Apakah AKU Telah Berada

Di Jalan Yang SESAT ???

   

“Sesungguhnya, sebaik-baik perkataan adalah firman Allah SWT dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW. Seburuk-buruk perkara adalah perkara baru/diada-adakan (muhdatsah) karena setiap yang baru adalah bid’ah; setiap yang bid’ah adalah kesesatan; dan setiap kesesatan nerakalah tempatnya” (HR Muslim, Ibnu Madjah dan lainnya)1.

  

Ikhwan wa akhwat fillah, tidak sedikit orang-orang yang istiqamah bersama manhaj salaf, tetapi mereka difitnah dengan berbagai tuduhan dan celaan. Kemudian, bangkitlah para pembela mereka dari kalangan ulama untuk merehabilitasi (tazkiyah) nama mereka demi kejayaan Islam. Telah banyak ulama Islam yang mendapat tuduhan yang tidak selayaknya. Tuduhan pelaku bid’ah (mubtadi’) dan fasik, misalnya, begitu dekat dengan mereka. Anehnya, hal itu justru dilakukan kaum muslimin. Sungguh betapa pandirnya mereka itu.

  

Pada masa lalu,

  

Imam Abu Hanifah dituduh murji’ah (sebuah sekte yang menganggap iman dan amal tidak memiliki korelasi) dan tuduhan itu amat terkenal. Selain itu, asal-usul (nasab) beliau disebut-sebut sebagai mantan budak Bani Tayyimullah karena ayahnya, Tsabit, adalah budak dari Bani Tayyimullah bin Tsa’labah [“Al-Muntaqa”, no. 33 dan “Shahih Targhib wa Tarhib” I/96].

  

Al-Imam Abu Muhammad bin Hazm dituduh sebagai ahlul bid’ah, begitu pula Imam Abu Ishaq Asy-Syathiby dan Imam Ibnu Baththah. Celaanpun menimpa Imam Al-Ghazaly dan Imam Ibnu Rusyd yang difatwakan zindiq, bahkan kafir. Fatwa yang sama terlontar juga kearah Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim lantaran pandangan mereka yang menyebut surga dan neraka tidak kekal (pasti punah) berdasarkan banyaknya dalil tentang hal itu. Selain itu, Muhammad bin Abdul Wahhab dituduh pernah berupaya merobohkan kubur Nabi SAW dan membongkarnya, dan ternyata para penuduhnya adalah orang-orang pendusta.

  

Kami melihat, musibah yang menimpa ulama di masa lalu relative masih lebih baik karena para penuduh mereka bukan orang sembarangan, melainkan tokoh-tokoh besar, dan hal itu lebih didasari factor kesalahpahaman di antara mereka seperti  yang dijelaskan kemudian oleh ulama-ulama generasi berikut. Namun, ada pula yang sekedar kritik biasa.

  

Konon tuduhan ahli bid’ah terhadap Imam Ibnu Hazm dilontarkan Imam Abu Bakar bin Al-Araby. Namun, ada kalangan yang meragukan kebenarannya. Imam Al-Ghazaly pun tidak luput dari kritikan tajam Ibnu Taimiyah, Abul Faraj Al-Jauzy (Ibnul Jauzy), dan Abu Bakar At-Tarthusy, tetapi tanpa gelar-gelar buruk kecuali dari sebagian kecil penuntut ilmu masa kini. Imam Ibnu Rusyd dianggap Ibnu Taimiyah zindiq lantaran dianggap terpengaruh pemikiran filsafat yang menyimpang.

  

Ibnu Taimiyah sendiri dicela Imam Ibnu Hajar Al-Haitsamy dengan ungkapan, “Semoga Allah menghinakan kedudukannya dan memburukkan rupanya di muka bumi.” Sikap Ibnu Hajar itu telah dikoreksi ulama semasanya dan setelahnya, seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalany. Hal itu dapat kita lihat dalam “Rijalul Fikr wad Dakwah” karya AL-‘Allamah Abul Hasan Ali An-Nadwi. Adapun tentang pendapat Ibnu Taimiyah bahwa surga dan neraka tidak kekal, sesungguhnya hal itu bukan pendapat beliau melainkan pendapat Ibnul Qayyim, sang murid. Seandainya tuduhan itu benar, pendapat itu tidak mutlak [Yusuf Al-Qaradhawy, Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid II, hlm. 266]. Dalam hal ini, banyak ulama yang membantah pandangan ketidakkekalan surga dan neraka, seperti Ibnu Hajar Al-Asqalany, Taqiyuddin As-Subki, dan Asy-Syaukany [Umar Sulaiman Al-Asyqar, Melongok Surga dan Neraka, hlm. 55-57].

  

Fenomena kritik mengkritik juga terjadi pada masa Imam Syafi’i. Pada masa lalu, Imam Syafi’I pernah mengkritik Imam Malik karena kadang-kadang Imam Malik meninggalkan hadist shahih, lebih mendahulukan ucapan sahabat atau pendapat tabi’in, atau lebih mengikuti pendapat pribadi. Ia berkata yang tidak-tidak kepada Ikrimah dan tidak mau meriwayatkan hadits darinya. Anehnya, ia lebih mengambil pendapat Ikrimah dibanding Ibnu Abbas. Imam Syafi’I pun mengkritik kalangan Hanafiyah karena mereka sering meninggalkan hadits shahih dengan alasan—hadits tersebut tidak terkenal. Sebaliknya, mereka menggunakan hadits dha’if karena sudah terkenal. Imam Syafi’I mengkritik juga metode istihsan yang kerap digunakan Hanafiyah sebagai metode istinbath. Imam Syafi’I mengemukakan dalil-dalil batalnya istihsan dalam ‘Al-Umm”. Namun, Imam Syafi’I dikritik juga karena menerima hadits dari pelaku bid’ah dan meragukan legalitas hadits mursal. Ia dianggap dha’if oleh ulama hadits sehingga Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkan satu pun hadits darinya [Umar Sulaiman Al-Asyqar, Melongok Surga dan Neraka, hlm. 55-57].

  

Adapun di masa sekarang,

  

Perbedaannya yang amat jauh. Para pengkritik, pencela, dan penuduh bukanlah orang yang ahli ilmu. Mereka sesungguhnya hanyalah para penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi) yang tidak memiliki adab atau mungkin bukan thalibul ‘ilmi sama sekali, meraka hanya memancing di air keruh, untuk menghancurkan Islam dari dalam. Dulu jika ada kritikan seorang ahli ilmu terhadap ahli ilmu lainnya, kritikan itu tidak sampai mencela, apalagi menuduh. Mereka begitu santun dan bijak serta saling mencintai kebenaran karena mereka hanya mencari ridha Allah SWT.

  

Pada masa sekarang, kita menemukan hal yang sama. Hasan Al-Banna dianggap ahli bid’ah, sufi yang menyimpang, dan akidahnya adalah tafwidh (menyerahkan makna ayat-ayat tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT tanpa menetapkan dan meyakininya). Sayyid Quthb dituduh berpaham wihdatul wujud, asy‘ariyah, mudah mengkafirkan orang lain (takfiri), menganggap Al-Qur’an sebagai makhluk [lihat Majalah “As-Sunnah” Edisi 12/Th.IV/1421 (2000M), hlm. 30] dan tuduhan lainnya. Muhammad A-Ghazaly dituduh Mu’tazilah dan Inkarussunnah. Yusuf Al-Qaradhawy dituduh ahli bid’ah, fatwa-fatwanya sesat, rasionalis (aqlany), penyerang sunnah, dan tuduhan lainnya. Atau pernyataan tak sopan seperti ini “Luar biasa penerawangan Imam Besar Wahabi yang [–DELETE–] ini! Pendapat konyolnya ini sungguh memperihatinkan dan juga memalukan di hadapan anak-anak SD paling bodoh sekalipun!”. Atau memisahkan nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan penulisan Ibnu [–DELETE–] Miyah. MasyaAllah, aku berlindung dari me-ngeluarkan ucapan-ucapan dan tuduhan-tuduhan seperti itu.

  

Atas kisah-kisah yang dialami ulama-ulama Islam di atas, baik masa lalu maupun sekarang,

tengoklah,

resapilah,

renungilah,

sadarilah,

introspeksilah,

berada di jalan manakah kita? Bukan cuma ana, antum, tapi seluruh umat Islam yang telah menggunakan indranya dalam bentuk tulisan, ucapan, sikap dan sebagainya.

Apakah kita telah yakin, bahwa kita telah berada di jalan yang benar?

Atau justru berada di jalan yang SESAT yang tidak kita sadari…..

Wallahu musta’an.

Iklan