INIKAH SALAFIYYAH YANG

HIZBIYAH!!!

IH…SEREEM!….

  

Perkenalanku dengan manhaj Salafi sejak awal sampai dengan saat ini adalah pengalaman buruk yang sungguh penuh hikmah. Dimulai dari buruknya sikap orang-orang yang mengaku Salafi dari cerita-cerita orang (yang aku tidak yakini 100% kebenarannya), sikap orang-orang yang mengaku salafi yang aku temui secara nyata (sebagian kecil buruk tabiatnya), hasil penyusuranku di dunia maya (90% buruk tabiatnya) mulai dari (maaf) Kang ….salafi alias ….Maulud (tapi jujur sekarang saya lihat ada perubahan yang cukup bagus diblognya yang pasti setelah ada fatwa dari Syaikh Rabi’—kasihan ya, nunggu fatwa dulu untuk berubah baik), ….salma (sekarang saya lihat juga ada perubahan), persinggungan ‘klaim’ antar salafi sendiri, dakwah buruk dengan takfir (mengkafirkan), tabdi’ (membid’ahkan), tafsiq (memfasiqkan) dan tadlil (menyesat-nyesatkan) terhadap ulama dan jamaah lain. Semuanya penuh tanda-tanya besar. “Apakah itu yang disebut pengikut as-Salafus Shalih?” (Tanyaku dalam hati). “Ah tidak! pasti mereka hanya orang-orang yang ifrath (melalaikan) dan tafrith (berlebihan/ghuluw) terhadap manhaj dan jamaahnya dibarengi dengan sikap ta’ashub dan ashabiyyah yang berlebihan!”. Perdebatan keras antar paham Wahabi dan diluar Wahabi. Aku yakin, pasti ada Salafi yang as-Salafus Shalih. Seperti halnya ada IM yang as-Salafus Shalih, JT yang as-Salafus Shalih, NU yang as-Salafus Shalih & Muhammadiyah yang as-Salafus Shalih yang semuanya termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sangat hati-hati terhadap diennya.

  

Berikut adalah pernyataan Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Asy-Syihhi di dalam bukunya yang berjudul Al Ikhwan Al-Muslimun Penyimpangan dan Kesesatannya di dalam Bab Dialog Bersama Ikhwani dalam pembahasan SALAFIYYAH YANG TIDAK KITA INGINKAN

 

Di sana ada orang-orang yang menisbatkan diri kepada salafiyyah (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) telah tertimpa oleh beberapa malapetaka:

  

PERTAMA: Ta’ashub mereka kepada Zaid (Fulan, pent) dari ulama…, maka mereka tidak mau untuk berpaling dan menentang orang tersebut (bagaimanapun keadaannya, pent). Kalau Zaid tidak berkata bahwa ini haram, maka hal itupun tidak haram. Atau tidak mengatakan hal ini halal, maka perkara itupun tidak halal. Atau tidak mengatakan ini sunnah, maka amalan itupun tidak sunnah, dan seterusnya.

  

Sungguh saya telah bertemu dengan salah seorang dari mereka. Dia bertanya kepada saya tentang suatu masalah di dalam shalat. Maka saya menukilkan untuknya apa yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dan yang dirajihkan oleh ahlul ilmi tentang masalah tersebut…. Maka dia mengatakan: Apakah Fulan telah berbicara tentang masalah ini? Saya jawab: Tidak tahu… Maka dia pun diam dan melemparkan apa yang saya jelaskan kepadanya ke arah tembok.

  

Maka ini adalah salafiyah dan ashabiyyah yang tidak kita sukai. Hal itu dikarenakan Ahlus Sunnah terikat dengan syariat, tidak dengan orang-orang.

  

KEDUA: Kesibukan sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada salafiyyah di dalam mengkritik firqah-firqah dan menukil berita-berita serta cerita-cerita, tanpa bertujuan untuk menuntut ilmu. Maka ini adalah ketergelinciran yang berbahaya dan selayaknya setiap muslim untuk waspada dari hal tersebut. Lebih-lebi seorang salafi, maka wajib baginya untuk sibuk dengan ilmu yang benar, beramal dengan ilmu tersebut dan berdakwah kepadanya disertai dengan memberikan peringatan dari bid’ah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan firqah-firqah ini dengan tanpa melalaikan/apriori (ifrath) dan tidak pula berlebihan (tafrith).

Rasa penasaran bercampur kekhawatiran membuat pencarian akan Salafi yang benar-benar as-Salafus Shalih belum juga berhenti. Bagaimana menurut kalian? Apakah ada ciri-ciri khusus yang sangat menonjol antara Salafi yang as-Salafus Shalih dengan Salafi yang hizbiyyah atau sebenarnya mereka sama saja? Dan dimana saya bisa bermajlis dengan mereka? Atau apakah sebaiknya saya tidak usah bermajlis sama sekali dengan mereka agar tidak masuk perangkap mulut buaya yang lebih sangat menyesatkan? Jazakumullah khairan….