Beginikah Akhlak Thalibul Ilmi Mu’addib ?

  

Mereka adalah para pemuda yang memiliki ghirah Islamiyah yang patut dihargai. Akan tetapi amat disayangkan, hal itu tidak diimbangi dengan keindahan akhlak dan kecakapan sikap, khususnya terhadap ulama. Tidak sedikit para ulama yang kena “semprot” oleh mulut usil mereka. Entah apa yang mereka dapatkan dari majelis-majelis yang mereka hadiri atau memang itu yang diajarkan kepada mereka?

 

Ketika ikut dalam kuliah (muhadharah), mereka seperti detektif yang sedang mencari kelemahan musuh. Jika mereka dapatkan kebaikan dari sang khatib, mereka berkata, “Aku telah mengetahuinya, bahkan lebih tahu,” sedangkan jika mereka temui ada kekeliruan dari sang khatib walau tidak disengaja, mereka akan menyambut dengan wajah berseri-seri sebagai tanda bagi mereka untuk menampilkan diri sebagai seorang yang mengerti hadits dan atsar. Mereka datangi khatib, bukan untuk mencari ilmu atau manfaat, melainkan ‘menasehati’-nya dan merendahkan kedudukannya, “Wahai Syaikh, hadits yang Anda sebutkan tadi dhaif menurut Imam Fulan. Adapun atsar yang Anda sebutkan tidak kami dapatkan dalam kitab para salaf. Satu lagi, Anda memendekkan jenggot! Itu haram!” Setelah itu, mereka kembali dengan langkah penuh kemenangan karena telah menegakkan hujjah (iqamatul hujjah) dan menampilkan diri menjadi seorang yang berilmu dan mampu membungkam orang lain. Sayangnya, ketika mendengar kuliah dari pembesar mereka sendiri, mereka diam tidak berkutik seperti wayang yang dikendalikan dalangnya. Itukah akhlak thalibul ilmi mu’addib ?

  

Pernah suatu siang kami kedatangan kawan dekat di mushala kampus. Katanya ia telah lama ikut kajian Islam ilmiah dari pengajar-pengajar yang telah direkomendasikan para ulama mu’tabar Timur Tengah. Tiba-tiba, ia mengatakan bom HAMAS adalah bunuh diri murni atau dakwah melalui nasyid atau kisah seperti di dalam majalah Annida dan teater adalah menyerupai syiar orang-orang kafir. Begitulah menurut qaul (pendapat) ulama mereka.

  

Sambil berseloroh, kami bertanya kepadanya tentang biografi Imam Asy-Syaukani. Ternyata jawabannya membuat kami tertawa kecil. Ia menjawab dengan enteng tanpa merasa salah, “Cukup antum baca kitab “Tahzibut Tahzib”. Di situ lengkap biografi para Imam.” Kami tidak bermaksud merendahkannya. Kami hanya menyayangkan sikapnya yang tidak mau mengakui kebodohannya. Malaikat saja tidak malu mengakui ketidaktahuannya dengan mengatakan, ”Mahasuci Engkau! Tidaklah kami mengetahui kecuali ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami.”

  

Ketahuilah, kitab “Tahzibut Tahzib” berisi biografi para rawi hadits beserta penilaian (jarh wa ta’dil) para ulama terhadap mereka. Kitab itu disusun Imam Hajar Al-Asqalany, seorang ahli fiqih, sejarah, dan dijuluki Amirul Mu’minin fil Hadits (Pemimpin bagi orang mukmin dalam ilmu hadits) pada masanya. Ia menjadi qadhi di Mesir dengan mazhab Syafi’i. ia lahir tahun 773 H dan wafat 852 H. Adapun Imam Asy-Syaukani adalah seorang ahli fiqih bermazhab Zaidi (mazhab fiqih dari syi’ah yang agak mirip dengan Ahlus Sunnah ). Dialah pengarang “Nailul Authar”, kitab fiqih yang merupakan syarah kitab “Muntaqa Al-Akhbar fi Ahadits Syyidil Akhyar” karya Ibnu Taimiyah Al-Jad (kakek Ibnu Taimiyah). Imam Asy-Syaukani lahir tahun 1172 H dan wafat pada 1225 H.

  

Seperti Anda lihat, Imam Ibnu Hajar lahir kira-kira empat abad (400 tahun) sebelum Imam Asy-Syaukani. Itu berarti mustahil Imam Asy-Syaukani yang baru lahir empat abad kemudian! Itulah barangkali sikap sok pintar yang membuat jengkel Syaikh Muhammad Al-Ghazaly terhadap para pemuda yang pernah ia temui. Allah SWT menjadi saksi atas peristiwa yang kami alami.

  

Sumber : Al-Ikhwan Al-Muslimun, Anugerah Allah Yang Terdzalimi, Farid Nu’man, edisi lengkap, hlm. 273-275, Cetakan II, Mei 2004.

  

Tambahan : seperti itulah sikap orang-orang yang ghuluw terhadap agamanya, yang hanya mementingkan penampilan luar tanpa mau perduli dengan hakikat yang ada dibaliknya. Sangat jelas tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang saya singgung dalam article berjudul “Pandanganku Terhadap Kesesatan Ibnu Taimiyah”.

  

# # #

Iklan