Inikah Para Pembela Kaum Salaf ???

  

Dr. Muhammad Sayyid Al-Wakil pernah berkata, “Setelah itu, datanglah kelompok yang menamakan dirinya kaum [—DELETE—]. Kita amat gembira menyambut kedatangan mereka karena kita mengira mereka akan menempuh metode generasi salafush shalih, menghormati para ulama dan prestasi mereka, membela para ulama dari mulut-mulut usil yang menyerangnya, menjaga diri dari kata-kata yang tidak sopan, dan meninggalkan masalah-masalah yang tidak ada gunanya. Ketika dakwah mereka muncul dan pemikiran (fikrah) mereka menyebar, ternyata kita dapati bahwa mereka tidak seperti yang kita harapkan sebelumnya.”

  

“Kita dengar mereka menyerang dan mengecam lebih keras dari pendahulu mereka terhadap para Imam dan aliran-aliran dulu. Sebagian dari mereka menafsirkan ayat, ‘Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka’ dengan menganggap bahwa ‘mereka’ di dalam ayat itu adalah pemegang aliran-aliran fiqih. Kita mendengar pula sebagian dari mereka ada yang meragukan akidah para Imam seperti Imam al-Maturidi yang nasabnya sampai ke Abu Mansyur As-Samarqandi—seorang pakar ilmu logika (manthiq)—dan Imam Asy-ary yang nasabnya hingga ke Abu Hasan Al-Asy-‘ary yang merupakan tokoh ilmu kalam dan konon menurut sebagian besar para ulama, ia adalah pendiri ilmu kalam.” [Muhammad Sayyid Al-Wakil, Wajah Dunia Islam, hlm. 114-115]. Para Imam dahulu, selain yang dua itu, mengalami sikap miring juga dari kalangan seperti itu hanya karena mereka dianggap asy-ariyah, yaitu menakwilkan sebagian ayat sifat-sifat Allah SWT. Mereka adalah Imam Al-Haramain (Imam Juwaini), Imam Al-Jashshash, Imam AL-Baqillani, Ibnu ‘Athiyah, Al-Isfirayini, dan Al-Qurthubi.  

  

Begitupun tuduhan mereka terhadap Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb serta pemimpin dan ulama Ikhwan lainnya. Padahal, para Imam yang dituduh itu adalah tokoh-tokoh kecintaan para ulama masa kini. Hasan Al-Bana dan Sayyid Quthb telah dipuji Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin—salah seorang anggota Hai’ah Kibarul Ulama di Arab Saudi. Yusuf Al-Qaradhawy mendapat pujian dari puluhan ulama dunia, seperti Syaikh bin Baaz, Syaikh Al-Albany, dan Syaih Musthafa Az-Zarqa.

  

Sebagai sebuah kaidah, sesungguhnya taushiyah (nasihat) adalah amal shalih mulia yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:

  

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan kerugian, kecuali orang-orang beriman dan beramal shalih. (Mereka adalah) orang-orang yang saling memberikan nasihat dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

  

Rasulullah SAW bersabda:

  

“Agama itu adalah nasihat (tiga kali). Kami bertanya, “Untuk siapa?” Rasulullah menjawab, “Untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan manusia pada umumnya.” (HR Imam Muslim, Imam Ahmad, dan Abu Daud).

  

Oleh karena itu, selayaknya amal mulia dilakukan dengan tujuan dan cara yang mulia pula. Artinya, dilakukan dalam rangka mencari kebenaran dan ridha Allah SWT dan mengubah keburukan menjadi kebaikan dengan cara yang bijak denagn tidak melahirkan keburukan baru yang sama atau lebih besar. Seandainya tidak demikian—nasihat dan kritik yang dilakukan denan kasar dan tanpa ilmu—niscaya akan mencul malapetaka hebat seperti yang sering kita temukan. Aib sesame muslim ditelanjangi di berbagai forum, majelis, buku, majalah, atau media lain. Belum lagi, diperburuk dengan niat yang hanya sekadar ingin membuktikan kehebatan dan kelebihan hujjah sambil membubuhi gelar yang buruk seperti mubtadi’ dan fasik kepada orang yang dikritik. Tentu saja, amal yang seperti itu akan sia-sia. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

  

Katakanlah (Muhammad), “Apakah kalian mau kami tunjukkan tentang orang-orang yang merugi amal perbuatannya?” (Merea adalah) orang-orang yang hidupnya tersesat di dunia dan mengira perbuatannya adalah perbuatan yang baik.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

  

Lebih tragis lagi, ternyata orang-orang yang dikritik adalah pihak yang tidak memiliki kesalahan-kesalahan yang fatal, sekedar ber-ijtihad yang debatable, atau hanya karena pendapatnya itu dalam lingkup yang ijtihadi (mungkin benar, mungkin salah). Jika Allah SWT saja memberi pahala kepada mujtahid yang benar dan salah dalam urusan ijtihadi, lalu apakah hak kita lebih besar dari haq Allah SWT untuk mencela mereka?

  

Sesungguhnya, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin pernah berkata ketika ditanya tentang kalangan yang menuduh Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb sebagai ahli bid’ah atau menuduh ulama lain sebagai Khawarij, “Segala puji bagi Allah….Menggelari oang lain sebagai mubtadi’ dan fasik kepada umat Islam adalah perbuatan yang tidak dibenarkan karena Rasulullah SAW telah bersabda,

  

Siapa saja yang berkata kepada saudara-nya, “Wahai musuh Allah!”, sedangkan kanyataannya tidak seperti itu, ucapan itu kembali ke dirinya sendiri. (HR Imam Muslim).

  

Di hadits lain,

  

Siapa saja yang mengkafirkan seorang muslim, ucapan itu akan menimpa kepada salah satu di antara keduanya. (HR Imam Bukhari dan Muslim),

  

Atau hadits berikut,

  

…ada seseorang yang melihat orang lain melakukan dosa, lalu ia berkata kepada pelaku dosa itu, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu,” Kemudian Allah berfirman, “Siapakah gerangan yang bersumpah atas (Nama)-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya, Aku telah mengampuninya dan Aku gugurkan (pahala) amalmu (orang yang berkata ‘Allah tidak akan mengampunimu’).” (HR Imam Muslim)

  

Saya hanya ingin mengatakan bahwa Sayyid Quthb dan Hasan Al-Banna termasuk ulama dan tokoh dakwah Islam. Melalui dakwah mereka berdua, Allah SWT telah memberi hidayah kepada ribuan manusia.” Selengkapnya lihat di kategori Fatwa2 Ulama yang ini.

Allahu ‘alam.

Sumber: Al-Ihwan Al-Muslimun, Anugerah Allah Yang Terzalimi