Ternyata Kalian pun Berhak Menyandang Firqah Najiyah

(Bagian II)

  

Klaim bahwa Firqah Najiyah hanya untuk satu kelompok jama’ah tertentu ternyata hanyalah permainan doktrin kelompok tersebut yang tidak perlu dikhawatirkan.

  

Apa yang saya katakan bukanlah omong kosong belaka. Berikut ini akan saya kutipkan sebagian isi buku yang telah diberi sambutan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz direktur Lembaga Riset Keilmuan, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Kerajaan Arab Saudi.

  

Ternyata kalian pun berhak menyandang diri sebagai Al-Firqah An-Najiyah atau Kelompok yang Selamat. Bagi yang belum membaca bagian pertamanya agar pemahaman itu menyeluruh, please KLIK HERE!

  

Bagi yang sudah, Selamat Mengikuti article bagian kedua berikut ini….

 

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan tidak dibolehkannya mengkhususkan istilah Firqah Najiyah hanya kepada kelompok tertentu yang menyandang sebutan Ahlul Hadits dan yang sejenisnya adalah:

  

Kedua: Di antara sebab dilarangnya kita membatasi Firqah Najiyah hanya untuk Ahlul Hadits—khususnya pada masa sekarang ketika istilah ini telah berubah dan semakin menyempit wilayahnya—bahwa setelah berlalunya tiga generasi yang utama, kebaikan dan keutamaan yang ada pada umat ini semakin berkurang dan terpecah-pecah.

  

Dengan demikian, rasanya sangat sulit untuk mendapatkan suatu kelompok yang terkumpul padanya sifat-sifat yang pernah dimiliki oleh kalangan salaf, baik dalam lingkup jama’ah maupun individu. Bahkan, bisa dipastikan bahwa komunitas seperti itu sudah tidak ada lagi. Akan tetapi, sesungguhnya kebaikan dalam umat ini masih ada. Hanya saja, keberadaannya terselimuti oleh asap.

  

Buktinya, kelompok yang mengklaim bahwa merekalah yang paling berhak meneladani Nabi Shalallahu’alaihi wasalam dan paling layak mendapat label selamat ini, keberadaannya tidak lepas dari aib, kesalahan, dan pasti terdapat cacat dan kekurangan. Sementara itu, pada kelompok lain terdapat berbagai kebaikan, baik sedikit maupun banyak, dan pada saat yang sama kebaikan itu tidak terdapat dalam kelompok tersebut.

  

Jika kita sudah memperkirakan bahwa kelompok yang terbebas dari berbagai kesalahan itu sedikit, maka harus kita perkirakan pula bahwa kekurangan yang ada pada mereka lambat laun akan diyakini mereka sebagai suatu kebaikan. Pemahaman ini pun berkembang dan menganggap masalah-masalah furu’ sebagai masalah-masalah ushul.

  

Sebab, hal tersebut telah menjadi ciri khas bagi mereka yang membedakan dari golongan muslim yang lain. Selain itu, kita harus memprediksikan pula bahwa golongan tersebut akan mencela, meremehkan, dan menolak segi-segi kebaikan dari golongan lain. Sebab, kelompok itu menganggap bahwa kelompok lain mempunyai cela yang lebih banyak daripada kelompoknya sendiri dan menganggap fatal kesalahan-kesalahan mereka.

  

Misalnya, sudah merupakan hal yang biasa di kalangan yang antusias dalam mengikuti sunnah pada zaman ini mengkaji sisi-sisi ilmiah—khususnya hadits—menjauhi taklid, memerangi yang diharamkan, dan memperhatikan selamatnya akidah.

  

Namun, sisi-sisi positifnya terkadang disalahartikan oleh sebagian kalangan. Akibatnya, perhatian terhadap hadits dan pemberantasan taklid berubah menjadi kerancuan dalam memahami syari’at. Akhirnya, orang yang tidak becus dalam membaca Al-Qur’an atau tidak bisa membaca hadits dianggap oleh masyarakat sebagai seorang mujtahid.

  

Mereka tidak mau merujuk pendapat Ahmad, Syafi’I, dan Abu Hanifah. Bahkan, lebih parahnya lagi, mereka mengklaim bahwa mereka mengambilnya langsung dari sumbernya.

  

Perkaranya pun terkadang berkembang, dari ijtihad furu’ menjadi ijtihad dalam permasalahan akidah, berdasarkan pada penshahihan dan pendha’ifan hadits, atau pemahaman nash menurut lahirnya, atau yang lainnya. Dari sinilah muncul bahaya yang besar. Sebab, akan terjadi kekacauan dalam memahami ushul, yang bermula dari kekacauan dalam memahami masalah furu’.

  

Selanjutnya, Anda akan mendapatkan orang yang memerangi taklid dan mencela penganutnya tersebut, ternyata juga seorang muqallid (yang bertaklid)—meskipun ia tidak menyadarinya—kepada fulan dan fulan, baik dari kalangan ulama maupun penuntut ilmu yang mereka anggap baik.

  

Ia selalu berprasangka bahwa mereka senantiasa berada di atas jalan yang lurus, tidak akan keluar dari dalil yang benar, dan mereka tidak berkata kecuali dengan dalil. Anda juga akan mendapati bahwa ia bertaklid dalam masalah menshahihkan dan mendhaifkan hadits, serta menguatkan dan melemahkan rijal (tokoh). Ia taklid kepada mereka dalam masalah-maslah fikih dan yang bersifat ijtihadi yang pelakunya akan dimaafkan jika salah. Namun, tidak demikian dengan dirinya.

  

Dengan demikian, hal di atas mengakibatkan terjadinya perselisihan yang dahsyat dan perpecahan yang dapat menghilangkan tali persaudaraan dan jama’ah hanya karena perbedaan teori, ilmu, dan pendapat. Perselisihan seperti ini merupakan salah satu dari ciri-ciri Ahli Bid’ah yang suka berpecah belah dan bangga dengan golongannya masing-masing.

  

Perhatian terhadap pentingnya pemurnian akidah terkadang juga berubah menjadi ajang untuk menuduh yang lainnya dengan sesat, kafir, nifak, bid’ah, bicara tanpa bukti, dan sebagainya. Parahnya, hal itu juga disertai klaim bahwa dirinya saja yang sempurna dan bersih dari apa yang dituduhkannya kepada yang lain. Sampai-sampai, didapati adanya orang yang menyatakan bahwa dirinyalah yang pantas mendapat gelar Firqah Najiyah dan Tha’ifah Manshurah, sambil mengatakan, “Golongan ini (Firqah Najiyah) hanya ada pada satu golongan.”

  

Terkadang pula, antusias terhadap sunnah dan kebencian terhadap bid’ah bisa membawa pada penolakan terhadap produk dan kreasi-kreasi masa kini yang bermanfaat, serta ketidakmauan mamakainya dan memanfaatkannya guna menyebarkan dakwah Islam. Tetapi sebaliknya, ia membesar-besarkan sebagian amalan sunnah dan wirid. Seakan-akan amalan-amalan tersebut merupakan bagian dari perkara ushul, bahkan menggiring mereka kepada penyepelean dan peremehan terhadp sebagian ushul yang sudah disepakati semua pihak, dan menganggap hal itu seakan-akan adalah maslah furu’.

  

Bentuk-bentuk penyimpangan semacam ini dan yang lainnya—meskipun sama sekali tak ada pengaruhnya bagai orang-orang yang berakal lagi jujur—tidak menghalangi mereka untuk tetap mengkaji dan mengidentifikasinya secara ilmiah. Serta tetap berijtihad dan meninggalkan taqlid baik secara keseluruhan maupun sebagian, sesuai dengan kemampuan mujtahid. Selain itu, tidak pula menghalangi mereka untuk memerangai bid’ah dan menebarkan sunnah.

  

Hanya saja, terkadang perkara-perakara seperti itu—tanpa disadari—dianggap oleh sebagian kelompok sebagai bagian dari karaktristik Firqah Najiyah. Dengan demikian, ketika mereka melihat ada orang mengingkari perkara tersebut, mengerjakan perkara yang menjadi lawannya atau mengkritik amalan tersebut, mereka berburuk sangka dan berkeyakinan bahwa orang itu memerangi ilmu, sunnah, dan hadits. Padahal, jika mau objektif, mereka akan mengetahui bahwa Firqah Najiyah merupakan manhaj, aturan, sifat dan karakteristik. Bukan hanya sekedar nama serta klaim tanpa bukti.

  

Di sisi lain, kita juga mendapati beberapa kelompok dari umat ini yang meremehkan atau terjerumus dalam sebagian penyimpangan akidah, akhlak, atau beberapa aspek yang bermanfaat—meskipun tidak banyak—yang tidak didapatkan pada kelompok sebelumnya.

  

Dari uraian ini, kita memahami bahwa pembatasan Firqah Najiyah hanya kepada Ahlul Hadits saja, akan membawa pada persepsi yang salah, yakni tidak mengakui kebaikan orang-orang yang memiliki karakter Firqah Najiyah di luar Ahlul Hadits, dan menganggap mereka sebagai golongan sesat.

  

Dari situlah, mereka terjerumus ke dalam sebab perselisihan Ahli Kitab, dimana penyebab perselisihan mereka adalah melupakan peringatan Allah.

  Allah berfirman:

“Dan diantara orang-orang yang mengatakan. “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani,’ ada yang telah Kami aambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakakn sebagian dari aapa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat.” (Al-Ma’idah: 14).

  

Misalnya, sebagian manusia terkadang mempersepsikan amalan-amalan ibadah (baca: pembersihan jiwa) dan perilaku sebagai pemikiran-pemikiran orang-orang sufi atau yang terpengaruh dengan mereka. Dengan demikian, memberikan perhatian kepadanya, meramaikan, dan membicarakan hal-hal tersebut merupakan hal aneh dan tidak familiar bagi sebagian komunitas atau kelompok yang memerangi faham Tasawuf. [contoh nyata yang paling mudah lihat komentar akhi Muslim dan jawaban ana pada article Taubatnya Seorang Salafi Yamani ‘JUT’ seputar masalah sufi atau antum bisa cek Tulisannya Al-Ustadz Qomar ZA, Lc Dengan Judul “Sejarah Suram Ikhwanul Muslimin”]

  

Contoh lain ialah memberikan perhatian dan konsentrasi terhadap aspek-aspek politik, antusias dalam mengikuti perkembangan peristiwa, kemudian mengaitkannya dengan kejadian lain. Demikian pula menyingkap berbagai makar para thagut terhadap rakyatnya—lebih spesifik terhadap rakyat muslim—berbicara seputar hukum yang bersumber dari selain yang diturunkan Allah, dan pemberian loyalitas kepada musuh-musuh Allah.

  

Semua ini telah menyebabkan pelakunya dipersepsikan oleh sebagian kalangan sebagai kelompok yang tidak mengenal sunnah dan mempunyai perhatian terhadap pemurnian akidah. Karena itu,  pembicaraan tentang permasalahan politik menjadi tidak familiar dan tidak diterima oleh sebagian kelompok yang mempunyai perhatian terhadap sunnah dan akidah. Sebab hal itu merupakan syi’ar dan karakteristik mereka. [kalo untuk contoh yang ini antum bisa cek di majalah Salafy edisi XXVII/1419H/1998M atau edisi XXX/1420H/1999M]

  

Semua persoalan di atas dan yang lainnya, justru menjustifikasi kuatnya pendapat yang mengatakan bahwa Firqah Najiyah merupakan kumpulan dari beberapa karakteristik, sifat, dan prinsip. Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya—baik personal maupun kelompok—diharapkan termasuk dalam kelompok yang selamat. Barangsiapa yang berpaling darinya, dikhawatirkan akan masuk ke dalam golongan yang binasa.

  

Diharapkan agar setiap Muslim—baik individu maupun kelompok—bisa mencapai keselamatan sesuai dengan kedekatannya terhadap sifat-sifat tersebut dan cara penerapannya dalam kehidupan. Dan, dikhawaatirkan jika ia binasa dikarenakan peremehan, ketidakmampuan, dan keteledoran terhadap hal tersebut.

  

Kualitas manusia tentunya berbeda-beda dalam mengaktualisasikan sifat-sifat Firqah Najiyah, dari sisi kedekatan atau jauhnya mereka dari sifat-sifat tersebut. Setiap kaum sesuai dengan keadaan mereka.

  

Firqah Najiyah bukanlah suatu istilah yang harus diperebutkan oleh sebagian kelompok. Lalu, mengklaim bahwa golongannyalah yang berhak menyandangnya dan tidak menyertakan kelompok yang lain tanpa dalil yang jelas.

  

Pengertian ini bisa memberikan pengertian lebih luas dari Firqah Najiyah dan bisa menjadikan beragam pendapat yang satu dengan lainnya yang di dalamnya hanya terdapat sedikit perbedaan, namun tidak ada perselisihan.

  

Jika para ulama terdahulu mendefinisikan Firqah Najiyah dengan Ahlul Hadits—dikarenakan luas dan komprehensipnya istilah ini pada masa mereka—maka jika orang sekarang juga mendefinisikannya seperti itu, mereka harus mengembalikan pengertiannya (Ahlul Hadits) kepada pemahaman orang-orang salaf terdahulu. Dengan demikian, istilah tersebut lebih dekat pada pengaertian Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

  

Adapun penyematan pengertian istilah Firqah Najiyah hanya kepada kelompok tertentu dari kalangan Ahlu Sunnah yang menamakan diri mereka Ahlul Hadits, dan menafikannya dari kelompok lain yang meniti jalan Ahlul Hadits dan berjalan di atas sunnah, serta menyelisihi para pelaku bid’ah dan pengikut hawa nafsu, maka hak itu merupakan salah satu bentuk pembatasan sesuatu yang bersifat umum hanya kepada beberapa individu, tanpa menggunakan dalil yang benar.

  

§§§

  

Dikutip 4 Nopember 2007 oleh Ibnu Abd Muis, dari buku Thaifah Manshurah, Dr. Salman bin Fahd Al-Audah, Penerbit: Jazera, Cetakan pertama: Agustus 2007.

  Info: Pengarang buku ini juga ditahdzir di negerinya oleh jama’ah kelompok pengaku-aku manhaj salaf loch! Mau bukti?

Please Klik http://www.islamgold.com/view.php?gid=2&rid=9

  Subhanallah, atas apa yang ana posting di atas tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan jamaah tertentu, tetapi hanyalah sebatas wacana yang bisa diambil hikmahnya bagi para pencari kebenaran sebagai introspeksi khususnya buat ana pribadi dan antum semua dalam menjalankan sebuah keyakinan.