Masalah Bid’ah Bagi Ikhwanul Muslimin

  

Pernah mendengar atau membaca tuduhan bahwa orang-orang IM itu ahlul bid’ah atau telah terjerumus ke dalam bid’ah?

Mendengar ini, membuat aku tersenyum bangga. Loch…loch..loch…Kok dibilang ahlul bid’ah malah tersenyum bangga? 🙄 

Ceritanya gini, ada sebagian temen-temenku di sebuah tempat di wilayah Jakarta Selatan, sangat anti dengan yang namanya tahlilan, maulidan dan sebagainya. Sebagian lagi tidak pernah mau melakukan Qunut subuh. Sehingga oleh sebagian masyarakat di wilayah itu kita disebut WAHABI. Karena tak digubris atau ditanggapai oleh temen-temenku, mungkin masyarakat yang hatinya dengki malah jadi sewot. Terakhir temen-temenku [kalau boleh ku bilang mereka yang ektrim dalam menjalankan agamanya mungkin karena belum belajar fiqhul waqi’] malah disebut YAHUDI.  

Sorenya, saat sedang diperjalanan, aku melihat spanduk yang bertuliskan ”KALAU MAU TAHLIL DAN DO’A KUBUR AMAN, PILIH [–sensor nama calon gubernur–]”  

Aku Cuma menyunggingkan senyum simpul dan mengerenyitkan alis sebelah kiri setelah membaca tulisan spanduk tersebut. 🙄 

Dilain pihak, ada orang-orang yang katanya pengikut salaf dan PEDE mahzabnya WAHABI yang aku yakini sich punya sifat dengki juga, justru menyebut IM ahlul bid’ah? Buktinya teramat banyak article dan bahasan seputar ini di website-website mereka. Dan tidak perlu aku sebutkan, coba surfing aja dech. Alasannya memang masuk akal, tapi setelah diteliti dengan tenang, ternyata hanya prasangka-prasangka atau paling tidak furu’iyah lagi-furu’iyah lagi… 😕 

Inilah yang membuat aku tersenyum bangga.  😆

Loch Kenapa? 🙄 

Karena aku nggak perlu menjawab tuduhan mereka,

Masing-masing pihak [yang iri tersebut] telah dibantah oleh pihak lain yang berseberangan.

Dan itu bukan dari aku. Lucu khan? 😆

Berikut keterangan singkat mengenai bid’ah menurut IM….

Dalam prinsip ke-sebelas, Syaikh Hasan al-Banna rahimahullah mengatakan:

  

“Semua bid’ah dalam agama Allah yang tidak mempunyai landasan, tapi hanya dianggap baik oleh manusia dengan hawa nafsunya mereka, baik dalam hal menambah atau mengurangi ajaran Islam, adalah sesat yang wajib diperangi dan dilenyapkan dengan cara yang paling baik serta tidak justeru menimbulkan keburukan yang lebih besar dari sebelumnya.”

Perang terhadap bid’ah telah dijelaskan landasan umumnya oleh Sa’id Hawwa rahimahullah: “Bid’ah yang disepakatai para fuqaha atas keharamannya adalah sesuatu yang harus diperangi dan dilenyapkan. Akan tetapi kita mempunyai landasan umum syari’at yang harus diperihara, yaitu: Upaya merubah suatu kemungkaran bila mengakibatkan munculnya kemungkaran yang lebih besar dari kemungkaran yang pertama, maka harus mencari cara lain untuk merubahnya atau bahkan diam.”

  

“Karena itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak mengijinkan murid-muridnya melarang pasukan Tartar meminum minuman keras. Sebab bila mereka mabuk, dan tertidur, berarti kejahatan mereka akan lebih sedikit terhadap kaum muslimin. Tapi bila mereka sadar, dan tidak mempunyai kesibukan, mereka akan merampas harta benda kaum muslimin atau membunuh mereka.”

Sumber : Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Jawaban, Tuduhan, dan Harapan, Syaikh Jasim Muhalhil. Najah Press Jakarta, Cetakan pertama, September 1997.