Sayyid Quthbkah, Atau Kita Yang Mengkafirkan ???

  

Judul di atas aku sadari, agak bernuansa mengadu domba antara Sayyid Quthb dan orang-orang yang berseberangan dengannya. Apapun pandangannya, aku hanya ingin memberikan fakta-fakta yang mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya.

  

Sayyid Quthb menilai tidak ada satu pun negeri muslim yang menjalankan syariat Islam secara benar dan konsekuen. Lalu dengan berat hati, beliau pun menganggap nuansa jahiliyah ada di semua negeri, termasuk negeri-negeri Islam—tanpa kecuali negeri tauhid yang dipuja-puja penghujat, Arab Saudi. Itu semua beliau ungkapkan dalam tafsirnya dan “Ma’alim fith Thariq”. Ternyata, ada yang keberatan dengan penilaian Sayyid itu1. Bahkan, hal itu dianggap inspirasi lahirnya Khawarij gaya baru dan ekstremitas dalam Islam. Untuk tuduhan khawarij gaya baru, aku adalah salah satu yang mengalami tuduhan tersebut.

  

Sesungguhnya, jahiliyah bukan sekedar sebuah masa sebelum datangnya Islam di Jazirah Arab. Jahiliyah dapat terjadi kapan dan di mana saja jika nilai-nilai Islam tidak actual dan nilai materialisme mendominasi. Manusia tidak lagi mengetahu ajaran Islam, Tuhan bahkan tidak peduli dengan semua itu. Saat itu, tidak ada bedanya manusia dengan binatang. Pembunuhan dalam sehari tidak terhitung jumlahnya. Perzinaan di depan mata, bahkan diiklankan. Riba merata dan khamr seakan-akan halal. Korupsi terjadi di semua lini kehidupan. Bukan hanya bayi wanita yang dibunuh tetapi bayi laki-laki juga. Bahkan angka aborsi semakin meningkat. Itukah negeri aman, sejahtera, dan Islami? Itulah kebodohan yang nyata dan tidak dapat kita pungkiri keberadaannya di negeri-negeri Islam.

  

Taruhlah jika istilah yang dipakai Sayyid Quthb terlalu berlebihan. Namun, istilah apa pun tidaklah menggantikan nilai dan kandungan hukum yang berlaku. Jadi, segala yang dirasakan Sayyid dirasakan pula para penyeru perbaikan (ishlah) lainnya. Tuduhan bahwa beliau telah mengkafirkan kaum muslimin pada masanya tidaklah pernah ditemukan buktinya satu katapun dalam tulisan-tulisan dan karya-karyanya.

  

Memang, perlu diakui ada perbedaan yang amat jelas antara jahiliyah masyarakat Mekkah dahulu dan jahiliyah kaum muslimin sekarang. Dahulu penduduk Mekkah jelas-jelas penyembah berhala yang mengingkari ke Esa-an Allah SWT. Adapun saat ini, kaum muslimin telah bersyahadat La Ilaha Illallah Muhammadar Rasulullah. Kedua tidak dapat disamakan berhala baru, yaitu harta, tahta, dan wanita. Dengan kata lain, mereka menyembah hawa nafsu dan segala yang dapat dijadikan sesembahan selain Allah SWT. Itulah yang membuat Sayyid dianggap berlebihan, bahkan Yusuf Qaradhawy pun mengkritiknya. Syaikh Al-Albany—rahimahullah I love him so much, pernah memberikan kritik yang menawan terhadap istilah ‘jahiliyah’ yang dilontarkan Sayyid Quthb—rahimahullah.

  

“Tidak boleh menyebut secara mutlak (istilah jahiliyah, pen) pada masa sekarang ini atas semua abad, sebab padanya, alhamdulillah, ada segolongan yang baik yang senantiasa di atas petunjuk Nabi SAW dan di atas Sunnahnya, serta tetap dalam kondisi demikian hingga kiamat. Kemudian pada perkataan Sayyid Quthb—rahimahullah—di sebagian karangannya terdapat sesuatu, dimana orang yang membahasnya merasa bahwa dia ditimpa semangat yang berlebihan untuk Islam dalam penjelasannya kepada manusia. Dan mudah-mudahan udzurnya adalah karena beliau menulis dengan bahasa sastra. Maka pada sebagian masalah-masalah fiqih seperti pembicaraannya tentang hak para buruh. Di dalam bukunya “Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyah”, beliau menulis tentang tauhid dengan ungkapan-ungkapan yang seluruhnya keras, menghidupkan rasa kepercayaan kepada agama dan keimanan pada jiwa kaum mukminin. Maka beliau, ditinjau dari keadaan belakangan ini telah memperbaharui da’wah Islam ke hati para pemuda. Meskipun kami terkadang merasa bahwa dia mempunyai sebagian kata-kata yang menunjukkan bahwa waktu tidak menolongnya untuk menuliskan fikrah-fikrahnya di sebagian masalah-masalah yang dia tulis dalam pembahasannya atas yang dibicarakannya.” 2

  

Justru kami merasa heran dengan para penghujat yang menganggap Sayyid Quthb berbau Khawarij atau tukang mengkafirkan orang, padahal mereka sendiri telah berlaku demikian terhadap Sayyid Quthb. Itu Bukanlah isapan jempol, Tokoh mereka, Syaikh Hammad bin Muhammad Al-Anshari, berkata ketika mengomentari pemikiran Sayyid Quthb yang dianggapnya nyeleneh, “Jika orang yang berkata seperti itu (yakni Sayyid) masih hidup, ia harus dicela jika mau bertobat. Jika tidak, ia harus dibunuh karena murtad. Jika ia telah meninggal, harus dijelaskan bahwa perkataan semacam itu adalah perkataan bathil dan kita tidak perlu mengkafirkannya karena tidak mengetahui alasannya menyatakan demikian,”3

  

Bahkan, manhaj dakwah Ikhwanul Muslimun pun dikafirkan tokoh mereka, yaitu Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly—hafizahullah wa ghafarahullah. Ia berkata, “Sebenarnya dakwah Ikhwanul Muslimun didasarkan pada manhaj orang kafir Barat yang dibungkus dengan pakaian Islam.”4 Adapun Muqbil bin Hadi, ia pernah berkata, “Wahai Qaradhawy, Engkau telah kufur, atau mendekati kekufuran!”5 Jadi, sebenarnya siapa yang hobi mengkafirkan??? 🙄

  

Namun, satu hal yang jelas dan pasti, Sayyid tidak pernah berlaku seperti mereka. Justru, Sayyid Quthb berkata dalam “Zhilal” :

  

“Sesungguhnya, tugas kita bukan untuk menghukumi manusia: ini kafir, ini mukmin. Tugas kita adalah memperkenalkan hakikat La Ilaha Illa Allah karena manusia tidak mengetahui konsekuensi kalimat tersebut, yaitu menerapkan hukum Islam dalam seluruh dimensi kehidupan.”6

  

So 🙄 , Siapakah yang hobi mengkafirkan??? 🙄 :mrgreen:

  

Fakta realita yang terjadi, siapakah yang justru mendapat sebutan Jama’ah Takfiriyah wahai ikhwah?

  

Aku hanya bisa merenung “Siapa yang menanam, dialah yang menuai badainya, dan jangan salahkan kalau akhirnya jadi seperti ini. Ishlah adalah jalan terakhir wahai ikhwah, itupun kalau antum mau perduli….

  

Jadi teringat dengan salah satu bait Izzatul Islam :

  

“Siapa dituduh, siapa menuduh

Mulut lancang asal berbicara

Kami mujahid bukan perusuh

Tanah air kami akan tetap dibela”

  

*kira-kira bait pertamanya salah nggak ya? 🙄 udah agak-agak lupa soalnya 😆 Kalo antum mo nerusin, tafadhal akhi…. 😆 *

  

Footnote:

[1] Zaid bin Hadi bin Muhammad Al-Madkhaly, Terorisme dalam Tinjauan Islam, hlm. 66, 71 dan 121.

[2] As-Sunnah edisi 2/Thn III/1418-1997, hlm 68

[3] Rabi’ bin Hadi AlMadkhaly, Kekeliruan Sayyid Quthb

[4] Ibid, hlm 177

[5] Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al-Udaini Al-Yamani, Membongkar Kedok Al-Qaradhawy, hlm. 132

[6] Sabili no. 01 Th. X, 25 Juli 2002/14 Jumadil Awal 1423, hlm. 67

  Sumber : Farid Nu’man, Al-Ikhwan Al-Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, Pustaka Nauka, Cetakan II, Mei 2004-21343