Sesungguhnya sudah menjadi ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla jika di setiap masa akan lahir di antara umat ini tokoh atau segolongan manusia yang akan memperjuangkan agama Islam. Mereka menempuh jalan berbeda sesuai zaman, tuntutan, dan kompetensinya. ‘Apotek Islam’ yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, mereka jadikan obat pertama dan utama untuk menyembuhkan penyakit yang diderita umat Islam dan umat manusia pada umumnya. Siapa pun mereka, dengan jalan apa pun mereka berjuang memiliki kedudukan yang sama di mata Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu mujahid fi sabilillah.

Tapi realitas yang terjadi sekarang sungguh sangat memprihatinkan. Banyak orang-orang yang mengaku Islam, paham tentang agama, dengan keangkuhannya menghina dan merendahkan orang-orang alim, para mujahid dan mujaddid terbaik Islam, baik yang semasa dengan mereka maupun yang hidup sebelum mereka yang telah menemui wajah tuhannya, padahal mereka adalah para penuntut ilmu yang masih perlu belajar banyak tentang realitas yang terjadi.

Mujahid Islam, Shalahuddin Al-Ayyubi rahimahullah lahir untuk membungkam kezaliman kaum salibis di tanah Palestina. Beliau telah Allah SWT menangkan dalam mayoritas medan pertempuran. Lahirlah kembali keberdayaan dan optimisme umat Islam untuk eksis di sana sekaligus menciutkan arogansi kaum salibis.

Mujaddid Islam abad ke-2 Hijriah, Al-Imam Nashirus Sunnah Asy-Syafi’i ra lahir pada saat sebagian manusia tidak lagi mengindahkan hadits-hadits Nabi SAW. mereka mencukupkan diri dengan Al-Qur’an tanpa sunnah. Nashir As-Sunnah (pembela sunnah) ini berhasil dengan gemilang melucuti persenjataan dan menelanjangi kebohongan nenek moyang kaum inkarussunnah dengan hujjah-nya yang kuat dan logikanya yang dalam. Beliaulah yang memadukan madrasah ahlur ra’yi dan ahlul hadits. Beliau pula Imam pertama yang melembagakan kajian Ushul Fiqih dalam bukunya, “Ar-Risalah”.

Hujjatul Islam, Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazaly ra lahir di tengah umat yang kebingungan dan terhempas dari jalan yang benar akibat racun filsafat yang mematikan. Saat itu, agama diperankan filsafat yang merusak, lalu Imam Al-Ghazaly maju seorang diri bagai pendekar berkuda untuk melindungai umat Islam dan akidah mereka dari kesesatan yang dihembuskan filsafat. Segenap upaya ia kerahkan termasuk dengan memanfaatkan berbagai warisan pemikiran Islam, bahkan pemikiran yang ia tolak sekalipun. Ia pun berhasil mencabut kerusakan yang dialami manusia—dari awam hingga khawash—hingga ke akar-akarnya. Meskipun dirinya tidak mampu melepaskan dampak buruk dari filsafat yang ada di dalam dirinya.

Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ra adalah model mujahid dan mujaddid sekaligus pembela Islam dengan ilmu dan pedang. Seandainya, upaya beliau menumpas bid’ah dan syirik yang merejalela pada masanya dijadikan saru-satunya bekal untuk berjumpa dengan Rabb-nya, cukuplah itu baginya untuk disebut manusia yang muflih (beruntung). Kesibukannya dalam dunia ilmu tidak melupakan perhatian beliau dalam kancah jihad fi sabilillah. Bahkan, ia meminmpin langsung pasukan tempur untuk melawan agresi tentara Tar-Tar ke Damaskus. Tidak berlebihan jika kami katakan bahwa abad-abad ini adalah miliknya. Semua tokoh-tokoh pembaru telah menyusu pemikiran dan orisinil darinya dan ia layak menjadi guru yang diteladani mereka.

Seorang ulama salafi sejati, Syaikh Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab ra lahir ke dunia pada masa-masa yang tidak menguntungkan bagi manusia sepertinya: manusia yang konsisten dengan kebenaran dan kemurnian ajaran Islam. Dialah manusia paling berbahaya bagi segala bentuk jumud, bid’ah, dan syirik. Ia habiskan waktunya untuk menumpas itu semua hingga melahirkan banyak perlawanan dan fitnah terhadapnya. Memiliki banyak musuh bukanlah harapannya, tapi sejarah telah mencatat dan waktupun telah merekam bahwa musuh-musuh dakkwahnya amat banyak. Namun, dakkwahnya tetap berkibar hingga hari ini. Manusia menamakan pengikutnya sebagai Wahabi, padahal ia tidak ingin mendirikan mazhab baru. Sebutan itu pun keliru karena Al-Wahhab adalah salah satu nama Allah SWT yang dilarang disandang bagi manusia.

Awal abad 20, lahir seorang mujaddid dan mujahid yang cerdas. Dialah Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna ra. Allah SWT menmpatkannya di Mesir pada masa-masa kolonial Inggris dengan situasi yang lebih parah dari para Imam sebelumnya. Atheisme, komunisme, sosialisme, kapitalisme, dan hedonisme telah merata seantero jagad raya, termasuk di negerinya. Saat itu air mata umat menetes akibat pengkhianatan Mustafa Kamal Pasha terhadap kekhalifahan Islam. Al-Banna kembali membangunkan umat yang tertidur dan menyadarkan umat yang mabuk agar kembali menata ulang pergerakan menuju kejayaan Islam. Sampai akhirnya ia terbujur tidak berdaya diterjang timah panas tangan-tangan kotor thaghut Mesir. Namun, ia tetap berbahagia. Melalui pengorbanannya telah lahir pejuang-pejuang dari kalangan ulama, pemikir, da’I, dan mujahid. Salah seorang di antara mereka adalah Al-Imam Al-Allamah Yusuf Qaradhawi hafizahullah.

Ia seorang da’I yang berpengaruh, murabbi yang produktif (muntij), penyair jempolan dan tawadhu. Fatwa-fatwanya didengar mayoritas manusia, ia guru para pengajar, tempat bertanya para ahli ilmu, dicintai ulama, dan disegani umara. Ia adalah Imam Asy-Syafi’I masa kini yang mampu memadukan pandangan dan memuaskan emosi kalangan rasionaalis (ahlun nazhar) dan ahli hadits (ahlul atsar). Jika Imam Syafi’I adalah pelopor kajian Ushul Fiqih, Al-Qaradhawy adalah pelopor Ushul Fiqih Al-Muyassar (mudah). Kedua Imam itu sama-sama memiliki kumpulan syair (diwan) dan mereka sama-sama dikenal sebagai penyair sebelum akhirnya dikenal sebagai ulama. Keduanya sama-sama hafal Al-Qur’an dan memahami seluk beluk isinya sebelum usia sepuluh tahun. Keduanya sama-sama lahir dalam keadaan yatim. Keduanya pernah dijebloskan ke penjara dan sama-sama pernah dicela berupa tuduhan telah terpengaruh aliran rafidhah. Pembeda antara keduanya adalah zaman dan kondisi masyarakatnya.

Demikianlah gambaran singkat dari ulama-ulama Islam yang patut dijadikan sebagai introspeksi, nasihat dan batasan kesombongan kita yang jahil. Agar dapat sadar diri dan tidak melampaui batas dalam bersikap dan menimbulkan fitnah yang justru semakin memecah belah agamanya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan prasangka (zhann). Sesungguhnya sebagian dari prasangka adalah dosa…”(Qs. Al-Hujurat: 12)

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka” (Qs. Al-An’am: 159)

 Sumber : Al-Ikhwan Al-Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, Farid Nu’man, Pustaka Nauka, Cetakan II, Mei 2004.