Pantaskah Jika aku Sakit Hati Lalu Membenci Mantan Presidenku Haji Muhammad Soeharto ???

  

Entah mengapa saat ku lihat sosok tua renta yang bersahaja tersebut terkulai, jiwa melankolisku merobek jati diri. Apakah mungkin karena posisi tempat tinggalku yang dekat dengan RSPP sehingga suasana kesedihan itu begitu terasa, atau karena hal lain yang akupun tidak dapat menjawabnya sendiri.

  

Judul di atas adalah sebuah pertanyaan yang muncul saat kulihat nasib yang dialami mantan presiden Suharto di usia senjanya. Sebuah pertanyaan yang mungkin bisa diambil hikmahnya, khususnya buat diriku pribadi.

  

Terlepas dengan berbagai kekurangan, kesalahan dan kelemahannya. Kita harus meyakini bahwa tidak ada manusia yang sempurna selain al-ma’shum Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wasalam. Hal yang terbaik menurut aku adalah melihat kebaikan seseorang dan mengikhlaskan kekurangannya kepada Allah Tabaraka wata’ala. Karena mungkin saja kemanfaatan yang dihasilkan olehnya jauh lebih banyak dibandingkan diri kita. Sementara apa yang diniatkan dalam hatinya, bukanlah hak kita untuk mengetahuinya.

  

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin patut direnungkan :

  

[1] Apakah aku pantas sakit hati dan membencinya, padahal aku tidak ada hubungannya dengan korban pembantaian Tragedi Tanjung Priok. Kalaulah aku adalah keluarga, kerabat atau sahabat dari mereka, mungkin aku pantas, tapi sayangnya, segala sesuatu sudah menjadi ketetapan Allah yang harus kita ridhai.

  

[2] Apakah aku pantas sakit hati dan membencinya, padahal aku tidak ada hubungannya dengan orang-orang yang dihukum, dideportasi atau apapun karena diduga terlibat Partai Komunis Indonesia. Kalaulah aku adalah keluarga, kerabat atau sahabat dari mereka, mungkin aku pantas, tapi sayangnya, segala sesuatu sudah menjadi ketetapan Allah yang harus kita ridhai.

  

[3] Apakah aku pantas sakit hati dan membencinya, padahal aku tidak ada hubungannya dengan keluarga besar Mantan Presiden Sukarno. Kalaulah aku adalah keluarga, kerabat atau sahabat dari mereka, mungkin aku pantas, tapi sayangnya, segala sesuatu sudah menjadi ketetapan Allah yang harus kita ridhai.

  

[4] Apakah aku pantas sakit hati dan membencinya, padahal aku tidak ada hubungannya dengan korban Semanggi I dan II. Kalaulah aku adalah keluarga, kerabat atau sahabat dari mereka, mungkin aku pantas, tapi sayangnya, segala sesuatu sudah menjadi ketetapan Allah yang harus kita ridhai.

  

[5] Apakah aku pantas sakit hati dan membencinya, padahal aku tidak pernah dipecat dari jabatan yang telah diamanahkan dalam pemerintahannya. Kalaulah aku adalah keluarga, kerabat atau sahabat dari mereka, mungkin aku pantas, tapi sayangnya, segala sesuatu sudah menjadi ketetapan Allah yang harus kita ridhai.

  

[6] Apakah aku pantas sakit hati dan membencinya, padahal aku tidak pernah bertemu langsung dengannya. Kalaulah mungkin aku pernah bertemu dan disakiti olehnya, mungkin aku pantas, tapi sayangnya, segala sesuatu sudah menjadi ketetapan Allah yang harus kita ridhai.

  قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءاً أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ اللَّهِ وَلِيّاً وَلَا نَصِيراً

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (Qs. Al-Ahzab: 17)

  

Seperti halnya orang-orang sekarang yang membenci, mentahdzir, mencela, memfitnah para ulama-ulama yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita. Kalaulah koreksi itu dilakukan dengan sopan dan dalam rangka mengajak umat untuk menjauhinya, mungkin tidaklah mengapa. Tapi lihatlah, kejahilan dan rasa fanatic telah membutakan hati kita untuk bersikap ghuluw dalam menghina mereka. Kabaikan yang kita harapkan justru keburukanlah yang menimpa kita semua. Padahal kita telah tahu, usaha apapun yang kita lakukan, kekuasaan Allah tetaplah tidak akan berkurang. Hanya kepada-Nyalah segala sesuatu dikembalikan dan dipertanggungjawabkan.

  

Kalaulah kita yakin, bahwa mereka bersalah, jikalau pengadilan dunia tidak mampu melakukan keadilannya, maka yakinlah, bahwa di akhirat kelak ada pengadilan yang sangat adil yang tidak akan ada seorangpun dirugikan.

  وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلاَ تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوداً إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاء وَلاَ أَصْغَرَ مِن ذَلِكَ وَلا أَكْبَرَ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur`an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Qs. Yunus: 61)

  

Terlepas dari apapun, sepatutnya kita melihat dan mengambil kebaikan, kebenaran serta manfaat yang mereka anugerahkan. Sementara mengenai keburukan ataupun kekurangan hanya kepada Allahlah kita serahkan. Menurutku mereka tetaplah yang terbaik dibandingkan yang lain.

  Selamat Jalan Presiden Terbaikku, semoga Allah menerima segala amal yang telah dilakukan untuk bangsa ini….

Iklan