BUKTI NYATA HASAN AL-BANNA MENGKAFIRKAN PEMERINTAH DAN MASYARAKAT MESIR SERTA MENUMPAHKAN DARAH MEREKA ?

 

 “Dialah (Hasan al Banna) yang berhak memfatwakan pembunuhan, memberikan instruksi-instruksi, teror, jihad, dan lainnya. Bukti paling nyata adalah usaha kudeta pemerintah pada tahun 1953 M.” 

 

(Ayyid Asy Syamari, dalam buku : Hasan al Banna Seorang Teroris?, hlm. 29)

 

A.  Ustadz Hasan al Banna dan Tuduhan Keji itu

             

Benarkah Hasan al Banna mengajarkan kekerasan sebagimana yang dituduhkan? Betulkah ia mengkafirkan pemerintah Mesir dan masyarakatnya dan menumpahkan darah mereka? Bila kita gali informasi dari tulisan-tulisannya dan rekaman perilakunya yang disaksikan para murid dan tokoh di zamannya, niscaya tuduhan ini tidak menemukan buktinya. Tuduhan ini akan terbang seperti debu beterbangan. Justru tuduhan ini menunjukan adanya gangguan berat terhadap kualitas ilmiah dan moralitas penuduhnya.

               

Misal, Ayyid  Asy Syamari menulis, “Dialah (Hasan al Banna) yang berhak memfatwakan pembunuhan, memberikan instruksi-instruksi, teror, jihad, dan lainnya. Bukti paling nyata adalah usaha kudeta pemerintah pada tahun 1953 M.”  (Ayyid Asy Syamari, Hasan al Banna Seorang Teroris?, hlm. 29)

               

Ikhwah…, tuduhan ini selayaknya disebut igauan di siang bolong. Mana mungkin Al Banna merencanakan kudeta tahun 1953 M, padahal ia wafat tahun 1949 M? Begitulah, mata kebencian telah menutup akal sehat dan objektifitas, sampai-sampai menuduh pun begitu ngasal. Dikiranya, pembaca bukunya tidak ada yang tahu sejarah dan dengan mudah mengikuti skenario pelintiran sejarah yang dibuatnya. Wallahu musta’an!

Sungguh, Ayyid Asy Syamari banyak mengaburkan fakta sesungguhnya tentang sepak terjang Ikhwan di Mesir pada masa-masa 1940-50an. Ia banyak menceritakan tentang operasi pengeboman  dan pembunuhan yang dilakukan oleh Ikhwan dan agen rahasianya. Namun ia tidak jujur dalam menceritakannya dan tampak dengan jelas ia bukan seorang analis sejarah yang baik, karena terlalu banyak mencampurkan informasi sejarah dengan ‘kehendak’ dirinya sendiri, seakan ialah yang menentukan ending dari sejarah yang dibacanya. Contohnya adalah kutipan di atas.

               

Contoh lain, saya akan kutip bagaimana Ayyid Asy Syamari gagal dan ngawur dalam menganalisa peristiwa. Peristiwa tersebut akan saya ungkap dua kali, yaitu yang dikisahkan oleh Ayyid Asy Syamari sendiri, dan kisah yang sama namun dituturkan oleh orang yang hidup pada masa itu dan menyaksikan sendiri kejadiannya, namun ia bukan lagi anggota Ikhwan, yaitu Dr. Mahmud Jami’. Niscaya pembaca akan temukan betapa kebencian terhadap Ikhwan telah membuat para penuduhnya rela memutarbalikkan fakta. Sungguh salaf bukanlah pemfitnah, dan pemfitnah bukanlah salaf.

               

Berikut ini kutipan dari buku Hasan al Banna Seorang Teroris? Hlm.27-29, beserta komentar kami (dengan tanda pen) simaklah dengan baik dan perlahan:  “Pernah terjadi kasus seorang hakim yang bernama  Khazin (nama sebenarnya adalah Ahmad Khazandar, pen). Ia menjatuhkan vonis penjara bagi sebagian anggota Ikhwanul Muslimin. As Sindi tidak terima (As Sindi adalah pimpinan agen rahasia Ikhwan, dan Ayyid Asy Syamari keliru sebab para pemuda itu bukanlah anggota Ikhwan melainkan anggota Hizbul Wathan sebagaimana yang dikisahkan Dr. Mahmud Jami’ nanti-pen). Akhirnya ia mengkafirkan hakim tadi. Lalu ia menyuruh anggota pasukan khusus Ikhwanul Muslimin untuk membunuh sang hakim. Namun dalam operasinya, dua orang anggota Ikhwanul Muslimin  tertangkap dan dipenjara.

               

Mendengar anggotanya di penjara, Hasan al Banna marah besar kepada As Sindi, mengapa ia marah besar? Karena As Sindi berbuat menurut kemauan sendiri tanpa ada komando darinya. (Nah jawaban ini adalah analisa dari Ayyid Asy Syamari, ia menafsiri kalau ingin membunuh hakim tunggulah komando dari Al Banna. Padahal maksud Al Banna amat jelas, Ia marah besar sebab pembunuhan itu tidak dibenarkan syariat Islam sebagaimana yang dikatakan Al Banna sendiri nanti, kenapa penuduh ini tidak berfikir seperti ini? Uraian berikutnya niscaya pembaca akan mengetahui tipuan ini.pen)

               

Setelah itu Ayyid menceritakan bahwa As Sindi diadili oleh Al Banna dan tokoh Ikhwan lainnya, dan menyebutnya sebagai “Negara kecil Ikhwanul Muslimin.” Seharusnya pembunuhnya yang diadili oleh mahkamah.  (Pembaca, nampak di sini seakan Ayyid menyalahkan pembunuhnya saja minus As Sindi, sedangkan Al Banna dan penasihatnya justru memanggil As Sindi. Karena dari dialah keputusan itu. Adapun dalam fiqh, pelaku pembunuhan dan yang memerintahkannya keduanya harus dihukum demikian menurut pendapat yang kuat. pen)

               

Ayyid Asy Syamari melanjutkan, Mahmud ash Shabagh berkata, “Aku pernah sekali duduk bersama Imam Hasan al Banna ketika dia sedang marah kepada hakim Khazin, karena dia menghukum Ikhwanul Muslimin dengan hukum seperti itu, sehingga aku menyangka Imam ini (Al Banna, pen) menyuruhku membunuhnya.” Orang-orang bertanya, “Mengapa kamu hendak membunuh hakim itu, karena kamu menyangka Hasan al Banna ingin membunuhnya?”

               

Dengan demikian itu adalah kesalahan. Kenapa salah?  Karena Hasan al Banna belum memerintahkannya! (inilah analisa emosional dan tidak cerdas dari Ayyid Asy Syamari. Menurutnya tindakan pembunuhan itu salah karena mendahului perintah Hasan al Banna, jadi kalau mau membunuh tunggu perintah Al Banna dulu. Analisa yang benar adalah, tindakan pembunuhan itu salah karena itu bertentangan dengan Islam. Pen)

                 

Lalu Ayyid meneruskan, “Jadilah Hasan al Banna sebagai satu-satunya ahli fatwa di tubuh Ikhwanul Muslimin. Jika Ia mengatakan “Bunuhlah!” maka anggotanya dengan taat akan membunuh. (Inilah ending yang dipaksakan oleh Ayyid, entah dari alam mana ia bisa menyimpulkan seperti ini. pen) inilah contoh generalisasi yang kadang-kadang sering muncul bila pendapat sudah didahului oleh kebencian atau kedengkian dahulu

               

Sekarang kita ikuti peristiwa yang sama yang dituturkan oleh orang yang hidup pada masa itu dan menyaksikan kejadiannya, yaitu Dr. Mahmud Jami’ dalam Ikhwanul Muslimin yang Saya Kenal  hlm. 49-51 beserta komentar kami, niscaya pembaca akan mengetahui bahwa Ayyid Asy Syamari tidak jujur dalam kisahnya.

               

“Mustasyar Ahmad Khazandar mengetahui rahasia pengeboman yang dilakukan pada hari Natal, yang dilemparkan tentara Inggris yang sedang mabuk-mabukkan. Memang, seperti itulah realitas pemandangan tentara Inggris di Mesir sejak tahun 1936.

               

Anda bisa bayangkan, bagaimana perasaan para pemuda mujahid muslim kepada Al Khazandar dan kesaksiannya, serta bahaya yang menunggu mereka karena melakukan tugas pengeboman itu atau sebaliknya. Begitu juga hukuman berat yang akan dijatuhkan kepada pemuda-pemuda negeri yang berani menentang Inggris itu. (Pembaca Tatsqif, lihatlah! Para pemuda Hizbul Wathan itu –bukan anggota Ikhwan sebagaimana yang dikatakan Ayyid Asy Syamari- berjihad memerangi tentara Inggris yang sedang mabuk-mabukkan, lalu justru mereka yang dihukum oleh Al Khazandar, yang nota bene  muslim dan sesama Mesir. Maka wajar jika memancing kemarahan para pemuda lainnya, walau mereka tergelincir dalam tindakan kekerasan yang sebenarnya tidak harus terjadi. Inilah letak ketidak jujuran Ayyid Asy Syamari dalam bukunya Hasan al Banna Seorang Teroris?, ia tidak menceritakan latar belakang terjadinya kemarahan para pelaku pembunuhan, sehingga terkesan para pemuda itu adalah pelaku kriminal murni. Sedangkan menurut Dr. Jami’ mereka adalah pejuang. Demikianlah amat jelas beda analisa antara  komentator subjektif yang hanya bisa duduk-duduk saja, dengan pemain yang merasakan langsung peristiwanya. pen)

               

Dr. Jami’ melanjutkan, “Karena itulah, muncul pemikiran individu dari pemimpin Agen Khusus, Abdurrahman as Sindi, yang kemudian dibebankan kepada dua pemuda anggota Agen Khusus, yaitu Hasan Abdul Hafidz dan Mahmud Said Zainahum, untuk membunuh Al Khazandar pada tanggal 22 Maret 1948 dan mereka menyiapkan strategi dan melacak  alamatnya. ….. (Dr. Jami’ menceritakan proses pembunuhan oleh para pemuda tersebut. pen).

               

Dr. Jami’ menuturkan, “Seorang insinyur, Hilmi Abdul Majid, semoga Allah memanjangkan usianya berkata kepadaku, “Dia bersaksi kepada Allah bahwa Hasan al Banna tidak mengetahui keputusan itu   dan tidak pernah menyuruh untuk melakukan serta tidak setuju dengan tindakan itu. Tetapi beliau melepaskan tanggung jawab darinya dan dia marah besar kepada Abdurrahman as Sindi.

               

Akibat peristiwa itu, Syaikh Hasan al Banna mengundang anggota penasehat: Dr. Abdul Aziz Kamil, Dr. Husain kamaludin dan Hilmi Abdul Majid seraya berkata kepada mereka, “Berilah keputusan antara saya dengan Abdurrahman as Sindi dalam masalah ini.” (Pembaca Tatsqif, inilah yang terjadi. Al Banna dan para penasihatnya  sedang menentukan sikap terhadap perilaku As Sindi, bukan mengadilinya apalagi ‘Negara Kecil’ sebagaimana dikatakan Ayyid Asy Syamari. Ini adalah hal biasa dalam organisasi jika pimpinan diskusi dengan penasihatnya untuk menyikapi pelanggaran anggotanya.pen)

               

Dr. Jami’ melanjutkan, “Kemudian dia (Al Banna) mengajukan pertanyaan kepada Abdurrahman as Sindi seraya berkata, “Siapa yang menyuruh untuk membunuh al Musytasyar Ahmad Al Khazandar?” As Sindi menjawab, “Anda …” Maka Hasan al Banna kaget seraya berkata, “Saya?  Bagaimana itu terjadi?” As Sindi berkata, “Ketika al Mustasyar Ahmad al Khazandar menghukum pemuda-pemuda Hizbul Wathan dengan hukuman yang berat karena mereka menyerang tentara Inggris dengan granat … dan karena dia (Al Khazandar) berkata dalam ketetapan hukumnya bahwa Inggris adalah teman Mesir … dan dalam majlis yang sama dia membebaskan seorang tuan yang menyiksa pembantunya yang perempuan dengan siksaan yang keji. Lalu saya bertanya kepada Anda, “Apakah Al Musytasyar ini pantas dibunuh? Tetapi Anda tidak menjawabnya, sehingga saya mengira bahwa diamnya Anda menunjukkan setuju untuk dibunuh dan saya pun menyuruh untuk merealisasikannya.”

               

Lalu Hasan al Banna berteriak seraya berkata, “Siapa yang mengajarimu seperti ini wahai Abdurrahman?” Maka Abdurrahman menjawab, “Ini adalah prinsip-prinsip dalam organisasi rahasia dan cukup perintah dengan isyarat.”

               

Mursyid berkata, “Setan mana yang mengajarimu sesuatu yang kamu sebut prinsip itu? Bukankah itu tidak ada dalam syariat, agama, aliran, dan tidak pula kami dengar dalam undang-undang mana pun?” (f lihatlah! Kemarahan Hasan al Banna kepada As Sindi disebabkan apa yang dilakukan As Sindi tidak dibenarkan syariat dan  agama sebagaimana yang kami katakan sebelumnya. Inilah jawaban langsung dari Hasan al Banna. Sementara Ayyid Asy Syamari mengatakan kemarahan Al Banna karena ia belum mengkomandoi atau memerintahkan pembunuhan tersebut, seharusnya tunggu komando.  Para pembaca, kalau bukan kebohongan apa yang layak disebut atas tulisan Ayyid ini? Sangat mungkin orang awam yang membacanya akan ikut-ikut menuduh bahwa Hasan al Banna licik, barangkali itu yang hendak diskenariokan penulis Hasan al Banna Seorang Teroris? Wallahu A’lam. pen)   

               

Dr. jami’ melanjutkan, “Kemudian Hasan al Banna mengarahkan perkataan kepada kami, “Saksikanlah apa yang saya katakan … kejahatan ini sepenuhnya dipikul oleh As Sindi dan dialah yang akan ditanya tentangnya di hadapan Allah. Adapun jika saya ingin tugas seperti ini dilaksanakan, tentu saya harus meminta kesepakatan kepada para pemimpin Agen Rahasia (Tanzhim Khas pen) secara bersama-sama, kemudian saya tulis perintah dengan tulisan saya sendiri dan tanda tangan saya untuk dipertanggungjawabkan supaya bertanggung jawab di dunia atas apa yang saya perintahkan dan mengambil ganjaran saya. Allah tidak akan menanya saya di akhirat tentang perbuatan seperti ini. (sekali lagi terjadi kebohongan dilakukan Ayyid Asy Syamari, ia mengatakan bahwa Al Banna sebagai satu-satunya yang memberi fatwa di Ikhwan, jika ia bilang “Bunuh”! maka anggotanya akan mentaatinya. Pembaca lihat sendiri ucapan Al Banna, ‘Adapun jika saya ingin tugas seperti ini dilaksanakan, tentu saya harus meminta kesepakatan para pemimpin Agen Rahasia..’. lalu apa dasarnya Ayyid menyebut Al Banna satu-satunya yang memberikan fatwa tanpa rembuk dengan lainnya. Mungkin  kebohongan semisal inilah yang banyak mengelabui sebagian kecil ikhwah yang akhirnya terpengaruh sehingga ‘pindah jama’ah’ lalu ikut-ikutan menyebarkan kebohongan ini. pen)  Demikianlah dua versi kutipan dan komentar kami. Anda bisa menilainya sendiri, bagaimana kejadian sebenarnya.

               

Adapun tuduhan bahwa  Al Banna memfatwakan pembunuhan dan teror adalah fitnah yang tidak ada harganya  (adakah fitnah yang berharga?). Kami tidak mengingkari ada instruksi teror dan jihad, namun itu ditujukan kepada Yahudi dan Inggris, untuk itulah Tanzhim Khas dibentuk, bukan untuk menyerang pemerintah Mesir. Hendaknya kaum penuduh mengetahui hal ini, jangan menutup-nutupi. Jika serangan  kepada penjajah Inggris dan Yahudi juga disebut teror oleh  penuduh, kami tidak mengerti bila ada pejuang Islam  yang justru sakit hati jika penjajah Yahudi dan Inggris diserang. Sehingga tidak ada bedanya antara penjajah dengan  orang yang mengaku ‘aktifis Islam’ (tanda kutip). Wallahu Musta’an!

               

Adapun kematian Nuqrasyi, Perdana Menteri Mesir saat itu yang tewas dibunuh, maka Hasan al Banna menulis di satu media massa bahwa para pembunuh bukanlah Ikhwan bahkan bukan muslim.

               

Adapun tentang pelemparan bom ke toko-toko Syikuril, Daud, Adas, Misyla, Urbuku, dan Jaringan Informasi Timur serta perkampungan Yahudi, semua dilakukan oleh pemuda-pemuda agen rahasia  (tanzhim khas) Ikhwan. Semua adalah toko milik Yahudi. Pengeboman dilakukan ketika sepi sehingga tidak ada yang terluka. Ini merupakan balasan Ikhwan terhadap Yahudi lantaran kapal perang Israel menjatuhkan bom perkampungan al Baramuni di Abidin pada saat buka puasa di bulan ramadhan, sehingga melukai dan menewaskan banyak penduduk Mesir.  Nah, hanya pendukung Yahudi yang menyebut para pengebom itu adalah teroris.

               

Sedangkan pengeboman di bioskop Rio di Iskandaria dan Metro di Kairo, ternyata dilakukan oleh seorang Yahudi bernama Victor Kuhin. Ia mengakui keterlibatan dirinya dan teman-temannya dalam peledakan ini. Mereka dihukum dan dipenjara. Akhirnya Ikhwan terbebas dari tuduhan dan fitnah keji. Nah, apakah para penuduh Hasan al Banna masih memaksakan kehendak bahwa ia yang menginstruksikan teror. kepada orang-orang tak berdosa.  Mungkinkah  terjadi kolaborasi yang indah –tanpa disadari- yang dilakukan para penuduh Ikhwan pada saat kejadian itu, dengan para penuduh Hasan al Banna masa kini? Mereka sama-sama menuduh Hasan al Banna sebagai pelaku kekerasan, yang membedakan hanyalah mereka (para penuduh) tidak hidup di zaman yang sama, yang dulu adalah agen pemerintah, yang sekarang mengaku pewaris Ahlus Sunnah. Wallahu musta’an!

Ya Rabb, apakah ini yang diajarkan Salafus Shalih, sungguh pemahaman Ayyid Asy Syamari sangat aneh dan keliru. Semoga Engkau melindungi kami dari pemahaman buruk seperti ini..

Catatan dari admin /AZI

1. Sudah banyak terbit buku, catatan, atau informasi di dunia maya yang mengungkap Tema “ Kesesatan Tokoh- Tokoh IM “, seperti Dialog dengan Ikhwani, Menyingkap Syubhat Ikhwanul Muslimin karya Andi Abu  Thalib, yang terbaru bahkan sudah ada E-Book gabungan materi kesesatan IM, dan akan diterbitkan lebih dalam kesesatan  tentang tokoh-tokoh IM, adalah buku MDMTK Jilid II oleh ustadz Luqman Baabduh (penulis Buku Mereka adalah teroris,MDMTK I).  Sebagai suatu nasihat dan kritikan hal tersebut adalah biasa dan wajar, tetapi kami melihat sebagian disana masih tercampur dengan tuduhan, hujatan, yang bersifat dusta, tidak akurat bahkan fitnah ! dan relative terdapat pengulangan yang sama dari buku atau tulisan tulisan tersebut. Yang pasti contoh Ketidaktelitian, kedustaan dapat pembaca lihat dari satu judul kecil diatas yaitu mengenai ustadz Hasan Albanna terkait radikalisme.  

2. Tentang Struktur  Rahasia IM (tanzhim khas), sebuah struktur yang dibentuk untuk melawan Yahudi, didalam tulisan para penghujat IM, sudah tersebarkan bahwa struktur ini adalah gerombolan pembunuh manusia, meledakkan rumah penduduk dan jembatan, dan juga tuduhan keji lainnya.Masih ingat tuduhan  menyatakan bahwa yang membunuh ulama & mujahid salafy syaikh Jamilurahmaan rahimahullah adalah pemuda IM, yang ternyata fakta itu tidak benar, silakan baca penjelasannya dalam buku : “ Siapa Teroris Siapa Khawarij “ karya Ustadz. Abdul Zulfidar halaman 61 s.d 73.   Dan berita-berita yang menyebar ini, menjadikan kami tidaklah merasa aneh, ketika dalam sebuah forum milis islam di internet , seorang anak SMP yang baru mengikuti sebuah kajian ilmu dengan santainya mengatakan IM teroris.. 

3. Judul asli dari Penulis (Abu Hudzaifi) adalah  “ Tha’nah ‘ala Da’watil Ikhwan wa Rudud ‘alaiha (Tikaman terhadap  Da’wah Al    Ikhwan  dan Jawaban-Jawabannya, dan telah di edit dalam beberapa hal dengan tidak mengurangi maksud dan inti pembahasan

 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah berkata :

 

“ Berbuat adil adalah merupakan kewajiban baik terhadap musuh maupun terhadap teman , seperti firman Allah :

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (an Nahl : 90)

 

Disini Allah menyuruh kita berbuat Adil kepada siapapun, adil terhadap musuh , kawan, orang mukmin atau orang  kafir, tidak boleh menganiaya dan menzhalimi orang lain……. “

 

(kutipkan sebagian pendapat Syaikh Abdul Aziz Bin Baz  ketika ditanya tentang bersikap adil baik terhadap musuh maupun teman, yang merupakan jawaban dari pertanyaan dari Majalah Al Ishlah yang terbit di Emirat Arab dan diterjemahkan dan dimuat di majalah Inthilaq no 15/16-31 oktober 1993)

 Sumber : Article ini adalah bagian kedua dari HASAN AL-BANNA ADALAH TERORIS oleh Abu Hudzaifi yang dikutip dari http://perisaidakwah.com/content/view/44/38/ 21917

Iklan