Obat Untuk Kalian Yang Punya Penyakit Buruk Sangka Terhadap Orang Lain!!!

  

Akhi dan Ukhti fillah, setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap orang lain yang ditemuinya. Cara pandang atau paradigma adalah sebuah karakter yang terbentuk dalam kehidupan kita. Ada yang paradigmanya selalu negative terhadap orang lain, dan sungguh beruntunglah ia, karena memiliki sifat selalu berhusnudzan terhadap orang lain. Tapi ada yang paradigmanya selalu negative terhadap orang lain, dan sungguh celakalah ia, karena memiliki sifat selalu bersu’udzan terhadap orang lain, dan ia akan semakin binasa bila terus mempertahankan sifatnya tersebut, karena bisa jadi ia akan bersu’udzan terhadap Tuhannya dan tidak ikhlas terhadap takdir yang telah ditetapkan kepadanya.

  

Berikut sebagian isi dari buku The Seven Habits of Highly Effective Teens karya Sean Covey yang gue persembahkan untuk kalian. Semoga bermanfaat…..

 

PARADIGMA TERHADAP ORANG LAIN

 

Oleh: Sean Covey

  

Kita punya paradigma bukan saja tentang diri kita sendiri, melainkan juga tentang orang lain. Dan itupun bisa keliru. Memandang segalanya dari sudut yang berbeda dapat membantu kita memahami mengapa orang lain bersikap seperti itu.

  

Becky bercerita kepada saya tentang pergeseran paradigmanya:

  

Ketika sekolah menengah, saya punya teman bernama Kim. Sebenarnya dia itu orang yang menyenangkan, tetapi lama kelamaan, semakin sulit deh bergaul dengannya. Ia mudah tersinggung dan sering kali merasa dicuekin. Ia pemurung dan susah deh dekat-dekat dengan dia. Sedemikian rupa sehingga saya sama temen-temen lain semakin jarang meneleponnya. Akhirnya kami tidak pernah mengajaknya lagi.

  

Setelah tahun itu, saya sedang liburan musim panas, dan ketika pulang, saya ngobrol sama teman baik saya, tentang berita-berita mutakhir. Ia ceritakan semua gossip yang ada, cerita-cerita asmara, siapa mengencani siapa, dan sebagainya, ketika tiba-tiba katanya, “Oh ya, kamu sudah tahu belum soal si Kim? Belakangan ini ia nelangsa banget deh karena orangtuanya bercerai”.

  

Ketika saya mendengarnya, seluruh perspektif saya berubah. Bukannya kesal dengan perilaku Kim, saya jadi tidak enak sendiri. Saya meresa meninggalkannya ketika ia membutuhkan seseorang. Hanya dengan mengetahui informasi kecil itu, seluruh sikap saya terhadapnya berubah. Itu sungguh suatu pengalaman yang membuka mata saya.

  

Dan bayangkan bagaimana paradigma Becky berubah total hanya gara-gara informasi baru itu. Terlalu sering kita menilai orang tanpa mengetahui semua fakta-faktanya.

  

Monica punya pengalaman serupa:

  

Dulu saya tinggal di California, di mana saya punya banyak teman baik. Saya tidak peduli dengan orang baru karena saya sudah punya teman sendiri dan saya pikir orang-orang baru seharusnya mengurus urusannya sendiri. Lalu, ketika saya pindah, sayalah yang jadi anak baru, dan sungguh berharap ada yang mempedulikan saya dan menjadikan saya bagian dari kelompok mereka. Sekarang saya memandang segalanya dengan cara yang sama sekali berbeda. Saya tahu seperti apa rasanya tidak punya teman.

  

Mulai sekarang, Monica akan mempelakukan anak-anak baru dengan sangat berbeda, bukan? Memandang segalanya dari sudut lain bisa membuat banyak perbedan dalam sikap kita terhadap orang lain.

  

Kisah berikut dari majalah Readers’s Digest (kontribusi dari Dan P. Greyling) adalah contoh klasik pergeseran paradigma:

  

Teman saya, wanita, ketika pulang ke Afrika Selatan setelah lama tinggal di Eropa, masih punya banyak waktu menunggu di bandara Heathrow di London. Setelah membeli secangkir kopi dan sekantong kue kering, keberatan dengan kopernya, ia berjalan menuju sebuah meja kosong. Ia sedang membaca surat kabar pagi ketika sadar ada seseorang yang merogoh kantong kertas di mejanya. Dari balik suratkabarnya, ia sangat terkejut melihat seorang pemuda berpakaian rapih sedang mengambil kuenya. Karena tidak mau membuat kributan, ia hanya mengambil kuenya saja tanpa berkata apa-apa. Satu menit berlalu. Terdengar lagi suara keresek. Pemuda itu sedang mengambil kuenya lagi.

  

Ketika kuenya tinggal satu, teman saya menjadi sangat marah tetapi tidak berani bilang apa-apa. Lalu, pemuda itu membelah kuenya, menyodorkan separuh kepada teman saya, makan sisanya, lalu beranjak pergi.

  

Beberapa waktu kemudian, ketika namanya dipanggil untuk naik ke pesawat, teman saya masih kesal. Bayangkan rasa malunya ketika ia buka tasnya dan menemukan kantong kuenya sendiri. Jadi, sedari tadi itu, yang ia makan adalah kuenya pemuda itu.

  

Bayangkan perasaan wanita ini terhadap pemuda yang berpakaian rapih itu sebelum kenyataannya terungkap: “Dasar tidak tahu malu”.

  

Bayangkan perasaannya setelah kenyataannya terungkap: ‘Malu-maluin deh! Baik amat dia itu membagi kuenya yang terakhir!”

  

Jadi, apa sih maksudnya? Begini. Paradigma kita sering kali tidak lengkap, tidak tepat, atau benar-benar keliru. Oleh karenanya, janganlah kita cepat-cepat menilai orang, mencap orang, atau membentuk pandangan yang kaku tentang orang lain, tentang diri sendiri. Dari sudut pandang kita yang terbatas, kita jarang melihat gambaran keseluruhannya, atau punya semua faktanya.

  

Selain itu, hendaknya kita buka pikiran dan hati kita terhadap informasi, gagasan, dan pandangan baru, dan bersedia mengubah paradigma kita kalau jelas-jelas keliru.

  

Yang terpenting, jelaslah bahwa kalau kita mau membuat perubahan besar dalam hidup kita, kuncinya adalah mengubah paradigma kita, atau kacamata yang kita pakai untuk melihat dunia. Gantilah lensanya, maka segalanyapun akan berubah.

  

Kalau kamu perhatikan, akan kamu temukan bahwa kebanyakan masalahmu (soal hubungan, soal citra diri, soal sikap) adalah akibat paradigma yang keliru. Umpamanya, kalau kamu punya hubungan yang buruk dengan, katakanlah, Ayahmu, rasanya kalian berdua punya paradigma yang rusak tentang satu sama lain. Mungkin kamu memandang Ayahmu sangat ketinggalan zaman, sedangkan Ayahmu memandangmu sebagai  berandalan yang manja, yang tidak tahu terima kasih. Kenyataannya, paradigma kalian mungkin saja tidak lengkap dan mengakibatkan komunikasi kalian jadi terhambat.

  

Sebagai contoh kenyataan yang gua alami sendiri:

  

Adalah sebuah kekecewaan manakala seorang Ayah memperlakukan anaknya seperti anak SD yang belum tahu apa-apa. Pergi kemanapun harus bilang dan ijin. Even itu ke mushala dekat rumah, menghadiri pengajian rutin mingguan atau membantu acara bakti social untuk warga di lingkungan kelurahan atau daurah di daerah puncak. Alhasil, setiap pulang aktivitas tersebut, seringkali timbul perselisihan karena gue ngerasa bokap gue terlalu over protective.

  

Maklum ghirah dakwah gue waktu dulu lagi tinggi banget. Setelah situasi sudah dingin, mulai deh gue memberanikan diri untuk ngobrol ke bokap tentang banyak hal. Terutama alasan kenapa bokap terlalu over protective terhadap anak-anaknya.

  

Alasannya :

 

  1. Bokap khawatir gue masuk aliran sesat yang justru akan menjerumuskan gue ke masa depan suram yang menghancurkan

2. Bokap khawatir kalo gue kenapa-kenapa karena gue anak laki satu-satunya sebagai penerus dan pelindung keluarga

3. Bokap sedih karena hanya sebagian kecil saja waktu yang gue curahin untuk keluarga

4. Bokap butuh seseorang yang bisa diajak diskusi mengenai banyak hal terutama masalah keluarga dan usahanya

5. Bokap khawatir kalau gue akan terpengaruh dengan temen-temen di lingkungan gue yang cuma pengangguran, pemabok, dan penjual Koran atau tukang parkir

6. dan kekhawatiran lainnya yang kalo gue ceritain semuanya bisa sampe Subuh besok nggak kelar-kelar.

  

Dan sebelum gue ngobrol gitu, gue juga sempet cari tahu ke keluarga gue yang lain, mungkin bokap pernah cerita tentang gue. Dan gue dengan jiwa muda gue yang pengen mencoba hal-hal baru nggak pernah berfikir dan mau ngerti kenapa Bokap gue bersikap over protective seperti itu. Tapi setelah semuanya ‘clear’, gue tau alasan kenapa bokap bersikap seperti itu dan gue jelasin alasan gue tanpa ditutupi sedikitpun. Baru deh semuanya beres dan damai. Meskipun begitu, tetep aja kadang-kadang sikap over protectivenya kambuh lagi terutama bila ada kasus-kasus tertentu yang melibatkan umat Islam yang dia liat di TEVE. Misal, kasus penculikan Raisya, elo-elo masih pada inget khan? Dan yang terbaru Al-Qiyadah al-Islamiyah.

Tapi yang terpenting, buat Elo-elo yang ngalamin hal yang sama kaya gue, coba deh elo berfikir kalo seandainya Elo jadi bokap loe. Samain kondisi sekarang dengan kondisi saat bokap loe muda dulu. Pikirin kenapa dia punya karakter seperti itu, apakah ada hubungannya dengan masa mudanya. Berusaha membuang sedikit EGO loe, dan mengalah. Masuki beliau dengan karakternya, insyaAllah semuanya akan beres.

 

Yap, gua Cuma bisa bilang, Thank’s ya Rabb! Gua punya seorang murabbi yang selain paham akan Islam, kondisi mutakhir umat saat ini, memiliki ilmu psikologi yang oke, selalu dengerin keluh kesah mad’unya, selalu husnuzhan sama orang lain dan temen-temen yang selalu ngedukung, subhanallah. Kalau bukan mereka, nggak tau deh jadi apa gue sekarang.

  

Oke, Husnudzhan selalu ya Bro’, jamin loe-loe pade nggak bakalan rugi. Ketimbang kalo elo selalu Su’udzhan sama orang lain. Dan ternyata sikap buruk sangka loe salah, elo bakal malu seumur hidup, even elo sudah minta maaf ke dia. Kecuali elo emang nggak punya malu, I don’t know…itu masalah loe…kasian deh loe……

  !!!

Iklan