Tak Disangsikan Lagi Jika Sayyid Quthb Seorang Mu’tazilah Sejati ???

  

Tuduhan itu muncul karena , Sayyid Quthb mengingkari suatu peristiwa besar dalam tafsirnya yaitu tentang melihat Allah SWT di surga (ru’yatullah). Bagi pembaca tafsirnya secara utuh di surat Yunus (26), pasti paham tuduhan itu hanyalah fitnah keji dan hanya menurut sangkaan mereka saja:

  

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan dan ziyadah (tambahan). (Qs. Yunus: 26)

  

Syaikh Jasim Al-Muhalhil menjelaskan bahwa menurut Sayyid Quthb, makna ziyadah pada ayat itu adalah nikmat Allah SWT yang tidak terbatas. Itulah tafsiran beliau yang dianggap berbau Mu’tazilah, sedangkan salafush shalih menafsirkannya dengan ‘melihat Allah’.

  

Satu hal yang ingin kami tegaskan, jika kita memiliki pandangan yang kebetulan sama dengan pandangan suatu kaum, tidak berarti kita menjadi bagian dari kaum tersebut atau pendukungnya. Bahkan, seandainya kesamaan pandangan itu bukan kebetulan alias sengaja, tidak berarti demikian juga. Banyak kalangan Ahlus Sunnah mengutip perkataan kalangan Mu’tazilah, seperti “Tafsir Az-Zamakhsary”1 karena dianggap perlu dan bermanfaat untuk menguatkan pendapat mereka. Itu pun tidak lantas menjadikan mereka sebagai pendukung Mu’tazilah.

  

Syaikh Al-Muhalhil pun menjelaskan sesungguhnya tafsiran Sayyid sejalan dengan Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Menurut Ibnu Katsir, ziyadah adalah pelipat pahala amal shalih dan meliputi seluruh nikmat yang Allah SWT berikan kepada mereka di surga. Lebih dari itu adalah melihat Allah SWT. Itulah ziyadah yang paling mulia dari semua nikmat yang Allah SWT berikan kepada mereka. Semua itu tidak dapat diperoleh hanya melalui amal shalih seseorang, melainkan karena fadhilah serta Rahmat dari Allah SWT. Begitu kata Ibnu Katsir, lalu beliau menyebutkan dalil-dalilnya.

  

Kita dapati Ibnu Katsir mengungkapkan sesuatu secara umum (‘am) dan rinci (mufashshal), sedangkan Sayyid Quthb secara umum (‘am) dengan menjelaskan makna ziyadah tidak terbatas. Adapun rinciannya beliau sebutkan di lembar lain dalam tafsirnya. Jelas hal itu menunjukkan tidak sejalan dengan Mu’tazilah. Allah SWT berfirman,

  

“Pada hari itu wajah-wajah bersinar melihat Tuhannya.” (Qs. Al-Qiyamah: 22-23)

  

Tentang ayat itu, beliau berkata, “Bagaimana dengan hal itu? Wajah-wajah itu tidak lagi melihat indahnya ciptaan Allah SWT, tetapi langsung merasakan luapan kebahagiaan dan kegembiraan itu. Dapat merasakan nikmat surga saja sudah merupakan nikmat yang sungguh besar dan tidak ada duanya, apalagi melihat wajah Allah SWT yang mulia.” Jelaslah ucapan Sayyid itu merupakan pemutus tuduhan orang-orang yang menuduhnya Mu’tazilah.

  

Sumber : Farid Nu’man, Al-Ikhwan Al-Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, Pustaka Nauka, Cetakan II, Mei 2004

  

Footnote:

 

  1. Ibnu Taimiyah memberikan peringatan agar berhati-hati terhadap Tafsir Az-Zamakhsary. Menurutnya, banyak pandangan bid’ah yang mendukung mazhab Mu’tazilah sedangkan Imam Az-zamakhsary amat fanatic dengan mazhabnya itu.
Iklan