SEPERTINYA KITA PERNAH DIKULITI, DIIRIS, ATAU MUNGKIN DIPENGGAL SALAH SATU ANGGOTA BADANNYA SEHINGGA WAJAR BILA MEMBENCI IKHWAN

Ini adalah alasan terakhirku mengapa kita begitu membenci Ikhwan. Bila alasannya adalah karena agama mengapa harus menggunakan berbagai cara yang aneh yang justru malah menuduh balik diri sendiri. Alih-alih untuk menolong agama dan menjauhkan umat dari pemikiran merusak dengan metode tahdzir, jarh wa ta’dil, alhasil justru amarah dan kedengkian hati yang terlihat. Pasti karena pernah dikuliti, diiris atau dipenggal. Ya Rabb, tunjukkanlah kebenaran itu kepada kami…

  “Dialah (Hasan al Banna) yang berhak memfatwakan pembunuhan, memberikan instruksi-instruksi, teror, jihad, dan lainnya. Bukti paling nyata adalah usaha kudeta pemerintah pada tahun 1953 M.”  

(Ayyid Asy Syamari, dalam buku : Hasan al Banna Seorang Teroris?, hlm. 29)

Mukaddimah

               

Untuk kesekian kali gerakan Al Ikhwan Al Muslimun (selanjutnya disebut Ikhwan) beserta tokoh-tokohnya difitnah dan dituding dengan tuduhan yang justru mereka berlepas diri dan memeranginya, yaitu terorisme, radikalisme dan ekstrimitas.  al ‘Allamah Yusuf al Qaradhawy adalah salah satu alim besar zaman ini. Ia pernah dituding terlalu moderat bahkan terkesan memudah-mudahkan (mutasahil) lantaran kitabnya yang amat terkenal Al Halal wal Haram fil Islam –dan kitabnya yang lain- dituding banyak menghalalkan yang haram menurut sangkaan para pengkritiknya.  Sehingga para pengkritiknya –sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Isham Talimah- mengejek dengan mengatakan sepantasnya judul buku tersebut diganti menjadi Al Halal wal Halal. Syaikh  mengatakan ia akan mengganti judul tersebut dengan syarat para pengkritik mau menyusun kitab Al Haram wal Haram

Namun, kita dikagetkan –setelah tewasnya teroris Dr. Azahari- dengan tulisan di sebuah website salah satu faksi kelompok Salafy –saddadallahu khuthahum–  beserta buku berjudul Mereka Adalah Teroris, yang mencantumkan Yusuf al Qaradhawy beserta tokoh Ikhwan lainnya sebagai inspirator para teroris dan kontributor pemikiran khawarij. Sungguh tuduhan membingungkan! Paginya menuding Al Qaradhawy sebagai mutasahil (memudah-mudahkan), sorenya menuduhnya sebagai teroris! Haihata haihata, jauh …  teramat jauh. Antara mutasahil dan teror, moderat dan keras  adalah dua keping kepribadian yang tidak bisa bersatu dalam satu otak manusia.

Justru Syaikh al Qaradhawy  amat mengecam tindakan radikalisme atas nama Islam di Mesir  sebagaimana dalam kitabnya Shahwah Islamiyah baina Juhud wa Tatharruf.  Belum hilang dalam ingatan kita, beberapa saat setelah runtuhnya gedung kembar WTC 11 September 2001, ia mengeluarkan ajakan mengagetkan; yaitu menganjurkan donor darah bagi korban WTC.  Mungkinkah pribadi yang begitu moderat ini, dengan anjurannya itu, disebut teroris?! Apakah tuduhan tersebut lahir lantaran ia menyebut bahwa bom manusia di Palestina adalah jihad dan pelakunya syahid? Wallahu a’lam. Jika betul lantaran ini ia disebut teroris, maka para  penuduh –sadar atau tidak- telah koor (satu suara) dengan kaum zionis dan Amerika yang telah menyebut bom manusia di Palestina adalah teroris. Padahal pendapat tentang bom manusia bukan hanya pandangannya saja melainkan para ulama ternama seperti  Syaikh Wahbah az Zuhaili, Syaikh Tha’mah al Qadah, Syaikh Fathi Yakan, dan lain-lain, memang Syaikh al Qaradhawy yang paling menonjol dalam hal ini, bahkan dalam hal-hal lainnya. Lalu kenapa dia dituduh kontributor pemikiran teroris, sementara  yang lain tidak padahal punya pandangan yang sama?

 

Ada apa gerangan?

Apakah karena hari ini banyak teroris melakukan teror bom bunuh diri yang salah alamat?  Mereka –bisa jadi- berani melakukan itu karena adanya fatwa tentang syahidnya pelaku bom manusia yang dilakukan pejuang Palestina.  Fatwa tersebut memang untuk kasus jihad Palestina.  Maka, jika para teroris berlindung dibalik fatwa tersebut, mereka mengebom di mana-mana, yang layak disalahkan adalah kebodohan dan kesempitan pemikiran mereka. Istilah para fuqaha, mereka keliru dalam tahqiqul manat, yaitu penerapan relefansi fatwa dengan realita  seperti keadaan dan peristiwa yang tidak pada tempatnya.

            

Syaikh Abdul Halim Mahmud adalah seorang tokoh Ikhwan dan Syaikhul Azhar pada masanya. Ia mengecam keras para pemuda yang telah membunuh Syaikh adz Dzahabi, menteri waqaf di Mesir dan seorang penulis buku Tafsir wal Mufassirun. Bahkan Syaikh Abdul Halim menyebut para pemuda itu telah dirasuki setan lantaran pembunuhan itu. Mereka adalah pemuda yang tergabung dalam jamaah Hijrah wa Takfir, jamaah yang didirikan oleh Syukri Musthafa. Syaikh Abdullah ‘Azzam rahimahullah dalam Fi Zhilali Suratit Taubah  menyebutnya  sebagai khawarij, lantaran ia mengkafirkan dirinya (Abdullah ‘Azzam), Jamal Abdul Nashir, Hasan al Hudhaibi (mursyid ‘am ketiga), Ikhwan, dan masyarakat Mesir,  kenapa? karena mereka tidak mengkafirkan Jamal Abdul Nashir penguasa tiran Mesir saat itu. Dengan alasan kaidah ushul:  Man lam yukaffir al kafir faqad kafara  (barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir maka ia kafir)

           

Ini hanyalah salah satu contoh, betapa tuduhan-tuduhan tersebut tidak ilmiah, dipaksakan, dan  ngawur, hanya karena ia Ikhwan maka salah!

Catatan dari admin /AZI

1. Sudah banyak terbit buku, catatan, atau informasi di dunia maya yang mengungkap Tema “ Kesesatan Tokoh- Tokoh IM “, seperti Dialog dengan Ikhwani, Menyingkap Syubhat Ikhwanul Muslimin karya Andi Abu  Thalib, yang terbaru bahkan sudah ada E-Book gabungan materi kesesatan IM, dan akan diterbitkan lebih dalam kesesatan  tentang tokoh-tokoh IM, adalah buku MDMTK Jilid II oleh ustadz Luqman Baabduh (penulis Buku Mereka adalah teroris,MDMTK I).  Sebagai suatu nasihat dan kritikan hal tersebut adalah biasa dan wajar, tetapi kami melihat sebagian disana masih tercampur dengan tuduhan, hujatan, yang bersifat dusta, tidak akurat bahkan fitnah ! dan relative terdapat pengulangan yang sama dari buku atau tulisan tulisan tersebut. Yang pasti contoh Ketidaktelitian, kedustaan dapat pembaca lihat dari satu judul kecil diatas yaitu mengenai ustadz Hasan Albanna terkait radikalisme.  

2. Judul asli dari Penulis (Abu Hudzaifi) adalah  “ Tha’nah ‘ala Da’watil Ikhwan wa Rudud ‘alaiha (Tikaman terhadap  Da’wah Al    Ikhwan  dan Jawaban-Jawabannya, dan telah di edit dalam beberapa hal dengan tidak mengurangi maksud dan inti pembahasan

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah berkata :

“ Berbuat adil adalah merupakan kewajiban baik terhadap musuh maupun terhadap teman , seperti firman Allah :

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (an Nahl : 90)

 

Disini Allah menyuruh kita berbuat Adil kepada siapapun, adil terhadap musuh , kawan, orang mukmin atau orang  kafir, tidak boleh menganiaya dan menzhalimi orang lain……. “

 

(kutipkan sebagian pendapat Syaikh Abdul Aziz Bin Baz  ketika ditanya tentang bersikap adil baik terhadap musuh maupun teman, yang merupakan jawaban dari pertanyaan dari Majalah Al Ishlah yang terbit di Emirat Arab dan diterjemahkan dan dimuat di majalah Inthilaq no 15/16-31 oktober 1993)

 Sumber : Article ini adalah bagian pertama dari HASAN AL-BANNA ADALAH TERORIS oleh Abu Hudzaifi yang dikutip dari http://perisaidakwah.com/content/view/44/38/ 21704

Iklan