BUKTI BERKEPRIBADIAN EKTRIM DAN BENGIS HASAN AL-BANNA

 “Dialah (Hasan al Banna) yang berhak memfatwakan pembunuhan, memberikan instruksi-instruksi, teror, jihad, dan lainnya. Bukti paling nyata adalah usaha kudeta pemerintah pada tahun 1953 M.” 

(Ayyid Asy Syamari, dalam buku : Hasan al Banna Seorang Teroris?, hlm. 29)

B. Kenyataan Kepribadian Al-Banna

Jika ada peledakan yang menyerang pemerintah Mesir setelah wafatnya Al Banna, maka Al Banna tidak memiliki  tanggung jawab sejarah.  Termasuk tanggung jawab doktrinal, ia berlepas diri. Sebab dari berbagai risalah yang ditulisnya tidak ada tulisan yang menginspirasikan  pembacanya untuk menteror manusia dan mengajak pada tindak kekerasan.

Sebaliknya tulisan-tulisan Hasan al Banna berisi kasih sayang yang kental, sebagaimana  ayah kepada anaknya, seorang da’i kepada umatnya,  dokter kepada pasiennya.

Dalam risalah Da’watuna Hasan al Banna menulis curahan hatinya yang menggetarkan perasaan siapa pun pembacanya, simaklah:

“Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui, bahwa mereka  lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada  sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa  cinta yang mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.

Sungguh kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan  untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta. Sesaat pun  kami tidak akan pernah menjadi musuh kalian.”

Anda lihat sendiri, apakah mungkin orang yang menulis perasaan hati yang mengharukan seperti ini menjelma sebagai penganjur teror dan kekerasan?

Di sisi lain Al Banna amat toleran dengan siapa saja yang berbeda dengannya. Abdul Muta’al al Jabari pernah menulis ucapan Al Banna: “Bagaimana mungkin Anda dapat membayangkan tidak adanya orang yang berbeda pendapat dengan kita dan dengan dakwah yang kita sampaikan, sedangkan di kalangan manusia sendiri ada banyak perbedaan tentang eksistensi Allah ‘Azza wa Jalla. Ada sebagian manusia yang mengatakan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla itu adalah oknum ketiga dari Trinitas dan demikian seterusnya.”  (Pembunuhan Hasan al Banna, hlm. 22)

Sikap beliau terhadap pihak yang memusuhi da’wahnya yaitu golongan yang selalu berprasangka buruk,  menunjukkan  akhlak da’i yang layak ditiru da’i lainnya.

Katanya: “Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu berprasangka buruk kepada kami dan hatinya diliputi keraguan atas kami. Mereka selalu melihat kami dengan kacamata hitam pekat, dan tidak berbicara tentang kami kecuali dengan pembicaraan yang sinis. Kecongkakan telah mendorong mereka terus pada keraguan, kesinisan, dan gambaran negatif tentang kami.

Bagi kelompok ini, kami bermohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar berkenan memperlihatkan kepada kami dan kepada mereka kebenaran sebagai kebenaran dan diberi kekuatan kepada kami untuk mengikutinya, serta memperlihatkan kebatilan sebagai kebatilan dan memberi kekuatan kepada kami untuk menjauhinya. Kami mohon kepada Allah ‘Azza  wa Jalla  agar berkenan menunjuki kami dan mereka ke jalan yang lurus

Kami akan terus menda’wahi mereka jika mereka mau menerima, dan kami juga berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar berkenan menunjuki mereka. memang hanya Allah-lah yang bisa menunjuki mereka. kepada NabiNya Allah berfirman tentang segolongan manusia: “Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki.” (QS.Al Qashash : 56)”  dst.

Lihatlah sikapnya terhadap  pihak yang memusuhi da’wahnya ini; mendoakan dan tetap menda’wahi. Tidak ada tindak kekerasan sama sekali! Wallahu musta’an

Dalam da’wahnya Imam al Banna lebih mendahulukan kelembutan dan menolak kekerasan, sebagaimana yang disaksikan manusia zamannya.

Berikut ini adalah penuturan Ahmad Husain yang pernah hidup dan berinteraksi dengannya. Pembaca akan mengetahui betapa jauh tuduhan teroris yang diarahkan padanya.

Ahmad Husain menulis: “Sungguh aku masih teringat masa mudaku, ketika itu sekelilingku terdapat para pemuda yang aktif dalam beragama. Pada waktu itu tempat penjualan minuman keras ada di mana-mana, bahkan di depan sekolah dan masjid. Maka tergugahlah kita untuk memberantas semua itu dengan kekuatan, dalam rangka menjalankan sabda Nabi, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan …”, lalu sebagian pemuda di sekitar kami bertekad  menyerbu dua atau tiga tempat penjualan khamr. Kami memecahkan beberapa botol serta menumpahkan beberapa galon khamr. Akhirnya suasana menjadi kacau balau, insiden ini dianggap melanggar undang-undang negara. Kemudian setelah itu pemerintah sangat memusuhi kami dengan keras.

Hal itu tidak mengherankan, karena memang pemerintahan saat itu dikendalikan penjajah Inggris yang menguasai Mesir. Akan tetapi yang membuat saya terkejut dan pesimis adalah makalah (fatwa) yang ditulis Imam Syahid Hasan al Banna. Beliau ternyata menolak uslub da’wah yang telah kami praktekkan. Akhirnya saya baru tahu bahwa beliau berbicara tentang sesuatu yang benar-benar Islami. Baik secara ruh maupun nash, sebagaimana itu nampak jelas setelah saya pelajari.

Tetapi saat itu saya sangat marah, bahkan saya menganggap keberadaannya sebagai sebuah rekayasa politik. Saya pergi sendiri untuk menelaah kembali –ketika dipenjara- seluruh fatwa fuqaha tentang batas-batas amar ma’ruf nahi munkar, sejauh mana hak seorang muslim biasa (rakyat) untuk merubah dengan tangan. Ternyata saya dikejutkan dengan ijma’ para fuqaha empat madzhab bahwa merubah kemungkaran dengan tangan itu adalah hak Waliyyul Amri (pemerintah) saja bukan hak individu. Saya benar-benar  dikejutkan dengan kesepakatan itu, dan secara perlahan tapi pasti saya mencoba keluar dari bencana yang saya rasakan. Saya berbicara dengan beberapa pihak tentang masalah ini, dan akhirnya pada kesimpulan bahwa saya puas dengan fatwa Hasan al Banna  itu. Sampai-sampai saya merasa benci dengan kekerasan sikap saya dahulu, dan saya selalu memberi peringatan kepada rekan-rekan muda tentang masalah ini.”  (Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqh Da’wah, hlm.  210-211) sampai di sini.

Sikap kelembutan dan anti kekerasan Hasan al Banna ini juga diteruskan oleh penerusnya, Hasan al Hudhaibi. Ketika fitnah kekerasan dan pengkafiran mencuat, lantaran jamaah Hijrah wa Takfir. Al hudhaibi membuat buku Du’aat la Qudhaat  (Para da’I, bukan menghakimi).

Demikianlah jawaban secukupnya terhadap tuduhan radikalisme dan teroris bagi Hasan al Banna, yang ternyata hanya isapan jempol, jauh, dan fitnah semata. Semoga para generasi da’wah bisa mengambil manfaat dan jujur dalam menyikapi masalah ini. Jauh dari praduga pasti bersalah, tidak fair, dan aniaya sesama pejuang Islam. 

Bersambung  …

Wallahu A’lam walillahil ‘Izzah

Catatan dari admin /AZI

1. Sudah banyak terbit buku, catatan, atau informasi di dunia maya yang mengungkap Tema “ Kesesatan Tokoh- Tokoh IM “, seperti Dialog dengan Ikhwani, Menyingkap Syubhat Ikhwanul Muslimin karya Andi Abu  Thalib, yang terbaru bahkan sudah ada E-Book gabungan materi kesesatan IM, dan akan diterbitkan lebih dalam kesesatan  tentang tokoh-tokoh IM, adalah buku MDMTK Jilid II oleh ustadz Luqman Baabduh (penulis Buku Mereka adalah teroris,MDMTK I).  Sebagai suatu nasihat dan kritikan hal tersebut adalah biasa dan wajar, tetapi kami melihat sebagian disana masih tercampur dengan tuduhan, hujatan, yang bersifat dusta, tidak akurat bahkan fitnah ! dan relative terdapat pengulangan yang sama dari buku atau tulisan tulisan tersebut. Yang pasti contoh Ketidaktelitian, kedustaan dapat pembaca lihat dari satu judul kecil diatas yaitu mengenai ustadz Hasan Albanna terkait radikalisme.  

2. Judul asli dari Penulis (Abu Hudzaifi) adalah  “ Tha’nah ‘ala Da’watil Ikhwan wa Rudud ‘alaiha (Tikaman terhadap  Da’wah Al    Ikhwan  dan Jawaban-Jawabannya, dan telah di edit dalam beberapa hal dengan tidak mengurangi maksud dan inti pembahasan

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah berkata :

“ Berbuat adil adalah merupakan kewajiban baik terhadap musuh maupun terhadap teman , seperti firman Allah :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (an Nahl : 90)

Disini Allah menyuruh kita berbuat Adil kepada siapapun, adil terhadap musuh , kawan, orang mukmin atau orang  kafir, tidak boleh menganiaya dan menzhalimi orang lain……. “

(kutipkan sebagian pendapat Syaikh Abdul Aziz Bin Baz  ketika ditanya tentang bersikap adil baik terhadap musuh maupun teman, yang merupakan jawaban dari pertanyaan dari Majalah Al Ishlah yang terbit di Emirat Arab dan diterjemahkan dan dimuat di majalah Inthilaq no 15/16-31 oktober 1993)

Sumber : Article ini adalah bagian keempat dari HASAN AL-BANNA ADALAH TERORIS oleh Abu Hudzaifi yang dikutip dari http://perisaidakwah.com/content/view/44/38/ 22274