Sungguh Ku Dapati Pemikiran Wihdatul Wujud Pada Sayyid Quthb???

  

Di dalam tafsirnya di surat Al-Ikhlas, “Katakanlah bahwa Allah itu Esa”, Sayyid Quthb berkata, “Ketika terbentuk gambaran (tashawwur) yang tidak disaksikan di alam wujud—kecuali hakikat Allah—penglihatan hakikat itu akan berlanjut pada penglihatan setiap wujud lain yang muncul dari iradah Allah. Itu merupakan derajat ketika hati seseorang mampu melihat Yadullah (tangan Allah). Setelah derajat itu, ada derajat yang tidak ada sesuatu yang dapat dilihat kecuali Allah Karena pada waktu itu tidak ada hakikat kecuali Allah SWT.”

  

Seperti sebelumnya, itu hanyalah fitnah belaka dari kalangan shalafiyyun (pembual) yang tidak mau bersabar dan utuh dalam membaca tulisan beliau. Adapun hal yang membuatnya dituduh demikian adalah tafsirnya di surat Al-Ikhlash, “Katakanlah bahwa Allah itu Esa.”

  

Kalimat itu—berikut makna eksplisit yang terkandung di dalamnya—mencakup perbedaan antara makhluk dan khaliq. Hal itu terbaca pada kalimat, “penglihatan hakikat itu akan berlanjut pada penglihatan setiap wujud lain yang muncul dari iradah Allah, yaitu makhluk.” Selanjutnya, justru Sayyid Quthb mengingkari wihdatul wujud dengan nash yang jelas dan terang. Beliau mengatakan, konsep Islam menyatakan bahwa makhluk yang diciptakan berbeda dengan Pencipta dan Pencipta tidak dapat diserupai dengan apa pun. Dari situlah Islam menafikan pemikiran wihdatul wujud.” Adapun ucapan Sayyid, “Ketika telah terbentuk tashawwur yang tidak dapat disaksikan melalui alam wujud—kecuali hakikat Allah” maksudnya adalah segala sesuatu yang wujud merupakan ciptaan Allah SWT yang bersuara lantang menegaskan wujud Allah, wahdaniyah, dan uluhiyah-Nya. Demikian penjelasan Syaikh Jasim Al-Muhalhil.

  Sumber : Farid Nu’man, Al-Ikhwan Al-Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, Pustaka Nauka, Cetakan II, Mei 2004-21069