Umara’ Salafy pun Ber-ittiba Kepada Hasan Al-Banna dalam Bersikap Terhadap Rafidhah???

Surya, Jum’at 14 Desember 2007 

TEHERAN-SURYA

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menunaikan ibadah haji tahun ini. Peristiwa ini menjadi sangat istimewa, karena Raja Arab Saudi Abdullah sendiri yang mengundang Ahmadinejad. Bisa jadi ini menjadi symbol rujuknya Iran dan Saudi.

“Atas undangan Raja Abdullah, Presiden Ahmadinejad akan menunaikan ibadah haji tahun ini,” ujar Mojtaba Samareh Hashemi, penasihat senior Ahmadinejad kepada kantor berita Mehr. Namun, Hashemi tidak mengungkap tanggal keberangkatan presiden Iran itu.

Penasihat media Ahmadinejad, Ali Akbar Javafekr, mengatakan undangan naik haji itu merupakan yang pertama bagi seorang kepala Negara Iran. “Hasilnya, kunjungan ini dianggap sebagai peristiwa penting dalam hubungan kedua Negara,” imbuh Javaferk. Bagi Ahmadinejad kunjungan kali ini merupakan yang ketiga.

Ibadah haji Ahmadinejad ini menjadi poin penting hubungan antara Iran dan Arab Saudi. Selama ini hubungan Iran yang Syiah dan Saudi yang sunni diwarnai berbagai ketegangan. Puncaknya pada Juli 1987. Saat itu 402 orang, sebagiannya warga Iran,terbunuh dalam bentrokan antara jemaah haji asal Iran dengan petugas keamanan Saudi.

Pada perang Iran – Irak 1980-1988, pemerintah Riyadh memberi dukungan kepada Irak.

Mendiang pemimpin revolusi Iran, Ayatollah Khoemeini sering menuduh kerajaan Arab Saudi menjadi antek AS yang tidak bisa melindungi tempat-tempat sucinya.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kedua pemimpin negara itu menunjukkan keinginan untuk memperbaiki hubungan. Antara lain dengan bekerja sama mengakhiri krisis politik di Lebanon dan menciptakan stabilitas di Irak. Beberapa waktu lalu, Iran mendesak pemerintah Saudi untuk mengatasi kelompok ekstremis setelah beredarnya selebaran dan khotbah anti Syiah di negara itu.

Bulan lalu, Ahmadinejad terang-terangan mencela Raja Abdullah karena partisipasi Saudi dalam perundingan perdamaian Israel-Palestina di Annapolis, AS. Namun, Ahmadinejad juga menjadi presiden pertama Iran yang menghadiri pertemuan tahunan pemimpin Teluk Arab yang digelar di Qatar awal Desember lalu. [1] 

Article ini diambil dari Koran Surya yang terbit saat ana dinas ke Surabaya 14 Desember 2007 lalu. Membaca article ini ana teringat tentang usaha Hasan Al-Bana yang mengundang As-Sayyid Al-Qummi, dan ia berpaham Syi’ah, singgah sebagai tamu Ikhwanul Muslimin di markas besarnya. Kejadian ini dijadikan bahan untuk membuat subhat dan sikap ragu oleh kelompok yang mengaku bermanhaj salaf kepada para aktivis dakwah yang bernaung dalam wasilah dakwahnya dalam beramal.

Berikut sebagian isi dari Tulisan Al-Ustadz Qomar ZA, Lc Dengan Judul “Sejarah Suram Ikhwanul Muslimin” dalam Bab Menggabungkan Kelompok-Kelompok Bid’ah:

Bahkan dengan kelompok Syi’ah-pun berpelukan. Itu terbukti dengan usaha Al- Banna untuk menyatukan antara Sunnah dengan Syi’ah, dan tak sedikit anggota gerakan yang beraliran Syi’ah. Umar At-Tilmisani, murid Al-Banna sekaligus pimpinan umum ketiga gerakan ini, mengungkapkan: “Pada tahun empat-puluhan seingat saya, As-Sayyid Al-Qummi, dan ia berpaham Syi’ah, singgah sebagai tamu Ikhwanul Muslimin di markas besarnya. Dan saat itu Al- Imam Asy-Syahid (Al-Banna) berusaha dengan serius untuk mendekatkan antar berbagai paham, sehingga musuh tidak menjadikan perpecahan paham sebagai celah, yang dari situ mereka robek-robek persatuan muslimin. Dan kami suatu hari bertanya kepadanya, sejauh mana perbedaan antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah, maka ia pun melarang untuk masuk dalam permasalahan semacam ini… Kemudian mengatakan: ‘Ketahuilah bahwa Sunnah dan Syi’ah adalah muslimin, kalimat La ilaha illallah Muhammad Rasulullah menyatukan mereka, dan inilah pokok aqidah. Sunnah dan Syi’ah dalam hal itu sama dan sama-sama bersih. Adapun perbedaan antara keduanya adalah pada perkara-perkara yang mungkin bisa didekatkan.” (Dzikrayat la Mudzakkirat, karya At-Tilmisani, hal. 249-250)

Benarkah dua kelompok itu sama dan bersih dalam dua kalimat syahadat? Tidakkah Al-Banna tahu, bahwa di antara kelompok Syi’ah ada yang menuhankan ‘Ali bin Abi Thalib? Tidakkah dia tahu bahwa Syi’ah menuhankan imam-imam mereka, dengan menganggap mereka mengetahui perkara-perkara ghaib? Tidakkah dia tahu bahwa di antara Syi’ah ada yang meyakini bahwa Malaikat Jibril keliru menyampaikan risalah –mestinya kepada Ali, bukan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam seandainya hanya ini saja (penyimpangan) yang dimiliki Syi’ah, mungkinkah didekatkan antara keduanya? Lebih-lebih dengan segudang kekafiran dan bid’ah Syi’ah. [2]

Apa yang dilakukan Raja Abdullah, sungguh sangat Kontroversial dengan sebagian besar sikap orang-orang yang hanya mengaku-aku sebagai pengikut salaf [Salafy: red] yang sebagian besarnya tinggal di negerinya. Berikut saya sajikan sebagian isi dari buku Membongkar Kedok Al-Qardhawi, buah karya thalibul ilmi bernama Muhammad bin Mansyur Al-Udaini yang menjadi best sellernya orang-orang yang mengaku bermanhaj Salafy tentang sikap mereka terhadap Rafidhah.

Halaman 199 tentang Syaikh Yusuf Qaradhawi yang menghadiri Perayaan Mengenang Khumaini.

Kedutaan Iran merayakan pesta di Dafnah dalam rangka mengenang kepergian Khumaini. Tentang perayaan tersebut diberitakan oleh harian yang terbit tanggal 17 Muharram 1417 H, inilah teksnya:

Perayaan dihadiri oleh banyak tamu, diantaranya oleh Dr. Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dan para diplomat….

Perayaan tersebut mencakup ceramah-ceramah agama dan qasidah-qasidah mengenang Imam Al-Khumaini yang dilantunkan dengan dua bahasa, Arab dan Persia,setelah itu diiringi pesta makan malam. Perayaan yang diadakan oleh kedutaan ini diselenggarakan sore hari kemarin di kediaman mereka di pemukiman diplomat di Dafnah, dalam rangka mengenang kepergian Imam Al-Khumaini, di tahun ketujuh.

Adapun perbuatan Qaradhawi semacam ini termasuk bersekutu dalam kebid’ahan, bid’ah yang baru dan taklid kepada Barat. Tentang ini telah disebutkan dalil-dalil mengenai keharamannya. Begitu juga perbuatan ini termasuk turut serta memperbesar syi’ar Rafidhah (Syiah). [3]

Halaman 201 tentang Syaikh Yusuf Qaradhawi yang dianggap melakukan propaganda pendekatan Sunnah dan Syiah.

Dakwah pendekatan antara Sunnah dan Syiah adalah dakwah pembauran dua hal yang berlawanan dan penggabungan yang mustahil; dakwah yangberpanjikan persatuan dan menentang perpecahan; bekerja sama dalam permasalahan-permasalahan kontemporer, yang sebagai imbalannya adalah mempertaruhkan kehormatan para sahabat ra. Bahkan akidah salaf.

Inilah dakwah yang menghancurkan pondasi yang besar dari pokok-pokok keyakinan muslimin yaitu Al-Walla’ wal-Bara’. Dakwah yang muncul dari manusia-manusia jahat yang menyimpang dari As-Shirathal Mustaqim dan petunjuk yang benar seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh Al-Mishri,dan para pengikutnya seperti pemimpin hizib Ikhwan Hasan Al-Banna lalu bersambung kepada Al-Ghazali, A-Siba’I dan Qaradhawi. [4]

Atas kejadian di atas dan sikap orang-orang yang mengaku berpaham Salafy, siapakah yang akan dirugikan atas niat rujuknya dua kelompok besar Islam ini? Pikirku mungkin…

Para Kaum Kufar Yahudi dan Nashrani laknatullah, yang sangat khawatir bersatunya kelompok-kelompok Islam,

Para munafik dan …..

Sekelompok orang yang hanya bangga dengan baju sunnahnya tanpa mau melihat esensi positif dari kejadian tersebut.

Tanyaku dalam hati, apakah mereka berani melakukan tahdzir terhadap Raja Abdullah, atau hanya menyesali dan diam seribu bahasa tanpa melakukan apapun seperti terhadap orang-orang di luar manhajnya.

Wallahu ta’ala a’lam.

Foot note:

(1) Harian Surya, terbit di Surabaya 14 Desember 2007

(2) Sejarah Suram Ikhwanul Muslimin, Al-Ustadz Qomar ZA, Lc

(3) Membongkar Kedok Al-Qaradhawi, Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al-‘Udaini Al-Yamani, hal. 199

(4) Membongkar Kedok Al-Qaradhawi, Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al-‘Udaini Al-Yamani, hal. 201