Sadarilah Kalau Kita Memang Terlalu Bersikap Kaku Dan Beku Dalam Menerapkan Fatwa Dan Penjelasan Para Ulama 

Oleh Al-Ustadz Arifin Baderi, MA

  

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa Al Qur’an dan As Sunnah tidak mungkin bisa dipahami dan kemudian diamalkan, kecuali dengan perantara penjelasan dan penafsiran para ulama’. Merekalah yang mampu menghukumi setiap kejadian dan permasalahan sesuai dengan yang telah digariskan dalam Al Quran dan As Sunnah.

  

Oleh karena itu, seorang ulama membutuhkan kepada dua jenis pemahaman, agar fatwa dan hukum yang ia berikan benar-benar sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah, yaitu :

  

1.    Pemahaman yang benar terhadap Al Quran dan As Sunnah, sesuai dengan pemahaman salafush sholih.

  

2.    Pemahaman yang benar dan sempurna terhadap kasus dan permasalahan yang hendak ia hukumi

  

Bila seorang ulama telah memiliki kedua jenis pemahaman tersebut, maka -Insya Allah- fatwa dan hukum yang ia berikan akan benar, akan tetapi, bila salah satu dari keduanya tidak ia miliki, atau terjadi kesalahpahaman padanya, niscaya ia tidak akan bisa berfatwa dengan baik dan benar.

  

Ibnul Qoyyim pernah menggambarkan bahayanya seorang yang tidak memiliki pemahaman jenis kedua, sehingga ia hanya kaku dan beku dengan apa yang pernah ia dapatkan dalam kitab semata, beliau gambarkan kerusakan yang akan ditimbulkan oleh orang semacam ini, bagaikan seorang yang tidak paham ilmu kedokteran, kemudian mengaku-aku menjadi seorang dokter. Sehingga jatuhlah korban karenanya. Bahkan menurut beliau, bahaya seorang yang beku dan kaku dengan apa yang ia dapatkan di kitab, tanpa paham terhadap realita yang ada pada zamannya., adalah lebih besar dibanding dokter gadungan tersebut, karena kesalahan yang ia timbulkan ada hubungannya dengan nasib manusia di akhirat.

  

Pada kesempatan kali ini, saya juga ingin mengingatkan kepada para da’i, dan asatidzah, agar extra hati-hati bila hendak menerapkan sebuah fatwa atau sebuah hukum, tolong dipikirkan masak-masak, apakah keadaan masyarakat kita sesuai dan sudah sepantasnya untuk diterapkan fatwa tersebut ?

  

Sebagai contoh nyata ; Ada dari kalangan ulama’ salaf yang menegaskan: bahwa lebih baik bertetangga dengan kera dan babi, dibanding bertetangga atau duduk dengan dengan ahlul bid’ah. Seharusnya sebelum kita menerapkan hal ini, kita harus pikirkan, apakah masyarakat kita sama dengan masyarakat ulama tersebut, masyarakat yang mayoritasnya memahami manhaj salaf?

  

Contoh lain : Para ulama telah sepakat, bahwa : Barangsiapa yang menyatakan Al quran adalah makhluk, maka ia kafir. Nah…apakah setiap orang yang kita temui dan ternyata mengatakan perkataan tersebut, langsung kita hukumi sebagai orang kafir??

  

Imam Ahmad, beliau langsung menghadapi fitnah tentang hal ini, tatkala mengetahui bahwa Al Makmum (kholifah pada masa beliau) telah mengatakan bahwa Al Quran adalah makhluq, bahkan sampai memaksa orang-orang yang ada pada zamannya untuk mengatakan perkataan ini, akan tetapi Imam Ahmad tidak mengkafirkannya. Yang lebih mengherankan lagi Imam Ahmad malah berkata : “Seandainya aku mengetahui bahwa aku memiliki do’a yang mustajabah (dikabulkan), pasti akan aku gunakan untuk mendoakan pemimpin kaum muslilmin (kholifah)”.

  

Contoh lain : Beberapa bulan yang lalu, Syekh Muhammad bin Hadi Al Madkholi, berkenan untuk memberikan tausiyyah (ceramah) via telpon kepada asatidzah di Indonesia. Pada hari dan waktu yang telah disepakati, beliau menyampaikan tausiyyahnya, dan setelah selesai, maka beliau memperkenankan untuk dibacakan beberapa pertanyaan yang sebelumnya telah mereka siapkan. Diantara pertanyaan yang dibacakan adalah berhubungan dengan hukum mengajar ditempat ahlil bid’ah, maka beliau berfatwa : “Tidak boleh mengajar ditempat ahlil bid’ah”, tentunya dengan berbagai alasan dan dalil yang beliau utarakan.

  

Setelah acara tersebut selesai, fatwa tersebut langsung diterapkan oleh beberapa gelintir ustadz, yaitu dengan menunjukkan kepada salah seorang ustadz yang mengajar di pesantren As Salam Solo-Jateng, dan tatkala ustadz tersebut tidak menuruti apa yang mereka inginkan, mulailah mereka mengeluarkan senjata pemungkas, yaitu tahdzir dan hajr, bahkan bukan hanya itu saja, ustadz tersebut juga diwajibkan untuk membubarkan TK dan SDIT yang ia bina, dengan alasan yang sangat tidak ilmiyyah.

  

Tatkala saya berjumpa dengan Syekh Muhammad bin Hadi Al Madkholi, dan saya sampaikan perilaku mereka, beliau langsung murka, dan mengatakan : bahwa penjelasan saya tersebut, adalah hukum yang bersifat umum, tidak boleh langsung diterapkan kepada setiap orang. Karena menerapkan hukum kepada orang-orang tertentu, memiliki tahapan dan tatacara tersendiri. Terlebih dari itu semua, kita harus mempertimbangkan maslahat dan mafsadah yang akan terjadi dari sikap kita kepada ustadz tersebut.

  

Apalagi, setelah beliau mendengar perpecahan antar asatidzah yang terjadi akhir-akhir ini, beliau semakin murka, dan berkata : Semoga Allah tidak memasrahkan tugas dakwah ini kepada orang-orang semacam mereka.

  

Sikap ini –sebagaimana kita ketahui bersama- telah menjadi kebiasaan, bila ada salah seorang ustadz yang tidak suka dengan ustadz lain, maka ustadz pertama tadi akan mencari dukungan untuk menghantam ustadz kedua tersebut, yaitu dengan cara menelpon salah seorang syekh, kemudian ditanyakan kepadanya hukum suatu permasalahan, sehingga syekh tersebut memberikan jawaban yang bersifat umum (muthlaq), sebagaimana terjadi pada kisah yang lalu. Dan setelah ia mendapatkan jawaban yang ia inginkan, ia langsung menjadikannya sebagai senjata untuk menyerang ustadz yang tidak ia sukai, dan demikianlah selanjutnya.

  

Oleh karena itu para ulama telah meletakkan sebuah qaidah yang berhubungan dengan hal penerapan hukum pada orang tertentu, atau kasus tertentu, yaitu “Tidak dipungkiri terjadinya perubahan hukum syar’i, sesuai dengan perubahan adat atau keadaan pada orang tersebut”.

  

Oleh karena itu, marilah kita benar-benar mencontoh ulama salaf dalam berilmu, berfatwa, dan berperilaku, dan jangan sampai kita besar kepala, bak katak dalam tempurung.

  

– – ? ? ? – –

 Imam Izzuddin bin Abdus Salam berkata, “Termasuk keanehan jika salah seorang dari fuqaha’ muqallidin tidak berani menolak dalil-dalil lemah yang dipakai Imamnya. Ia terus saja mengikutinya dan meninggalkan orang yang berdalil dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah atau qiyas yang shahih lantaran jumud mengikuti imamnya. Bahkan, ia mencari-cari dalil untuk menolak ayat al-Qur’an dan as-Sunnah serta menakwilkannya dengan takwil yang jauh dan bathil demi sang Imam”  

Imam Abu Syamah—murid Imam Izzuddin bin Abdussalam—berkata, “Bagi orang yang menekuni fikih, ia tidak boleh membatasi diri pada mazhab seorang Imam. Selain itu, ia harus meyakini setiap masalah dan kebenaran setiap pendapat yang paling mendekati dilalah (penunjukan) Al-Qur’an dan As-Sunnah yang muhkamah (jelas). Hal itu dapat dengan mudah diketahui setiap orang yang menguasai ilmu-ilmu klasik. Hendaknya ia menjauhi sikap fanatik dan perselisihan seperti yang ditunjukkan para ulama metaakhirin (belakangan) karena hanya membawa pada kesia-siaan dan mengeruhkan kejernihannya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa beliau melarang ber-taqlid kepadanya atau kepada orang selainnya.” [Hukum Zakat, Yusuf Al-Qaradhawy hlm. 192-193]

  

Sesungguhnya, manusia yang bersusah payah mempertahankan pendapatnya secara fanatik—padahal tahu pendapatnya tidak argumentatif—berarti ia menyembah hawa nafsu. Itu adalah muhlikat (penghancur) bagi dirinya.

Syaikh al-Qaradhawy mengatakan, “Orang-orang seperti itu tidak ubahnya seperti orang yang hidup sendirian di rumah cermin. Kemana pun pergi, ia tidak melihat kecuali dirinya. Demikian itu keadaan orang fanatik. Kendari ada banyak pendapat dan pandangan (manusia), ia tidak dapat melihat kecuali pendapatnya sendiri. Pandangannya tertutup. Ia tidak dapat membuka akalnya untuk menerima pendapat orang lain. Ia mengira dirinya yang paling pintar, paling luas ilmunya, paling kuat dalilnya, dan paling segalanya. Padahal, kenyataannya bertolak belakang.” [Yusuf Al-Qaradhawy, Fiqhul Ikhtilaf, hlm. 190]

¨©¨

 Sumber : http://dear.to/abusalma/

Iklan