Sungguhkah Kita Beriman Kepada Hari Akhir?

Oleh: Syaikh Muhammad bin Husain Ya’qub

Saudaraku, mari kita tanya, apakah kita sudah benar-benar beriman? Apakah orang seperti kita ini telah beriman kepada Allah dan hari akhir? Apakah kita sadar betul, bahwa kematian pasti mendatangi kita, dan tak ada tempat menghindar darinya, kemudian pada hari perhitungan kita akan dibangkitkan dari kubur? Saudaraku, seorang Mukmin merealisasikan iman dengan perbuatan dan perkataan. Iman bukan sekedar ucapan yang bisa dibuat main-main, lalu dibiarkan begitu saja.

 Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Iman tidak hanya angan-angan dan hiasan semata. Ia adalah apa yang diyakini oleh hati, lalu direalisasikan dengan tindakan. Iman adalah keyakinan yang mengakar kuat di hati dan dibuktikan dengan kenyataan. Keyakinan itu tidak berubah, sehingga benar-benar menancap kuat pada diri seseorang.”

Hasan Al-Bashri rahimahullah kembali berkata, “Celakalah manusia oleh angan-angannya: berkata tanpa beramal, bermakrifah tanpa bersabar, dan beriman tanpa keyakinan. Mengapa ada beberapa orang yang tak memiliki akal. Kudengar ucapan tapi tak ada realitanya. Demi Allah, ia masuk ke sebuah kaum lalu keluar. Mengerti tetapi mengingkari. Mengharamkan, tetapi kemudian menghalallkan. Agama mereka hanya sebatas manis di bibir. Jika ditanya, ‘Apakah engkau beriman kepada hari kiamat?’ mereka menjawab, ‘Ya,’ kemudian mendustakannya. Apa yang kau ketahui tentang kiamat?”

Saudaraku, inilah akhlak orang-orang beriman. Ada keteguhan dalam beragama, ada iman dalam keyakinan, ada ilmu dalam santun dan berlaku santun dengan ilmu. Ada kecerdasan dalam kelembutan, keindahan dalam jejaknya, ada kemurahan dalam kayanya. Ada kelembutan dalam pemberiannya, ada kasih sayang bagi yang lemah. Selalu menunaikan hak-hak. Ada kesadaran dalam keistiqamahannya. Tak membalas orang yang membenci. Tak ada keengganan dalam menolong. Tak pernah menghina dan mengejek, tak pernah tenggelam dalam senda gurau dan permainan sia-sia. Tak menggunjing manusia. Tak mengerjakan sesuatu yang tidak diketahuinya. Tak pernah menolak kebenaran. Subhanallah, inilah akhlak orang-orang beriman. Tetapi, di manakah mereka? Apakah Anda termasuk bagian dari mereka?

“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim: 8).

Saudaraku, kematian adalah keniscayaan, yang orang sombong tak berdaya menghadapinya. Cerdik pandai tak kuasa mendebatnya, karena kematian adalah peristiwa yang selalu berulang. Tetapi menusia lupa atau pura-pura melupakannya. Seluruh yang hidup akan berakhir dengan kematian. Meninggalkan harta, keluarga dan kenikmatan yang Allah berikan padanya. Bahkan keluarganyalah yang akan mengurugnya dengan tanah. Saudaraku, umur mempunyai batas, dan kehidupan pasti berakhir. Kita tidak tahu, kapan umur dan kehidupan kita berakhir. Tetapi kita yakin, semuanya tak akan lagi terjadi.

Allah “Azawajalla berfirman, “Setiap orang mempunyai ajal. Ketika datang ajal, tak dapat di akhirkan atau dimajukan.” (Al-A’raf: 34)

Bagaimana dengan dirimu, ketika telah sampai di ujung kehidupan, dan kemudian berpindah ke alam lain? Apakah kau tahu, akan berpindah ke alam yang lebih baik, atau sebaliknya, kau akan berpindah ke alam yang lebih ngeri dan mencelakakanmu? Saudaraku, kita adalah musafir. Jalan yang kita lalui begitu panjang, banyak halangan dan rintangan. Persiapkanlah bekal di dunia untuk perjalanan menuju akhirat. Jangan sampai kau lupa tujuanmu, karena tertipu oleh rintangan; kenikmatan syahwat, harta yang melimpah dan indahnya kehidupan. Semuanya tak akan kekal.

Katakanlah, “Kenikmatan dunia sangan sedikit. Sedangkan akhirat lebih baik bagi orang yang bertakwa. Dan kalian tidak akan didzalimi sedikitpun. Dimanapun berada, maut akan menjumpai kalian, walau berada di benteng yang kokoh.” (An-Nisa’: 78).

Saudaraku, berikan jalan lapang agar kebenaran masuk ke dalam diri kita. Lapangkan jalan, agar kita menyadari hakikat kehidupan. Demi Allah, sesungguhnya kehidupan yang terlepas dari rambu-rambu Ilahi, kehidupan yang putus hubungan dengan Dzat yang Maha Hidup dan tak pernah mati, kehidupan yang keluar dari naungan syari’at Allah, adalah kehidupan yang hina dan tercela. Kehidupan di dalamnya dicekam keresahan. Jiwa mereka lapar, karena hidup tak pernah mengerti kebenaran dan jalannya.

Maka kenalilah Rabb-mu, Ia akan mengenalimu. Engkau akan mendapati kebahagian dan memperoleh petunjuk untuk meraih tujuan. Tanpanya, kehidupanmu hanyalah fatamorgana yang muncul oleh kilatan cahaya mentari di siang yang panas. Seolah memberitahukan kepadamu sebuah benda, padahal hanya fatamorgana. “Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (An-Nur: 39).

Saudaraku, jangan sampai ketika kehidupanmu berakhir dan kau berpindah dari dunia lalu memandang hari-hari yang telah berlalu, kau dapati kenyataan yang menyakitkan. Hari-hari kelabu yang kau habiskan untuk bermaksiat kepada Allah ‘Azawajalla. Jangan sampai kau tertipu kesenangan dan kemewahan dunia, hingga tak mengerti hakikat sesungguhnya. Bila itu terjadi, kau akan menangis saat ruhmu sampai di kerongkongan ketika orang-orang mengelilingimu. Dikatakan kepadamu, “Kehidupan telah berakhir. Kini kau memasuki tahap ujian”.

Allah ‘Azawajalla berfirman,

“Mereka menjawab, ‘Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?’ (Ghafir: 11).

Allah ‘Azawajalla berfirman,

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tiak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (Faathir: 37).

Lalu bagaimana?

Kematian takkan menyibukan dunia, sampai ia datang menjemput.

Kita selalu disibukkan oleh kenikmatan-kenikmatan.

Kematian tak akan mendatangi sesuatu yang bernafas,

Kecuali ia dating membawa pedang yang terasah.

Barangsiapa mati, ia telah terputus dan menjauh. Sementara yang hidup akan menyusul.

Apa yang nampak bagimu adalah hidangan yang fana. Setiap yang pernah memakan, pasti suatu saat akan dimakan.

Inilah ancaman yang paling membahayakan. Di sinilah, persimpangan jalan Ahli Iman dengan Ahli Kufur dan Maksiat. Apakah setelah itu ada kehidupan baru? Apakah ada nikmat dan adzab dalam kubur? Apakah kelak akan dibangkitkan dan digiring untuk dihisab dan diberikan balasan pada hari persaksian, ataukah tidak? Apakah ada surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang beriman dan neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir?  

Ahlul Iman meyakini bahwa kehidupan ini akan berakhir, kemudian manusia berpindah menuju kehidupan lain yang tak pernah berakhir. Dunia, bagi mereka, adalah lahan ujian, sementara akhirat adalah tempat menuai hasil. Mereka meyakini dalam kubur ada adzab dan siksa. Kemudian Allah akan membangkitkan manusia dari kuburnya pada hari kiamat. Itulah hari agung, saat manusia berdiri di hadapan Rabbul Alamin.

Pada hari itu Allah menghitung amal mereka, lalu memasukkan orang-orang Mukmin ke surga dengan rahmat-Nya. Seluruh amal mereka diganjar. Sesungguhnya Allah Maha Memiliki Keutaman yang besar.

Pada saat bersamaan, dengan keadilan-Nya, Ia akan memasukkan orang-orang kafir ke neraka. Betapa buruk tempat kembali orang-orang kafir. Saudaraku, nyawa akan melayang dan jasad kita akan ditanam di tanah. Kubur menjadi gerbang pertama menuju kehidupan yang berbeda. Penuh misteri dan mencekam.

  !!!

Diantara tuntutan iman adalah, agar kita memikirkan hal ini. Kalau tidak, celakalah kita. Berpikir adalah tahap pertama dalam rangka persiapan. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh siapa saja yang akan didatangi oleh kematian, lalu terbaring dalam tanah. Kemudian cacing tanah akan mengurainya. Malaikat Munkar dan Nakir akan mengintrogasinya.

Kuburan adalah tempat tinggal, dan kiamat adalah janjinya. Surga dan neraka adalah tempat kembalinya. Mengapa seseorang tidak berpikir tentang kematian dan selalu mengingatnya? Mengapa ia tidak bersiap-siap menghadapinya? Janganlah ia memperhatikan dan menunggu sesuatu kecuali kematian.

Syarat kemenangan dan kesuksesan adalah mempersiapkan diri menghadapi kematian, dan menyadari bahwa dirinya akan menjadi penghuni kubur. Tetapi kebanyakan hati manusia mengeras. Mereka mengabaikan peringatan akan ancaman yang membahayakan ini. Kalaupun mereka mengingat kematian, itu pun dilakukan dengan hati yang hampa. Bahkan dengan hati yang disibukan oleh syahwat duniawi. Maka, hatinya semakin mengeras. Mengapa harus menentang dan menghalangi jalan Allah ‘Azawajalla?

Saudaraku, mengapa hati kita tetap mengeras, dan tidak mempan dengan peringatan dan dakwah —dengan segala macam bentuknya—yang datang terus menerus? Mengapa kita tak mau iltizam dengan syariat Allah? Apakah dunia telah demikian parah memperdayakan, sehingga kita menjadikannya sesembahan selain Allah ‘Azawajalla?

Tak ada tujuan dan kesibukan yang dimiliki dunia selain syahwatnya. Padahal kita telah mengerti, bahwa kenikmatan dunia menipu, karena tidak kekal. Ia telah tahu bahwa jalan selamat adalah dengan meninggalkannya.

Apakah semua ini akibat peperangan terus-menerus yang menyerang Islam di setiap tempat, dalam segala bentuk; baik perang militer atau budaya?

Apakah ini disebabkan rencana jahat yang akan memadamkan gairah keislaman kita, yang membuat manusia berpaling kepada mereka, sehingga jatuh ke jurang wahn (cinta dunia dan takut mati).

Tak ada lagi tempat dan perhatian bagi agama kita. Semuanya berlomba-lomba meraih fatamorgana kehidupan ala Barat. Semuanya ingin memperoleh kemapanan hidup yang tanpa ruh. Kita semakin jauh dari agamanya.

Hari ini kita lihat fenomena tragis. Ketika sebagian kaum Muslimin –yang warna kulit dan bahasa yang dipakai sama dengan kita—ada yang meragukan hal ini. Bahkan diantara kita ada yang menghina ajaran Islam, mengejek dalil tentang adzab kubur dan mendustakannya. Kita khawatir, orang-orang seperti kita ini—secara bertahap—akan mendustakan adanya hari kiamat, bahkan mendustakan ajaran Islam secara keseluruhan, dan lebih parah lagi, tidak meyakini wujud Allah.

Pemahaman keliru seperti itu seperti kegelapan yang bertumpuk, yang akumulasinya membentuk kesesatan. Proses penyesatan seperti ini lebih cepat daripada memupuk iman dari awal. Ibarat naik gunung, jalan menurun lebih cepat dilalui daripada menanjak. Berhati-hatilah!

Saudaraku, disini aku hanya ingin mengingatkan siapa saja yang masih menginginkan berjumpa dengan Allah dan keselamatan di akhirat. Aku berusaha untuk menyadarkan, menarik rambutnya dengan kuat, sebelum terpuruk dalam penyesalan. Aku menginginkan ia ikut serta bersama dalam bahtera keimanan, bukan bersama dengan orang-orang yang celaka. Aku ingin menjelaskan sesuatu yang berguna. Semoga kau bisa memetik manfaat darinya.

Pertama kali, ikhlaskan dirimu, lalu relakan waktumu barang satu jam saja untuk bersamaku. Mudah-mudahan engkau akan selamat sepanjang hayatmu.

Saudaraku, pertama kali yang harus kita sadari adalah ancaman besar yang memisahkan antar kita dengan akhirat. Tentu kita tahu, bahwa jalan menuju Allah tidak bisa ditempuh dengan telapak kaki, tetapi dengan hati. Kalau hati keras dan beku, akan kita coba beri obat berupa penjelasan tentang dahsyatnya kubur. Mintalah pertolongan pada Allah, dan jangan merasa lelah. Minumlah obat itu dari sekarang, sampai hatimu hidup kembali.

 !!!

Iklan