Termasuk Bid’ah Bila Menguji Manusia Dengan Tujuan untuk Mengetahui Apakah Mereka Ahlus Sunnah atau Bukan

Oleh : Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad   

 

Termasuk bid’ah mungkar yang terjadi di zaman ini adalah bid’ah imtihaanu ba’dhu ahlis sunnah ba’dhan bi-asykhash (menguji ahlus sunnah satu dengan lainnya dengan perseorangan). Sama saja, baik yang mendorong seseorang melakukan imtihan (pengujian) itu karena merendahkan individu yang dijadikan ujian, ataupun yang mendorong ia melakukannya karena ia begitu berlebih-lebihan terhadap individu lainnya. Apabila hasil pengujiannya selaras dengan kehendak orang yang menguji, maka akan mendapatkan sokongan, pujian dan sanjungan. Namun apabila tidak selaras dengan kehendaknya, maka akan melahirkan tajrih (celaan), tabdi’ (vonis bid’ah), hajr (isolir) dan tahdzir (peringatan).

  

Berikut ini adalah cuplikan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang pertamanya adalah tabdi’ (vonis bid’ah) di dalam menguji manusia dengan perseorangan terhadap orang yang merendahkan orang itu dan yang kedua adalah tabdi’ di dalam menguji manusia dengan perseorangan lainnya terhadap orang yang berlebih-lebihan terhadap orang itu.

  

Beliau rahimahullahu berkata di dalam Majmu’ al-Fatawa (3/413-4) mengenai perbincangan tentang Yazid bin Mu’awiyah :

  

”Yang benar dari pendapat yang diperpegangi oleh para imam adalah, ia tidak dikhususkan dengan kecintaan dan tidak pula dilaknat. Bersamaan dengan itu, walaupun ia seorang yang fasik dan zhalim, maka Allohlah yang mengampuni orang yang fasik lagi zhalim, apalagi jika orang itu memiliki kebaikan yang besar.

  

Al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Ibnu ’Umar radhiyallahu ’anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

  

”tentara pertama yang memerangi Konstantinopel diampuni dosa-dosanya”, dan tentara pertama yang memerangi Konstantinopel, komandan mereka adalah Yazid bin Mu’awiyah, dan turut berperang bersama beliau adalah Abu Ayyub al-Anshori… Maka wajib untuk bersikap tengah di dalam hal tersebut, dan berpaling dari membicarakan Yazid bin Mu’awiyah dan menguji kaum muslimin dengannya, karena ini termasuk bid’ah yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah.”

  

Beliau berkata (3/415) :

  

”Dan demikian juga dengan memecah belah ummat dan menguji ummat dengan suatu yang tidak diperintahkan oleh Alloh maupun Rasul-Nya Shallallahu ’alaihi wa Salam.”

  

Beliau berkata (20/164) :

  

”Tidak seorangpun yang berhak menentukan untuk umat ini seorang figur yang diseru untuk mengikuti jalannya, yang menjadi tolok ukur dalam menentukan loyalitas dan permusuhan selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, begitu juga tidak seorangpun yang berhak menentukan suatu perkataan yang menjadi tolok ukur dalam berloyalitas dan memusuhi selain perkataan Allah dan RasulNya serta apa yang menjadi kesepakatan umat, bahkan perbuatan ini adalah kebiasaan Ahli bid’ah yang mana mereka menentukan bagi mereka seorang figur atau suatu pendapat tertentu, melalui itu mereka memecah belah umat, mereka menjadikan pendapat tersebut atau nisbat (penyandaran) tersebut sebagai tolok ukur dalam berloyalitas dan memusuhi”

  

Beliau berkata (28/15-16) :

  

”Apabila seorang guru atau ustadz memerintahkan untuk menghajr (mengucilkan) seseorang atau menjatuhkan (kehormatannya) dan menjauhinya atau yang semisalnya, maka harus dipertimbangkan terlebih dulu : jika orang tersebut telah melakukan dosa secara syar’i maka dihukum sebatas tingkat dosanya tanpa dilebihkan, dan jika ia tidak melakukan dosa secara syar’i maka ia tidak boleh dihukum dengan sesuatu apapun hanya karena kehendak seorang guru atau lainnya. Tidak selayaknya bagi para guru mengelompokan manusia dan menanamkan rasa permusuhan dan kebencian di antara mereka, tetapi hendaklah mereka seperti saling bersaudara yang saling tolong menolong dalam melakukan kebajikan dan ketakwaan, sebagaimana firman Allah: “Dan tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan”

  

Sekiranya menguji manusia dengan perseorangan itu dibolehkan pada zaman ini, bertujuan untuk mengetahui siapakah ahlus sunnah dan bukan dengan pengujian ini, maka yang paling berhak dan utama untuk melakukannya adalah Syaikhul Islam dan mufti dunia serta Imam ahlus sunnah di zamannya, Syaikh kami, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz yang wafat pada tanggal 27 Muharam tahun 1420 H, semoga Alloh merahmati beliau, mengampuni beliau dan membalas beliau dengan pahala. Yang mana orang yang khusus (ulama) dan awam telah mengetahui keluasan ilmu beliau dan banyaknya kemanfaatan pada diri beliau, kejujuran beliau, kelemahlembutan beliau, belas kasih beliau dan antusias beliau di dalam menunjuki manusia dan mengarahkan mereka, demikian anggapan kami dan tidaklah kami bermaksud mensucikan seorang pun di hadapan Alloh.

  

Beliau adalah orang yang memiliki manhaj yang satu di dalam berdakwah kepada Alloh, mengajarkan kebaikan kepada manusia, menyeru mereka kepada yang ma’ruf dan melarang mereka dari yang mungkar, yang dikenal akan kelemahlembutan dan kehalusan budi beliau di dalam nasehat dan bantahan beliau yang banyak terhadap orang lain.

  

Manhaj beliau adalah manhaj yang lurus yang meluruskan ahlus sunnah bukan menentangnya, yang membangkitkan ahlus sunnah bukan yang melawannya, yang meninggikan ahlus sunnah bukan yang merendahkannya, manhaj yang mempersatukan bukan yang memecah belah, yang menghimpun bukan yang mengoyak-ngoyak, yang mengarahkan bukan yang merintangi dan yang mempermudah bukan yang mempersulit.

  

Aduhai, betapa butuhnya orang-orang yang sibuk dengan ilmu dan menuntutnya kepada suluk (akhlak) cara yang lurus dan manhaj yang agung ini, dalam rangka untuk mencapai kebaikan bagi kaum muslimin dan mencegah keburukan dari mereka.

  

Wajib bagi orang yang meniru dan yang ditiru, yang melakukan ujian semacam ini supaya melepaskan diri dari cara yang telah memecah belah ahlus sunnah ini dan menyebabkan satu dengan lainnya saling bermusuhan oleh sebab ujian ini. Demikian pula wajib bagi orang yang meniru untuk meninggalkan ujian ini dan meninggalkan setiap hal yang dapat mengantarkan kepada kebencian, hajr (pengucilan) dan taqothu’ (isolir) serta wajib bagi mereka untuk menjadi saudara yang saling menyayangi dan bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan.

  

Orang yang ditiru, wajib pula bagi mereka berlepas diri dari metode ini dan mengumumkan baro` (sikap berlepas diri) mereka darinya dan dari perbuatan orang yang melakukannya. Dengan demikian, akan selamatlah orang yang meniru dari bala’ (bencana) ini dan orang yang ditiru dapat selamat dari ditiru oleh sebab ujian ini dan segala hal yang disebabkan olehnya berupa pengaruh buruk yang nantinya akan kembali kepada mereka dan selain mereka.

Sumber : ebook abusalma on http://dear.to/abusalma 

Iklan