Syaikh Rabi’ bin Hadi,

dialah Ulama Salafy yang Aku Takuti

  

Keraguanku terhadap manhaj yang aku jalani sekarang salah satunya adalah karena pandangan ulama salafy ini. Aku tak tahu apakah ini benar atau salah, mungkin juga ini scenario musuh Islam untuk semakin memperuncing pertikaian yang ada. Yang pasti, ada beberapa fatwa dan buku-bukunya yang sangat menyudutkan ulama lain. Dan tidak perlu aku sebutkan sumber-sumbernya, mungkin sebagian dari kamu juga pernah melihat dan membacanya, salah satunya Al-Adhwa’—jujur Aku memang belum membacanya secara langsung. Sebelum kekacauan ini meruncing aku pernah membaca judul dan rangkuman isi buku ulama-ulama Salafy (termasuk beliau) terhadap tokoh-tokoh Ikhwan, saat itu aku masih ngeri untuk membacanya tapi saat keraguan itu memuncak aku kembali ke toko buku yang sama “Wali Songo Kwitang”, sayangnya buku-buku itu sudah tidak ada, dua bulan lebih aku menanti tetap saja nihil dan jawabannya cuma “Maaf pak, kosong”. Yang aneh, saat aku cari ke Gramedia, Buyung Senen dan toko buku lainnya juga tidak ada. Mungkin Allah tidak mengijinkanku untuk membacanya, hanya buku Membuka Kedok Yusuf Qardhawilah yang bisa aku peroleh tapi buku ini dikarang oleh Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al-‘Udaini, itupun lebih dari dua bulan penantian. Yap, dialah Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly yang aku takuti. Takut kalau ada karakter negatifnya yang menular padaku. Tak tahu apakah aku pantas memanggilnya Syaikh. Sebutan itu begitu syakral bagiku, whatever, tetap ada kebaikan darinya dan aku hanya akan mengambil kebaikannya saja.

  

Berikut adalah teks surat Syaikh Bakr Abu Zaid untuk Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly, yang memporakporandakan keraguanku akan manhaj Ikhwan:

  

Bismillahirrahmanirrahim

  

Kepada yang terhormat

Saudara Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly

  

Assalamu’Alaikum Wr Wb

  

Saya akan ketengahkan sesuai keinginan Anda tentang bacaan terhadap buku “Al-Adhwa”. Apakah ada catatan-catatan (dari Syaikh Bakr) terhadapnya? Kemudian, apakah catatan-catatan tersebut memenuhi proyek itu? Apakah catatan tersebut dapat memperbaiki dan meluruskannya sehingga buku itu layak dicetak dan disebarkan menjadi tabungan akhirat Anda sekaligus sebagai bukti bagi siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya?

  

Pertama, saya telah membaca halaman pertama—daftar isi dan penamaan tema. Saya menemukan adanya indikasi dalam diri Sayyid Quthb rahimahullah telah terhimpun pokok-pokok kekafiran, ilhad (atheis), dan zindiq. Misalnya, Sayyid Quthb disebut berpaham wihdatul wujud, menganggap Al-Qur’an sebagai makhluk, membolehkan selain Allah SWT sebagai pembuat syariat, berlebihan dalam mengingkari sifat-sifat Allah SWT, menolak hadits mutawwatir, ragu terhadap masalah akidah yang wajib diyakini, mengkafirkan masyarakat Islam, dan tuduhan lainnya yang dapat mendirikan bulu kuduk dan membuat merinding kulit orang-orang beriman! [Serem ya Bro’ kalo isinya sampe kaya gitu, sumprit sampe sekarang aku masih penasaran untuk baca bukunya langsung!]

  

Anda merasa kasihan dan menyesal atas kondisi ulama Islam di penjuru bumi, lantaran mereka belum diperingatkan dari ancaman bahaya ini! Namun, bagaimana mungkin bertemu antara tuduhan-tuduhan itu dan kenyataan bahwa buku-buku Sayyid Quthb telah tersebar seperti tersebarnya sinar matahari dan manusia mengambil manfaat dari buku-buku tersebut hingga Anda datang dengan sebagian buku yang Anda tulis tentangnya? [Ya, ampun Syaikh Bakr yang mulia. Kan memang, salah satu karakter Salafy adalah mentahdzir manusia dari bahayanya dengan hanya mencela (jahr) tanpa boleh mengungkapkan sedikitpun kebaikannya. Nggak tau ya Syaikh? Atau mungkin Syaikh bukan salah satu ulama Salafy?]

  

Ketika saya hendak mencari kesesuaian antara kandungan isi dan tema, ternyata saya menemukan adanya berita yang mendustakan berita lainnya yang berakhir dengan kesimpulan yang mengejutkan dan dapat memalingkan dan menarik pembaca dari kenyataan sesungguhnya tentang Sayyid. Adapun bagi pembaca yang memiliki kemampuan dan ketajaman mata hati, jika ia membaca isi di dalam buku itu, niscaya ia akan mampu memberi sanggahan yang kuat terhadap tulisan Anda dan dapat mengembalikan rasa rindu terhadap buku-buku Sayyid Quthb. [OH MAI GOT, serem banget ya mak! Dan ngerinya lagi, banyak pengikut-pengikut salafy yang BUTA mata hatinya. Kasihan ya mak, gara-gara taklid buta jadi kaya gitu cing. Trus, seperti apa yang ditulis Syaikh Bakr tentang buku-buku Sayyid Quthb, memang beneran bagus. Coba aja baca Tafsir Fi-Zhilalil Qur’annya, bagus banget bahasanya, mengena dengan kehidupan kita sekarang. Sekali lagi, gunain itu sebagai salah satu referansi saja selain tafsirnya Ibnu Katsir, biar nggak taklid, tambah pinter dan tambah wawasan men! Biar jangan kaya nyak enoh, kasian ya mak?].

  

Sesungguhnya, aku membenci untuk diriku sendiri, untuk diri Anda, dan seluruh kaum muslimin yang biasa berbuat dosa dan durhaka. Sesungguhnya di antara perbuatan keji dan menipu itu adalah mengajak manusia baik-baik untuk ikut memiliki rasa benci dan permusuhan.

  

Kedua. Setelah saya lihat, ternyata saya menemukan buku itu telah kehilangan prinsip-prinsip pokok kajian ilmiah, seperti obyektivitas, metode kritik, amanah dalam menukil ilmu, dan tidak boleh ada pengurangan terhadap hak orang lain!

  

Buku Rabi’ bin Hadi Tidak Memiliki Etika Berdialog dan Tidak Amanah

  

Adapun etika berdialog harus memiliki susunan kata yang elok dan cara yang terpuji. Hal itu tidak terdapat dalam buku Al-Madkhaly yang penuh dengan kebimbangan! Kepada Andalah hal itu seharusnya diarahkan.

  

Pertama, menurut yang Anda ketahui, buku-buku Sayyid Quthb rahimahullah yang Anda jadian rujukan itu telah direvisi penulisnya setelah saya melihat sendiri buku yang dimaksud dalam cetakan lama, seperti “Azh-ZHilal” dan “Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyah”. Ternyata, anggapan Anda bahwa buku tersebut telah direvisi adalah tidak benar! (Maksudnya, Rabi’ bin Hadi mengira buku-buku Sayyid yang beliau rujuk sudah diperbaiki/direvisi penulisnya sehingga mewakili pemikiran terakhir dan resmi dari Sayyid. Ternyata, setelah Syaikh Bakr Abu Zaid memeriksanya, buku tersebut sama sekali belum direvisi. Itu menunjukkan pengkhianatan terhadap amanah ilmu dan penukilan, peny.). Jadi, wajib mencukupkan diri kepada prinsip-prinsip kritik dan amanah ilmiah yang baik terhadap teks-teks cetakan lama pada setiap buku sebab segala yang terdapat dalam buku yang telah direvisi telah menghapus segala yang tercetak sebelumnya! [Sadis, ya mak? Iiii…Sereem…]

  

Hal itu tidak tertutup, InsyaAllah, atas segala yang telah Anda ta’limatkan tentang Sayyid. Namun, semoga saja hal itu hanya sekedar khilaf dan sungguh Anda telah diberikan ta’limat sebelumnya. Mengapa Anda tidak memahaminya? [Nggak tahu tuh, Syaikh Bakr Abu Zaid yang mulia. Saya aja bingung, emangnya Sayyid Quthb pernah buat kesalahan apa ya sama dia, kok sebegitu bencinya ya? Kasihan ya… padahal Sayyid Quthbkan udah lama meninggal, aduuh, gak ngerti dah, bingung, sungguh nggak habis pikir? Eh, udah gitu si pengaku-aku Salafy juga ikut-ikutan membenci Sayyid Quthb. Makin bingung dan gak ngerti lagi khan mak? Wong nggak ada hubungannya sama sekali kok, ca..pek..deeeh….Kasian ya mak?]

  

Lihat juga dalam hal ini, pandangan-pandangan Ahli Ilmu! Sebagai contoh, buku Ar-Ruh karya Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Sebagian mereka (Ahli Ilmu) mengatakan, “Semoga buku ini (Ar-Ruh) disusun pada awal-awal hidupnya!” Demikian pula buku “Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyah” ternyata adalah buku pertama Sayyid Quthb yang bertemakan keislaman pada masa hidupnya. Wallahu Musta’an!

  

Kedua, kulit dan bulu kuduk saya merinding ketika membaca daftar isi buku itu. Anda menulis, Sayyid Quthb membolehkan kepada selain Allah SWT sebagai pembuat undang-undang! Saya segera melakukan pencarian. Saya kumpulkan perkataan-perkataan Sayyid Quthb yang tertulis di dalam bukunya “Al-Adalah Al-Ijtima’iyah”. Ternyata, perkataan Sayyid tidak membenarkan tuduhan yang mengejutkan itu! [Astaghfirullah, masyaAllah, bener seperti itu Syaikh??? Serem ya mak?! Kalo gini masuk ghibah atau fitnah ya?]

  

Ketahuilah, seharusnya kita memahami betul di dalam buku Sayyid terdapat keterangan yang wahm (meragukan) atau umum. Bagaimana kita memalingkan keterangan itu serta meruntuhkan segala yang telah dibangun Sayyid selama hidupnya? Hendaknya kita menetapkan bagi Sayyid bahwa buah penanya adalah bagian dari dakwah kepada tauhidullah dalam hukum dan perundang-undangan dan meninggalkan undang-undang buatan manusia. Ia berdiri pada jalan yang demikian! Sesungguhnya, Allah SWT mencintai sikap adil dan seimbang atas segala sesuatu dan tidak berpendapat kecuali kembali kepada keadilan dan keseimbangan!

  

Ketiga, tuduhan lain yang mengejutkan adalah perkataan Anda bahwa Sayyid Quthb berpaham wihdatul wujud. Sesungguhnya, perkataan Sayyid Quthb rahimahullah masih samar-samar (mutasyabih). Di dalamnya banyak tersebar susunan kalimat indah seperti tafsir surat Al-Hadid dan Al-Ikhlash. Lantaran tafsirnya itu Sayyid dituduh berpaham wihdatul wujud. Anda benar ketika mengutip ucapannya dalam surat Al-Baqarah berupa sanggahan yang jelas dan tegas terhadap paham wihdatul wujud, yaitu ucapan, “Dari sini, pemikiran Islam yang benar mengingkari pemikiran wihdatul wujud.”

  

Sesungguhnya Sayyid Quthb telah membantah pemikiran wihdatul wujud dalam bukunya “Al-Muqawwamat At-Tashawur Al-Islamy”. Oleh karena itu, saya katakan, ‘semoga Allah SWT memaafkan Sayyid lantaran ucapannya yang mutasyabih (samar), cenderung kepada keindahan bahasa, dan memberi keluasan bagi banyaknya ibarat! Kalimat mutasyabih tidaklah menghalangi kejelasan substansi yang tertera dalam nash yang terdapat dalam sebagian tulisannya! Untuk itu, saya berharap, segeralah menghapus nuansa takfir (pengkafiran) terhadap Sayyid rahimahullah. Sesungguhnya, saya merasa kasihan terhadap Anda (Al-Madkhaly, peny.)! [Iya, saya juga kasihan Syaikh, Apalagi sama para pengaku-aku salafy, udah gak ngerti, ngikut-ngikut aja apa yang diomongin ustadz di majlis ilmunya. Kasihan ya mak?..]

  

Keempat. Sesungguhnya, di bawah tanggung jawab Anda (Al-Madkhaly, peny.) tuduhan bahwa Sayyid Quthb menyalahi ulama dan ahli bahasa dalam tafsir La Ilaha Illallah dan bahwa Sayyid tidak memiliki pemahaman yang jelas terhadap tauhid rububiyah dan uluhiyah. Wahai yang mencintai sang kekasih, tanpa investigasi, Anda (Al-Madkhaly, peny.) telah meruntuhkan sejumlah ketetapan yang Sayyid utarakan seputar masalah tauhid, tuntutannya, dan kelazimannya yang Sayyid paparkan selama masa hidupnya yang demikian panjang! [MasyaAllah, saya jadi teringat dengan ucapan saudara tercinta saya Abu Qatadah Al-Depoki mengenai hal ini setelah ‘kemualaf’annya ke Salafy (ini juga mutasyabih loch). Lihat Latar Belakang atau artikel saya yang berjudul Kronologis. Kasihan ya mak?…]

  

Terhadap segala yang telah Anda (Al-Madkhaly, peny.) tuduhkan itu, sesungguhnya tauhidullah dalam pembuatan hukum dan UU adalah konsekuensi penerapan kalimat tauhid juga. Sayyid rahimahullah telah memaparkan semua itu.

  

Kelima tentang tuduhan lain yang tertera dalam daftar isi bahwa Sayyid berpendapat Al-Qur’an adalah makhluk dan firman Allah SWT adalah penjelasan dari iradah-Nya! Ketika saya rujuk ke halaman yang Anda (Al-Madkhaly, peny.) maksud, ternyata saya tidak menemukan satu huruf pun yang menjelaskan Sayyid berpendapat demikian! Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Demikian mudahnya Anda men-takfir-kan Sayyid? [Nggak tahu ya Syaikh, kenapa itu bisa terjadi, mungkin beliau khilaf dan pengikutnya para pengaku-aku Salafy tidak mau menggunakan akal dan otaknya untuk memilah, pokoknya apa aja yang ustadz/syaikh gua ngomong udah pasti bener aja, tanpa mau dicross cek terlebih dahulu. Kasihan…Oh…Kasihan…Ya..Mak! Karunia itu disia-siakan oleh mereka]

  

Sesungguhnya, saya justru membaca tulisan Sayyid, “Akan tetapi, mereka tidak memiliki kekuasaan menghubungkan hal itu walau satu huruf semisal Al-Qur’an karena ia dibuat Allah SWT, bukan manusia!” Itu adalah penjelasan yang tidak ragu lagi kekeliruannya. Namun, mengapa kita menghukumi bahwa dengan itu Sayyid telah berpaham Al-Qur’an sebagai makhluk? Ya Allah! Sesungguhnya, saya tidak kuasa bersikap seperti itu. Tulisan Sayyid itu telah mengingatkan saya pada tulisan Syaikh Muhammad Abdul Khaliq ‘Adhimah rahimahullah dalam muqaddimah bukunya, Dirasat fi Uslubil Qur’anil Karim, dan dicetak Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud!

  

Layakkah kita melempar tuduhan terhadap ucapan tersebut bahwa Al-Qur’an adalah makhluk? Ya Allah, tentu tidak! Cukup sampai di sini bagian-bagian yang amat penting ini”.

  

Demikian ya akhi dan ukhti fillah, mudah-mudahan ada manfaat yang bisa kita ambil. Maaf, atas tanggapan-tanggapan saya yang berwarna ungu, itu adalah kejahilan saya. Pada intinya, saya hanya ingin mengajak kamu-kamu untuk OPEN YOUR MIND, jangan taklid, dan yakin bahwa tidak ada manusia yang sempurna kecuali al-ma’shum Rasulullah saw. Yang benar adalah mengambil semua kebaikan-kebaikan yang ada dan meninggalkan kesalahan-kesalahan yang ada dari manapun itu tanpa terkecuali selama tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah. Hanya kepada Allahlah tempat kembali segala sesuatu. Dan Dialah yang Maha Pemberi Petunjuk.

NB:

Seandainya Syaikh Bakr Abu Zaid bukanlah anggota dari Haiah Kibarul Ulama, mungkin beliau juga akan ditahdzir karena kritiknya terhadap buku Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali ini yang seolah-olah membela Sayyid Quthub. Namun apa daya, mereka tidak memiliki keberanian, sehingga mengambil jalan lain untuk menutup malu muka mereka para Salafy Ekstrim yang Haddadiyah.

Sumber : Al-Ikhwan Al-Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, Farid Nu’man, Pustaka Nauka, Cetakan ke-2, Mei 2004 dan http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=94

  Baca juga KRONOLOGIS!

Iklan