Tak Diragukan Lagi Jika Ikhwan Memang Musuh Agama ???

  

Semakin dikupas dan dikuliti, sungguh manhaj Ikhwan penuh dengan keanehan dan kegelisahan. Aku sungguh menyesal, mengapa baru kutelaah sekarang, setelah sekian lama aku berada di dalamnya. Sungguh kekeliruan yang besar, ya sungguh kekeliruan yang besar. Berikut aku sajikan keanehan dan keunikan manhaj Ikhwan tersebut…..

 

Kepada para pencela Ikhwan, Yusuf Al-Qaradhawy—hafizhahullah—berkata,

  

“Dalam sejarah modern, tidak dikenal kelompok yang dizalimi dan didera tuduhan seperti yang dialami kelompok Ikhwan. Mereka dizalimi seperti kezaliman yang dialami Husein, cucu Nabi SAW. Hal yang mengherankan bagi pengamat perjalanan Ikhwan adalah mereka dituduh dengan tuduhan yang kontraduktif pada saat yang sama. Satu pihak menuduh dengan suatu tuduhan, sedangkan pihak lain menuduh dengan tuduhan kebalikan. Dengan sendirinya tuduhan-tuduhan itu menjadi lemah dan tidak memiliki makna.

  

Di sana terdapat kelompok yang menamakan dirinya kelompok progresif dan menuduh Al-Ikhwan sebagai gerakan reaksioner dan jumud, kembali ke belakang, dan konservatif. Bahkan, diantara penulis muslim pun ada yang memandang Ikhwan dengan sinis sebagai gerakan set back setelah masa Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh yang mempunyai kecenderungan konservatif dan kaku.

  

Pada saat yang bersamaan, ada segolongan pengikut paham agama yang melontarkan kecaman bahwa Ikhwan terlalu longgar dalam memahami agama dan mengikuti tuntutan zaman. Sebagian mereka mengecam karena Ikhwan membuka lebar-lebar pintu ijtihad1 dan keluar dari mengikuti mazhab serta memegang sebagian besar pendapat baru.

  

Di sana ada pula kelompok sufi yang memandang Ikhwan adalah penjelmaan paham Wahabi dan pengikut Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyin (Al-Imamain). Dengan kata lain, Ikhwan dipandang sebagai gerakan salafiyun yang menjadi musuh utama bagi tasawuf dan penganutnya.

  

Sementara itu, ada kelompok yang menamakan diri mereka salafiyun dan memandang Ikhwan sebagai kelompok thariqat sufi dan menggolongkannya sebagai kelompok Quburi (penyembah qubur, peny.). Hal itu, didasari bahwa Al-Banna tumbuh dalam suasana yang sarat nuansa sufi, di samping pandangannya bahwa tawassul masuk dalam persoalan khilafiyah—perbedaan pendapat dalam tata cara berdoa—dan bukan masalah akidah.”2

  

Terakhir beliau berkata, “Itulah perlakuan yang dialami umat poros tengah atau kelompok tengah dan pemikiran poros tengah yang senantiasa dicela dari dua sisi yang berlawanan: pihak yang keras dan pihak yang lunak”3

  

Tidakkah aku telah berbohong, sungguh tak diragukan lagi jika Ikhwan adalah musuh agama. Ya musuh agama para pencela yang memiliki kedengkian di dalam hatinya terhadap Ikhwan.…

  

Sungguh perkara yang penuh hikmah……

  

Footnote:

1.      Sebaliknya, kalangan salafiyun progresif menuduh Ikhwan menutup pintu ijtihad. Lihat Al-Furqan edisi 10/1 Jumadil Ula 1423H/hlm. 2, kol.2.

2.    Yusuf AL-Qaradhawy, 70 Tahun Al-Ikhwan Al-Muslimun, hlm. 205-206

3.    Ibid, hlm. 207

  Sumber : Farid Nu’man, Al-Ikhwan Al-Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, Pustaka Nauka, Cetakan II, Mei 2004 

Iklan