ada yang moderat dan fiqihnya dekat dengan Ahlus Sunnah, yaitu Syiah Zaidi dan Ja’fari. Mereka tidak mengkafirkan sahabat Nabi, masih menghormati Abu Bakar, Umar, dan Ustman. AL-Qur’an mereka masih sama dengan yang ada pada kalangan Sunni, tanpa tambahan dan pengurangan.

  

Namun ada juga yang ekstrim, dikafirkan kalangan Ahlus Sunnah dan Syiah yang moderat, seperti Syiah Ghalliyah (ekstrim) yang telah mengkultuskan Ali. Bagi mereka, Ali adalah titisan Allah di muka bumi seperti orang-orang Nasrani terhadap Nabi Isa as putra Maryam, bahkan Ali bin Abi Thalib menghukum mati mereka. Ada juga kaum rafidhah yang mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Ustman, Aisyah, Abu Hurairah, me-ma’shum-kan para imam mereka, bahkan lebih tinggi dibanding para Nabi. Merekalah yang dikafirkan oleh Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Abu Zur’ah. Adapun Imam Syafi’I melarang manusia meriwayatkan hadits dari mereka, bahkan melarang berbicara dengan mereka.

  

Tapi bagaimanakah dengan kita akhi? Lihatlah, ketika ada sebagian dari pemikiran Asy’ariyah yang salah, berbondong-bondong dari kita mentahdzir mereka tanpa pandang bulu, pokoknya kalau Asy-ariyah maka sesat dan menyimpang dari agama. Tapi setelah diteliti lebih lanjut, ternyata Syaikh Ahmad Ibnu Hajar Al-‘Asqalani-penulis kitab Fath Al-Bary’ala Syarh Al-Bukhari, Syaikh Imam Nawawi-penulis Syarah Muslim, Imam Quthubi-penulis Tafsir Al-Jami’ lil Ahkam Al-Qur’an, Ibnu Hajar Al-Haitami-penulis kitab Al-zawajir ‘Al-Iqtiraf Al-Kaba’ir, Syaikh Zakariya Al-Anshary, Al-Imam Abu Bakar Al-Baqilanny, Al-Imam Al-‘Asqalany, Imam Al-Nasafy, Imam Syarbini, Abu Hayan Al-Nahwiy, Imam Ibnu Jazy merupakan imam dan pakar dari kalangan Mazhab Asy-ariyyah [2]

  

Atau juga dengan yang lainnya, sufi, ikhwan, tabligh, tahrir, nu bahkan salafy sendiri. Ketika ada beberapa pemikirannya yang tidak sama dengan kita, tapi karena kita terlalu terburu-buru, merasa telah menjadi paling shaleh, paling alim, paling benar, paling selamat, paling ditolong kemudian dengan gegabah dan sok menolong agama, melakukan jarh, tahdzir, ghibah bahkan fitnah dengan serampangan dan membabi gila buta. Kita tidak mau dengan tenang, tabayun, introspeksi, merenungi, meneliti lebih lanjut, seraya memohon petunjuk-Nya.

  

Pokoknya karena beda maka wajib diperangi, sekalipun hanya permasalahan khilafiyah. Kita justru tidak sadar telah menjadi musuh dalam selimut, ketika saudara muslim kita berupaya beramar ma’ruf nahi munkar melawan musuh-musuh umat yang sesungguhnya yang berusaha menghalangi mereka memberikan kontribusi positif kepada saudara muslim lainnya. Justru kita menjadi penghalang tambahan bagi usaha mereka, wal iyadzubillah.

  

Benar, Islam menghendaki kaum muslimin bersatu. Namun, persatuan bukan berarti menghilangkan adanya perbedaan. Upaya menghapus perbedaan adalah upaya yang tidak akan pernah berhasil sampai kapanpun karena menyalahi sunnatullah. Sesungguhnya, perbedaan yang sifatnya variatif (ikhtilaf tanawwu’) akan memperkaya khazanah peradaban Islam yang tidak perlu dirisaukan. Adapun perbedaan yang kontradiktif/pertentangan (ikhtilaf) harus dijauhkan dari Islam karena itulah pangkal perpecahan.

  

Contoh dalam masalah meng-qashar shalat, Imam Ibnul Mundzir menyebutkan para ulama kita memiliki 20 pendapat dalam menentukan jarak boleh tidaknya melakukan hal tersebut. Para sahabatpun berbeda pendapat dalam menafsirkan ucapan Nabi SAW, “Janganlah kalian shalat Ashar sebelum sampai di daerah Bani Quraidhah.” Diantaranya ada yang memahaminya secara tekstual dengan tidak melakukan shalat Ashar sebelum sampai, sementara sahabat yang lain tetap shalat Ashar karena sudah masuk waktu Ashar. Dan ketika hal itu diceritakan kepada Rasulullah SAW, beliau tidak menyalahkan salah satu pihakpun. Justru yang aneh ada sebagian yang berpendapat, jangan menyamakan masalah khilaf qhasar shalat Ashar ini dengan hal lain, yang justru menurutku tidaklah lebih fundamental dibandingkan dengan masalah shalat.

  

Syaikh Waliyullah Ad-Dahlawi berkata, “Kebanyakan perbedaan pendapat di kalangan fuqaha hanyalah merupakan tarjih salah satu dari dua pendapat. Tarjih tersebut terutama dalam masalah yang sama-sama didukung pendapat para sahabat. Misalnya, masalah takbir pada hari tasyriq, takbir pada shalat ahari raya, nikah dengan mahram, tasyahud Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud, membaca basmallah dan amin dengan pelan, isyfa’, atau bacaan iqamat. Para salaf sendiri tida berselisih pendapat mengenai adal pensyariatannya. Mereka hanya berselisih tentang perkara yang lebih utama di antara dua pendapat.”

  

Para salaf tidaklah berpecah hingga akhirnya datang orang-orang masa sekarang yang membesar-besarkan khilafiyah. Sesungguhnya Imam Malik dan Laits bin Sa’ad memiliki banyak pandangan fiqih yang berbeda. Namun, hubungan mereka tetaplah harmonis. Begitu pula para ulama lainnya.

  

Yang aku permasalahkan adalah, ketika ikhwan berijtihad yang berbeda dengan ulama lain, justru ikhwan diserang dengan berbagai macam hal yang berhubungan dengannya, seolah-olah ikhwan adalah bangkai gajah busuk yang telah dijamuri virus HIV dan kusta yang sangat berbahaya.

  

Kembali lagi ke permalahan takfir di atas, dengan berat hati aku ungkit kembali apa-apa yang telah dilakukan oleh mereka yang membenci ikhwan.

  

Abu Abdurahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i mengatakan, “Diantara sekian banyak dai dhalalah yang menyeru kepada kesesatan pada zaman sekarang ini adalah Yusuf al-Qaradhawi, mufti Qatar. Sungguh, dia telah menjadi amunisi bagi musuh-musuh Islam. Dia telah mencurahkan lisan dan penanya guna menyerang agama Islam.” Dan juga ungkapan, “Wahai Qaradhawy engkau telah kufur, atau mendekati kekufuran”. Untuk lebih jelas, silakan buktikan disini.[3]

  

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly—hafizahullah wa ghafarahullah berkata, “Sebenarnya dakwah Ikhwanul Muslimun didasarkan pada manhaj orang kafir Barat yang dibungkus dengan pakaian Islam.” Begitu juga terhadap sayyid Quthb di dalam bukunya “Al-Adhwa” yang ternyata telah dibenarkan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid—rahimahullah, dengan mengatakan, “Ketika saya rujuk ke halaman yang Anda maksud, ternyata saya tidak menemukan satu hurufpun yang menjelaskan Sayyid berpendapat demikian! Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Demikian mudahnya Anda men-takfir-kan Sayyid?”. Untuk lebih jelasnya, silakan buktikan di sini atau di http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=94 .

  

Salafy edisi 05/Dzulhijjah/1416/1996, hal. 64, memberi Syaikh Qaradhawy dengan gelar-gelar buruk dan berbau khawarij wal’iyadzubillah, seperti Yusuf Al-Quradhy (Al-Quradhy dinisbatkan pada Yahudi Madinah dari Bani Quraidhah) dan disebut ‘Aduwullah (musuh Allah), Ibnal Yahud (keturunan Yahudi), dan Al-Qaradha (penggunting Sunnah) walau akhirnya, si pemberi gelar menarik kembali pemberian gelar tersebut, khususnya tiga gelar pertama. Atau tuduhan sebagai Rasionalis (Aqlany) seperti pada Salafy, edisi 03/Syawal/1415/1996, hlm. 13. Lihatlah akhi, bukankah ini gaya takfiri yang amat jelas. Bahkan beliau disejajarkan dengan Abu Rayyah sebagai tokoh inkarussunnah. Loc cit, hlm. 51.

  

Apalagi para thalibul ilmi fanatic yang mengagumi ulama-ulama di atas. Mereka jauh lebih kurang adab, seperti Manshur al-Udaini, atau mungkin kita sendiri.

  

Ya akhi, janganlah kita katakan bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut adalah sebuah upaya dalam rangka menolong agama Allah, seraya menggunakan berbagai hujjah untuk melegalkan perbuatan tersebut seperti memanfaatkan jawaban Syaikh al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz yang mengatakan, “tidak, hal itu (muwazanah—wajib menyebutkan kebaikan orang yang dianggap sesat sehingga tidak mendzaliminya: peny.) tidak wajib, hal itu tidak wajib.”

  

Atau menggunakan jawaban Syaikh Shalih bin Fauzan yang mengatakan, “Jika engkau menyebutkan kebaikan mereka berarti mengajak kepada mereka…”

  

Atau bahkan mengutip perkataan-perkataan Ibnu Taimiyah dalam al-Majmu’ al-Fatawa 28/234, Ibnu Bathah dalam as-Syarh dan al-Ibanah, al-Lalikai dalam Syarh I’tiqad Ushul Ahlis Sunnah, Syarh as-Sunnah karya al-Baghawi dan lain sebagainya. Aku katakan, apa yang mereka bahas benar wahai akhi, tapi lihatlah konteks realitanya. Apakah semuanya berhak diperlakukan seperti itu? Justru yang terjadi adalah sebuah pemaksaan hujjah untuk melegalkan apa yang mereka yakini sebagai sebuah kebenaran, menjauhkan umat dari dakwah mereka sambil secara tidak langsung menarik mereka dalam jamaahnya dengan menyebarkan berbagai subhat, dan inilah yang dimaksud dengan hizbiyah.

  

Lihatlah apa yang dilakukan kalangan tabi’ut tabi’in pengikut salafus shalih. Dikisahkan bahwa al-Mahdi pernah berkata kepada Imam Malik, “Wahai Abu ‘Abdillah (kunyah Imam Malik), tetapkanlah sebuah kitab karanganmu yang nanti kuperintahkan seluruh rakyat untuk melaksanakan ketentuan kitab itu saja!” Beliau menimpali, “Wahai Amirul Mukminin, jangan anda lakukan itu! Sesungguhnya kaum muslimin sudah berpegang dengan macam-macam pendapat. Mereka mendengar hadits yang bermacam-macam dan meriwayatkan dengan riwayat yang berbeda. Lalu setiap kelompok akan memegang dalil yang telah sampai kepada mereka. Mereka memilih dan memegang pendapat tersebut dari ikhtilaf yang terjadi di kalangan sahabat, dan di kalangan lain (setelah mereka). Sungguh sangat sukar untuk mengubah sesuatu ynag sudah mereka yakini. Biarkanlah penduduk sebuah negeri dengan pendapat yang mereka pilih!” Beliau berkata, “Demi umurku, kalau seandainya ada sinyal setuju dengan rencaraku tadi, aku pasti akan melakukannya.” [4]

  

Atau mengenai permasalahan al-wala yang dipaksakan dalam buku Manshur al-Udaini, Membongkar Kedok Al-Qaradhawy, bab Menyerukan untuk Mencintai Yahudi dan Nasrani. Setelah diteliti dengan tenang secara penuh (tidak sebagiannya saja) pada kitab al-Halal wal Haramnya Syaikh Yusuf al-Qaradhawy, ternyata yang menjadi permasalahan utamanya adalah kata al-Mawadah atau kecintaan. Seandainya dilakukan secara proporsional, mungkin buku tersebut tidak akan menjadi salah satu sebab lahirnya karakter-karakter ekstrim dan berpecahnya umat Islam.

  

Karena Syaikh DR. Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin pun ternyata juga mewajibkan interaksi dengan kaum kafir yang bukan termasuk wala’ yang diharamkan. Seperti terhadap al-Mu’ahidun atau yang terikat dengan ikatan damai, ad-Dzimmiyyun atau orang kafir yang tinggal di negeri kaum muslimin dan berdamai dengan syarat menyerahkan jizyah dan al-Musta’minun, yaitu orang kafir yang masuk ke negeri Islam dengan jaminan keamanan dari pemimpin atau salah seorang muslimin. Sementara terhadap al-Harbiyyun, orang kafir yang keras dan memusuhi Islam wajib tidak berwala’ terhadapnya bahkan kita wajib memusuhi mereka.[5]

  

Dan pandangan-pandangan ini sama seperti apa yang ada di dalam Kitab Halal wal Haramnya Syaikh Yusuf Qaradhawy jikalau kalian tenang meneliti dan mau berhusnudzhan terhadapnya. Tidak lantas mengeluarkan tuduhan-tuduhan keji seperti da’i dhalalah (da’i sesat), faqihudh dhalal (ahli fiqih yang sesat), safihuz aman wa mufsidul anan (manusia dungu zaman ini dan perusak manusia), sesungguhnya teladan dia berada di antara jurang kebinasaan, mu’tazily celaka thd Muhammad al-Ghazaly, merasa bahwa apa yang ditulisnya hanyalah setetes dari lautan kesesatan Qaradhawy dan ungkapan-ungkapan lainnya yang sungguh mengerikan.

  

Yang pada akhirnya, kita berhak mengatakan mereka adalah orang-orang yang di dadanya membara rasa dendam dan dengki. Mereka adalah orang-orang yang tidak menguasai secara utuh pandangan Syaikh Qaradhawy dalam perkara yang ditulisnya. Padahal perkara yang disebutkan adalah perkara yang bersifat khilafiyah dan bukan masalah yang qath’i. Hasilnya mereka harus mengerti ikhtilaf antar ulama, mempelajari sopan-santun dalam ber-ikhtilaf, dan menata hatinya agar terhindar dari rasa dengki, dendam, dan tidak obyektif agar pendapat-pendapatnya bisa diterima secara ilmiah dan etis. Itulah salafy sebenarnya yang jauh dari sikap talafi (penghancur), shalafi (pembual), atau kekanak-kanakan.

  

Syaikh Yusuf Qaradhawy berkata, “Seorang mukmin—seperti kata salaf—lebih keras mengadili diri sendiri daripada mengadili penguasa yang zalim atau teman yang bakhil. Ia senantiasa menuduh dirinya sendiri. Tidak memberikan toleransi kepada dirinya dan mencari-cari alasan atas kesalahannya. Ia senantiasa dihantui rasa kurang dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menunaikan hak hamba-Nya. Ia mengamalkan kebaikan dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan seraya berkata, ‘Aku takut Allah tidak menerimanya karena Ia hanya menerima amalan orang-orang yang bertakwa. Adakah diriku termasuk salah seorang diantara mereka? Di samping itu, ia senantiasa mencari alasan untuk menutupi kesalahan makhluk Allah, terutama para saudaranya dan orang-orang yang berjuang bersama-sama membela agama Allah, terutama para saudaranya dan orang-orang yang berjuang bersama-sama membela agama Allah. Ia mengatakan—seperti para salaf, ‘Aku mencari alasan bagi kesalahan saudaraku sampai tujuh puluh alasan, kemudian baru Aku. Barangkali ia punya alasan lain yang tidak aku ketahui.”[6]

  

Sekarang, tinggal pilih sendiri, sifat Ali bin Abi Thalib dan Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhuma yang tidak mengkafirkan Khawarij walau penyimpangan mereka amat nyata dan membahayakan umat Islam. Atau orang-orang yang dianggap ber’ittiba terhadap salafush-shalih tapi memiliki sifat yang berbeda dari Ali bin Abi Thalib dan Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhuma??? Semuanya aku serahkan kepada kalian….

  

Allahu musta’an.

  

Footnote:

[1] Sayyid Muhammad Alwy Al-Maliky, Faham-Faham Yang Perlu Diluruskan, hal. 66

[2] Dr Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, Mafahim Yajib An-Tushahhah, hal. 92

[3] Ahmad al-Udaini, Membongkar Kedok al-Qaradhawi, hal.15

[4] Tim Ulin Nuha, Potret Salafy Sejati, hal. 289

[5] Syaikh Abdullah bin Jibrin, Tahdzib tashil al-aqidah al-islamiyah, hal. 236-248

[6] Yusuf Qaradhawi, Fiqhul Ikhtilaf, hal. 212 Yusuf Qaradhawi, Fiqhul Ikhtilaf, hal. 212

  

Sumber:

1. Farid Nu’man, Al-Ikhwan Al-Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, hal. 403

2. Dr Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, Mafahim Yajib An-Tushahhah

3. Syaikh Dr Abdussalam bin Salim as-Suhaimi, Jadilah Salafi Sejati

4. Tim Ulin Nuha, Potret Salafy Sejati

5. Ahmad al-Udaini, Membongkar Kedok al-Qaradhawi

6. Syaikh Abdullah bin Jibrin, Cara Mudah Memahami Aqidah