Fakta Nyata Ketika Doktrin Hadits Iftiraq/perpecahan dijadikan Landasan Manhaj

  

Ikhwati fillah, ini adalah pencarian ana atas manhaj baru sahabat ana Abu Qatadah Al-Depoki [semoga Allah menjaganya] yang telah membuat ana menjauhi sahabat-sahabat ana dan tidak mau beramal jama’I lagi bersama mereka dengan aktivitas social kemasyarakatan seperti pengobatan murah bahkan gratis, sunatan masal, bazar sembako murah dan lain sebagainya. Tidak…tidak ada yang salah dengan hadits ini. Sekalipun hadits ini tidak ada di Kitab Shahihainnya Bukhari, tapi ana meyakini bahwa hadits ini shahih, karena banyaknya ulama-ulama yang menshahihkannya.

  

Ya, pencarian yang membuat ana tidak bersemangat untuk hadir di majlis rutin halaqah ana atau menghadiri kajian islam atau mabit manhaj ana.

 

Ana akan menyebutkan efeknya ketika hadits iftiraq ini dijadikan doktrin, sehingga kabar tentang perpecahan umat menjadi jelas dan tidak perlu diragukan lagi, karena, antara hadits yang satu dengan hadits lainnya saling berkaitan dan saling menguatkan.

  

“….Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, smuanya berada di neraka kecuali satu golongan.”. Para shahabat bertanya: “Siapakah satu golongan ini wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Golongan yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, Hadis hasan shahih)

  

Berikut ana ketengahkan hal-hal yang membuat ana justru menjadi mundur untuk mengenal fikrah atau manhaj —–tiiiiitt—-[sensor]. Dan bersemangat kembali dalam dakwah bersama manhaj ana yang lama.

  

Yang pertama kita bisa melihat secara lahiriyah bahwa memang benar Islam telah terpecah menjadi berbagai manhaj seperti Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, Hisbut Tahrir, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama dan lain-lain. Masing-masing mengajak umat untuk mengikuti manhajnya, ada yang berusaha mengajaknya dengan cara yang halus tapi ada juga yang mengajaknya secara tidak bijak.

  

Dan yang aneh beberapa manhaj dari yang telah saya sebutkan di atas justru terpecah lagi seperti Ikhwanul Muslimin ada Hamas di Palestina, ada PKS di Indonesia, ada di Siria dan lain-lain tetapi seluruhnya dari mereka tetap berhubungan baik, hanya beda nama karena menyesuaikan kondisi Negara tempat tinggal mereka, masing-masing dari mereka memperlihatkan rasa persaudaraan dan sepenanggungan untuk menghadapi fitnah terhadap Islam di mana pun mereka berada di seluruh penjuru dunia.

  

Sementara yang lain, ada juga manhaj yang sudah terpecah atau menjadi bagian dari Islam, NU dengan PKB dan PKNUnya. Dan —-tiiiittiiii[sensor] yang menjadikan hadits Iftiraq sebagai doktrin ajarannya justru terpecah lagi dan masing-masing merasa menjadi yang paling berhak menyandang sebutan manhaj tersebut. Tidak seperti IM yang berusaha bersatu dan menyatukan umat, justru mereka berusaha berpisah, saling mencela, saling tahdzir dan saling tuduh sesat, dan membuat umat menjauhi dakwah orang-orang yang berada di luar dari sempalannya.

  

Tidak asing lagi bagi kalian, merekalah para pengaku-aku pengikut Salaf Ash-Shalih atau yang kita kenal dengan nama —–tiiiiiiiiiiiiitt—-atau—–tiiiiitt——atau—–tiiiiiitt——-[sensor] atau apapun namanya. Yang justru membuat umat takut dan menjauh dari dakwah mubarakah para pengikut Salaf Ash-Shalih sesungguhnya.

  

Berikut fakta yang ana temukan dalam pencarian ana ini yang tidak bisa dipungkiri. Sebagian ana masukkan dalam kategori Fatwa Ulama. Mungkin karena kaidah yang digunakan mereka adalah bahwa “Kebenaran hanya satu sedangkan kesesatan jumlahnya banyak sekali” keyakinan kebenaran ini karena pemahaman logika mereka yang meyakini hanya merekalah satu-satunya “Orang-orang yang menempuh jalan yang pernah aku (Rasulullah saw) lalui dan jalan para shahabatku dan jalan orang-orang setelahnya, kemudian setelahnya.” Inilah perpecahan yang bisa kita ambil hikmahnya:

  

Seorang ustadz –tiiitt—[sensor] berkata*:

Berkaitan dengan fitnah tahazzub, yang dinukilkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi, dengannya memecah belah barisan —-tiiiiitt—–[sensor] dimana-mana, termasuk di Indonesia. Kemudian fitnah yang ditimbulkan oleh Yayasan Ihya’ut Turats yang dipimpin Abdurrahman Abdul Khaliq seerta Abdullah as Sabt. Abdurahman Abdul Khaliq telah dinasihati sacara keras dan sebagian ulama menyebutnya sebagai mubtadi’.[2]

  

Sebagian orang menganggap kita yang telah berlepas diri dari kesesatan Ja’far Umar Thalib (JUT). Namun ketika jelas setelah nasihat dari para ulama atas JUT, namun dia enggan menerimanya bahkan jurstru dia meninggalkan kita, maka Allah memudahkan kita berlepas diri dari padanya. Bahkan memudahkan syabab kembali kepada Al-Haq, tanpa harus bersusah payah. Padahal sebelumnya, banyak yang ingin menjatuhkan JUT dari sisi akhlak dan muamalahnya.

  

Qadarallah, selama ini kita disibukkan dengan jihad (tahun 2000-2002), yang dengan jihadnya tercapai kebaikan-kebaikan, tidak diingkari juga adanya terjerumusnya dalam perkara siyasah/politik. Dan hal ini, membikin Syaikh Rabi’ bin Hadi menasehatkan dengan menyatakan: “Dulunya jihad kalian adalah jihad —–tiiiiit—-[sensor], kemudian berubah menjadi jihad ikhwani.” Mendengarkan peringatan yang demikian, alhamdulillah, Allah sadarkan kita semua, langsung bangkit dan kemudian berusaha membubarkan FKAWJ (Forum Komunikasi Ahlusunnah wal Jama’ah, red) dan menghentikan komandonya JUT (Laskar Jihad Ahlusunnah wal Jama’ah, red). Alhamdulillah” [2]

  

Seorang ustadz —tiiitt—[sensor] yang lain berkata*:

Bahkan sampai ta’ashub dengan kelompoknya, golongannya, sehingga menyatakan bahwa —–tiiiiit—-[sensor] yang murni adalah kelompok —–tiiiiit—-[sensor] yang ada di tempat Fulan dan berada di bawah ustads fulan. [2]

  

Seorang ustadz –tiiitt—[sensor] berkata*:

Khususnya yang berkenaan tentang Abu Nida’, Aunur Rafiq, Ahmad Faiz serta kecoak-kecoak yang ada di bawah mereka. Mereka ternyata tidak berubah seperti sedia kala, dalam mempertahankan hizbiyyah yang ada pada mereka. [2]

  

Seorang ustadz —tiiitt–[sensor[ yang lain berkata:

Kelompok —–tiiiiitt—-[sensor] ini yang mendirikan Ponpes Dhiyaus Sunnah (Cirebon) merasa merekalah yang paling asli diantara —–tiiiiitt—-[sensor] ——tiiiiitt—-[sensor]  asli lainnya, karena merujuk kepada ulama-ulama —–tiiiiitt—-[sensor]  Arab Saudi.

  

Katanya: “Adapun Abdul Hakim amir Abdat dari satu sisi lebih parah dari mereka, dan sisi lain sama saja. Bahwasanya dia ini, dari satu sisi lebih parah karena dia otodidak dan tidak jelas belajarnya, sehingga lebih parah karena banyak menjawab dengan pikirannya sendiri. Memang dengan hadits tetapi kemudian hadits diterangkan dengan pikirannya sendiri, sehingga terlalu berbahaya.

  

Ini kekurangan ajarannya Abdul Hakim ini disebabkan karena dia menafsirkan seenak sendiri dan memahami seenaknya sendiri. Tafsirnya dengan Qultu, saya katakan, saya katakan, begitu. Ya.., di dalam riwayat ini, ini, dan saya katakan, seakan-akan dia kedudukannya seperti para ulama, padahal dari mana dia belajarnya.

  

Ketika ditanyakan tentang Abdul Hakim, “Siapa?”, lalu diterangkan kemudian sampai pada pantalon (celana tipis yang biasa dipakai untuk acara resmi ala barat, red), “Hah huwa Mubanthal (pemakai panthalon, celana panjang biasa yang memperlihatkan pantatnya dan kemaluannya itu).”[2]

  

Seorang ustadz –tiitt–[sensor] berkata*:

Kita Katakan: Apalagi yang kalian tunggu wahai hizbiyyun? Abu Nida’, Ahmad Faiz dan Kelompok Kalian At-Turatsiyyin!! Bukankah kalian menunggu pernyataan dari Kibarul Ulama! Bahkan kita hadiahkan kepada kalian fatwa dari barisan ulama salafiyyin yang mentahdzir Big Boss kalian!! Kenapa kalian tidak bara’ dan lari dari At-Turats?! Mengapa kalian masih tetap menjilat dan mengais-ngais makanan, proyek-proyek darinya?! [2]

  

Kelompok Al-Muntada (Sururiyah) yang didirikan oleh —-tiiitt—[sensor] London yakni Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin, kemudian di Indonesia membentuk kelompok Al-Sofwah dan Al-Haramain dengan pentolannya Muhammad Kholaf, Abdul Hakim bin Abdat, Yazid bin Abdul Qadir Jawwas, Ainul Harits (Jakarta) dan Abu Haidar (As-Sunnah Bandung). Kelompok ini adalah kelompok yang mengkritik dengan keras kebijakan kerajaan Saudi yang bersekutu dengan kufar AS untuk memerangi Iraq pada perang teluk.

  

Ini juga kedustaan dia, membangun masjidnya ahlul bid’ah, Hadza Al-Sofwah, dan Yazid Jawwas mengatakan “Al-Sofwa itu ikhwani, Surury”, tapi ketika dia bersama mereka sudah meninggalkan —-tiiitt—[sensor], terus omongnya sudah lain.

  

Sehingga apa yang mereka sebarkan dari prinsip-prinsip ikhwaniyyah dan Sururriyah ini, adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan sunnah Rasulullah, dan bertentangan 180 derajat. [2]

  

Ya, akhi dan ukhti inilah yang membuat ana jadi ragu terhadap mereka. Bagaimana mungkin hadits perpecahan yang menjadi landasan dasar manhaj dan fikrah mereka, yang menganjurkan umat Islam untuk tidak berpecah belah, justru secara internal berpecah-belah sesamanya, saling mencela, saling hujat, saling mentahdzir dan menyesatkan.

  

Dengan orang-orang yang berada di dalam satu manhajnya saja seperti itu, jangan ditanya lagi terhadap orang-orang yang berafiasi dalam manhaj lain. Apakah ini yang dimaksud dengan pengikut manhaj Salafus Shalih? Perpecahannya pun bukan Cuma di Indonesia ya akhi dan ukhti, tapi juga di tempat asalnya, Arabia.

  

Tidak… tidak ya akhi… tidak ya ukhti… ana tidak bermaksud menjauhkan kalian dari dakwah manhaj —–tiiiiitt—-[sensor] ini, dan ana yakin pasti ada yang sungguh-sungguh bermanhaj Salafus Shalih diantara manhaj-manhaj ( —–tiiiiitt—-[sensor], IM, HT, JT, NU dll ) ini, dan ana melihat ada yang lebih mendekatinya…ya… sungguh ada yang lebih dekat dengan karakter salafus shalih, baik manhajnya ( —–tiiiiitt—-[sensor], IM, HT, JT, NU dll ), atau minimal sebagian kecil dari orang-orangnya ( —–tiiiiitt—-[sensor], IM, HT, JT, NU dll ). Yaitu mereka yang bersikap lemah lembut, penuh santun, dan tidak memaksa orang untuk mengikuti manhaj atau fikrahnya. Prinsipnya hanyalah ingin menyelamatkan umat dari keterpurukan, kehinaan, apakah dari kesesatan maksiat ataupun bid’ah, yang pasti dari subhat-subhat yang terancukan akan klaim kebenaran tersebut.

  

Tapi sayang ya akhi…dan ana sedih ya…ukhti….karena mereka masih ditutupi oleh asap tebal yang sengaja dibuat oleh orang-orang yang mengharapkan kehancurannya.

  

Semoga menjadi renungan kita bersama untuk mengambil hikmah kebaikan atas apa yang terjadi.

  

Firman Allah Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Qs. Ash-Shaff: 2-3)

  

Firman allah Ta’ala: “Dan janganlah  kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Qs. Ar-Ruum: 31-32)

  

Firman allah Ta’ala: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”. (QS. Ali Imran:159)

Firman allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maaidah: 054)

Firman allah Ta’ala:  “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaahaa:044)

Firman allah Ta’ala:  “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl:125)

  

Wallahu A’lam bishawab.

  

Thank’s for Effendi Prasetyo@www.mail-archive.com

  

Sumber:

1. Risalah Bid’ah, Abdul Hakim bin Amir Abdat

2. http://www.salafy.or.id

3. http://www.assunah.or.id

4. Menepis Penyimpangan Manhaj dakwah, Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi

5. 10 Wasiat bekal aktifis dakwah dan harokah, Abdurrahman Abdul Khaliq

6. http://www.atturats.or.id

7. Mendudukan antara sunnah dan bid’ah, Lajnah Ihya’ut Turats Al-Islamiy

8. http://www.brinkster.com/salafyoonoonline/

Note:

*) Nama ustadz yang dimaksud dihilangkan, untuk menghormati permintaan akhina Anas Fauzi Rakhman atas komentarnya tanggal 12/11/07 yang lalu. Sementara untuk mendelete articlenya akan dilanjutkan jika telah dapat dipastikan tidak ada lagi fitnah dari blog-blog yang mengaku-aku pengikut Salaf. Harap maklum.

Iklan