Maaf, Karena Kami Memang Bersikap Tidak Jujur Terhadap Diri Sendiri

  

Oleh Al-Ustadz Arifin Baderi, MA

  

Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :Artinya : Tidaklah salah seorang dari kalian dikatakan telah beriman, sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. (HR. Bukhori dan Muslimah). Hadits ini merupakan barometer keimanan setiap muslim, dan merupakan pedoman dan prinsip yang seharusnya dipegangi oleh setiap muslim dalam bergaul dan bermasyarakat, yaitu : sebelum kita mengucapkan perkataan atau bersikap kepada saudara kita, hendaknya kita selalu bertanya kepada hati nurani kita sendiri apakah saya suka bila diperlakukan dengan perlakuan yang akan saya lakukan ini?” Bila jawabannya adalah “Ya, saya suka”, maka silahkan untuk dilakukan, dan bila ternyata jawabannya adalah “Tidak”, maka jangan lakukan hal tersebut. Betapa indahnya pedoman dan prinsip yang beliau ajarkan kepada ummatnya.

 

Seandainya para da’i, dan ustadz yang ada di negri kita, -terutama mereka yang mengaku bermanhaj salaf-mengamalkan prinsip ini, saya yakin, banyak permasalahan yang akan hilang dan sirna dengan sendirinya. Akan tetapi kenyataan yang ada sangatlah jauh dari apa yang diharapkan.

  

Sebagai contoh : Yayasan “AL HARAMAIN”  yang ada dikota Riyadh, dalam beberapa periode memberikan sumbangan kepada setiap mahasiswa yang lulus dari Al Jami’ah Al Islamiyyah  di Madinah –tanpa terkecuali-, sumbangan berupa uang. Dan hal ini berjalan beberapa tahun silam, dimulai pada kelulusan periode 1420-1421, dan beberapa periode selanjutnya. Besarnya sumbangan tersebut dari tahun ke tahun, berbeda-beda, kadang 1000 reyal, dan kadang 500 reyal.

  

Nah…Sekarang saya yakin, para pembaca pasti langsung bertanya, dan berkata, kalo demikian… alumni jami’ah yang sekarang sudah malang melintang berdakwah, menyerukan kepada manhaj salaf, dan mentahdzir setiap orang yang ada hubungan dengan Yayasan Al-Haramain, juga menerima sumbangan tersebut ???!! Maka jawaban pertanyaan ini –dan saya tahu sendiri- adalah  : “Ya, mereka menerima itu semua dengan kedua tangan terbuka, dan tanpa sedikit ada keragu-raguan”.

  

Pada beberapa tahun silam, ada dua orang alumni jami’ah –yang sekarang ini dengan lantang mentahdzir setiap orang yang menerima sumbangan dari yayasan Al Haramain- setelah menerima sumbangan sebesar: 1.000,- Reyal, mereka ditanya oleh salah seorang kawan : Kenapa kok mau menerima sumbangan tersebut, bukankah itu dari Al Haramain?, keduanya dengan sangat lugu berkata : “Lho…kami tidak tahu kalo itu dari Al Haramain”.

  

Tentu kita tidak akan begitu mudah percaya, karena sumbangan macam ini sudah berjalan beberapa periode sebelumnya. Dan yang mengherankan pula, setelah keduanya tahu, bahwa sumbangan itu berasal dari Al Haramain, keduanya tetap dengan erat-erat mengantongi sumbangan tersebut, dengan harapan jangan sampai ada satu reyal-pun yang jatuh dari sakunya.

  

Contoh lain : Pada 9 tahun silam, mahasiswa salafy Indonesia di Al Jami’ah Al Islamiyyah , mengukirkan sebuah sejarah baru dalam hal pengiriman kitab ke negara mereka Indonesia, yaitu dengan dikirimkan secara kolektif dengan menggunakan kontainer (ini adalah awal pengiriman kitab dengan cara ini di Al Jami’ah Al Islamiyyah ). Pengiriman tersebut didanai oleh Yayasan IHYA `UT TUROTS yang bermarkaskan di negara Kuwait.

  

Pada kesempatan ini saya ingin bertanya kepada para alumni Al Jami’ah Al Islamiyyah  yang telah malang melintang di medan dakwah, dan mentahdzir setiap orang yang ada hubungan dengan Yayasan Al Haramain dan Yayasan Ihya `ut Turots : “Kenapa, masing-masing antum tidak mentahdzir diri antum; karena telah menerima sumbangan dari Al Haramain dan Ihya’ut Turots ?? Apakah Al Haramain & Ihya’ at-Turots menjadi yayasan salafy, bila yang menerima sumbangan adalah antum sendiri, dan menjadi yayasan kholafy / surury, bila yang menerima adalah anak-anak yatim, atau orang selain antum??!. Ataukah barometer salafy antum yang berwarna-warni?”

  

Contoh lain : Tatkala hangat permasalahan jihad di pulau Maluku, ada salah seorang ustadz besar yang memberanikan diri melayangkan surat untuk bertanya akan hukum hal ini kepada Syekh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dan tatkala jawaban beliau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka fatwa syekh tersebut, lenyap entah kemana…., Saya tidak tahu, apakah fatwa tersebut telah ditelan bumi, atau ditelan ambisi.

  

Oleh karena itu –menurut hemat saya- menumbuhkan rasa malu pada diri sendiri adalah penting perannya dalam kehidupan seorang muslim. Diriwayatkan dari sahabat An Nawwas bin Sam’an, beliau berkata:Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam tentang Al Bir (perbuatan baik) dan Al Itsm (perbuatan dosa), maka beliau bersabda:”Al Birru adalah akhlaq / budi pekerti yang baik, dan Al Itsmu adalah segala yang engkau merasakan adanya kejanggalan dan keragu-raguan dalam dadamu (hatimu), dan engkau merasa tidak suka bila diketahui oleh orang lain. (HR. Muslim)

  

Oh, betapa malunya kami, karena kami termasuk orang-orang yang hanya melihat keburukan orang lain yang besarnya mungkin hanya seperti lalat buah padahal di hidung kami berdiri seekor gajah Thailand yang sedang mengandung 3 ekor bayi.

  

Betapa kami sadari, ternyata ilmu-ilmu itu tidak berguna sama sekali bagi kami, dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang shahih yang telah kami kuasai, tidak ada satupun yang menghujam dalam sanubari kami, mereka hanya melesat melewati tenggorokan kami tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Karena kami hanya sibuk dengan mentahdzir, jarh, mengkafirkan, mensesatkan dan mengkafirkan orang lain terlebih mereka adalah ulama yang diakui oleh masyarakat luas, sekalipun kami pribadi tidak mengakuinya….

  

Syaikh Al-Qaradhawy mengatakan, ”Seorang mukmin—seperti kata salaf—lebih keras mengadili diri sendiri daripada mengadili penguasa yang zalim atau teman yang bakhil. Ia senantiasa menuduh dirinya sendiri. Tidak memberikan toleransi kepada dirinya dan mencari-cari alasan atas kesalahannya. Ia senantiasa dihantui rasa kurang dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menunaikan hak hamba-Nya. Ia mengamalkan kebaikan dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan seraya berkata, ’Aku takut Allah tidak menerimanya karena Ia hanya menerima amalan orang-orang yang bertakwa. Adakah diriku termasuk salah seorang di antara mereka? Di samping itu, ia senantiasa mencari alasan untuk menutupi kesalahan makhluk Allah, terutama para saudaranya dan orang-orang yang berjuang bersama-sama membela agama Allah. Ia mengatakan—seperti para salaf, ’Aku mencari alasan bagi kesalahan saudaraku sampai tujuh puluh alasan, kemudian baru aku. Barangkali ia punya alasan lain yang tidak aku ketahui.”17162

?? 🙄 ??

Iklan