Ketika Celaan dalam Kitab “Membongkar Kedok Al-Qaradhawy” Dianggap Nasihat

 

Ihwani fillah, ana yakin antum pernah membaca article-article yang berisi tentang hujatan-hujatan terhadap orang-orang alim yang terkenal di kalangan umat Islam. Khususnya Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy, salah satu contohnya apa yang ditulis oleh Abdurrahman.wordpress.com yang diberi judul ‘Membungkam Suara Para Perusak Syari’at” Pembebek Da’i Sesat Yusuf bin Abdillah Al-Qordlowi?”’ sebagai bantahan atas article M. Shodiq Mustika. Berikut akan aku sampaikan sebagian bentuk celaan yang ada dalam buku “Membongkar Kedok Al-Qaradhawy” yang diterbitkan oleh Masyarakat Belajar Depok dan sungguh ana telah membuktikannya sendiri, bahwa buku ini dan juga selainnya yang sejenis menjadi inspirasi para thalibul ilmi yang masuk ke dalam jamaahnya untuk mentahdzir orang-orang yang dianggapnya terindikasi kesesatan seraya meyakinkan dirinya sebagai bentuk pembelaan mereka terhadap Islam.

 

Janganlah aneh bila kalian dapatkan orang-orang yang masuk dalam jamaah mereka hampir sebagian besarnya memiliki karakter suka menghujat orang-orang yang tidak berada dalam jamaahnya. Tapi pernahkah kalian berfikir apa maksud dari pembuat fitnah ini? Ada dua kemungkinan, mereka ingin agar orang-orang yang telah masuk jamaahnya tidak keluar lagi setelah tahu kondisi yang sebenarnya dari jamaah tersebut bahwa tidak ada kebenaran di luar jamaahnya dengan menceritakan keburukan jamaah lain, atau ingin menjelaskan kesalahan orang di luar jamaahnya dengan tidak proporsional yaitu tanpa menginformasikan kebaikannya sama sekali agar umat menjauhinya. Apapun alasan mereka, tetap saja ada para pembela dari jamaah tersebut yang tidak rela manhaj Salaf yang benar itu terkotori dengan sifat dan sikap yang buruk yang justru akan membuat lari umat dari dakwah mubarakah manhaj Salafus Shalih yang murni.

 

Buku ini memiliki daya destruktif yang amat berbahaya dan menguntungkan musuh-musuh Islam. Kami teringat dalam buku “Hiwar Ma’a Al-Maliky”, buku yang membantah pemikiran atau faham dengan kata-kata atau vonis-vonis yang kasar untuk Sayyid Muhammad Alawy Al-Maliky. Lalu Syaikh Alawy Al-Maliky diusir dari Masjidil Haram dan tidak boleh mengajar di dalamnya. Lantaran ia memiliki faham yang berbeda dengan para ulama kerajaan Arab Saudi. Karena itulah kalangan ulama yang membelanya meminta agar penulis “Hiwar Ma’a Al-Maliky”, jika hukum Islam diberlakukan, harus didera 80 kali cambuk.

 

Sesungguhnya nasihat karena Allah, bukanlah nasihat yang berisi sumpah serapah, dan caci maki, dan fitnah, sebab hal itu dikhawatirkan akan membuat tertolak amal pelakunya, siapapun ia. Hal ini juga membuat manusia lari darinya. Mereka menutup mata rapat-tapat terhadap kebaikan, kebenaran, dan jasa yang ada pada pihak lain dan hanya membelalakkan mata kepada penyimpangan-penyimpangannya saja, lupa terhadap penyimpangan diri sendiri. Itu semua—wallahu a’lam—hanya menggiring pelakunya pada kategori manusia muflis (bangkrut) di akhirat nanti lantaran kebaikan yang ada pada dirinya bergeser kepada pihak yang dicacinya. Sebaliknya nilai kejelekan pada dirinya bertambah dari pihak yang dicacinya. Adapun di dunia, jika kaidah jarh wa ta’dil diterapkan kepada orang-orang seperti itu, maka termasuk perawi yang tsiqah, tidak layak didengar berita darinya.

 

Penulis “Membongkar Kedok Al-Qaradhawy” telah menipu pembaca dengan menyebutkan Al-Qaradhawy menghalalkan daging anjing, kera, kucing, gagak, dan seluruh makanan yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya[1]. Bagi yang memiliki akal sehat pasti akan mengingkari ucapan orang ini dan akan merasa tertusuk sanubarinya. Ia menulis bahwa apa yang ditulisnya hanyalah setetes dari “lautan” kesesatan Al-Qaradhawy [2].

 

Ia menjuluki Al-Qaradhawy sebagai Safihuz Zaman wa Mufsidul Anam, manusia dungu zaman ini dan perusak manusia [3], juga julukan lain yakni faqihudh dhalal, ahli fikih yang sesat [4]. Al-Qaradhawy dituding telah meridhai manhaj komunis, marxis, leninis, dan ba’ats [5].

 

Si penulis mengutip dari Syaikh Ibnu Utsaimin yang berkomentar tentang ucapan Yusuf Al-Qaradhawy yang dinilainya nyeleneh, “Jika tidak (mau bertobat), maka wajib bagi pemerintah muslim untuk memenggal lehernya [6]. Adapun Muqbil bin Hadi berkata, “Wahai Qaradhawy engkau telah kufur, atau mendekati kekufuran” [7]. Yusuf Al-Qaradhawy mengatakan bahwa pendapatnya tentang jihad adalah juga pendapat para ulama lain, yaitu Abu Zahrah, Rasyid Ridha, Mahmud Syaltut, Muhammad Darraz, dan Muhammad Al-Ghazaly. Lalu si penulis berkata, “Sesungguhnya teladan dia (yakni para ulama-ulama tersebut) berada di antara jurang kebinasaan” [8], Adapun Syaikh Muhammad Al-Ghazaly dijuluki sebagai Mu’tazily celaka [9].

 

Apa yang anda rasakan ketika membaca ini?? Kami yakin anda akan mengatakan ini bukan nasihat, ini adalah amarah! Bagaimana tidak, para tokoh-tokoh tersebut—bukan hanya Al-Qaradhawy—telah diposisikan oleh penulis sebagai terdakwa yang divonis tersesat dan memiliki kesalahan besar, sementara dirinya seakan-akan seorang hakim dan bebas dari kesalahan (ma’shum). Si penulis telah mengatakan bahwa dirinya pun tidak lepas dari kesalahan, namun sayangnya hal itu bertolak belakang dengan sikapnya.

 

Sangat berbeda dengan ulama yang menjadi panutan pengarang buku tersebut dan para pengikut jamaah ini, Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albany—ahli hadits terkemuka abad 20, yang dikatakan oleh Imam Asy-Syahid Abdullah ‘Azzam, bahwa saat ini tidak ada manusia di kolong langit ini yang lebih tahu tentang hasits dibandingkan Syaikh Al-Albany—berkata, “Saya diminta (Al-Qaradhawy) untuk meneliti riwayat hadits serta menjelaskan ke-shahih-an dan ke-dhaif-an hadits yang terdapat dalam bukunya (“Halal wal Haram”). Hal itu menunjukkan ia memiliki akhlak yang mulia dan pribadi yang baik. Saya mengetahui itu semua secara langsung. Setiap ddia bertemu saya dalam satu kesempatan, ia akan selalu menanyakan kepada saya tentang hadits atau masalah fiqih. Dia melakukan itu agar ia mengetahui pendapat saya mengenai masalah itu dan ia dapat mengambil manfaat dari pendapat saya tersebut. Itu semua menunjukkan kerendahan hatinya yang sangat tinggi serta kesopanan dan adab yang tiada tara. Semoga Allah SWT mendatangkan manfaat dengan keberadaannya.” [10] Kalau ini yang terjadi, sebenarnya pengarang buku tersebut dan sebagian besar pengikut jamaah ini, meneladani siapa? Bukankah dalam setiap kesempatan mereka mengatakan sangat memuja Syaikh Al-Albany, lantas mengapa mereka bersikap sangat bertolak belakang dengan Syaikh Al-Albany.

 

Bagi yang memiliki hati yang bersih dan ghirah kepada agama pasti akan tersayat ketika melihat tokoh-tokoh ini didera dengan kedzaliman dari seseorang yang ternyata penuntut ilmu—sesuai pengakuan para pemberi kata pengantar—, bukan ulama. Begitu juga yang dikatakan oleh Abu Salma atas komentarnya dalam article Abdurahman.wordpress tsb, bahwa pengarang buku ini bukanlah ulama. Kami teringat dengan ucapan Abdul Aziz bin Hazim yang menceritakan bahwa ayahnya mengatakan banyak orang yang lebih rendah ilmunya menghina ulama yang lebih tinggi ilmunya. Demikian pada masa lalu, dan saat ini yang terjadi lebih mengerikan lagi. Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Wallahu A’lam.

Yusuf Qaradhawy memang bukan manusia ma’shum. Pendapatnya tentang nyanyian dan musik yang dikritik penulis (Ahmad bin Muhammad bin Manshur) dikritik juga oleh ulama Ikhwan lainnya. Namun, mereka punya cara yang bijak dalam meluruskan orang lain, siapa pun orangnya. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan kesempatan untuk memahami Islam secara benar, utuh, dan mendalam kepada kita semua. Amin.

 

Untuk kalian yang ingin mengetahui kerancuan pemikiran mereka tentang fitnah-fitnah yang mereka sebarkan, ada baiknya kalian membuktikan sendiri dalam sumber rujukan article ini.

 

Wallahu musta’an. 

 Sumber : Al-Ikhwan Al-Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, Farid Nu’man, Pustaka Nauka. 

Footnote :

1. Ahmad Muhammad bin Manshur Al-Udaini Al-Yamani, Membongkar Kedok Al-Qaradhawy, hal. 242-243

2. Ibid, hal 257

3. Ibid, hal 223

4. Ibid, hal 139

5. Ibid, hal 140

6. Ibid, hal 132

7. Ibid

8. Ibid, hal 81

9. Ibid, hal 170

10.Muhammad Nashiruddin Al-Albany, “Ghayatul Maram fi Takhrijil Hadits Halal wal Haram”, hlm. 14 

Iklan