KouwE Ndableg Kalo Bilang Jama’ah Ikhwan Itu Jama’atul Muslimin?”

  

Diantara kritik yang dilontarkan orang yang memandang negative dan ingin memecahbelah ummat adalah bahwa Ikhwan telah mengklaim dirinya sebagai jama’atul muslimin. Kritik atau anggapan tersebut, katanya bersumber dari kitab-kitab Ikhwan sendiri, di antaranya kitab Musykilatu Da’wah wa Da’iyah, ad-Da’wah al-Islamiyah Faridhah Syar’iyah wa Dharurah Basyariyah, al-Madkhal, al-Jaulaat dan sebagainya.

 

Saya tak ingin berpanjang lebar menjelaskan masalah ini. Namun saya hanya akan memaparkan contoh paling ekstrim tentang masalah ini, sebagaimana yang disebutkan Ustadz Sa’id Hawwa. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin adalah jama’ah yang sempurna bagi ummat Islam.”

  

Ungkapan Sa’id Hawwa di atas, bila dibaca secara benar akan menyimpulkan bahwa Ikhwan adalah jama’ah yang sempurna karena kelengkapannya yang mencakup berbagai sector dalam ajaran Islam. Kesimpulan seperti ini disebabkan perbedaan pengertian antara kalimat yang berbentuk ma’rifah dan nakirah[1]. Ungkapan Sa’id Hawwa kata jama’ah adalah nakirah, sehingga artinya bahwa jama’ah Ikhwan merupakan jama’ah yang sempurna, tanpa menafikan adanya jama’ah lain yang juga sempurna selainnya.

  

Sisi pandang inilah yang dianut anggota harakah. Kalaulah mereka tidak memiliki pemahaman demikian, lalu apa yang melandasi keterlibatan mereka dalam harakah Ikhwan? Sebab logikanya, orang yang ingin bergabung dengan salah satu kelompok da’wah, tentu akan menilai terlebih dahulu factor kedekatannya dengan kebenaran.

  

Karena itu, dengan pemahaman seperti ini Ikhwan tidak apriori terhadap harakah Islam selainnya. Ikhwan tidak menyifatkan mereka dengan sebutan negative, apalagi menuduh orang-orang yang tidak termasuk jama’ah Ikhwan keluar dari jama’atul muslimin. Justru, sikap ini yang ternyata dilakukan sebagian orang yang mengklaim jama’ahnya sebagai firqah najiyah (kelompok yang selamat).

  

Imam Hasan al-Banna rahimahullah mengatakan, “Kita mentolerir mereka yang berselisih dengan kita pada sebagian masalah far’iyat. Kami memandang bahwa perselisihan selamanya tidak akan menjadi penghalang keterikatan hati, saling cinta dan ta’awun di atas kebaikan. Agar mereka seluruhnya dapat terhimpun dalam makna Islam yang luas dengan batasan yang paling utama dan paling luas.” Untuk penjelasan detail mengenai hakikat ini baca yang ini.

  

Pada kesempatan lain, beliau mengatakan, “Adapun orang-orang yang berburuk sangka kepada kami, hatinya diliputi keraguan terhadap da’wah kami, hanya memandang kami secara negative, hanya membicarakan kami dengan pembicaraan yang buruk dan menolak untuk berlepas diri dari sikap tersebut serta tetap tenggelam dalam kesombongan, hanyut dalam keraguan dan praduganya, kami berdo’a kepada Allah untuk kami dan mereka. Semoga Allah memperlihatkan kebenaran itu adalah benar dan menjadikan kami sebagai pengikutnya. Memperlihatkan yang bathil itu adalah bathil dan menjauhkan kami darinya. Semoga kami dan mereka memperoleh petunjuk Allah swt. Kami tetap menyeru mereka, bila mereka mau menerima seruan kami. Dan kami memohon kepada Allah dalam hal ini. Kami masih mengharapkan mereka.”

  

Perselisihan dalam masalah furu’ adalah masalah yang tak mungkin dihindari. Kita tidak mungkin bersatu dalam masalah furu’, pendapat dan madzhab disebabkan beberapa factor, antara lain:

  

1)      Perbedaan tingkat berpikir dalam kekuatan atau kelemahan beristinbat, mengetahui atau tidak mengetahui.

2)      Keluasan dan kesempitan ilmu serta sampainya dalil pada seseorang dan tidak sampai pada orang selainnya.

3)      Perbedaan bi’ah (lingkungan) sehingga penerapannyapun dapat berbeda di setiap bi’ah. Contoh realitanya Arab Saudi yang menggunakan system kerajaan dengan dinasti turun temurun, menjalankan syariat Islam, ulama-ulamanya bernaung dan mendapat dukungan penuh dibawah kekuasaan kerajaan, berbendera dengan bertuliskan kalimat Shahadat, dan terdapat dua tanah haram yang wajib untuk dihormati. Sementara Mesir menggunakan system republic, menerapkan demokrasi sebagai peninggalan penjajah Barat, ulamanya hanya sebagai penasehat tanpa dukungan penuh negara, berbendera tanpa symbol agama, dan tidak terdapat tanah haram kecuali sebuah universitas Islam al-Azhar. Melihat bi’ah (lingkungan)nya menerapkan al-Qur’an dan Sunnah secara saklek glek sementara masyarakatnya belum terkondisikan akan menimbulkan kemudharatan yang jauh lebih banyak dibandingkan manfaatnya. Untuk itulah dilakukan strategi dakwah salah satunya yang dilakukan sebagian kecil masyarakat di kedai-kedai kopi. Apalagi di Indonesia bro’, kurafatnya banyak, dukun, santet, klenik, dablegnya?…. podo wae…. Alhasil, gembar-gembor klaim sebagai satu-satunya thaifah al-manshurah atau firqatun an- najiyah, malah sebutan jama’ah takfiriyah yang lebih membahana. Karena apa bro’?…. Karena kita tidak mau perduli dengan point yang pertama di atas.

4)      Perbedaan kecenderungan hati pada satu riwayat. Ada seorang perawi yang dianggap tsiqah oleh fulan akan tetapi dianggap cacat oleh yang lain. Untuk yang ini, kalau bukan karena fanatic, pasti realita yang terjadi sekarang tidak akan hueboh gereboh. Contoh apa yang terjadi dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani—rahimahullah, seorang ulama hadits termasyhur pada zaman kita, khususnya mengenai takhrij, tausiq, dan tadh’if. Sekalipun ana lebih banyak menggunakan fatwa-fatwanya untuk ana implementasikan pribadi, tetap saja kita tidak bisa menutup mata bahwa no body’s perfect honey selain al-ma’shum Rasulullah.

  

Misalnya hadits “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kamu menyia-nyiakannya; dan Allah telah menentukan beberapa batas maka janganlah kamu melanggarnya; dan Allah telah mengharamkan sesuatu maka janganlah kamu merusaknya; dan Allah mendiamkan beberapa hal karena sayang kepadamu, bukan karena Dia lupa, maka janganlah kamu mencarinya.” Terhadap hadits ini, Syaikh al-Albani menilai status dha’if pada kitabnya Ghaayatul Maraam fi Takhriji Ahaadiitsi Al-Halal wal-Haram, meskipun Imam Nawawi meng-hasan-kannya dan memasukkannya dalam rangkaian hadits Arba’in an-Nawawiyah yang terkenal itu.

  

Atau hadits “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan.” Beliau men-takhrijnya Dho’if, padahal Imam Bukhari men-shahih-kannya.

  

Atau hadits “Barangsiapa diserahi jabatan menjadi hakim, maka sesungguhnya dia telah disembelih tanpa menggunakan pisau.” Hadits ini di-shahih-kan oleh al-Hakim dan disetujui pen-shahih-annya oleh Imam adz-Dzahabi (4:233). Juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya nomor 6551, dan diriwayatkan dengan redaksi yang lebih singkat lagi pada nomor 6550. Dalam hal ini Syaikh Syakir berkata, “Isnadnya shahih.” Tetapi Syaikh al-Albani melemahkan status hadits di atas dalam takhrij-nya pada kitabnya Ghaayatul Maraam fi Takhriji Ahaadiitsi Al-Halal wal-Haram, kemudian anehnya, setelah itu beliau menilainya hasan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, juz 1, hadits nomor 1084.

  

Ikhwani fillah, janganlah memandang penjelasan ana ini sebagai bentuk pendiskreditan terhadap beliau. Ana hanyalah ingin menjelaskan realita yang sebenarnya terjadi. Kalaulah antum merasa tenang dengan fatwa-fatwa beliau—dan sungguh anapun merasa lebih tenang dan yakin dengan pendapatnya, janganlah kita mengkultuskannya kemudian menafikan bahkan menghujat ulama yang lain karena tidak sependapat dengan beliau.

  

Contoh di atas adalah realita bahwa demikian cepatnya perubahan ijtihad beliau dalam men-shahih-kan dan melemahkan suatu hadits, misalnya ada beberapa hadits yang dipindahkan tempatnya antara kedua kitab tersebut (dari shahih ke dha’if dan sebaliknya) yang menyebabkan perbedaan antara cetakan pertama dan kedua kitab Shahih al-Jami’ish Shaghir wa Ziayaadatihi dan Dha’if al-Jami’ish Shaghir wa Ziyaadatihi. Dan kenyataan ini tidak disangkal oleh Syaikh al-Albani sendiri. Beliau bahkan menyadarinya dan berterima kasih, karena beliau akan kembali kepada kebenaran apabila memang harus demikian. Sungguh seperti beliau (salafus shalih) inilah seharusnya kita bersikap. Untuk lebih jelasnya antum bisa baca yang ini. 

  

Karena factor-faktor diatas ini, seorang da’i hendaknya dapat mentolerir orang yang berselisih pendapat dengannya dalam masalah furu’furu’ loch ya, bukan furu’ yang dipaksakan menjadi ushul atau sebaliknya. Ia hendaknya berprinsip bahwa perselisihan tersebut selamanya takkan menjadi penghalang bagi ikatan hati, saling mencinta dan saling tolong menolong atas kebaikan. Agar ummat manusia seluruhnya dapat terhimpun dalam makna Islam yang luas dengan batasan yang paling utama.

  

Para sahabat Rasulullah saw. pernah berselisih dalam masalah fatwa. Tapi apakah hal itu memunculkan perpecahan hati di antara mereka? Apakah persatuan mereka tercabik-cabik oleh perselisihan? Tidak sama sekali. Contoh paling dekat dalam hal ini adalah hadits shalat ashar di Bani Quraizhah[2]. Dan sayangnya ana juga pernah membaca bantahan atas contoh tentang shalat ashar di Bani Quraizhah ini pada salah satu site yang katanya pengikut salaf juga. Wallahu musta’an.

  

Footnote:

[1] Lafadz “Jama’ah” yang disebutkan dalam kitab “Ahadits Jama’ah al-Muslimun” ditulis dengan awalan huruf alim dan lam yang menjadikan sebagai bentuk ma’rifah. Dalam Jama’ah pernah terjadi pengeluaran wakil Jama’ah dan sejumlah anggota majlis asy-Syuro di masa Imam al-Banna. Tidak ada seorangpun dari mereka yang dianggap melakukan sesuatu yang menyebabkannya keluar dari millah. Apakah dengan mereka keluar dari Jama’ah berarti keluar dari millah? Tidak seorangpun yang mengatakan hal terebut.

 [2] Majmu’atu ar-Rasa’il, Hasan al-Banna, Mu’assasah ar-Risalah, hal. 128.