“Laisa Min Dzambika Ya Akhi…”

  

Article ini ana buat untuk Akhi ana yang seorang Sunni Salafy di Bekasi Timur sebagai sebuah pernyataan atas komentar-komentarnya di ihwansalafy.wordpress.com

   

Assalamu’alaikum salam Wr. Wb.

  

Akhina, semoga Allah selalu melindungi dan menjaga akhi. Pertama kali ana menemukan Blog antum, ada ketakjuban yang muncul dalam hati. Apalagi setelah mengetahui antum dari halaman MAN ANA. Ya, ana melihat ada kebaikan, tidak ada hal-hal yang membuat ana takut terhadap firqah Salafy. Ana berfikir, antum adalah salah satu dari sebagian kecil pengikut Salafy yang bermanhaj Salafus Shalih. Karena itulah ana menjadikan Blog antum sebagai Link tautan di Blog ana.

  

Tak disangka, pagi hari 5 Nopember 2007, saat ana mengecek blog ana, ada sebuah nama yang sepertinya ana kenal di baris pertama Komentar Blog ana. Komentar yang begitu sejuk terasa menelusup ke dada. Ada ketenangan saat membaca komentar antum.

  

Sungguh ana tidak marah, saat antum menyatakan “jgnlah marah sama ana, kalau antum marah maka nasihat ini tidak akan kena dalam hati antum”. Dan sungguh ana tersenyum saat antum menyatakan “Dan jgnlah antum tersenyum karena syaitan akan membisikkan seyuman antum dengan senyuman licik”, tapi senyuman ana bukanlah senyuman dengki dan sinis terhadap komentar antum. Sungguh senyuman ana karena dugaan ana ternyata benar bahwa antum adalah seorang Salafy yang bermanhaj Salafus Shalih.

  

Ini adalah kebenaran ya akhi, ana tidak malu untuk menceritakan kepada antum bahwa malam kemarin, saat ana membaca buku sebagai aktifitas rutin ana sebelum tidur dan ba’da Subuh, ana teringat antum dan merasa ingin mengenal antum lebih jauh. Ada niat yang kuat untuk membaca seluruh isi blog antum dan meyakinkan bahwa antum sungguh Salafy yang bermanhaj Salafus Shalih sampai akhirnya ana mendapat komentar kedua dari antum.

  

Sungguh ana tidak bohong, bahwa ana membayangkan rupa teduh yang bercahaya tanda kesalehan pada wajah. Dan sungguh ana tidak berdusta, kalau ana membayangkan sosok yang mencerminkan keistiqamahan dalam dakwah Salafus Shalih. Dan sungguh ana ingin menyatakan bahwa “Ana mencintai antum karena Allah.”

  

Afwan akhina, ana yakin antum tidak akan menduga ana adalah seorang yang aneh. Karena antum mempelajari sunnah dan antum sangat tahu bahwa ada hadist Rasulullah yang berbunyi:

  

Sabda Rasulullah saw yang menyatakan “Siapa saja yang memiliki tiga sifat ini, akan merasakan manisnya iman, yaitu: 1) Mencintai Allah dan RasulNya melebihi segala-galanya, 2) Mencintai seseorang hanya karena Allah, 3) Enggan untuk kembali kafir setelah diselamatkan Allah sebagaimana enggannya apabila dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari Muslim)

  

Sabda Rasulullah saw yang menyatakan Ada tujuh kelompok yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, (salah satunya) yaitu: ……4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah….” (HR. Bukhari Muslim)

  

Sabda Rasulullah saw yang menyatakan “Apabila seseorang mencintai saudaranya, beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya.” (HR. Abu Daud)

  

Dari Abu Idris Al-Khaulaniy, ia berkata kepada Mu’adz bin Jabal ra: “Demi Allah, saya mencintai kamu karena Allah. Dia bertanya: “Apakah benar, karena Allah?” Saya menjawab: “Ya, karena Allah.’ Dia bertanya: “Apakah benar karena Allah?” Saya menjawab:”Ya, karena Allah.” Kemudian ia menarik ujung selendangku untuk mendekatkanku kepadanya dan dia berkata: “Sambutlah berita gembira ini, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Allah Yang Maha Pemberkah lagi Maha Luhur berfirman: “Kecintaan-Ku tercurah untuk mereka yang saling mencintai karena Aku, mereka yang berteman karena Aku, mereka yang saling mengunjungi karena Aku dan mereka yang saling membantu karena Aku.” (HR. Malik)

  

Untuk dua hadist terakhir mungkin antum lebih tahu statusnya shahih atau dha’if.

  

Ana tidak perduli apakah antum akan mengerenyitkan dahi antum, menaikkan alis antum yang sebelah kiri, menyunggingkan senyum sinis antum, kemudian mentertawakan ana di samping saudara-saudara antum yang semanhaj bahwa itu adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tapi sungguh, itu adalah perasaan ana setelah ana membaca komentar antum pada salah satu article ana dan membaca tautan yang antum sarankan ana untuk meng-kliknya. Karena itulah, ada keinginan ana untuk bisa mengenalnya dari antum.

  

Dan ana juga tidak perduli, kalau antum akan berkata ana adalah seorang pujangga kelas ‘coro’ yang berusaha memporakporandakan keistiqamahan antum terhadap karakteristik manhaj antum. Tidak akhi, sekali lagi tidak akhi, sungguh itu bukanlah sebuah usaha dari ana untuk mengelabui antum. Ana meyakini antum telah memiliki pondasi yang kokoh terhadap manhaj antum. Dan antum telah memiliki banyak sahabat di sekitar antum begitu juga ana. Dan sungguh, mungkin ana tidak berarti apapun di mata antum. Dan ana tidak perduli, karena sampai saat ini pun kita tidak pernah saling mengenal.

  

Tapi ternyata, harapan tinggallah harapan…dan mimpi tinggallah mimpi…

  

Tidak…tidak ya akhi….Ana tidak perlu kecewa dengan komentar antum di article ana yang lain. Ana tidak perlu bersedih dengan pernyataan antum “Namun bukan berarti mendiamkan bahkan ikut serta seperti IM di sana senang di sini senang. Pengetahuannya untuk dirinya sendiri karena takut memberitahu bahwa itu salah dgn alasan menjaga persatuan.”, dan ana tidak perlu menangis seperti antum yang menyesali apa yang telah ana lakukan dengan blog ana terhadap manhaj antum.

  

Ya akhi, semoga Allah selalu menjagamu, karena ana telah mengambil banyak hikmah dan kebaikan dari antum atas komentar dan article yang antum tautkan ke blog ana dalam komentar pertama pada salah satu article ana. Dan itu sudah lebih dari cukup bagi ana.

  

Terakhir, ana hanya dapat mendo’akan sekalipun ana belum sempat mengenal antum lebih dekat, semoga antum dapat tetap istiqamah terhadap sunnah Rasulullah saw, dan Allah terus membimbing, menjaga dan melindungi antum dari kerikil yang menghadang. Tak ketinggalan semoga si kecil ‘Ar-rijalud Da’wah ila Sunnah’ sebagai generasi penerus antum, sungguh dapat penjadi pembela sunnah seperti yang antum harapkan.

Dan untuk ana pribadi, semoga Allah mengampuni ana. Jika antum menganggap perbuatan ana salah. Karena sesungguhnya kebenaran dan kesalahan itu bisa menjadi sangat relatif tergantung dari mana ia dilihat. Tak lupa terima kasih banyak untuk article ”Yang Kedua” yang ana yakini antum publish karena terinspirasi dari dugaan antum terhadap tujuan kehadiran blog ana. Siapapun sungguh bisa menjadi ‘Yang Terhempas’ tergantung dari mana ia melihatnya, tak terkecuali ya akhi…ya…tak  terkecuali siapapun ya akhi….

Ana hanya bisa mengatakan, tidakkah antum tahu bahwa banyak dari blog-blog salafi yang menerbitkan article ”Ketika Nasihat Dianggap Celaan” yang dibuat oleh Al Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar yang bersumber dari http://www.asysyariah.com dengan Judul Asli: “Ketika Kritikan Dianggap Sebagai Celaan”. Maka dari sanalah dan juga sebagian besar blog-blog salafi lakukan terhadap “celaan yang dianggap nasihat” ana ambil sisi positifnya dan merubahnya benar-benar menjadi nasihat buat ana pribadi menurut cara pandang ana. Dan ana selalu berusaha instrospeksi dengan banyak hal, ya, ana selalu introspeksi dengan banyak hal, dan mengambil kebaikan-kebaikan yang muncul setelahnya tak terkecuali dari komentar-komentar dan article-article antum. Ataupun hujatan dan celaan dari orang-orang yang hanya mengaku-aku Salafy padahal sesungguhnya mereka berkarakter Haddadiyah. Ataupun juga dari article dan komentar ana pribadi.

  

Ana hanya cukup mengatakan kepada antum, bahwa ‘ana tidak seperti yang antum kira’. Maaf, jikalau ana membuat hati antum kotor karena ana sangat takut seandainya ana termasuk apa yang Rasulullah saw sabdakan “…………Dan siapa saja yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR. Muslim)

  

Cukuplah firman Allah Ta’ala, “Orang-orang yang beriman dan tidakmenodai iman mereka dengan kezhaliman (sirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka itu adalah orang-orang yang menepati jalan hidayah.” (Qs. Al An’aam: 82)

  

Sabda rasulullah yang menyatakan “Barang siapa bersyahadat, bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan rasulNya, dan (bersyahadat) bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikanNya kepada Maryam serta ruh dariNya, dan (bersyahadat pula bahwa) surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga betapapun amal yang telah dipebuatnya” (HR. Bukhari Muslim)

  

Dari At-Tirmidzi meriwayatkan hadits yang dinyatakannya hasan dari Anas. Dia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Hai anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan kamu ketika mati (berjumpa denganKu) berada dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun kepadaKu, niscaya akan Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh jagad pula.”

Yang ana inginkan dari kehadiran blog ana adalah bisa dijadikan nasihat bagi pembaca seluruhnya, kalaulah keberatan bahwa kalian menganggap ini bukanlah nasihat tapi justru celaan, maka janganlah pernah menganggapnya sebagai nasihat, hiraukanlah ya akhi…… biarlah itu menjadi nasihat dan introspeksi buat ana pribadi. Karena sesungguhnya ana sangat memahami hadist Rasulullah berikut ini:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan dalam hadits Tamim Ad-Dari radhiallahu ‘anhu, katanya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Agama (Islam) ini adalah nasehat (diulangi tiga kali oleh beliau).” Kami bertanya: “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Kata beliau: “Untuk Allah, Kitab-Nya dan Rasul-Nya. Serta untuk para imam (pemimpin) kaum muslimin dan awam mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim serta yang lainnya)

Wallahu Ta’ala A’lam.

 Barrakalahu fiikum, ya akhi….